Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Makan!



Setelah keluarga Azzam tahu Khumaira hamil, mereka sangat senang dan menikmati hari. Lalu, pasangan ini pulang ke Pagerharjo untuk menginap dua hari.



Keluarga Khumaira sangat senang mendengar berita bahagia bahwa Putri tengah mereka sedang mengandung. Tidak dipungkiri sekarang hanya ada kebahagiaan di mata teduh mereka.



Usai semuanya, Azzam dan Khumaira pulang ke Sleman.



Khumaira merebahkan diri di ranjang setelah membersihkan rumah di bantu Azzam. Dia menyapu lalu Suaminya menaruh bawaan di kamar dan dapur.



Azzam ikut merebahkan diri di samping Khumaira. Dia tersenyum saat Khumaira berguling untuk berbantal lengan.



Khumaira menaruh tangannya di atas dada kiri Azzam, sementara kepalanya dia rebahkan di lengan kekar Suaminya.



"Dek, Mas mau sayur asam banjar," cetus Azzam tiba-tiba.



Khumaira mendongak menatap Azzam. Matanya berbinar mendengar perkataan Suaminya. Apa sekarang Suami tersayang mengidam? Lucu, bukanya harusnya dia?



"Adek, akan buatkan untuk, Mas," sahut Khumaira kalem.



Mata Hazel Azzam berbinar mendengar perkataan Istrinya. Sontak dia merengkuh Khumaira erat dan menciumi puncak kepala Istrinya.



"Mas sangat senang, Dek. Tapi, istirahat dulu itu bisa nanti," pungkas Azzam.



Khumaira mengecup mesra rahang tegas Suaminya. Dia mengusap pipi tirus sang Suami penuh cinta.



"Adek buatkan, lagian kita belum makan, Mas. Tunggu Adek masak," tutur Khumaira.



Azzam jadi tidak enak hati.



"Mas bisa nanti, Adek. Sekarang istimphh ___"



Perkataan Azzam terputus karena ciuman Khumaira. Istrinya ketularan virus nakalnya yang sering memotong perkataan dengan ciuman.



Khumaira tersenyum lebar bisa membungkam bibir Suaminya dengan ciuman biasa. Dia melepas diri selagi Azzam mematung.



"Mas, Adek cinta Mas, much," kekeh Khumaira.



Azzam langsung sadar dan langsung bangkit menyusul Khumaira. Istrinya sekarang benar-benar nakal.



"Adek, kamu benar-benar membuat Mas gila," racau Azzam.



Khumaira terkikik sendiri mendengar perkataan Azzam.



"Kyaa, Mas geli ah hahaha, ampun Mas, ampun ....!" pekik Khumaira saat Azzam merengkuh dari belakang dan menggelitik perut, dan lehernya.



Khumaira berbalik menghadap Azzam. Kini giliran dirinya yang menggelitik perut serta leher kokoh Suaminya.



Mereka saling serang dengan tawa lepas. Khumaira mengalungkan tangan di leher kokoh Azzam dan kini tubuh pendek itu bergelantung lucu.



Azzam terkekeh sendiri karena Khumaira tidak mau turun dari mari bergelantung manja. Tangannya menahan pinggul Istrinya agar aman.



"Adek, katanya mau bikin makanan? Ayo turun dulu biar Mas bantu membuat Sayur asam banjar," ucap Azzam lembut.



Khumaira akhirnya turun dengan pelan. Pada akhirnya mereka meracik bumbu bersama.



Wajah cantik Khumaira pucat merasa mual mencium bau ikan saat tadi berniat mau menggoreng untuk lauk. Untungnya sayur sudah masak.



Khumaira memuntahkan isi perutnya di wastafel cukup membuat lemas.



Azzam menyingkirkan ikan nila di kulkas atas. Dia berbalik memijat tengkuk Istrinya agar merasa lega.



Khumaira mengelap bibirnya menggunakan serbet bersih. Dia menyengir polos ke arah Azzam lalu mencubit gemas hidung mancung Suaminya.



"Mas maaf Adek ngga bisa goreng ikan itu, terpaksa hanya sayur asam buat makan. Jangan berekspresi panik, Mas begitu menggoda tahu tidak?" sesal Khumaira di akhiri guyonan.



Azzam mendengus mendengar godaan Istrinya yang nakal ini. Dia langsung menggendong Khumaira agar duduk di kursi.



"Mas paham Adek, jangan terlalu merasa bersalah dan ayah Mas memang menggoda iman bukan? Apa lagi kalau tanpa busana, Auch ....."



Azzam meringis ngilu saat tiba-tiba Khumaira mengigit lehernya keras. Entah kenapa Istrinya sekarang benar-benar berani berulah pada tubuhnya. Jika tidak ingat hamil muda pasti berakhir ranjang.



"Adek mau makan, bawa sini sayur dan nasinya!" titah Khumaira lempeng seolah kejadian tadi tidak ada kesan menggoda.



"Baik Istriku tercinta," balas Azzam sembari mengecup mesra pipi gembul Khumaira.



