
Khumaira tersenyum lebar melihat Azzam tampak gagah menggunakan jubah gamis. penampilannya sekarang seperti orang Arab sana.
Azzam berpaling merasa malu menggunakan pakaian begini. Di Pakistan saat sambang tempat orang tua ibunya, Azzam pernah pakai gamis.
"Dek, lepas ya," pinta Azzam.
Khumaira memberengut lucu mendengar perkataan Azzam. Dia tadi searching Google dan melihat orang arab pakai pakaian begitu. Dan tambah senang membuka lemari pakaian ternyata ada pakaian begitu.
"Adek," panggil Azzam lagi.
"Ayolah, Mas sehari penuh pakai itu. Senangin hati Istri dapat pahala, loh!" tutur Khumaira.
"Ampun, ya Allah hamba ikhlas dinistakan Istri hamba," bisik Azzam.
"Ayo keluar Mas salimi para tamu. Umz, lagian 2 hari lagi kita di sini sebelum pulang. Mas kasih kejutan untuk mereka," riang Khumaira.
Azzam mengaguk saja dari pada Khumaira mengambek kayak 2 hari yang lalu. Tepatnya saat dia tidak mau makan ikan karena sudah kenyang dan berakhir Istrinya menangis ala mode mengambek manja.
"Dek, ya Allah ini serius?" tanya Azzam mulai panik saat keluar kamar.
Khumaira tersenyum lebar mendengar pertanyaan Azzam.
"Enggeh, Mas. Ayo."
"Allahu akbar, lindungi aku dari tawa mereka," rapal Azzam.
Sudah 5 hari mereka ada di Kediri. Khumaira betah di sini karena banyak di ajak mengobrol dan asyik membulli Azzam.
Entah kenapa Khumaira begitu suka mendengar Azzam terpojok di tangan mereka. Orang sabar harus di uji, saat di nistakan selalu terima.
Azzam berpaling saat Nakhwan dan Aziz mendekat. Mereka menyengit melihat cowok tinggi berbusana ala pemuda Arab.
"Mas, siapa dia?" tanya Aziz pada Nakhwan.
"Ngga tahu, Le. Mungkin saja tamu menyasar. Mas, Anda salah masuk ruangan, ini ruang makan bukan kamar mandi. Mari saya tunjukan di mana letaknya." Nakhwan belum sadar itu Azzam.
Azzam merutuki diri pasalnya ini sangat memalukan. Berdandan ala Arbaiyah dan sekarang Khumaira dalang dari semua itu sedang ke WC.
"Kang ___ Ppffftt Bwahaha ahahaha huhuhu ahahaha ....!!!"Aziz tertawa terbahak-bahak sampai Nakhwan bingung. Dia langsung membalik orang itu, matanya membulat sempurna sedetik kemudian tertawa keras bersama Aziz.
"Astagfirullah, itu Tole Azzam toh," istighfar Nakhwan setelah selesai tertawa.
Wajah Azzam sudah merah menahan malu. Kulit putih bersih itu semakin merah akan godaan menyebalkan dari dua saudaranya.
"Eh, tunggu bukanya jubah ini pemberian dari Mbak Jiran. Lupa namanya, benar kan, Mas?" tandas Aziz.
Azzam diam tanpa komentar.
"Wah, jadi belum bisa move on? Ya Allah, Mas ngga menyangka ternyata masih suka sama dia," cetus Aziz.
"Apa sih, ini cuma kebetulan saja," kilah Azzam.
"Kebetulan yang tidak di sengaja atau di sengaja? Mas sangat mencintai dia ya, sampai menyimpan jubah itu tanpa mau di ungsikan? Astagfirullah, Aziz ngga menyangka Mas masih menaruh rapi di lemari." Aziz tampak terkejut.
"Kamu lupa, Mas kan baru pulang dan belum sempat memuseumkan pakaian ini. Sudahlah masa lalu jangan di bahas," hardik Azzam.
"Ngga perlu menggegas, Zam. Tole Aziz cuma menggoda. Jika masa lalu tapi masih suka bagaimana?"
"Apa lagi ini, Mas Nakhwan ngapain ikut-ikut segala?" sengit Azzam untuk pertama kalinya emosi.
