Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Menyesal!



Andi Rum Herlambang (31), seorang executive muda di perusahaan besar di Jakarta. Pria ini sangat mapan di tunjang dengan wajah di bilang tampan untuk ukuran Pribumi. Tubuh tinggi 177 cm, dan itu sudah standar orang pribumi.



Andi masuk ke kantor polisi untuk membesuk Istrinya. Rasanya ingin tertawa saja menggagap Charisma Istri, pasalnya wanita itu sama sekali tidak menggagapnya ada.



Cinta di balas hina, tapi Andi yakin Charisma akan mencintainya. Sembari menunggu dia memeriksa ponsel saat ada dering.



"Assalamu'alaikum, Yah!"



"Wa'alaikumssalam. Andi, apa kamu datang ke polisi? Ayah minta kamu ceraikan Charisma. Ayah akan memutus sambungan mitra kerja bersama Brawijaya. Jangan banyak bicara, Ayah tahu kamu tertekan. Cerai atau keluarga menanggung malu!"



Panggilan terputus dan bersamaan munculnya Charisma. Dia meringis melihat Istrinya tampak kucel. Andi baru tahu Istrinya di penjara setelah 1 minggu.



Charisma menatap Andi datar seperti biasa. Ada gerangan apa pria itu membesuk?



"Dek, apa kesalahan kamu sehingga masuk, bui?" tanya Andi basa-basi.



"Ngga usah sok tanya, kamu pasti puas melihat saya masuk sini!"



Andi terbelalak mendengar jawaban Charisma tidak terduga. Sebegitu menjijikkan dirinya di mata Charisma.



"Apa salah saya bertanya begitu, Dek?"



"Jangan panggil saya, Dek itu terdengar menjijikkan!"



Andi ******** senyum getir dan perasaan hancur. Apa dia harus memikirkan perkataan Ayahnya?



"Memang dari awal saya yang salah menggagap pernikahan kita akan ada cinta. Ternyata salah, saya sepertinya harus mundur. Percuma 2 tahun pernikahan tapi tetap berjalan begini," lirih Andi.



Charisma terdiam mendengar perkataan Andi. Entah kenapa hatinya sakit, dia tidak tahu. Memilih bungkam tanpa menjawab perkataan Suaminya.



"Yang kutahu dari Ayah mertua, kamu berbuat kriminal. Kamu melakukan tindakan pembunuh di rencana karena mencintai salah satu pekerja Manager. Hebat, Charis aku begitu salut padamu. Rasanya menyesal bertahan sampai sini!" desis Andi.



Charisma bergetar melihat kemarahan Andi untuk pertama kalinya. Ternyata orang sebaik Andi mampu meluapkan emosi.



"Saya terima kamu selalu kasar, acuh, sarkasme dan menghina terus menerus. Tapi, sekarang tidak Charis, hatiku sudah lebur. Cintaku sudah mati akibat ulahmu. Pesanku, berubahlah menjadi wanita terhormat dan bisa menjaga martabatnya. Bertauratlah sebelum Allah memanggilmu!"



Andi meluapkan emosi sembari menatap dingin. Tertawa sebentar untuk menghalau kepiluan yang telah hancur.



"Sudah sampai sini, aku sebagai Suami tidak becus mendidikmu menjadi wanita Shalehah. Sekarang pilihan ada di tanganmu, lanjut atau berhenti. Semoga kamu bisa merenungi kesalahan dan kembali di jalan Allah. Permisi!"



Andi melangkah pergi tanpa mau menatap Charisma. Hatinya sudah lebur tanpa bisa di kontrol lagi.



Charisma jatuh tertunduk dengan air mata bercucuran. Entah kenapa rasanya sangat sakit mendengar perkataan Andi. Tidak rela jika pria sabar itu meninggalkan sendiri.



"Andi," lirih Charisma dengan isak tangis.



***



Bhagaskara dan Rina berkunjung ke rumah Azzam. Ini hari libur makanya mereka berniat main serta menghantarkan maaf.



Khumaira tersenyum lebar pasalnya perutnya sudah terlihat buncit. 4 hari yang lalu, mereka melakukan selamatan atas janinnya yang masuk bulan ke 4.



Azzam masih asyik mengotak-atik laptop, entah Suaminya itu mengerjakan apa?



"Dek, kemari!" perintah Azzam.



Khumaira menurut perkataan Azzam. Dia duduk manis di samping Suaminya.



"Ada apa, Mas?"



"Lihat, Mas dapat pesan dari Bos di perusahaan Kairo."



"Lalu?"



"Lalu, apanya Dek? Mas di minta membantu menyelesaikan masalah lewat media sosial. Tapi, Mas dapat upah. Bos, Mas itu royal sekali."



Mata Khumaira berbinar mendengar perkataan Suaminya.



"Alhamdulillah, Bukanya Mas sudah keluar dari sana? Kenapa Mas masih di kontak?"



"Karena Mas pekerja keras makanya di sana Mas selalu mendapat job bagus. Bos selalu mengirim pesan agar Mas bersedia kembali di Kairo untuk kerja lagi. Tapi, Mas tolak halus. Alhasil selalu di teror dengan pekerjaan dari mereka tapi Mas mendapat untung."



Khumaira mangut saja karena kurang tahu soal pekerjaan kantor. Dia mendengar dengan sesama Ketika Azzam menjelaskan pekerjaan.



