Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Suamiku 2!



"Khumaira, tunggu ... kamu bilang, Mas Azzam ini Suamimu. Yang benar saja ... kapan kalian menikah?" hardik Yudha.



Khumaira tersenyum tulus mendengar perkataan Yudha. Dia meraih tangan kiri Azzam lalu mengangkat tangan mereka untuk memperlihatkan cincin pernikahan.



"Mas Azzam adalah Suamiku dan kami menikah bulan Ramadhan tepat hari ke 9," tutur Khumaira.



Yudha tertohok mendengar perkataan Khumaira.



"Apa kamu bilang? Kenapa kamu sembunyikan pernikahan kalian?" tandas Yudha.



"Memang siapa yang menyembunyikan? Aku setiap hari pakai cincin, memanggil Mas dengan beda. Apa yang kusembunyikan? Ah, memang harus berkoar-koar kalau aku sudah menikah biar semua tahu? Itu lucu, kalian saja bungkam kenapa aku harus memberitahu kebenaran itu?"



Mereka tertohok terutama Yudha.



Azzam tersenyum mendengar perkataan Khumaira. Istrinya benar-benar berani berbicara tegas begitu.



"Kalian jangan bilang ___" Bela tidak berani melanjutkan perkataannya.



"Ada apa?" dedes Khumaira.



"Kamu hamil di luar nikah, Maira?!" cicit Bela.



Mata Khumaira dan Azzam membulat sempurna mendengar perkataan Bela.



"Aku memang mengandung dan bukan hasil dari luar pernikahan. Kami kenal saja kurang dari 10 hari langsung menikah." Khumaira menjawab pertanyaan dengan lugas.



Azzam tersenyum saja lalu mengimbuhi, "Iya, aku menikahi Dek Khumaira saat puasa ke 9. Kami bertemu pertama kali di puasa ke 3. Lagian selama ini saya di Kairo baru pulang sehari sebelum puasa. Kami tidak pernah melakukan itu tapi sekali buat alhamdulillah jadi. Jadi, pikirkan dulu sebelum berbicara. Kami tahu aturan agama, mana mungkin melakukan itu."



Khumaira tersenyum lebar mendengar perkataan Azzam. Dia langsung merengkuh Azzam erat dengan isak tangis.



Hanya diam tanpa kata membuat hati mereka terhantam. Para pria terkhusus Yudha patah hati. Dan untuk para wanita berdecap iri.



"Adek, mau pulang, Mas," lirih Khumaira.



"Baiklah, kami permisi. Senang bertemu kalian dan jangan goda Adikku Aziz. Dia masih bocah belum bisa mengelap Ingus!" tukas Azzam.



"Mas Aziz sudah bisa mengelap ingus. Kan sudah dewasa, ngga baik jatuh in gitu," protes Khumaira.



"Dia memang dewasa, tapi bocah itu belum mau membina rumah tangga sebelum sukses. Anak itu berambisi sukses tanpa peduli umur," sahut Azzam cepat.



"Lalu, calon Adik ipar bagaimana yang cocok untuk, Tole Aziz?" tanya Khumaira spontan.



"Tentunya gadis Shalehah, baik hati, akhlak baik, harus sopan, tutur kata lembut supaya merubah Tole Aziz yang asal bicara. Lagian, itu gadis impian dia," tutur Azzam.



"Umz, itu benar, Mas. Mas Aziz, harus dapat gadis seperti itu agar melengkapi. Apa Mas Aziz pernah pacaran?"



"Belum, selama kami di Kairo memang banyak wanita bule, lokal dan Arab sana menyatakan cinta pada kami. Tapi, apa di kata tujuan kami sama, pendidikan, pekerjaan dan belajar agama Islam di atas segalanya. Kami belum pernah menjalin kasih."



"Wah Mas kalian hebat sekali. Beruntung memiliki Mas dan gadis yang akan memiliki Mas Aziz kelak."



"Sudah bicaranya ayo pulang, Dek. Lihat kita jadi tontonan."



Khumaira tersenyum lebar melihat mereka. Dia langsung malu sontak menyembunyikan wajah di bahu lebar, Azzam.



"Sekali lagi terima kasih, kami permisi dulu."



Azzam membawa tas selempang jinjing Istrinya. Sedangkan tangan mereka bertaut mesra.



Khumaira meminta maaf pada mereka lalu pergi bersama Azzam.



"Yang tabah ya, Yudha." Irul menepuk bahu Yudha agar tenang.



"Yang sabar, Mbak Khumaira bukan jodoh kamu," celetuk Bram.



"Semua terjawab saat di pasar waktu itu, mereka saat berpandangan menyiratkan banyak arti. Aku sampai tidak kuasa untuk berkomentar. Sabar ya Bro, aku yakin ada gadis lebih baik dari, Dik Khumaira," hibur Imam.



"Terima kasih," sahut Yudha sebelum pergi.



