Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Kegilaan!



Charisma menggeram marah mengingat kejadian 2 minggu lalu. Dia berusaha lupa tapi tidak bisa lupa. Menyiksa untuk di ingat dan hal gila mencetus di otaknya.



"Jika aku tidak bisa memiliki dia maka kamu jangan mimpi memilikinya!" batin Charisma.



"Charisma," panggil Nyonya Brawijaya.



"Iya Mah," sahut Charisma.



"Mamah perhatikan kamu banyak pikiran, ada apa, Sayang?" tanya Rina Ibu Charisma.



"Tidak, Mah. Charis hanya ke pikiran masalah kerja."



"Jangan terlalu memforsir jika tidak mampu. Kamu bisa refreshing, Nak," nimbrung Bhagaskara.



"Ide bagus itu, Pah. Aku bisa liburan ke Bali mumpung libur," kekeh Charisma.



"Lalu, bagaimana hubung kamu dengan, Andi?" tanya Bhagaskara.



"Baik, dia mencintai Charis. Tapi, aku tidak mau hidup bersama dia," lirih Charisma.



"Ingat, kamu dan dia sudah menikah walau di rahasiakan. Harusnya kamu hargai Andi sebagai Suamimu!" hardik Bhagaskara.



"Kalian yang memaksa aku menikah dengan Andi. Demi menunjang kesejahteraan perusahaan kalian tega mengorbankan aku untuk menikah dengan pria aneh itu. Aku muak!" geram Charisma sebelum pergi.



"Charisma ....!" teriak Bhagaskara merasa frustrasi.



"Sudah, Pah jangan di ambil hati. Charisma masih belum dewasa dan berpikir rumah tangga. Kita yang salah memaksa kehendak, sudah tenang," nasihat Rina.



"Tapi, Mah sampai kapan Charisma begini? Andi kurang baik apa lagi? Sungguh aku kecewa dengan sikapnya," sergah Bhagaskara.



"Pah, doakan saja semoga Allah cepat menyadarkan Putri kita. Ayo makan lagi."



"Amin."



***



Khumaira memijat Azzam yang mengeluh capek. Tangan mungil itu terus memijat punggung kokoh Suaminya.



Azzam merasa baikkan sekarang. Dia memutar ingatan, setelah keluar dari BC, ia memutuskan kerja jadi guru Madrasah Aliyah dan Diniah. Walau gaji kecil tidak masalah baginya asal waktu bersama Khumaira lebih banyak.



Lagian di Madrasah dia ahli di bidang itu. Lalu ilmu diniah, Azzam sekalian mengamalkan ilmu yang dia dapat di Kairo.



"Mas," panggil Khumaira karena sedari tadi Azzam bungkam.



Azzam berbalik menghadap Khumaira. Tubuh atasnya polos membuat wajah Khumaira bersemu.



"Adek ngga pijat bagian depan," goda Azzam.



Khumaira tersenyum malu-malu mendengar perkataan Azzam. Perlahan tangan lembut itu memijat tubuh depan Suaminya.



Saat memijat perut kotak-kotak Azzam, Khumaira malah meremas pelan. Sungguh godaan terbesar adalah roti sobek Suaminya.



"Adek pijat bukan remas," peringat Azzam.



Khumaira langsung menunduk dan melanjutkan mari memijat. Konsentrasi buyar karena di suguhi dada bidang dan 6 roti sobek. Kalau begini, dia bisa apa? Hormon Ibu hamil membuatnya ingin itu.



"Adek ingin itu, boleh saja. Ayo Shalat isya dulu baru melakukan itu!" tegas Azzam sembari menoel dagu Khumaira.



Khumaira malu sekali mendengar perkataan Azzam. Tapi lihat dia malah menjulurkan dua tangan bermaksud ingin gendong.



Azzam terkekeh melihat Khumaira yang manja dengan tingkah malu kucing. Rasanya ingin menerkam sang Istri sekarang juga.



Khumaira tersenyum lebar saat Azzam mengangkat tubuhnya menuju bathroom. Melingkarkan tangan erat di bahu lebar Suaminya sembari menyembunyikan wajah di dada bidang Azzam. Khumaira begitu malu sekarang akan keadaan.



"Sudah sampai, Dek. Ayo turun wudhu dulu," ucap Azzam kalem.



Khumaira mengaguk.



Mereka cuci muka serta siwakan terlebih dahulu sebelum wudhu. Usai itu mereka wudhu dan berjalan menuju kamar pribadi.



Azzam memakai baju koko warna biru muda dan bawahan sarung warna senada.



Khumaira memakai mukena terusan warna putih. Dia sudah siap Shalat berjamaah bersama sang Suami.



Ba'da Shalat Azzam dan Khumaira memutuskan untuk mengaji terlebih dahulu sebelum melakukan malam panjang.



***



"Mas, nanti Adek ke tempat Mas mengajar ya. Sekalian mau kenal sama Kang pondok," kekeh Khumaira.



