Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Haru 3!



Khumaira merasa perutnya sakit, mulas, kram dan tubuhnya sakit semua. Dia melirik sekarang jam setengah tujuh malam.



Azzam sedang membuat makanan untuk mereka. Dia sangat piawai dalam urusan dapur.



Khumaira merasa semakin sakit di perut. Dia baru tahu mungkin sudah saatnya lahiran. Keringat dingin mengucur deras membasahi tubuh Khumaira. Rasa sakit yang menyiksa membuat ia menggerang kesakitan.



"Mas ....!" panggil Khumaira bernada lirih. Harusnya 1 minggu lagi kenapa jadwalnya maju.



Pyar



Terpaksa Khumaira memecahkan gelas supaya Azzam dengar panggilannya.



Azzam yang mendengar pecahan sontak mematikan kompor dan berlari menuju kamar.



"Dek, ya Allah!" panik Azzam melihat Khumaira kesakitan.



"Mas, sakit ah hiks sakit," racau Khumaira.



Azzam bersyukur sudah menyiapkan tas berisi perlengkapan bayi dan baju ganti. Dia menggendong Khumaira hati-hati agar Istrinya tenang.



"Mas, argh sakit," racau Khumaira.



"Sabar, Dek kita akan ke rumah sakit segera!"



Azzam menyurih orang untuk menyetir mobilnya. Dia merasa air ketuban Khumaira keluar dan kini pahanya basah.



"Ah, sakit Mas," tangis Khumaira.



"Sabar, Dek. Sstt kita akan segera sampai. Mas mohon, bertahan!" Azzam menitipkan air mata melihat Khumaira begitu kesakitan.



Khumaira meremas lengan kekar Azzam kasar. Sungguh ini luar biasa sakit bak seluruh sendi putus.



Azzam berusaha tidak panik tapi nyatanya tidak bisa. Khumaira semakin menggerang kesakitan sembari meremas tangannya.



***



Khumaira mengejan berusaha mengeluarkan buah hatinya. Tangannya satunya berada di bantal dan satunya dia satukan dengan Azzam.



"Dek kamu kuat, Sayang. Berjuang demi anak kita. Mas mencintai, Adek!"



"Argghhh enghhh hiks sakit Mas ugh enghhh!"



Khumaira harus kuat mengeluarkan buah hati mereka. Dia terus mengejan dengan Azzam menyemangati dirinya.




"Mas tahu Adek kuat, berjuanglah Istriku. Mas sangat mencintai Adek!"



"...." Khumaira tersenyum teduh mendengar perkataan Azzam. Dia kuat itu pasti, tangannya semakin erat mencengkeram tangan Suaminya.



Azzam merasa ngilu di tangan akibat kukku tangan Istrinya menancap di punggung tangannya. Rasanya sakit melihat Khumaira begitu tersiksa. Tangan kanannya terus mengusap ubun-ubun Istrinya agar kuat.



"Ya Allah, andai sakit Istriku bisa di tukar, hamba siap menerima sakit itu. Tolong selamatkan Istri hamba, ya Allah!" rapal Azzam dalam hati.



"Mas, argh emhhh hiks ... Argghhh ....!"



Khumaira tidak kuat menahan sakit ini. Apa dia sanggup mengeluarkan buah hatinya dengan kondisi sangat lemah.



Azzam tanpa sungkan langsung mencium bibir Khumaira saat kesadaran Istrinya nyaris hilang. Dia lumat dengan lembut dan gigit agar Khumaira kembali terjaga.



"Mas ... Adek ughh," tangis Khumaira.



"Adek bisa, Mas yakin itu. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Berjuanglah, Istriku!"



Khumaira mengaguk lemah. Demi buah hati dia harus kuat. Tersenyum sedikit dan kembali berjuang untuk memperlihatkan dunia pada sang buah hati.



"Aaa, emhhhh Massss ughhhhh ... Enghhh ....!!!"



Perjuangan Khumaira terbayar saat bayinya keluar dengan selamat. Tangis membahana membuat Khumaira bernapas lega sekaligus haru. Sakitnya terbayar sudah.



Azzam sontak sujud syukur menyambut kedatangan buah hatinya. Dia bersyukur atas kebesaran Allah yang telah menyelamatkan Khumaira dan bayinya.



Dokter wanita itu menyerahkan bayi pada Azzam. Tentu Azzam menerima anaknya hati-hati. Dia menggendong penuh haru, perlahan Azzam angkat tubuh penuh darah anaknya. Tidak peduli darah mengenai tubuh serta wajah, Azzam mendekatkan bibir ke telinga kanan sang anak untuk mengadzani.



Azzam mengadzani sang anak dengan suara merdunya. Air mata haru bercucuran di setiap lafadz Adzan. Usai Adzan dan doa setelah Adzan, Azzam mendekatkan bibir ke telinga kiri untuk Iqamah.



Azzam mencium kening Putranya cukup lama serta menciumi pipi mungil anaknya. Bahagia sekali anak pertamanya lahir laki-laki. Perlahan dia serahkan anaknya agar tengkurap di dada Khumaira.



Khumaira menangis haru merasakan Putranya tampak sehat dan berisi. Bahkan terlihat tidak nakal terkesan lembut.



Awalnya bayi ini menangis, tetapi langsung diam tatkala di sentuh Azzam.



Khumaira mendekap Putranya penuh perasaan. Di ciumi puncak kepala anaknya. Puji syukur terus dia panjatkan pada Allah atas karunia-Nya.



Azzam mencium kening Khumaira mesra, dan beralih mencium putranya.