Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Beda!



Khumaira sekarang merasa aneh, pasalnya Azzam jadi pulang malam dan jarang menjemput. Bahkan waktu bersama cuma ada di tengah malam sampai pagi jam 8.



Khumaira menatap Azzam masih tertidur pulas seraya merengkuhnya. Hati Khumaira dongkol, tetapi mau bagaimana lagi Suaminya capek.



Mata besar itu berkaca-kaca siap menumpahkan kristal bening. Khumaira rindu Azzam, sehingga tidak sanggup berkata apa pun.



Isakan kecil itu terdengar pilu membuat Azzam terjaga. Dia langsung melihat Istrinya sedang menangis. Hatinya sakit melihat Khumaira menangis begini.



"Dek, ada apa?" tanya Azzam sembari mengusap rambut Khumaira. Sesekali dia kecup puncak kepala Istrinya dan lebih erat memeluk.



Khumaira langsung diam tanpa kata. Dia berbalik memunggungi Azzam. Rasa sakit masih tersimpan tatkala ingat 2 minggu ini hubungan mereka sedikit renggang.



Azzam panik karena Khumaira semakin keras menangis. Dia rengkuh Istrinya dari belakang.



"Dek, katakan ada apa?" Azzam panik.



"...." tidak ada jawaban melainkan isakan.



Azzam langsung menindih Khumaira. Tangannya kiri ia gunakan untuk mengunci pergerakan Khumaira, sementara tangan kanan ia gunakan untuk mengusap lelehan air mata Khumaira.



"Katakan, ada apa?" tanya Azzam.



Khumaira menatap bola mata Azzam terluka. Memilih berpaling tanpa menjawab dan menatap mata teduh Suaminya.



Azzam frustrasi melihat Khumaira begini. Sungguh hatinya sakit diacuhkan Istrinya.



"Dek, katakan ada apa? Mas, salah apa, Sayang?"



"Lepas," cicit Khumaira berusaha lepas dari cekalan Azzam. Kakinya juga susah gerak karena sekarang ini dia terkunci.



"Adek, Mas akan lepas jika Adek jawab pertanyaan, Mas!"



"Lepas, Mas!" sentak Khumaira.



Azzam yang lelah sedikit tersalut.



"Jangan kekanakan, Dek. Sungguh Mas capek baru bisa tidur sekarang!" nada suara Azzam naik satu oktaf.



Khumaira menatap Azzam terluka dan kini air mata semakin deras. Bedanya hanya air mata tanpa suara. Hatinya sakit dan memilih berpaling menghindari kontak mata.



Azzam melepas kuncian nya dan memilih berbaring. Menarik Khumaira dalam dekapannya agar tenang.



"Dek, maaf Mas kelepasan bentak Adek. Maaf, jangan menangis lagi, Mas mohon!"



Khumaira memilih bungkam tanpa mau menjawab perkataan Azzam. Karena lelah akhirnya ia tertidur.



Azzam merasa bersalah akibat ulahnya. Dengan sayang dia rengkuh tubuh mungil Khumaira penuh kehangatan.



"Mas, mencintaimu, Dek. Maaf membuat Adek terluka karena ulah, Mas."



***



Aziz membeli rokok serta kebutuhan pokok selama satu minggu. Saat mau mengambil ikan tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan kecil seorang wanita.



Buru-buru Aziz menarik tangan, lalu menengok orang di sebelahnya.



"Mas Aziz," lirih wanita itu kaget.



Aziz ingat wanita ini adalah gadis berhijab ungu yang malang.



"Mbak Zahira," ucap Aziz.



"Aku tidak menyangka bisa bertemu di sini. Mas ambil saja ikannya," tukas Zahira.



Aziz tersenyum tipis.



"Buat, Mbak saja. Saya beli yang lain."



"Ini Mas dulu yang pegang, ini untuk Mas."



"Anda lucu, Mbak. Nanti saya beli di pasar, itu untuk Mbak. Mari!" Aziz mendorong troli agar menjauh.



Zahira menatap punggung tegap Aziz penuh arti.



"Mas Aziz," gumam Zahira.



Aziz berangkat ke kampus lebih awal, dan alangkah terkejut melihat Khumaira jalan dengan tatapan kosong. Buru-buru dia berlari menghampiri Kakak ipar untuk menarik lengannya.



Khumaira kaget saat tangannya di tarik kasar seseorang. Spontan dia mendongak menatap siapa pelaku yang menarik?



"Mas Aziz," gumam Khumaira.




"Mbak bodoh atau apa? Lihat, Mbak nyaris jatuh jika tidak aku tarik. Mbak niat mau lenyap in kandungan, Mbak!" geram Aziz. Cukup bersyukur karena UGM masih sepi.



Khumaira langsung melihat sekeliling, benar adanya ada tangga. Mungkin selangkah lagi dia terjatuh dan berakhir ___.



"Astagfirullah, terima kasih Mas Aziz sudah menarik saya. Pikiranku terbebani jadi begini, sekali lagi terima kasih," sesal Khumaira. Dia tidak marah mendengar perkataan Aziz karena itu kesalahannya.