"Wah, kali ini Aziz lihat Mas Azzam bisa emosi. Hebat, gara-gara jubah pemberian mantan terindah bisa emosi." Aziz masih saja menggoda Azzam.
"Mas santai saja, Aziz hanya bercanda." Aziz tersenyum penuh arti.
"...." Azzam hendak pergi sebelum pertanyaan sensitif membuat emosi.
"Jangan bilang Mas suka sama Mbak Khumaira karena wajah Melayu khas Jiran ya, Mas? Masa lalu Mas kan dari Jiran, jangan bilang Mas menikah cuma karena fisik mirip Jiran?"
"Abdul Aziz, jaga BICARAMU ...! Mas diam bukan berarti tidak bisa membela diri. Dia hanya kepingan masa lalu yang sudah terlupakan. Bukan wajah Khumaira yang menarik perhatianku melainkan akhlak Shalehah, nya. Mulut tanpa filter-Mu sungguh mengganggu!" geram Azzam langsung pergi.
Aziz terdiam seribu bahasa. Rasa bersalah menguar mendengar perkataan Azzam.
"Kamu yang salah, baru tahu Masmu bisa marah? Orang sabar dan pendiam jika marah itu mengerikan. Jaga lisanmu, Le. Mas kecewa padamu!" tegas Nakhwan.
Tanpa mereka sadari Khumaira sejak tadi mendengar perdebatan mereka. Dia menunduk sembari membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Awalnya tadi dia ingin keluar dari kamar mandi dan ingin menolong tapi kata-kata Aziz membuat langkah terhenti.
***
Khumaira masuk kamar Azzam dengan langkah lunglai. Air mata terus berjatuhan mengingat percakapan mereka. Rasanya sakit saat tahu Suaminya pernah menjalin hubungan dan jubah tadi pemberian gadis itu. Sakit sekali, hingga dia harus sabar.
Azzam membuka pintu bathroom sedikit kasar. Matanya terpaku melihat Istrinya menangis begitu. Khumaira kenapa?
Khumaira terus menangis tanpa tahu Azzam sudah di dekatnya. Dia tersentak saat Suaminya menyentuh punggungnya.
Azzam kaget sekaligus sangat khawatir melihat Khumaira.
"Adek kenapa, Apa Mas melakukan kesalahan?" tanya Azzam terdengar panik. Dia terkejut saat Khumaira menepis kasar tangannya yang hendak menghapus air mata.
"Adek kenapa? Tolong jangan buat Mas khawatir," pinta Azzam.
"...."
Khumaira tidak menjawab dan memilih terus menangis tersedu.
"Dek, tolong tatap, Mas. Adek kenapa? Tolong Sayang jangan takut," bujuk Azzam.
"Lepas jubah itu dan ganti dengan pakaian biasa saja!" perintahkan Khumaira bernada dingin.
"Adek katanya ingin lihat Mas pakai ini, Mas sudah pakai. Ayo kita temui tamu tapi hapus air mata terlebih dahulu."
"Lepas saja tidak usah protes. Mas ngga mau pakai tapi sekarang mau. Sudahlah lepas saja."
Azzam tambah bingung akan situasi ini Istrinya marah karena apa? Ya Allah, dia serba salah sekarang.
"Mas tidak bisa lepas karena Adek sering bilang ingin lihat Mas pakai ini seharian."
"Lepas saja, apa susahnya sih!" marah Khumaira membuat Azzam terkejut.
"Adek marah karena apa? Tolong jangan buat Mas khawatir dan penuh rasa bersalah begini. Adek kenapa?"
"Mas cukup lakukan saja ....!!!" tanpa sadar Khumaira membentak Azzam dengan kasar.
Azzam tersentak mendengar bentakan Khumaira. Hatinya sakit tapi dia berusaha lapang agar Istrinya tidak apa-apa.
"Mas minta maaf jika ada salah," ujar Azzam pada akhirnya melepas pakaian dan berganti dengan pakaian lainya.
Khumaira menyesal membentak Azzam. Dia ingin meminta maaf tapi diurungkan saat jubah itu dimasukkan kembali oleh Suaminya.
"Mas keluar dulu, dan tolong sekiranya memaafkan Mas jika punya salah!"