Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Terkejut!



Azzam dan Khumaira senang sekali karena tinggal 6 bulan lagi calon buah hati mereka lahir di dunia.



Khumaira bernapas lega, pasalnya kurang 1 minggu lagi Azzam gajian. Dia rengkuh Azzam yang sedang mengerjakan tugas.



"Mas," panggil Khumaira dengan nakal duduk di pangkuan Azzam.



Azzam menutup laporan lalu mematikan laptop dan juga melepas kaca mata baca. Sepertinya Khumaira mode manja minta sesuatu.



"Mas," panggil Khumaira lagi sembari mendusel manja.



"Ada apa, Dek?"



"Mas."



"Enggeh, ada apa, Sayangku!"



Pipi Khumaira merona mendengar jawaban Azzam. Dia langsung mencubit perut berotot Suaminya.



"Mas."



"Enggeh, Sayang. Ada apa, Hm?"



"Mau Mangga muda tempat Pak Basri," ucap Khumaira kalem.



Azzam mengedip beberapa kali mendengar perkataan Khumaira. Menatap Istrinya dalam meminta jangan minta Mangga di situ.



"Dek, jangan tempat Pak Basri yang dikenal galak. Tempat lain saja, sekalian Mas belikan banyak," tolak Azzam halus.



Khumaira mengerucut manja. Lalu lihatlah ekspresi sedih dengan mata berkaca membuat Azzam tidak berdaya.



"Sayang, Abimu tidak mau nurutin keinginan kita. Abi, jahat, Nak," drama Khumaira seraya mengusap perutnya yang mulai terlihat buncit.



Drama Khumaira dengan ekspresi nelangsa sukses membuat Azzam panik. Kalau begini di pastikan Azzam bakal mengabulkan keinginan ngidam Mangga.



"Allahu Akbar, Mas bakal minta Mangga. Sstt, jangan menangis, Dek."



Khumaira tersenyum semringah. Lalu merengkuh leher Azzam sembari mengecup rahang tegas Suaminya.



"Serius ya, Mas!"



"Enggeh, lalu mana hadiah untuk, Mas?!"



"Hadiahnya setelah dapat Mangga 2 kilo."



"Kok gitu, Dek? Mas ngga semangat nanti, bagaimana?"



Khumaira mengatupkan bibir rapat dengan mata berkaca siap menangis. Dan benar dia menangis gara-gara Azzam.



"Oh, baik Mas hanya bercanda. Jangan menangis, Istriku. Mas ganti baju dulu baru minta mangga."



Khumaira tersenyum lebar sembari mengecup pipi Azzam. Air mata buaya itu sungguh ampuh mengelabui Azzam. Dia sangat bahagia keinginan makan Mangga bakal terkabul.



"Yosh, Mas yang semangat ya. Adek masakkan yang enak!"



"Ok, sekarang turun biar Mas ganti."



"Ngga usah ganti, pakai ini saja."



Mata Azzam membulat sempurna mendengar perkataan Khumaira. Dia melihat penampilannya. Celana longgar selutut dengan kaus lengan pendek.



"Serius, Dek?"



"Hu'um."



"Baiklah, jadi Mas boleh keluar begini? Ngga takut Masnya di patok?"



Khumaira merubah ekspresi menjadi serius. Menatap Azzam intens tanpa berkedip. Lengan kekar dengan urat menonjol sana-sini, begitu pun dengan otot kaki. Bulu halus juga terlihat menggiurkan untuk diusap. Apa dia sanggup Azzam keluar dengan penampilan begini? Tentu saja tidak, Khumaira tidak ingin mata para wanita menatap lapar, Azzam.



"Yakin, Mas boleh keluar berpakaian begini?" goda Azzam sembari mengerling nakal.



Khumaira menggeleng cepat.



"Jangan, Mas ganti baju kaus panjang dan celana panjang."



"Loh katanya suruh pakai ini."



"Ngga boleh, cepat ganti, Mas!"



"Bagaimana gantinya jika Adek duduk manis begini?"



Khumaira menyengir polos.



"Gendong Mas sampai kamar, biar Adek tunggu Mas di sana."



"Kode minta itu setelah dapat Mangga?"



"Mas, mesum."



"Bercanda, Dek."



***



1 Minggu Kemudian!



Azzam menerima gaji besar dari atasanya. Dia bernapas lega pada akhirnya akan terlepas dari sini.



"Zam, kamu kenapa?" tanya Seno.



"Tidak, aku senang sekali hari ini dapat gaji. Oh iya, Reza kamu sudah menikah bukan?"



"Hm, ada apa? Mau tikung aku getok kepalamu!"



"Astagfirullah, aku tanya sedikit boleh?"



"Boleh, tanya apa?"



"Aku mau cari hadiah untuk, Istriku. Dia sedang mengandung sekarang, nah hadiah yang cocok, apa?" tanya Azzam sembari mengetik pesan balasan untuk Istrinya.