****



Khumaira makan di suapi Azzam, begitu pun dengan Azzam makan disuapi Khumaira.



Mereka makan satu piring, satu sendok dan minum di gelas yang sama. Tampak Khumaira mencubit gemas pipi tirus Azzam penuh arti karena gemas.



Azzam jadi bingung sendiri Istrinya sekarang paling suka mencubit pipi, hidung dan bibirnya. Nakal, tapi menantang.



Khumaira mencuci piring dan tersenyum saat tangan Azzam menyelusup di perut dan dadanya.



"Mas, jangan nakal ih," protes Khumaira saat Azzam mulai nakal.



"Adek yang nakal bukan Mas."



"Memang Adek nakal apa sama, Mas?"



"Nakal banyak sekali, Adek menggoda iman, Mas. Tahukah, Adek bahwasanya Mas ingin itu," bisik Azzam.



Khumaira merona mendengar bisikan Azzam. Dia mengelap puring dan gelas dan menyerahkan di rak piring.



Khumaira berbalik menghadap Azzam. Senyum manis terukir indah sekarang.



"Mas bisa lakukan itu tapi hanya foreplay, Abi sabar nggeh untuk mendapat jatah," senyum Khumaira lembut.




"Mas, sangat mencintai, Adek. Mas sabar menunggu saat itu tiba, biarkan saja foreplay asal bisa merasakan itu. Mas mesum sekali, Dek. Maaf ya, Sayang."



"Adek juga sangat mencintai, Mas. Terima kasih ya, Mas. Sejatinya Adek, ugh malu."



Khumaira langsung merengkuh Azzam erat dan menyembunyikan wajah di dada bidang Suaminya.



"Adek sekarang nakal sudah berani ya, ugh gemas sekali."



"Mas yang ajari Adek mesum."



"He? kok bisa?"



"Iya Mas sering gitu, umz hehehe."



"Anak nakal, sini Mas makan."



"Kyaa Mas ....!"



***



Khumaira membawa Azzam untuk membeli makanan di luar dan benar mereka membeli soto babat di dekat apartemen.



Saat asyik makan terdengar suara familiar.



"Dik Khumaira," panggil Yudha.



Khumaira menengok dengan enteng. Dia tersenyum tipis melihat Yudha.



"Hi, Kak Yudha," sahut Khumaira.



Yudha mengulurkan tangan berniat lahir batin.



Khumaira menerima uluran tangan itu. Tapi, langsung melepasnya.



"Dik, selamat hari raya, mohon maaf lahir batin."



"Mohon maaf lahir batin, Kak."



Yudha meringis menerima tatapan Azzam yang tajam. Dia mengulurkan tangan untuk lahir batin.



Azzam terima dengan senyum tipis.



"Mas, mohon maaf lahir dan batin."



"Mohon maaf lahir dan batin."



Yudha dengan santai duduk di samping Khumaira. Tahukah kamu sudah membuat Azzam mengeluarkan asap cemburu.



"Tidak terasa lusa sudah berangkat kuliah. Adik Khumaira sebentar lagi juga mau skripsi, bukan?"



Khumaira tersenyum menanggapi perkataan Yudha.



"Alhamdulillah, Kak. Doakan saja semoga cepat bisa mengerjakan skripsi."



"Adik kan cerdas pasti mudah itu."



"Terima kasih, Kak."



"Ehem, Dek ayo pulang sudah sore." Azzam berkata datar.



Khumaira langsung merasa tidak enak pada Suaminya. Dia menggenggam tangan besar Azzam lembut.



"Ayo, Mas. Kak, kami pamit."



"Ah, iya sampai jumpa lagi di kampus." Yudha jadi ngilu mendapati tatapan sadis Azzam.



Azzam dan Khumaira pulang setelah mengatakan salam.



Di perjalanan menuju rumah, Azzam bungkam tanpa kata dan Khumaira merasa sangat menyesal.



"Mas, maaf," sesal Khumaira.



"Mas ngga suka dan Mas cemburu," aku Azzam tanpa mau memendam kekesalan.



Khumaira tersenyum tulus mendengar perkataan Azzam. Dia nekat membawa Azzam ke gang sempit untuk meluruskan masalah.



Azzam masih diam saat kerah bajunya tertarik ke depan. Dia terbelalak merasakan ciuman dengan lumatan ringan. Mata Azzam melirik ke sana kemari memastikan tidak ada yang tahu.



"Mas, Adek hanya anggap Kak senior itu Kakak bukan lebih. Hanya Mas yang Adek cinta sampai kapan pun. Adek sangat mencintai, Mas!"



Azzam tersenyum mendengar perkataan Khumaira. Dia merengkuh Istrinya erat dengan penuh perasaan.



"Mas sangat takut Adek di dekati mereka. Mas juga sangat mencintai, Adek!"



"Mas, tidak perlu risau karena di hati tertulis nama Suamiku tercinta."



Azzam terkekeh mendengar perkataan Istrinya.



"Mulai bisa gombal, eh?"



"Hehehe, biar Mas senang."



"Tentu Mas sangat senang."