Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Perpisahan!



Azzam menghembus napas berat karena jam menunjukkan pukul 4 pagi. Ia dan yang lain tidur di ruang keluarga, alasannya ingin menghabiskan waktu bersama.



Di pandang penuh arti satu persatu wajah lelap keluarga besarnya. Azzam menitikkan air mata dalam diam saat menatap Ridwan dan Khumaira.



"Ya Allah, hamba ikhlas."



Khumaira terbangun saat merasakan lelehan air mata menyentuh kulit pipi. Dia terbelalak melihat Azzam menangis.



"Mas," lirih Khumaira.



Azzam buru-buru menghapus air matanya lalu tersenyum manis pada Khumaira. Pasti Istrinya terganggu karena tindakannya.



"Apa Mas membangunkan, Adek?"



"Tidak, Mas kenapa?"



Azzam bukanya menjawab malah merengkuh Khumaira erat sembari menangis dalam diam. Dadanya begitu sesak akan semua ini.



"Mas," lirih Khumaira.



"Dek, berjanji pada Mas kalau Adek akan selalu menjaga Shalat, kehormatan, ke Shalehah dan menghindari larangan, Allah. Jadilah wanita tangguh, sabar, ikhlas, lapang dada, setia, penyayang dan berbudi luhur. Setiap masalah hadapi dengan tabah, sabar, ikhlas dan tawakal. Mas ingin melihat Adek menjadi wanita penghuni Surga, Amin. Semoga Allah selalu menjaga Adek dari mara bahaya. Ingat kebencian harus di balas kebaikan, jangan sakit saat ada orang menghujat, cukup terima dengan sabar apa pun keadaannya. Yang perlu Adek lakukan tetap tersenyum ramah dan menjadi pribadi sendiri. Jangan goyah iman, Mas percaya Adek bisa!"



Khumaira tambah mengeratkan pelukan. Dia menangis entah karena apa. Hatinya resah begitu pun jiwanya. Demi Allah, Khumaira akan selalu mengingat pesan Azzam.



"Insya Allah, Adek akan selalu mengingat amanat, Mas."



"Alhamdulillah, Adek juga harus menjaga, Tole Ridwan."



"Itu pasti, Mas."



"Mas, senang mendengar itu."



Ridwan bangun lalu merangkak di pangkuan Azzam. Mendusel di pelukan Ayahnya dan perlahan menangis.



"Abi, jangan pergi," pinta Ridwan.



"Hanya dua minggu, Tole. Ingat selama Abi pergi jangan nakal dan ngga boleh rewel. Jaga Umi dan jaga akhlak. Tetap mengaji jangan pernah berhenti menuntut ilmu agama. Abi mohon jangan pernah nakal ya, Le."



Ridwan menangis histeris sukses membangunkan seisi orang di ruang keluarga. Si kecil sangatlah takut jika Ayahnya pergi tidak akan kembali.



Azzam dan Khumaira panik melihat Ridwan tambah histeris. Mereka berusaha membuat sang buah hati diam, tetapi bukannya diam. Ridwan malah semakin histeris dalam dekapan hangat Azzam.



Azzam menimang Putranya agar tenang. Jemari panjang kekarnya terus mengusap rambut tebal Ridwan. Sesekali ia kecup puncak kepala Ridwan.



Khumaira hendak mengambil Ridwan, tetapi tertolak. Putranya begitu erat merengkuh leher Suaminya. Sebenarnya kenapa Ridwan tidak mau lepas dari Azzam?



Keluarga mereka khawatir melihat Ridwan histeris. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa perasaan terasa sesak melihat tangisan, Ridwan?



"Sstt, cup ... cup Abi akan selalu di hati, Tole Ridwan. Abi menyayangi Dedek, sudah jangan menangis anakku. Abi mohon, lihat Mbak Ukhti dan Mbak Kakung serta yang lain bingung. Sstt, jangan menangis Putraku."



"Abi ngga boleh pergi ... jangan tinggalkan, Dedek Ridwan. Jangan pergi hiks, Umi bilang sama Abi jangan pergi!"



Azzam menitikkan air mata terluka, dadanya sesak begitu pun hati terasa teremas kasar. Ridwan begitu kukuh meraung tanpa mau berhenti menangis.



Khumaira menangis dalam diam mendengar perkataan Azzam dan Ridwan. Rasa sakit menguar tatkala menatap Azzam sangatlah jauh baginya.



"Tole, Abi akan cepat pulang. Jangan khawatir, Nak."



"Umi, bohong Abi tidak akan kembali!" pekik Ridwan membuat mereka tercengang.



Azzam langsung merengkuh Ridwan erat sembari mengatakan, "Abi tidak akan pergi dan akan menemani, Tole. Jangan takut, Le."



"Bohong, Abi bohong!"



Azzam kerepotan menenangkan Putranya. Dia meminta siapa pun menolongnya. Sungguh ini kali pertama Ridwan histeris tanpa bisa di tenangkan.



Hati Safira dan Hasyim terlenggut luka, begitu pun dengan yang lain. Hati mereka sangat sakit melihat Azzam dan Ridwan.



Safira membawa cucunya untuk di rengkuh erat lalu memberikan kata penenang. Semua kata lembut penuh kehangatan Safira lontarkan agar Ridwan tenang.



Karena lelah akhirnya Ridwan tertidur pulas dalam dekapan Safira. Wajah duplikat Azzam kecil begitu mengemaskan. Isakan kecil meluncur bebas di bibir kecil, Ridwan.



"Tole Ridwan, sudah tidur. Gih taruh di kamar lalu kita Shalat berjamaah!"




"Allah selalu melindungimu, Le. Ummi yakin kamu akan kembali. Ummi berharap keselamatan menyertaimu, Nak!"



