
3 Tahun Kemudian ....
Tidak terasa Putraku Ridwan sudah berusia 3 tahun. Selama ini hanya kebahagiaan yang terpancar untuk bahtera rumah tangga kami.
Istriku selalu menemaniku dalam suka maupun duka. Khumaira-ku semakin cantik nan elok. Aku sangat mencintainya sepenuh hati bahkan aku tidak pernah bisa lepas mengagumi sosok Bidadari yang di turunkan Allah.
Setiap gelombang aku akan menghadapi bersama Istriku. Sungguh jika kelak kami terpisah oleh maut, aku akan selalu mencintainya sampai di dunia lain. Dek Khumaira adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup. Dia Ibu dari Putraku yang sangat tampan.
"Mas," panggil Istriku. Masih sama aksen lembut itu selalu membuat aku terbang. Istriku Khumaira adalah bidadari surga yang di kirim Allah.
"Ada apa, Istriku?"
"Kenapa melamun?" tanyanya sembari mengusap pipi.
Aku rengkuh pinggulnya sembari mengecup mesra keningnya. Sayangku, Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Mas akan selalu mencintai Adek dan Dedek Ridwan.
"Memikirkan, Adek dan Tole Ridwan."
Khumaira-ku tersenyum manis lalu merengkuh hangat. Ya Allah, bahagia sekali diriku ini. Semua terasa manis untuk di ingat tetapi ada satu keganjilan dalam hati tentang Adikku.
"Abi, Umi ayo keluar ada Kakek dan Nenek!" seru Ridwan membuat kami melepas pelukan.
"Enggeh, Tole. Ayo kita keluar!" tegasku.
Tole Ridwan berlari ke arah kami. Tentu tahu apa yang diinginkan Putra tampanku ini. Ku gendong tubuh berisinya sembari mencium pipi bulatnya.
"Mbak, Mas selamat ya, semoga bahtera rumah tangga kalian sampai maut memisahkan."
"Terima kasih, Dek."
Laila merengkuh Khumaira dengan ceria, lalu bersalaman padaku. Adik ipar memang sangat ceria walau kadang menjengkelkan karena terlalu jahil.
Aku belum bilang, ini acara hari jadi pernikahan kami. Walau tidak meriah setidaknya kami menggelar sekedar memperingati penyatuan kami. Kami hanya melakukan syukuran kecil-kecilan tidak ada yang meriah.
Tole Aziz terlihat beda sekarang mungkin efek dewasa. Bocah itu sedikit pendiam tidak mengoceh setiap saat. Usianya 29 tahun, jadi waswas sendiri akan jodoh Adikku.
Teringat perkataan Ummi dan Abah kalau aku di suruh membujuk Aziz untuk menikah. Lagian, dia sudah mendirikan rumah plus hasil desain sendiri. Rumahnya cukup mewah untuk ukuran pekerja keras.
Rumah Aziz itu mini malis modern lantai dua. Sementara aku, mendirikan rumah di Pagerharjo. Alasanya, supaya Dek Khumaira lebih leluasa untuk menemui keluarganya.
Rumah kami di buat oleh para pekerja bangunan dan di rancang sendiri olehku. Cukup rumit tapi siapa peduli? Rumah ini cukup besar lantai dua.
"Selamat Mas atas hari jadi pernikahan kalian. Semua doa baik untuk kalian, Mas dan Mbak."
"Amin, terima kasih ya Le."
"Sama-sama."
Aziz merengkuh tubuhku dan beralih memeluk Ridwan. Entahlah aku merasa Adikku ini agak berbeda, karena apa aku tidak tahu. Mungkin faktor umur dan hilangnya sifat narsis berlebih, mungkin saja.
"Paman, Ridwan kangen."
"Paman juga, Le."
Aziz sudah cocok menjalani bahtera rumah tangga. Semoga saja dia mau aku bujuk. Amin, aku penasaran siapa jodoh yang di pilihkan oleh Abah. Apa gadis itu punya akhlak yang baik? Aku berharap Istrinya kelak mau menerima Aziz dalam suka maupun duka, Amin.
Semua berkumpul bersama di ruang tengah. Abah mendoakan pernikahan kami dengan khusyuk. Orang tua Adek juga turut serta.
Usai semua itu kami makan bersama penuh suka cita. Aku lirik Istriku tampak pucat sembari membekap mulutnya. Ada apa dengan Istriku?
Khumaira pamit ke dapur, tentu aku ikuti. Istriku muntah-muntah membuat panik. Ku pijat tengkuknya agar tenang.
"Mas, ugh maaf ya," sesal Khumaira-ku.
"Tidak apa, Dek. Apa sekarang sudah baikkan?" tanyaku halus.
"Alhamdulillah sudah mendingan, Mas. Jangan khawatir begitu karena Ini wajar, Mas."
"Wajar bagaimana, Dek? Adek muntah begitu di katakan wajar."
