
Derai air mata luruh deras mengingat Andi. Satu bulan dia di penjara, dan selama itu tidak ada keluarga serta Suaminya datang membesuk.
Kepalanya terasa pusing dan perutnya terasa mual akhir-akhir ini. Charisma merasa lemah akan situasi ini. Ada 5 tahanan wanita bertanya tentang kondisinya, tapi tidak mampu berkata hingga kesadaran merenggut segalanya.
"Pak Polisi ... Nona Charisma pingsan!" teriak mereka membuat polwan dan polisi datang menghampiri.
Charisma di larikan ke rumah sakit untuk mengecek kondisinya. Tubuhnya berisinya sekarang kurus dan wajah cantik jelita itu terlihat kuyu.
Dokter memeriksa kondisi Charisma. Karena kondisi pasien sangat lemah, Dokter memberikan infus.
Polisi menjaga di depan ruangan, mereka hanya diam sembari menunggu kabar Dokter.
Seharian Charisma pingsan, tepat jam 7 malam dia siuman. Mata coklat gelap itu mengedarkan pandangan keseluruh penjuru.
"Rumah sakit, aku kenapa?" lirih Charisma. Meringis kecil saat merasakan ngilu di lengan kirinya.
Tidak lama Dokter masuk guna memeriksa kondisi Charisma.
"Nyonya, Anda sudah siuman. Bagaimana sekarang?" tanya Dokter sembari menyuntik selang infus.
Charisma menatap Dokter bingung.
"Saya sudah baikkan. Dok, saya sakit apa?" tanya Charisma sembari meminum air putih.
Dokter membantu Charisma untuk duduk. Dia menaruh gelas di nakas dan siap memberi tahu sakit Charisma.
"Selamat Nyonya Anda hamil. Dari hasil USG Anda hamil 2 bulan ini. Saya sarankan Anda bisa lebih tenang dan jangan terlalu berpikir keras."
Charisma terbelalak mendengar jawaban Dokter. Spontan tangannya berada di atas perut ratanya.
"Anda serius?" tanya Charisma dengan tubuh bergetar.
"Iya, Anda sedang mengandung 8 minggu ini. Ini saya sudah siapkan vitamin untuk di konsumsi. Sekali lagi selamat. Sebisa mungkin jagalah kandungan Anda walau dalam bui. Saya yakin Anda wanita kuat yang siap menjalani semua ini!"
Charisma menangis tersedu mendengar perkataan Dokter. Tangan mungil itu terus mengusap perut ratanya.
"Nak, kenapa kamu hadir saat Ibu di penjara? Ya Allah, rasanya begitu hina menerima karuniamu. Apa hamba masih pantas menyebut nama-Mu? Bisakah hamba menjaga buah hatiku? Ya Allah, ini begitu menyesakkan," batin Charisma dengan berurai air mata.
"Tenanglah, Nyonya. Saya yakin Anda mampu menjaga anak itu."
"Terima kasih, Dok. Tapi, apa ada keluarga saya yang datang membesuk?" tanya Charisma penuh harap.
Dokter itu menunduk menyesal.
"Maaf, sampai malam ini tidak ada yang datang."
"Terima kasih, tolong rahasiakan kehamilan saya dari keluarga saya."
Charisma begitu kecewa dan sakit hati. Orang tuanya benar-benar membencinya. Sementara Ayah dari janin ini ada di Jakarta.
"Saya usahakan."
Charisma mengingat kembali tentang Andi. Mereka sering melakukan hubungan intim. Selama ini dia sering mengonsumsi pil kb. Tetapi, kenapa ada janin di rahimnya?
Sekilas memori panas tercetak jelas saat itu Charisma lupa meminum pil. Sekarang ini ia sedang mengandung benih yang dinantikan Andi.
"Mas, aku hamil. Mungkin ini jalan terbaik dari Allah untuk memperbaiki diri. Mas, apa kamu masih mencintaiku? Apa bencimu begitu besar sehingga tidak mau menjenguk? Mas, aku rindu dan tolong maafkan kesalahan, Charis."
