
Aku terpaku mendengar perkataan Mas Azzam. Harus apa sekarang, menerima atau menolak?
Ya Allah, aku tidak tahu dengan siapa akan di jodohkan. Teringat Mas Azzam selalu menasihati agar cepat menikah dan kata membosankan lainnya soal pernikahan.
Hah, Aziz sadar usiamu memang tidak muda lagi. Aku melangkah meninggalkan kamar dan melihat Mbak Khumaira bersama Tole Ridwan bermain.
Hatiku menghangat melihat kebahagiaan itu. Indah sekali bahtera rumah tangga yang mereka jalani, dan kini aku putuskan.
Aku terima perjodohan ini!
Dengan mengucap Bismillah aku siap menjalankan sunah Rasul.
Mimpi itu ternyata cuma bunga tidur, Alhamdulillah.
Ya Allah, sekarang aku sadar mimpi adalah bunga tidur. Sekarang jodohku ada di depan sana siap menjadi Istriku.
Siapa dia, aku tidak tahu.
"Mbak," panggilku.
Mbak Khumaira menatap diriku bingung . Baru kutahu mata Mbak Khumaira besar bulat di bingkai bulu mata lentik. Mirip sekali dengan Mas Azzam, matanya Mas juga besar dengan bulu mata panjang.
Pipi Mbak Khumaira nurun ke Tole Ridwan, gembul. Hidung mancung itu mirip Mas Azzam, bibir, emz mirip Mas Azzam.
Tole Ridwan perpaduan sempurna mereka. Wajahnya begitu tampan mirip sekali Mas Azzam.
"Aku mau tanya seputar wanita."
Pertanyaan aneh.
"Apa itu?"
"Apa yang sering di inginkan Istri? Apa mereka rewel saat meminta sesuatu?"
Mbak Khumaira mengerjap beberapa kali. Lalu tersenyum dengan kekehan lucu.
"Istri hanya menginginkan kebahagiaan, cinta, kasih sayang, perhatian, ketulusan dan kenyamanan. Tergantung, setiap wanita beda Mas, tapi kalau lagi mengandung pasti sedikit rewel."
Aku mencerna perkataannya. Kudekatkan wajahku pada Mbak Khumaira.
"Apa Mbak termasuk rewel meminta aneh-aneh pada, Mas Azzam?" bisikku dan kembali menjauhkan diri.
Mbak Khumaira bersemu, ku akui Mas Azzam beruntung sekali mendapatkan Mbak Khumaira.
"Sedikit," cicitnya.
"Banyak juga tidak apa, Mbak. Hai Mbak, Mas Azzam itu mapan. Manfaatkan kekayaan dung untuk Shopping!"
"Ini bujuk rayu setan. Jahat kamu Mas. Dapat Istri suka menghambur-hamburkan uang baru tahu rasa."
"Jangan sampai, Mbak."
Tole Ridwan meminta pangku tentu kupangku keponakan tampanku. Rasanya seperti anak sendiri, hai jangan salah paham karena aku penyayang anak kecil. Semua keponakan aku sayang dan anggap anak. Maklum masih bujangan.
Mas Azzam datang setelah menyelesaikan tugas alam.
"Le, siapkan diri 1 minggu lagi kamu bakal di jodohkan dan terikat."
Aku menunduk mencium puncak kepala Tole Ridwan. Hatiku sakit belum ikhlas menerima ini, apa ucapan tadi ingin menerima perjodohan sirna?
Ya Allah, aku harus bisa itu pasti. Ingat Aziz kamu sudah berumur dan sadar diri.
"Aku belum siap jika terlalu cepat, mungkin aku ajukan berapa syarat. Menikah bukan permainan, aku hanya ingin hatiku yakin dan percaya jika wanita itu takdirku. Mas bilang setelah satu minggu pertemuan maka 1 bulan menikah. Itu terlalu cepat, aku ingin mas mengatakan pada mereka Aziz ingin lebih lama!"
"Mas akan berusaha bicara pada mereka Jangan sedih begitu, jodohmu itu orang berpendidikan dan katanya anggun."
***
1 Minggu Kemudian!
Keluarga Pak Sholikhin dan Pak Hasyim datang hendak menyaksikan pertunangan Aziz.
Aziz terdiam seribu bahasa melihat Zahira. Tunggu jangan bilang? Aziz memijat pangkal hidung sedikit kasar karena mengetahui fakta bahwa calonnya adalah Zahira.
Zahira terpaku antara senang dan terkejut melihat Aziz. Ia begitu bahagia menerima fakta kalau Aziz calon Suami darinya.
Ayah Zahira mengenalkan Zahira pada keluarga Hasyim, tentu Hasyim balas ramah.
"Mas Aziz, Laila di tinggal nikah," celetuk Laila. Gadis kecil ini tumbuh cantik seperti Khumaira. Umurnya baru 16 tahun namun terlihat begitu cantik.
Aziz jadi ingat perkataannya 3 tahun silam. Dia menepuk puncak kepala gadis kecilnya.
"Maaf, Dek."
Keluarga Sholikhin menunduk malu. Kenapa lala malah mengacaukan rencana pertunangan itu.
"Mas jahat, dulu memberikan harapan palsu. Katanya mau tunggu Laila kapan pun ternyata salah. Laila, sebel!"
"Laila sadar, maaf putri saya lancang berkata begitu."
"Pak, Mas Aziz dulu pernah bilang mau nikahi Laila, tetapi sekarang mau nikah sama yang lain!" marah Laila.
Aziz menggigit bibir merasa malu akan ucapan dulu. Sekarang posisi sulit menghantam dirinya. Dia harus bagaimana menghadapi situasi mencekam ini?
"Maaf, Dek."
"Maaf - maaf, memang maaf bisa mengembalikan kepingan hati Laila yang hancur!"
Aziz melirik Zahira tampak terluka. Ya Allah kenapa ada drama di hari pertunangan suci ini?
"Dek, maaf."
"Ngga mau tahu, Mas Aziz harus menikahi, Laila!"
Aziz jadi termenung memikirkan jawaban.
"Maaf," sesal Aziz.
"Nikahi Laila, Mas!"
"Mas, waktu itu hanya bercanda, tolong maafkan, Mas!"
"Ngga mau tahu, bercanda atau serius itu urusan, Mas. Laila mau menikah dengan, Mas!"
Keluarga Sholikhin berusaha merayu Laila dan meminta maaf pada mereka secara tulus. Mereka sangat malu atas kegaduhan yang di sebabkan Laila.
"Laila ingin meminta pertanggung jawaban, Mas Aziz!"
"Jangan main-main, Dek. Ayo pulang, maaf semua!"
Laila berontak keras dalam dekapan Bahri. Dia tidak mau Aziz menikah dengan wanita lain. Dia sangat ingin menjadi mempelai pria dewasa itu.
"Jangan sakit calon Makmumku!"
"Eh?"
"Aku bersedia menikahi, Dek Laila!"