"Mas, Adek ngga maksud," sela Khumaira saat Suaminya terus berbicara tentang kantor.



Azzam kicep setelah sadar dari ocehan. Senyum lebar dia tunjukkan menandakan betapa malu dirinya.



"Maafkan, Mas."



"Hu'um, Mas mau berbicara siang sampai malam tentang pekerjaan, mana mudeng Adek soal itu? Aish, Adek masak dulu!" rajuk Khumaira.



Azzam jadi merasa bersalah. Dia tarik Khumaira lembut dan mendudukkan di pangkuannya. Kepalanya maju untuk di tenggelam di leher jenjang Istrinya.




"Maaf, Dek," pinta Azzam.



"Iya, sekarang lepas, Adek mau ahhh ___"



Khumaira mendesah saat Azzam memanjakan lehernya. Tadi Azzam sudah bilang maaf tapi kenapa berulah lagi.



"Cium, Mas baru lepas!"



Khumaira malu sendiri saat Azzam mendongak sembari memajukan bibir sedikit. Dia menepuk bibir tipis Azzam pelan lalu menangkup pipi Suaminya dan berakhir ciuman di kening.



"Adek cinta Mas."



"Mas juga cinta Adek!"



Nyaris bibir mereka bersentuhan jika tidak ada bel berdenting.



"Mas, ada tamu. Adek masuk kamar dulu pakai hijab."



Azzam tersenyum tulus mendengar perkataan Khumaira. Mengecup pipi bulat Istrinya sembari menurunkan hati-hati.



***



Azzam dan Khumaira menatap Bhagaskara serta Rina bingung. Ada apa gerangan mantan Bos datang kemari?



"Pak Brawijaya, ada kunjungan apa kemari?" tanya Azzam sopan.



"Saya minta maaf atas kesalahan, Charisma."



Bhagaskara ingin memulai pembicaraan dengan ringan.



"Maaf, Nona Charisma tidak ada salah apa pun dengan kami," sergah Azzam.



"Putri kami sangat bersalah, Tuan. Kalian ingat kecelakaan 12 hari yang lalu?" nimbrung Rina.



Khumaira langsung ingat saat dirinya nyaris tertabrak mobil dan berakhir Aziz penuh darah. Tubuhnya mengigil mengingat semua itu.



Azzam menggenggam tangan mungil Khumaira lalu mengecupnya. Lalu merengkuh Khumaira agar tenang dan nyaman.



"Jangan takut, Mas ada di sini," bisik Azzam.



Khumaira menunduk dalam menyembunyikan wajahnya. Tubuhnya mengigil ketakutan saat teringat Aziz berdarah.



Pasangan berumur itu menunduk sedih. Menatap Khumaira sangat ketakutan. Rasa malu dan penyesalan hinggap begitu saja.



"Tolong maafkan, Charis yang tega merencanakan pembunuhan untuk Istri, Anda. Sekali lagi maaf," sesal Bhagaskara menjatuhkan martabat komisaris demi pengampunan maaf.



Azzam dan Khumaira terbelalak mendengar perkataan Bhagaskara. Rahang tegas Azzam mengerat dengan mata berkilat emosi. Sedangkan Khumaira terpaku dengan mata berkaca.



"Maksud, Bapak yang tega melukai Istri dan Adikku adalah Nona Charisma?" tandas Azzam.



"Iya, dia pelakunya. Mohon maaf atas Putri kami," pinta Rina.



Khumaira menatap Azzam sedih saat Suaminya berekspresi marah. Mata teduh itu berpancar gelap tidak ada sinar ketenangan.



"Anda tahu, istri saya terluka dan parahnya Adik saya terkulai lemah. Kaki patah, lengan patah dan bahu cedera. Jangan lupakan itu, saya sangat kecewa atas perilaku Putri kalian!" geram Azzam.



Bhagaskara dan Rina menunduk sedih sembari mengatakan ribuan maaf.



Khumaira tahu situasi sontak di elus lengan kekar Azzam dan mengecup rahang Suaminya agar tenang.



"Mas, tahan emosi."



"Bagaimana tidak emosi jika Istri dan Adikku terluka gara-gara kegilaannya!"



"Adek, paham Mas. Sudah jangan begini, mereka tulus meminta maaf. Tidak sopan berbicara kasar pada orang lebih tua. Mas, bukanya sering mengajari Adek untuk jadi pribadi pemaaf, sabar, tabah, mensyukuri nikmat Allah dan ikhlas? Sekarang mari jadi orang pemaaf, ikhlas dan sabar akan masalah ini. Adek, mohon!"



Azzam berangsur meneduh kembali. Benar adanya Khumaira adalah obat untuknya ketika sedang emosi.



Bhagaskara dan Rina tampak kagum akan sosok Khumaira. Sungguh pasangan serasi, sama-sama berbudi luhur.



"Sekali lagi maaf tidak sopan. Saya begitu emosi, sekali lagi maaf," sesal Azzam.



"Tidak apa, kami mengerti. Sekali lagi maafkan kesalahan kami dan Putri kami!"



"Atas nama Allah dan Kuasa-Nya, Insya Allah saya sekeluarga memaafkan kesalahan Nona Charisma!"



"Alhamdulillah, terima kasih banyak. Kami sangat senang mendengar perkataan Anda."



"Lalu, di mana Nona Charisma?" tanya Khumaira spontan.



"Dia ada di penjara ___"