Azzam tersenyum begitu manis lalu mengecup pipi Sakura. Semoga saja doa Ibunya terkabul walau rasanya mustahil. Semoga saja Allah mengijabahi doa sang Ibu.



"Azzam akan kembali dengan selamat, Insya Allah!"



Hasyim mengusap rambut tebal Azzam dan menepuk bahu lebar sang Putra. Hati seorang Ayah begitu kalut memikirkan Azzam. Semoga ada jalan terbaik untuk Putranya melangkah menuju kebaikan.



"Abah yakin itu, tetap berdoa dalam perjalanan nanti."



"Nggeh, Abah."



***



Azzam bersimpuh pada kedua orang tuanya dan kedua mertuanya. Dia meminta maaf pada mereka lahir batin. Azzam memberikan pelukan satu persatu pada mereka sembari mengatakan maaf lahir batin.



"Semuanya jika saya punya kesalahan dohir dan batil, mohon maafkan. Saya mohon maaf dari hati, tolong maafkan Azzam. Jika boleh tolong doakan Azzam, semoga bisa kembali. Saya sangat menyesal mengatakan ini tetapi harus dikatakan, tolong ikhlaskan saya ke Brunei. Azzam menyayangi kalian karena, Allah!"



Azzam mengatakan dengan keyakinan. Dia menitikkan air mata saat mereka menangis. Sesak sekali sampai sulit napas. Bisakah takdir di putar agar semua berakhir bahagia? Dia sangat sedih menerima kenyataan pahit ini.



Saat Azzam merengkuh Aziz, pria itu membisikan satu kalimat. Semoga saja Adiknya mampu memenuhi amanah terakhir darinya.



"Tolong jaga amanat terakhir, Mas."



Aziz menegang tetapi berusaha tersenyum. Bisakah dia menerima tanggung jawab besar itu? Apa yang harus Aziz lakukan jika ketakutan terjadi?



“Insya Allah, atas nama Allah Aziz siap,” sahut Aziz membuat Azzam menepuk pipi.



Azzam berjongkok di depan Ridwan. Dia dengan lembut mengusap pipi gembul Putranya dan langsung merengkuh erat. Sungguh Azzam sangat takut kehilangan kebersamaan mereka.



"Tole, sini cium Abi dan salaman. Abi sangat mencintai, Dedek Ridwan!"



"Dedek sangat mencintai, Abi. Dedek akan menunggu Abi pulang." Ridwan mencium pipi dan kening Ayahnya.



Ridwan merengkuh Azzam erat sembari menangis. Tetapi harus kuat karena mendengar nasihat Ayahnya.



Mobil kantor yang menjemput sudah tiba, kini saatnya Azzam pergi ke Brunei.



Azzam menghadap Khumaira lalu menarik Istrinya dalam dekapan. Mengurai sebentar guna menghapus air mata sang Istri. Dia paling tidak suka melihat Khumaira menangis walau hanya setetes.



"Mas cuma 2 pekan, Dek. Jangan takut karena Mas akan kembali. Tolong jaga amanat, Mas. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Tetaplah menjadi wanita yang bijaksana."



"Adek dan Tole Ridwan akan menunggu kepulangan, Abi. Jaga diri dan kesehatan. Adek juga mencintai Mas karena Allah."



Khumaira merengkuh Azzam erat. Lalu dia merasakan ciuman sayang di kening. Entah kenapa rasanya bakal ada sesuatu yang besar menghantam mereka.



Safira maju untuk memberkati Azzam. Di ciumi wajah sang Putra penuh harapan. Semoga Allah melindungi Putranya dari mara bahaya. Safira begitu menyayangi Azzam tanpa kecuali.



Hasyim hanya merengkuh erat Azzam seraya mengusap rambut Putranya. Dia tidak mau sesuatu terjadi, tetapi perasannya sangat berat untuk mencegah kepergian sang Putra. Semoga Allah senantiasa melindungi Azzamnya, Amin.



Azzam kembali meminta maaf pada mereka. Dia merengkuh Adiknya satu-satu penuh kasih sayang. Semoga semua akan baik-baik saja, Amin.



Saat memeluk Ridwan dan Khumaira, rasanya Azzam begitu berat melepas. Dia kecup kening Istrinya dan memberikan kecupan sayang di wajah Ridwan. Dua malaikat tersayang yang akan dikenang. Dengan satu tarikan napas akhirnya salam terucap.



"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."



“Wa’alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh, hati-hati dan semoga Allah melindungimu, Mas Azzam.”



Azzam melangkah menuju mobil Van. Melambai pada mereka dengan senyum tulus. Senyum terus merekah mengiringi langkah kaki Azzam memasuki mobil.



Khumaira terpaku melihat Azzam telah pergi di bawa mobil Van. Tiba-tiba air mata luruh deras karena tidak sanggup Azzam pergi ke Brunei.



Ridwan sudah meraung meminta Azzam kembali. Tetapi, apa daya itu sangat mustahil. Haruskah Ridwan berlari mengejar mobil Van itu agar Ayahnya tetap tinggal?



Khumaira merengkuh Ridwan erat sembari mengatakan semua akan baik-baik saja. Padahal hati Khumaira paling terpukul melihat Azzam telah pergi menuju Bandara.



Azzam terus berdoa dan merapalkan doa pada Allah. Dia memejamkan mata sebentar untuk menghalau kepiluan. Azzam melihat arloji, sudah 1 jam 24 menit perjalanan menuju airport Adisutjipto



"Dek, Tole ... Abi mencintai kalian karena Allah. Semoga kita bisa berjumpa kembali baik di dunia maupun akhirat," batin Azzam.