Brush



Seno, Reza, Setiawan dan lainya tersedak mendengar perkataan Azzam.



"Kalian kenapa? Reza, aku serius. Hadiah yang cocok apa?"



"Allahu akbar, Astagfirullah. Zam, kamu salah bicara atau serius?" tanya Reza menuntut jawaban.



"Aku memang sudah menikah, kalian buta atau bagaimana? Dari awal sudah pakai cincin kawin masak ngga paham status," celetuk Azzam kalem.



Mereka terbatuk hebat mendengar jawaban Azzam. Mereka pikir cincin itu hanya aksesori tanpa pemilik.



"Bukanya status kamu single?" tanya Setiawan.



"Single? Aku sudah menikah," jawab Azzam sembari menyerahkan E_KTP.



Mereka melongo melihat status Azzam. Ini benarkan tidak di rekayasa?



"Tapi, status kamu single loh di sini."



"Itu, saat aku daftar kerja memang masih single, pasalnya masih di Kairo, lalu melakukan interview juga masih lajang. Menikah dan ganti status puasa ke 9," papar Azzam.



"Masyaallah, kami baru tahu, Zam. Eh, tunggu kamu benaran umur 29 tahun?!" tukas Reza.



"Iya, memang kenapa? Wajahku sudah terlihat tua?"



"Ya Allah, kami pikir kamu baru umur 20 tahun ke atas dikit. Ngga menyangka aku, Zam."



Mereka terkejut akan status dan usia Azzam. Memang Azzam memiliki bulu halus di sisi rahang dan sedikit berkumis tipis. Tetapi wajahnya itu lembut seperti baru masuk 20.



Azzam tidak menggubris perkataan mereka. Dia memilih memgambil map berisi surat resign.



"Sudah, aku mau ke ruang CEO dulu."



"He, kamu sudah nikah loh, kok masih ___"




Mereka melongo lagi mendengar perkataan Azzam. Serius, baru terima gaji langsung keluar?



Azzam masuk ke ruang Charisma sembari tersenyum tipis. Menghormati untuk yang terakhir.



Charisma terpesona melihat senyum Azzam. Dia buru-buru berdiri dan mempersilakan Azzam duduk.



"Maaf, Buk. Ini saya mau menyerahkan ini!" tegas Azzam sembari menyerahkan amplop putih berisi surat pengunduran diri.



Charisma menerima amplop, lalu membukanya. Dia menarik pelan napas supaya netral. Usai membaca dengan sesama, Charisma terlihat marah.



"Apa maksudnya ini?" hardik Charisma.



"Anda bisa membaca, Nona!"



"Kamu tidak boleh resign!"



"Why? Saya punya hak menentukan pilihan!"



"Kamu tidak boleh resign, apa kurang gaji yang saya berikan?"



Azzam mengalum senyum manis. Sungguh dia harus ekstra sabar menghadapi Bos aneh.



"Tidak ini lebih dari cukup, saya merasa tertekan dan kurang srek kerja di sini lagi. Anda terlalu mengekang saya, jadi untuk apa saya bekerja?"



Charisma panik orang yang di taksir begini. Dia harus melakukan apa pun demi menahan Azzam.



"Saya tidak akan membuat kamu mengerjakan tugas tidak seharusnya. Tidak ada lembur lagi, tetapi tetap bekerja di sini."



"Maaf, keputusan saya sudah bulat. Saya, permisi!"



"Hai, kamu tidak bisa seenaknya begitu. Memang perusahaan ini milik Nenek moyang, kamu!"



Azzam menghadap Charisma dengan pandangan sinis. Bibir berbentuk hati itu melengkung mengejek.



"Saya sudah muak bekerja di sini. Saya, permisi!"



"Kau ...! Tunggu, aku akan menuntut kamu jika keluar dari sini!"



"Apa maksud, Anda? Jika mengambil jalur hukum, pastinya Anda yang masuk bui. Sudah, saya tidak ada urusan lagi!"



"Baiklah aku setuju kamu resign, tapi ada 1 syarat!"



Azzam menyengit mendengar perkataan Charisma. Apa rencana wanita rubah ini?



"Apa?"



"Makan siang bersamaku!"



Azzam diam tanpa kata.



***



Khumaira untuk pertama kali datang ke kantor Brawijaya. Suaminya tadi berangkat pagi dan belum makan. Makanya dia nekad membawa bekal untuk Azzam.



Khumaira memoles wajah dengan make up tipis supaya terlihat lebih dewasa. Wajah ayunya tambah cantik memakai riasan sederhana.



Khumaira mendatangi resepsionis dan memberikan salam. Senyum ramah terus merekah di bibir tebal warna peach itu. Khumaira sangat gugup di tatap intens para karyawan.