***



Aziz main ke apartemen pasangan romantis Azzam dan Khumaira. Dia terlihat senang sudah mendapat konsol game ps4.



"Ada apa, Le?" tanya Azzam tanpa basa-basi.



Aziz tersenyum tulus mendengar perkataan Azzam.



"Terima kasih ya, Mas sudah transfer. Aziz sudah dapat game baru."



"Sama-sama, ada lagi?"



"Haish, Mas ini ketus sekali. Boleh Aziz tumpang makan?"



"Ngga modal kamu, Le."



"Baiklah Aziz beli di luar saja ___"



"Ngga usah sok tersakiti, Le. Tadi Dek Khumaira lagi masak biasa tanpa ikan. Tidak apa?"



"Wah, terima kasih loh, Mas. Aziz makan apa saja mau asal jangan racun."



"Kamu ini, ayo!"




"Belum, Mbak. Aziz numpang makan, boleh?"



"Silakan, maaf cuma masak begini."



"Ini lebih dari cukup, Mbak ngga makan ikan?"



"Tidak, setiap mencium bau ikan rasanya mual. Jadi, di ganti sama lauk tempe dan tahu."



"Oo, aku tebak pasti nanti calon keponakan Aziz, laki-laki."



"He? Benarkah? Kok bisa?"



"Hanya menebak, Mbak. Ih Mbak gemesin ingin cubit," kekeh Aziz.



“Jangan sentuh atau ku potong tanganmu!” canda khimaura membuat Aziz tertawa.



Azzam senang melihat interaksi mereka begitu hangat seperti keluarga. Memang dasarnya Aziz supel dan suka mengajak bicara jadi banyak yang nyaman.



"Le," panggil Azzam.



"Enggeh, Mas," sahut Aziz.



"Rencanamu sekarang bagaimana?"



"Membangun rumah, Mas."



"Kapan mau menikah?"



"Menunggu Mbak Khumaira janda," canda Aziz dengan tawa lepas.



"Astagfirullah, bocah nakal!"



Azzam mengeplak kepala Aziz dan Khumaira mencubit lengan kekar Aziz.



"Auch, ini penyiksaan gratis. Jahat sekali orang tampan di siksa," rajuk Aziz.



"Salah sendiri asal bicara dan hilangkan sifat narsismu itu!"



"Bercanda kali, Mas. Kalau membina rumah tangga sih, maunya saat Aziz sudah mapan. Punya tempat tinggal sendiri dan hidup nyaman."



"Memang kapan? Ingat usiamu sudah dewasa."



"Mungkin 3-4 tahun lagi, Mas. Aziz hanya ingin merasakan perjuangan meraih mimpi. Mas tahu, banyak sekali harapan yang terlabuh di masa depan. Aziz ingin punya 3 anak atau lebih supaya rumah damai dan ramai. Ah, Aziz berkhayal tinggi tapi belum mau menikah untuk sekarang."



"Baiklah, pilih apa yang menjadi kesukaan kamu. Lakukan semua itu dengan tekad, jangan pernah berhenti berdoa dan Shalat Istikharah agar di beri petunjuk siapa calon makmummu!"



"Terima kasih, Mas. Aziz akan ingat semua pesan, Mas Azzam."



"Sama-sama, Le."



***



Khumaira melihat Azzam sudah tidur nyenyak usai melakukan Shalat Isya. Jemari lentik itu menari indah di permukaan wajah Suaminya.



Azzam bangun merasa Khumaira begitu nakal membangkitkan ke liarannya. Dia ingat beberapa hari lalu saat di tinggal tidur saat tegang-tegangnya.



"Adek tahu Mas terjaga. Mas, temani Adek," rengek Khumaira.



Azzam membuka matanya lalu mengerjap beberapa kali. Dia menarik Khumaira dalam pelukan erat.



Khumaira sampai terlilit sempurna oleh Azzam. Pada akhirnya tangannya merengkuh erat pinggang Azzam.



"Adek, Mas mengantuk besok ada meeting," bisik Azzam.



"Tapi, Adek belum mengantuk, Mas!"



"Tidur, Sayangku sudah malam."



"Masih jam setengah 10, Mas."



"Ayolah, Dek," pinta Azzam.



"Ngga mau," tolak Khumaira.



"Adek benar-benar ingin Mas nakali, eh?"



"Eh? Mas mau api ... Kyaa, Mas!"



Berakhir Khumaira di buat kelelahan dengan desahan erotis.



"istriku, ayo tidur sudah larut." Azzam pening sendiri. Sudah melakukan foreplay panas tapi Istrinya tidak kunjung tidur.



Napas Khumaira mulai berirama.



"Baik, Mas. Selamat tidur, Suamiku. Semoga mimpi indah."



“Selamat tidur, Istriku.”



Azzam merengkuh Khumaira posesif dan kini pasangan romantis tertidur pulas.