
Khumaira menyetrika pakaiannya, Azzam dan kedua orang tuanya. Sedangkan Laila menyetrika sendiri. Dia terus tersenyum pasalnya besok adalah hari raya Idul Fitri.
30 hari terlewati begitu cepat dan Khumaira ingin lagi. Sidang isbat sudah di lakukan sehari sebelum Idul Fitri dan kini para umat Islam merayakan kemenangan.
Suara takbir berkumandang bersahutan membuat lelehan air mata haru. Mereka berharap bisa menemui bulan penuh ampunan lagi.
Usai menyetrika semua, Khumaira mencabut colokan setrika dan menaruhnya di tempat semula. Dia juga menaruh pakaiannya dan Azzam di lemari lalu membawa pakaian Ayah dan Ibunya untuk di kasih ke kamar orang tuanya.
"Mbak, ayo keliling desa pakai obor, seru loh takbir begitu," ajak Laila pada Khumaira dan Zahrana.
"Boleh, Ndok. Azzam dan Bahri ikut gih sekalian keliling kampung takbir membawa obor. Biar Bapak ke masjid takbiran," pungkas Sholikhin.
"Boleh itu, ayo siap-siap kita takbir keliling!" seru Bahri semangat.
"Yosh, Mas Bahri memang the best, ayo Mbak!" riang Laila.
"Baik, kami siap-siap dulu," sahut Azzam.
"Cepetan ya, Mbak ....!" peringat Laila.
"Iya, Dik," sahut Khumaira.
Di kamar Khumaira merengut sebal pasalnya tidak mau keluar entah kenapa capek ingin tidur.
"Ayo Dek, keburu di omeli Dik Laila, loh," tukas Azzam.
"Kantuk Mas Adek di rumah saja ya," pinta Khumaira.
"Kok gitu? Adek sakit? Mau Mas gigit lagi biar kantuknya hilang?" goda Azzam.
"Mas," rengek Khumaira.
Azzam menarik pinggul Khumaira lembut lalu membungkuk dalam untuk mencium bibir tebal Istrinya penuh sayang. Tangannya meremas bokong berisi Khumaira sedikit keras.
"Umh, Mas ughh," lenguh Khumaira tatkala Azzam menginvasi mulutnya. Tangan besar Suaminya kini bertengger manis di payudaranya.
"Ughh Más ah," lenguh Khumaira lagi.
Azzam melepas hijab Khumaira lalu mengangkat tubuh mungil Istrinya agar mempermudah aksinya.. Dia menggigit kecil leher jenjang Khumaira.
"Masih kantuk?" tanya Azzam lembut.
"Sudah enggak ... Mas nakal, kenapa setiap Adek keluh mengantuk Mas melakukan itu. Mesum sekali," omel Khumaira.
"Entah Mas suka, hanya pada Adek Mas mesum. Ayo Mas bantu siap-siap!" kekeh Azzam merdu.
"Mas, bagaimana bantu coba jika Mas meluk Adek terus. Bilang saja juga ngga mau keliling," cibir Khumaira menggoda.
"Ampun Dek, Mas khilaf. Baiklah Mas ganti kaus saja kalau begitu," pungkas Azzam. Dia mencium pipi gembil Khumaira dan tanpa sungkan membuka baju dan terpampang tubuh kekar penuh ototnya.
Khumaira merona melihat tubuh Azzam begitu. Ia buru-buru merapikan rambutnya dan wajah cantik itu semakin merona tatkala melihat kissmark ulah Suaminya.
"Adek, mau di bantu ikat rambut?" tanya Azzam penasaran.
"Ah, iya Mas, ah tidak Adek bisa sendiri," gugup Khumaira.
Azzam terkekeh sendiri melihat kelakuan Istrinya. Dia dengan nakal menepuk bokong semok Khumaira. Lalu berjalan cepat keluar kamar.
Khumaira merengut sebal akan tingkah Suaminya. Sedetik kemudian senyum manis terukir indah.
"Suamiku mesum," kekeh Khumaira.
***
"Allahu akbar... Allahu akbar ... Allahu akbar Walillahilham ....!"
Suara takbir bersahutan membuat mereka bahagia. Setitik air mata mengalir karena terharu menyambut hari besar.
Mereka terus menyerukan takbiran dengan suka cita.