Banyak pasang mata menatap Khumaira kagum, terutama para lelaki. Satu kata, cantik, manis dan anggun.



"Mbak, mau cari siapa?" tanya resepsionis itu.



"Mas Azzam," sahut Khumaira kalem.



"Mas Azzam, emz maksud Mbak, Azzam si bule ganteng sekarang jadi GM?!" celetuk resepsionis satunya.



Khumaira hanya tersenyum tipis. Suaminya begitu terkenal akan ketampanan dan itu risiko punya Suami tampan.



"Iya, Mas Azzam itu."



"Anda Adiknya?"



Khumaira hendak menjawab, tapi perutnya tiba-tiba nyeri. Meringis kecil menahan sakit dan ini sangat menyiksa.



"Ugh," lenguh Khumaira sembari memegang perut.



Memang dasarnya pakai gamis makanya perut Khumaira tidak terlihat. Lagian kandungan Khumaira baru masuk minggu ke 13.



"Mbak, Anda kenapa? Duduk saja di kursi tunggu itu. Saya akan panggilkan Pak Azzam."



Khumaira menurut.



3 menit kemudian, Azzam serta beberapa rekan kerja sekaligus CEO dan sekretaris CEO keluar. Sekarang waktunya makan siang, makanya banyak yang keluar mencari makan.



Azzam melihat Khumaira sedang duduk sambil main ponsel, dan benar ponselnya berdenting. Dia buru-buru menghampiri Istrinya.



Charisma hendak memanggil tapi tertahan. Siapa gadis berhijab pink itu?



"Adek, ya Allah. Kenapa datang kemari?!" seru Azzam setelah sampai depan Khumaira.



Khumaira tersenyum lebar melihat Azzam. Lesung pipit itu sangat manis membuat para karyawan lelaki tambah kagum.



"Karena, Adek datang bawa bekal. Tadi pagi, Adek tidak sempat masak. Maaf datang baru mengabari, Mas."



Rekan Azzam menganga setelah koneksi siapa wanita cantik itu. Mereka menatap Khumaira intens dan menelisik penampilan wanita mungil tetapi sangat manis dengan takjub.



"Tidak perlu repot, Adek. Mas, tidak mau Adek capek."



Khumaira mengerucut lucu mendengar perkataan Azzam. Merasa kecewa atas penolakan Azzam secara tidak langsung.



"Ya sudah, Adek pulang saja."



Khumaira hendak melangkah tapi langsung membeku saat Azzam merengkuh dirinya dari belakang. Matanya mengerjap beberapa kali untuk menghalau malu.



"Maaf, sudah mengambeknya, Adek. Ayo ikut makan Mas di kantin."



Khumaira berusaha lepas dari Azzam. Tetapi, Suaminya malah semakin erat merengkuh.



"Mas, malu di lihat banyak orang," cicit Khumaira.



"Biarkan saja, Adek kan Istri, Mas. Kenapa harus malu? Kita sah jadi Mas bebas rengkuh Adek di mana pun!" tegas Azzam sukses membuat penghuni kantor terkejut terkhusus Charisma.



"Mas, malu ih. Lepas, lihat mereka menatap kita aneh," lirih Khumaira.



Azzam melepas pelukannya. Lalu tangannya menggenggam tangan mungil Khumaira erat.



"Masyaallah, jadi ini Istrimu, Zam. Mungil banget, pantas cinta banget," celetuk Setiawan.



"Iya, dia Istriku."



"Nama Adek siapa?" cetus Seno.



"Khumaira!" jawab Khumaira kalem.



"Wah, Zam. Cocok banget sama kamu," puji Reza.



"Terima kasih."



Charisma mengepalkan tangan erat. Dia merasa kalah saing, pasalnya pria yang di suka sudah beristri. Sakit sekali, selama 1 bulan ini ternyata dia di bodohi.



"Hai, kamu membodohi kami soal status. Kamu memalsukan status kalau kamu lajang. Aku tidak menyangka Anda sepicik ini untuk meraih hati para wanita!" seru Charisma.



Azzam menyengit mendengar perkataan Charisma. Bosnya ini sehat atau sedang kehabisan obat?



"Anda bilang apa? Saya memang sudah menikah 3 bulan lebih. Lalu, apa yang saya palsukan?"



"Di daftar pekerja, kamu masih lajang. Jangan mengelak dan jangan sok alim!"



"Oo, saya lupa belum memperbaiki status. Memang waktu saya daftar jadi GM status saya masih single. Saya langsung di rekrut oleh Pak Bhagaskara sewaktu di Kairo, lalu saat interview juga masih lajang. Sekali lagi maaf atas kelalaian, saya!"



Charisma dan para wanita membisu merasa patah hati. Pupus sudah harapan mendapatkan bule ganteng. Kalau begini mereka hanya bisa iri ria pada Khumaira.