"Ini minumlah!" perintah Aziz tidak memedulikan perkataan Khumaira.



Khumaira duduk di anak tangga paling atas. Dia meminum air sedikit cepat.



"Mbak ada masalah dengan, Mas Azzam?" tanya Aziz hati-hati.



Khumaira menengok ke arah Aziz cepat. Tersenyum tipis laku kembali menatap depan.



"Tidak, tugas kuliah membuat pusing," kilah Khumaira.



"Mbak minta bantuan Mas Azzam gih, Masku itu keren banget soal begituan." Aziz tahu Khumaira bohong tapi berusaha ikut alur. Menyengit dalam melihat Khumaira tampak murung.



"Aku akan tanya nanti, Suami Jenius harus di manfaatkan," kekeh Khumaira tapi matanya redup.



Aziz ikut terkekeh mendengar perkataan Khumaira. Tetapi sangat tahu Kakak Ipar sedih.



"Mbak Khumaira, bisa saja. Ya sudah, Aziz pamit dulu, konsentrasi ya Mbak." Aziz menepuk bahu Khumaira pelan lalu berlalu menuju gedung khusus Dosen.



Khumaira menghapus air matanya kasar. Dia mengusap perutnya yang rata. Hampir saja dia jatuh jika tidak ada Aziz yang menolong.



"Baby, maafkan Umi kurang hati-hati. Maaf, Nak."



***



Azzam mengerang kesal karena setiap harinya suruh lembur. CEO baru itu benar-benar membuat Azzam frustrasi.



"Bisakah Anda berpikir rasional sedikit, Nona. Saya harus pulang bukan malah mengerjakan tugas Anda. Anda, pikir saya ini mainan!" hardik Azzam pada akhirnya.



"Kamu jaga bicara, lagian gajimu aku naikkan. Kurang apa lagi coba? Sudah jangan protes, kamu periksa ulang dokumen itu baru pulang!" tegas Charisma bernada santai.



"Astagfirullah, sabar, Azzam," bisik Azzam. Ia melihat jam menunjukkan pukul 9 malam dan kini ada 10 dokumen penting ada di mejanya sukses membuat frustrasi.



Charisma sudah pergi tanpa peduli Azzam yang frustrasi.



"Dek, Mas capek ingin keluar. Jika begini terus, hubungan kita semakin renggang. Ya Allah, kuatkan hamba dalam 2 minggu lagi. Setelah mendapat gaji, aku resign dari sini," tekad Azzam.



Azzam menelepon Khumaira, tetapi tidak ada sahutan. Menghembus napas berat sembari mengacak rambut kalut.



Dokumen pertama Azzam selesaikan dengan cepat, begitu pun seterusnya. Tujuan hanya satu cepat pulang untuk bertemu, Khumaira.



Di lain sisi, Khumaira meringkuk dengan derai air mata.



"Mas, jam segini kok belum pulang. Sebenarnya Mas kerja apa sih? Hiks, aku takut sekali sendiri di rumah," tangis Khumaira.



Suara petir menyambar dengan alunan guntur mengerikan sukses membuat Khumaira semakin ketakutan. Di luar hujan deras di sertai halilintar dan kini ia semakin takut.



"Mas, Adek takut," tangis Khumaira sembari merapalkan doa.



Azzam bersyukur akhirnya sampai apartemen. Dia langsung keluar mobil dan berjalan cepat melewati basement.



"Dek, sabar Mas datang," lirih Azzam sembari berlari. Sampai rumah, ia membuka pintu dan sial listrik padam.



"Aaa ....!!!" teriak Khumaira dari dalam kamar.



Azzam melepas sepatu dan menaruh di rak. Tas dia lempar ke sofa lalu berjalan mencari senter.



Khumaira mengigil ketakutan di atas kasur. Meringkuk dengan kondisi memprihatinkan.



Azzam membuka pintu kamar lalu mengarahkan cahaya ke tempat Istrinya. Hatinya miris melihat Khumaira begitu ketakutan. Dia langsung lari menghampiri Istrinya.



Khumaira yang tahu itu Azzam spontan merengkuh erat. Raungan histeris dia keluarkan sembari mencengkam punggung kekar Azzam.



"Dek, tenanglah jangan takut, Mas sudah datang. Sayangku, jangan menangis, Mas mohon. Dek, Mas mencintai Adek, tolong maafkan Mas," tutur Azzam bernada panik.



Khumaira merasa kepalanya pusing, perutnya kram dan matanya berkunang-kunang karena tidak tahan Khumaira pingsan dalam dekapan Azzam.



"Dek, ya Allah."



Azzam yang kalut tidak bisa berbuat apa-apa selain berusaha menyadarkan Khumaira. Tidak lama lampu menyala dan Azzam langsung menggendong Istrinya untuk di bawa ke rumah sakit terdekat.



"Dek, Mas minta maaf. Mas sangat khawatir padamu. Tolong bertahan, Mas sangat mencintai, Adek."