Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Sayang!



Azzam keluar kamar dengan tampang murung. Saat itulah ia merasa sakit tatkala ingat Istri yang sangat dicintai membentak.



"Le, kamu kenapa?" tanya Hasyim.



"Tidak apa, Bah. Azzam hanya capek saja," jawab Azzam senormal mungkin.



"Mas, maafkan Aziz," pinta Aziz dari arah belakang.



Mereka semua bingung akan situasi ini. Sebenarnya kenapa?



Azzam hanya bungkam tidak mau menjawab permintaan maaf Adiknya.



"Le, sejujurnya ada apa? Kamu bertengkar dengan Tole Aziz? Cerita dengan tenang dan memaafkan itu lebih baik, Le. Ummi sayang sama Kalian, coba ceritakan masalahnya," tutur Safira.



"Aziz yang salah Ummi terlalu banyak bicara menyakitkan soal masa lalu, Mas Azzam. Aziz sudah keterlaluan sampai membuat Más marah. Maafkan Aziz, Mas," pinta Aziz terdengar benar-benar menyesal.



Azzam tersenyum untuk memaafkan kesalahan Adiknya. Sesama saudara tidak baik bertengkar lama.



"Mas juga yang salah terlalu membentak tadi. Mas memaafkan kamu dan maaf juga Mas tadi marah," pungkas Azzam.



Aziz tersenyum tulus mendengar perkataan Kakak kandungnya.



"Mas terima kasih banyak ya, sungguh Aziz sudah memaafkan Mas dan ini salah Aziz telah menyakiti hati, Mas Azzam." Aziz begitu senang akhirnya baikkan lagi.



Azzam hanya tersenyum untuk membalas perkataan Aziz. Dia kembali menunjukkan pancaran mata redup. Menghela napas berat mengingat sikapnya sekarang juga mudah emosi. Harusnya sadar kalau Khumaira itu pasti banyak pikiran mungkin ada sesuatu yang menyakitinya. Ia setelah ini akan meminta maaf pada Khumaira.



"Le, bertengkar dengan Istrimu?" tebak Hasyim sukses membuat Azzam terpaku.



Semua keluarga Azzam menatap penuh harap agar bercerita. Mereka penasaran kenapa ada pertengkaran di antara pasangan baru ini.



"Ummi, tahu ini privasi tapi saran Ummi, selesaikan masalah dengan kepala dingin. Mengalah demi kebaikan hubungan kalian. Ummi tahu kamu sangat dewasa dan berpikir menuju masa depan cerah. Ayo ke kamar dan selesaikan masalah kalian. Jangan gengsi meminta maaf, jangan malu untuk merendah, jangan takut semua akan baik-baik saja. Ummi yakin ada sebabnya pertengkaran itu. Masuklah ke kamar tenangkan Istrimu!"



Azzam tersenyum tulus mendengar saran bijak Ibunya. Dia sangat bahagia bisa mendapat penenang.



***



Khumaira masih betah menangis merutuki diri sendiri karena berani membentak Suaminya. Dia harus meminta maaf pada Azzam agar semua jadi terselesaikan.



Pintu terbuka menampilkan sosok tinggi atletis. Azzam teriris melihat Khumaira masih betah menangis pilu begitu.



Khumaira menghapus air mata sedikit kasar. Spontan dia bangun dan berlari ke arah Azzam berniat merengkuh.



Azzam paham Istrinya merasa bersalah. Dia merentangkan tangan agar Khumaira merengkuh dirinya. Benar Istrinya memeluk ia erat sembari mengatakan maaf berulang kali.



Khumaira menangis sesenggukan karena situasi ini. Kata maaf penuh penyesalan terus terucap berulang kali.



Azzam menunduk untuk merengkuh Khumaira penuh kehangatan. Dia senang Istrinya meminta maaf begini.



Khumaira merasa pusing lagi dan perutnya kram. Tanpa sadar ia meremet punggung kekar Azzam.



Azzam merasa aneh kenapa Khumaira diam saja sambil meremet kulit punggungnya.



"Dek," panggil Azzam lembut.



Khumaira menyengit berusaha menahan pusing. Padahal sudah 5 hari tidak merasa begini. Kenapa sekarang kembali lagi rasa tidak nyaman pada tubuhnya?



"Dek," panggil Azzam lagi.



Khumaira nyaris merosot jatuh jika tidak cepat Azzam menahan tubuhnya. Hatinya resah melihat Khumaira lagi-lagi seperti ini.



"Dek, hai jangan buat Mas khawatir lagi. Sayang, katakan sesuatu, tolong."



Khumaira membuka mata sebentar lalu menggenggam tangan Azzam. Ia meremas cukup kuat untuk menghalau sakit.



"M-Mas, pus-pusing dan pe-perut Adek kram. Ugh, sakit," cicit Khumaira terbata.



Azzam panik mendengar jawaban Khumaira. Dia menggendong Istrinya untuk rebahan di ranjang. Dia hendak keluar menyuruh membuat teh hangat tapi tertahan.