Khumaira berjalan beriringan dengan Azzam. Entah kenapa Kepalnya terasa berputar membuat perutnya mual. Dia harus menahan ini agar takbir dengan penuh perasaan bersama Suaminya.
Keringat dingin keluar, membuat Khumaira semakin pusing. Spontan dia mencengkam lengan Azzam berniat menetralkan pandangan dan mencari kekuatan. Tapi, kepalanya semakin pusing dan rasanya tidak enak apa lagi perut terasa mual.
Ah, Azzam lupa membawa obor. Saat dia menyinari wajah Istrinya alangkah terkejut wajah cantik Khumaira pucat.
"Dek," panggil Azzam khawatir.
Khumaira yang tidak tahan menahan pusing dan lelah nyaris ambruk di tanah jika Azzam tidak menahannya.
Azzam panik bersama orang di belakang dan depan mereka berhenti ikut panik.
Azzam sudah menjatuhkan obor begitu saja. Obor malang itu mati tanpa cahaya. Tapi, siapa peduli?
"Dek, hai Dek jangan main-main, Sayang. Dek ....!" panik Azzam.
Khumaira bernapas berat dengan keringat dingin terus keluar. Kepala serta tubuhnya lemas sekali. Untuk membuka mata terasa lemah.
"Dek, jangan buat Mas khawatir!" panik Azzam.
Khumaira tidak bereaksi tapi lelehan air mata semakin menjadi.
"Bang, bawa pulang saja Mbak Khumaira-nya. Sepertinya Mbak Khumaira sakit," usul mereka.
"Mas Mbak Khumaira sepertinya kesakitan, cepat bawa pulang."
"Kang, Istrinya kenapa?"
Azzam tidak menjawab perkataan mereka. Dia menggotong tubuh Khumaira dan sekarang merasa gila karena jalanan ini minim cahaya.
Jika panik mereka jatuh Istrinya semakin sakit. Akhirnya ada yang menepuk bahunya.
"Mas, ayo Ghofur antar ke rumah," ajak Ghofur sepupu kandung Azzam.
"Terima kasih, Le."
Ghofur berjalan ke depan dan di ikuti Azzam. Sementara Bahri, Zahrana, Laila dan Dzaki ada di depan dan jarak mereka begitu jauh.
Azzam ingat perkataan Khumaira tadi saat ingin di rumah saja. Andai saja ia ikuti perkataan Khumaira pasti Istrinya tidak seperti ini.
Sampai rumah orang tua Khumaira, Azzam berterima kasih pada Ghofur dan meminta mampir tapi Ghofur tolak dengan halus.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Buk!" salam Azzam bernada panik.
Maryam mendengar salam Azzam spontan berlari ke ruang tamu. Kenapa menantunya sudah pulang dan suara itu terdengar panik.
"Wa'alaikumssalam ___ ya Allah, Khumaira. Le, tolong bawa e kamar biar Ibuk buatkan teh hangat!" panik Maryam.
Azzam mengaguk setuju sembari masuk kamar. Dia rebahkan Khumaira di ranjang. Mata teduh terbelalak lebar melihat Istrinya sudah kehilangan kesadaran.
Panik melingkupi hatinya.
Azzam mencari minyak kayu putih untuk menyadarkan Khumaira. Dia tersenyum saat Istrinya tampak mulai membuka mata. Diusap telapak kaki Khumaira menggunakan minyak kayu putih.
Khumaira memejamkan mata rapat untuk menghalau pusing dan mual. Dia tidak tahu kenapa bisa begini.
Azzam juga mengusap perut, leher dan memijat pelipis Khumaira agar meringankan pusing.
"Dek, bicara Dek. Mas khawatir, Sayang." Azzam begitu panik sekarang.
"M--Mas pu--pusing," lirih Khumaira.
Maryam datang membawa teh hangat dan alat untuk kerokan.
"Buk, Dek Khumaira masih sama," ujar Azzam.
"Tenang, Le. Di sini tidak ada bidan yang buka pada malam takbir. Coba keroki Ndok dulu," hibur Maryam.
"Enggeh, Buk. Terima kasih banyak, biar Azzam yang keroki," sahut Azzam.
"Baiklah, nanti jika butuh apa-apa panggil saja dan tolong beri teh ini jika Istrimu sudah baikkan."
"Enggeh, Buk terima kasih."