Azzam menatap Khumaira intens. Ingin sekali dia unyel-unyel pipi gembul Istrinya.




"Bercanda, Mas. Adek sudah hamil lihat sudah terlihat walau tidak terlalu. Dan cinta Adek cuma untuk, Mas," rayu Khumaira.



"Ada maunya pasti. Adek, minta apa?"



"Umz, melon sama jeruk nipis, Mas."



"Nanti kita beli. Dek, Mas punya firasat kurang baik, hati-hati ya. Mas cinta Adek karena Allah."



Khumaira bersemu mendengar perkataan Azzam. Dia menggenggam tangan besar Suaminya lalu mengecupnya.



"Adek pasti hati-hati, Mas. Adek juga mencintai Mas karena Allah."



Azzam menarik Khumaira dalam dekapannya lama lalu mengecup kening sang Istri penuh cinta.



"Belajar yang rajin, Istriku. Jangan ke pikiran Mas terus."



"Enggeh, Mas. Mas juga mengulang mereka yang ikhlas dan jangan pikirkan Adek, terus."



Azzam yang gemas spontan mencium pipi gembul Khumaira dan menggigit bibir Istrinya gemas.



"Adek jangan goda Mas, ingat Mas bisa kelepasan berabe. Nah sana masuk kelas Mas juga mau langsung ke Madrasah."



Khumaira mencondongkan badan ke arah Azzam. Dia dengan nakal mencium bibir tipis Azzam dan meremas pusaka sang Suami. Setelah itu langsung keluar mobil.



"Assalamu'alaikum, Mas!" seru Khumaira langsung menyelonong pergi tanpa peduli Azzam.



"Wa'alaikumssalam, Dek. Allahu akbar, kuatkan aku memiliki istri nakal," gumam Azzam.



Khumaira mendengarkan penjelasan Dosen dengan sesama. Jika ada yang penting dia catat sebagai bahan. Presentasi di mulai, teman-temannya mempresentasikan dengan baik.



Kelas berakhir, spontan teman-teman Khumaira mengelilinginya.



"Maira, sudah berapa bulan kandungan kamu?" tanya Bela.



"4 bulan kurang 1 minggu."



"Kyaa, Maira aku tidak sabar melihat bagaimana wajah anak kamu. Ayahnya ganteng banget dan Ibunya cantik. Aish, aku iri ingin punya Suami bule. Pak Aziz mau ngga ya!" pekik Tiara.



"Usaha yang keras Tia. Oh Iya aku pulang dulu ya tapi mampir ke Pondok untuk menemui Masku."



"He? Memang sekarang Masmu kerja apa di Pondok? Bukannya dia bekerja kantoran!" celetuk Alina.



"Masku resign dan sekarang jadi guru Aliyah dan Diniah."



"Ya Allah, kenapa bisa resign? Di sayangkan sekali gaji besar jadi gaji kecil," cetus Shela.



Khumaira menggigit bibir merasa tidak nyaman. Merasa bersalah karena mengkhawatirkan dia Azzam resign.



"Hush, kamu tidak boleh bicara begitu," peringat Vivi.



Khumaira pamit pulang setelah mengobrol singkat bersama teman. Dia berniat naik angkot menuju tempat kerja Azzam. Tanpa Khumaira tahu ada yang mengintainya.



Charisma tersenyum licik menatap depan. Di sana dia melihat Khumaira sedang duduk di kursi sembari mengirim pesan.



"Mati saja kamu, jalang. Aku tidak ikhlas jika Azzam jadi milik kamu. Jika aku tidak bisa mendapatkan dia maka kamu jangan mimpi bahagia," gumam Charisma sembari menyeringai iblis.



Aziz tersenyum tipis saat Zahira Mahasiswi fakultas kedokteran menyapanya. Dia baru tahu gadis ini ternyata Mahasiswi UGM. Sekarang ini Zahira menjadi KOAS di rumah sakit ternama di Yogyakarta.



"Pak, maaf selama ini saya kurang sopan terhadap Anda. Saya berani memanggil Anda, Mas. Sekali lagi maafkan saya, Pak," sesal Zahira karena baru tahu Aziz Dosen.



Aziz tersenyum singkat menanggapi perkataan Zahira.



"Tidak apa, santai saja. Mari, saya duluan," ucap Aziz.



Mata coklat keemasan Aziz membulat sempurna melihat Khumaira hendak menyeberang. Dan dari arah utara ada mobil mewah berwarna silver melaju dengan kecepatan tinggi. Dari yang dia tahu mobil itu sengaja mau menabrak Khumaira.



"Mbak Khumaira, awas ....!!!" teriak Aziz langsung lari.



Banyak Mahasiswa dan Mahasiswi serta warga menahan napas akan situasi ini.



Khumaira langsung melihat arah utara. Matanya terpejam rapat dengan buku berjauhan. Dia berteriak histeris saat mobil itu hendak menabraknya.



"Aaaa .....!!!"



Chit



Brak