Istriku benar-benar aneh seperti mengandung saja. Ya Allah, jangan bilang aku akan menjadi Ayah lagi?
Khumaira merengkuh tubuhku erat sembari mengatakan hal manis. Benarkah, apa aku akan jadi Ayah?
"Mas, hayo tebak?" godanya membuat mata berkaca.
"Adek ... serius Adek?"
Khumaira meminta aku menunduk tentu menurut. Aku menunduk cukup dalam agar Istriku bisa menggapai.
"Adek hamil 2 bulan, Mas. Bagaimana Mas kado dari Adek?"
Mataku berkaca mendengar bisikannya. Aku rengkuh tubuh mungil Khumaira dan menciumi wajahnya tanpa kecuali.
Khumaira tersenyum tulus menanggapi perkataanku. Lihat mata teduhnya ikut menitikan air mata haru. Ya Allah, aku sangat bahagia menerima hadiah terindah-Mu.
"Adek sangat senang dan terima kasih sudah menjadikan Adek Umi lagi. Adek juga mencintai Mas!"
Ini hadiah terindah dari-Mu ya Allah. Hamba senang sekali mendengar itu semua. Ya Allah, semoga kami selalu bahagia di setiap langkah, Amin.
Adek, Mas sangat bahagia akan karunia Allah. Aku tidak mampu berkata apa-apa karena diriku sangat bahagia.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar Walillaahil-Hamd.
***
Aziz sedang mengerjakan laporan bulanan. Kepalanya sedikit pusing, memang akhir-akhir ini kurang tidur, makan dan kekurangan darah.
"Harus ke apotek beli obat," lirih Aziz.
Sampai di Apotek Aziz melihat Zahira, gadis yang selama ini dekat padanya. Gadis berprestasi yang dia anggap Adik sendiri.
"Mas Aziz," panggil Zahira.
"Hai, Dik. Membeli apa?"
"Ini temanku Raya menginap, namun sakit. Mas pucat, apa sedang sakit?"
"Sedikit."
Aziz membeli vitamin, obat pusing dan penambah darah. Pria gagah itu tidak terlalu banyak bicara, entah kenapa agak tertutup.
Zahira gadis berusia 24 tahun sedari awal tepatnya 3 tahun lalu sudah menyukai Aziz. Namun, sampai sekarang tidak berani mengutarakan isi hatinya.
Aziz sendiri menggagap Zahira sebagai Adik. Tepat 1 tahun mereka semakin akrab, panggilan Pak dan Mbak beralih menjadi Mas dan Adik.
"Ya sudah, aku pergi dulu. Mari Dik."
"Mas Aziz, mau makan?" ajak Zahira.
Aziz berpikir sebentar.
"Sepertinya tidak, Dik pekerjaan kantor membelenggu. Lain kali saja, Assalamu'alaikum."
Zahira kecewa tetapi berusaha tersenyum lebar. Pria yang sangat dicintai terlalu sulit untuk di gapai.
"Wa'alaikumssalam, Mas!"
Khumaira merengut sebal karena Azzam meninggalkan bersama Ridwan di rumah makan. Suaminya sedang membeli sesuatu di alfamart.
Padahal mereka berniat mengunjungi Aziz, entah kenapa Azzam ingin bertemu Aziz alasannya karena ingin membujuk Aziz menikah. Khumaira jadi pusing sendiri memikirkan Adik iparnya tidak kunjung melangkah ke pelaminan.
Azzam tersenyum melihat Khumaira dan Ridwan mengerucut lucu. Kalau sedang ngambek Putranya begitu mirip dengan Khumaira. Walau banyak yang bilang Ridwan duplikat darinya.
"Maaf lama, Umi dan Tole."
"Abi nakal, Dedek sebal."
"Loh kok begitu? Sini Abi cium."
"Abi, jangan cium, Dedek."
"Ayolah, Abi minta maaf, Tole. Sini sama Abi ...."
Khumaira mencubit gemas paha Azzam. Dasar Suaminya ini sangat nakal dan selalu menggoda Ridwan di setiap kesempatan.
"Jangan goda, Tole Ridwan, Mas!"
"Maaf, Dek."
Azzam mengusap perut Khumaira lembut supaya tenang tidak mengambek. Sontak Khumaira menggenggam tangannya yang ada di atas perut.
"Mas," lirih Khumaira.
"Um," sahut Azzam sembari mengusap pipi gembil Ridwan.
"Adek sayang Mas," lirih Khumaira.
Azzam terkekeh mendengar perkataan Istrinya. Apa Khumaira ingin sesuatu sampai merayu dengan manja?
"Mas juga sayang Adek."
Azzam memangku Ridwan lalu menyuapi anaknya. Sedangkan Khumaira asyik makan, sesekali menyuapi Azzam.
Banyak pengunjung berdecap kagum sekaligus iri pada pasangan romantis itu. Mereka merasa adem menatap Azzam dan Khumaira serta Ridwan saling tertawa penuh kebahagiaan.