***
Khumaira merengek pada Azzam supaya membesuk Charisma.
"Mas, sekarang dua bulan Mbak Charis di penjara. Mari jenguk dia, Mas!"
"Tidak, Mas tidak mau melihat wanita ular itu!"
"Mas, Adek sudah meminta dari 7 minggu yang lalu agar bertemu dia. Apa salahnya menjenguk? Demi Allah Mas, Adek kecewa sama Mas!"
Azzam menatap Khumaira intens saat mendengar nada marah. Menghela napas berat untuk menenangkan diri.
"Wanita itu pantas di penjara, Dek. Mas tidak mau berurusan dengan rubah. Maaf buat Adek kecewa, sungguh Mas tidak mau berurusan dengan dia!"
Khumaira menangis sesenggukan mendengar perkataan Azzam.
"Bukanya Mas anak Kiai, bukanya Mas seorang Gus. Tetapi kenapa sifat begini? Apa tidak ada maaf untuk, Mbak Charis? Sadarlah Mas memaafkan lebih indah dari membenci. Bukanya Mas bilang kebencian di balas cinta! Mas juga bilang harus memaafkan kesalahan orang walau berat, dan berusaha ikhlas menerima cobaan. Apa Mas lupa itu semua?"
Khumaira menghapus kasar air mata lalu melangkah pergi meninggalkan Azzam sendiri.
Azzam langsung mengajar Khumaira dan merengkuh tubuh mungil wanitanya. Dia ciumi puncak kepala Khumaira agar tenang.
"Mas sudah memaafkan, Nona Charisma, tapi rasa kecewa dan bersalah melingkupi hati, Mas. Mas, tidak mau membesuk bukan berarti benci. Mas, tidak ingin mengingat sakitnya Aziz karena dia, Mas tidak mau ingat Adek nyaris pergi karena dia. Mas minta maaf sudah lalai. Tolong maafkan, Mas."
"Adek paham keresahan, Mas. Tapi, bisakah melupakan itu semua. Adek hanya ingin menjenguk dan melihat kondisinya. Adek ingin menjadi wanita lapang, ikhlas menerima cobaan, sabar menanti, pemaaf sebelum orang itu meminta maaf. Adek hanya ingin jadi wanita berguna bagi semua orang. Adek tidak mau punya benci karena benci menghancurkan semua. Adek hanya mau menjadi wanita tangguh agar bisa membenarkan Mas saat Mas salah. Memaafkan kesalahan dengan ikhlas itu mulia, Mas. Tolong maafkan Adek sudah membentak, Mas."
Azzam merasa bersalah karena ulahnya yang egois. Dia sangat bersyukur menikahi wanita Shalehah yang sangat baik. Sangat beruntung mendapatkan bidadari surga yang mengingatkan dia saat salah. Membawa kedamaian serta kebahagiaan.
Hanya rengkuhan hangat mereka lakukan. Azzam terus mengatakan maaf serta beristighfar.
***
Khumaira tersenyum cerah akhirnya Azzam mau menuruti keinginannya. Berjalan semangat menuju ruang tunggu. Sementara, Azzam membawa kardus isinya Khumaira yang tahu.
Khumaira mengelus perut buncitnya dengan penuh senyuman. Rasanya sangat bahagia karena janinnya tumbuh subur. 6 bulan lebih 3 minggu, Khumaira merasakan betapa aktif calon anaknya.
Azzam senang melihat Khumaira kembali ceria begitu. Tangannya terulur untuk mengusap perut buncit Istrinya penuh perasaan.
"Lihat Dek, Umimu sudah ngga mengambek lagi. Jangan rewel ya, Sayang." bisik Azzam.
Charisma keluar dengan pakaian khas tahanan. Perutnya sedikit buncit, pasalnya kandungannya masuk minggu ke 14 minggu.
Matanya membulat sempurna melihat Azzam dan Khumaira. Rasa bersalah menguar kuat mengingat kelakuan buruknya.