"Jangan beri tahu mereka, Mas. Adek sudah banyak merepotkan Mas dan keluarga. Adek kuat, Mas bisa pijit kepala Adek dan perut," cicit Khumaira.



Azzam menuruti perkataan Khumaira kemudian melepas hijab syar'i Istrinya. Dia memijat kepala Khumaira agak keras seperti perintah. Tangan satunya ia gunakan untuk mengusap dan memijat lembut perut Khumaira.




"Dek, apa masih sakit?" tanya Azzam lembut.



"Sudah mendingan, Mas. Alhamdulillah, Adek sudah baik," lirih Khumaira.



Azzam membawa Khumaira duduk di pangkuan dan bersandar nyaman di tubuhnya. Sudah 3 kali Khumaira membuat dirinya sangat khawatir.



"Mas, apa Adek begitu menyebalkan? Apa Adek egois? Apa Adek merepotkan, Mas?" tanya Khumaira beruntun.



"Adek itu bertanya apa? Jangan berpikir Adek menyebalkan, egois dan merepotkan, Mas. Semua itu salah, bagi Mas, Adek segalanya. Kewajiban Mas menjaga, mengayomi, memberikan kebahagiaan dan membuat Adek nyaman. Sudah jangan sedih, apa masih keram?"



Khumaira merengkuh Azzam erat sembari menangis haru. Dia sangat beruntung mendapatkan Suami sebaik dan sehalus Azzam. Dia menyesap bau maskulin dari leher kokoh Suaminya.



“Alhamdulillah, mendingan. Terima kasih, Mas.”



“Alhamdulillah, kalau sudah mendingan.”



"Mas, terima kasih banyak sudah menjadi Imam Adek yang sangat baik. Adek sangat beruntung mendapatkan Suami sebaik, Mas. Maaf sudah membentak tadi dan maaf terus membuat Mas panik. Adek sangat mencintai, Mas Azzam."



Khumaira mengecup rahang tegas Azzam sembari mengusap pipi tirus Suaminya. Dia merengkuh Azzam kembali.



Azzam tersenyum tulus mendengar perkataan Khumaira. Dia menciumi pelipis Istrinya dan terus mengusap rambut halus Khumaira. Mereka diam tanpa kata sampai terdengar napas wanitanya teratur.



"Kebiasaan, Mas di tinggal tidur," gumam Azzam. Dia merebahkan Khumaira hati-hati, lalu di kecup kening Istrinya lama.



"Mas, juga berterima kasih sudah mau menjadi cahaya untuk, Mas. Mas juga sangat mencintai, Adek."



***



Khumaira terdiam melihat jubah itu, percakapan mereka kembali terngiang membuat moodnya kembali down.



Dua hari kemudian, pas hari raya dapat ke 7. Banyak kupat sekarang bersemarak di rumah. Hari raya kupat di nikmati begitu suka cita.



Selama 2 hari ini, Khumaira jadi pendiam walau masih mempertahankan senyum manis. Sikap diam membuat Azzam sekeluarga merasa aneh.



Ada apa gerangan dengan, Khumaira?



Khumaira menyuapkan nasi campur opor ayam. Tiba-tiba perutnya terasa mual. Memang sudah dua hari mual tapi bisa ditahan, namun sekarang terasa luar biasa.



"Dek, ada apa?" tanya Azzam sembari menepuk paha Khumaira.



Khumaira menggeleng lalu kembali menyuapkan nasi sampai ketiga suapan perutnya sudah tidak tahan. Dia membekap mulutnya agar tidak muntah.



Azzam dan yang lain tambah menyengit, apa opor ayam rasanya aneh? Tapi, mereka merasa enak.



Khumaira undur diri menuju kamar mandi. Dia memuntahkan isi perutnya di wastafel. Perutnya bergejolak tinggi dengan kepala pusing menyiksa.



Azzam panik spontan menyusul Khumaira ke dalam.



"Le, Aziz tolong panggil Mbak Sarah ke rumah untuk memeriksa, Mbak Khumaira!" perintah Safira.



"Enggeh, Ummi."



"Hoek, Mas ugh hoek." Khumaira terus memuntahkan isi perutnya yang nyatanya hanya cairan biasa.



Azzam memijat tengkuk Istrinya dan mengusap punggung agar Istrinya tenang.



"Hoek, Mas hiks sakit. Hoek." Khumaira merasa pandangan terus berputar. Dia mengusap mulut serta menyalakan sower agar muntahan itu larut terbawa arus air.



Azzam semakin panik saat Khumaira malah jatuh pingsan dalam dekapannya.



"Ya Allah, Dek ....!!!" seru Azzam tanpa sadar. Dia mematikan kran lalu langsung menggendong Khumaira untuk keluar.



Keluarga Azzam juga panik melihat Khumaira terkulai lemah tidak sadarkan diri.



"Abah, Ummi dan yang lainnya, makanlah dulu. Maaf membuat kalian khawatir, permisi."



Safira dan Shabibah melempar senyum penuh arti.



"Sepertinya kita bakal kedatangan keluarga baru," ujar Safira.