Khumaira tersenyum manis melihat Charisma, sementara Azzam tampak datar tanpa ekspresi.
"Mbak Charis, apa kabar?" tanya Khumaira basa-basi.
Charisma berusaha ******** senyum.
"Aku baik," balas Charisma menahan getaran air mata.
"Mbak Charis, tidak seperti itu? Anda sakit?"
"Saya baik, terima kasih."
"Um, Mbak Charis pucat dan berkeringat dingin mana mungkin baik," sergah Khumaira.
Charisma yang tidak tahan langsung menangis sesenggukan lalu bersimpuh di depan Khumaira.
"Tolong maafkan kesalahan saya. Sungguh saya sangat hina meminta maaf. Saya sangat menyesal, tolong maafkan semua yang telah saya perbuat!"
Khumaira membawa Charisma duduk di kursi lagi. Dia tersenyum tulus mendengar permintaan maaf begitu tulus itu. Lalu kembali duduk di depan Charisma.
"Mbak Charisma tenang saja, saya sudah memaafkan kesalahan, Mbak."
"Kenapa begitu mudah memaafkan saya? Saya nyaris membunuh Anda? Kenapa Anda tidak menampar saya?"
"Karena saya hanya makhluk biasa tidak luput dari kesalahan dan dosa. Allah Maha Pengampun dan Maha Besar. Allah akan menerima kesalahan hambanya sebesar apa pun kesalahan itu, lalu kenapa saya tidak? Saya hanya makhluk pendosa yang penuh kesalahan harus memaafkan kesalahan orang yang tidak menyukai."
Charisma tercengang mendengar perkataan Khumaira. Hatinya berasa teriris pisau tidak kasap mata. Dosanya begitu besar tanpa pengampunan. Wanita ini baik sekali, pantas Azzam sangat mencintai wanita Shalehah ini. Mereka pasangan yang sangat cocok.
Azzam merasa bangga mendapatkan Istri Shalehah seperti Khumaira. Ia tersenyum haru memiliki wanita yang sedang mengandung buah hati mereka.
Mereka saling diam setelah permintaan maaf dan perkataan bijak.
"Anda sangat beruntung mendapatkan Istri Shalehah, Tuan Azzam. Saya sangat kagum padanya."
"Terima kasih," sahut Azzam.
Charisma meminta maaf lagi pada Azzam dan Khumaira akan perbuatan bodohnya. Tentu pasangan Suami dan Istri ini memaafkan dengan lapang dada.
"Mbak, ini saya bawakan jilbab, mukena, dan lainnya Mbak bisa lihat," ucap Khumaira.
"Eh? Saya apa pantas memakai hijab dan menghadap Allah? Apa makhluk hina seperti saya masih diterima oleh Allah untuk berserah diri?" tanya Charisma sembari menangis pilu.
Khumaira menggenggam tangan Charisma dan mengusapnya.
"Allah itu Maha pengampun dan Pemaaf, Mbak. Selagi hambanya meminta pertobatan serta pengampunan maka pintu maaf terbuka lebar. Selagi bisa bertobatlah dengan keyakinan hati. Mbak tahu wanita penghibur saja bisa masuk surga karena bertobat secara sungguh-sungguh. Mbak harus bertekad untuk bertobat dan berserah diri pada, Allah!"
Charisma menangis lebih kencang mendengar perkataan Khumaira. Sungguh dia merasa bersalah sekaligus beruntung bisa mendapat hikmah dari semua ini. Beruntung karena Khumaira membawa ke jalan terang.
Khumaira membuka kardus dan menyerahkan hijab syar'i pada Charisma.
Charisma menerima hijab itu lalu memakainya dengan linangan air mata. Ini awal menuju pribadi baru.
****
Setiap manusia punya kesalahan besar, dan bertobatlah karena pintu maaf terbuka lebar untukmu. Allah akan menutup maaf setelah kamu menuju sakaratul maut.
Lekaslah bertobat sebelum terlambat!