
Azzam merutuki diri pasalnya kelepasan kontrol emosi. Hatinya diliputi rasa menyesal dan kini bertekad meminta maaf. Semoga saja Khumaira mau memaafkan kata kasarnya tadi.
Lain sisi Khumaira meringkuk di ranjang dengan derai air mata. Ia sudah membuat Azzam terluka akan ucapannya. Mana mungkin Suaminya selingkuh itu tidak mungkin.
Pintu terbuka menampilkan sosok mungil dengan pipi gembul. Mata besarnya melihat Ibunya menangis sesepuhkan.
"Umi," panggil Ridwan.
Khumaira langsung menghapus air matanya dan menatap Ridwan dalam. Ia beranjak dari ranjang lalu duduk di lantai sembari merentangkan tangan.
Ridwan berlari ke arah Khumaira lalu merengkuh Ibunya erat. Si kecil paham akan situasi Ibunya. Jari kecilnya terus mengusap punggung Khumaira.
Khumaira merengkuh Ridwan erat sembari menciumi puncak kepala sang Putra. Ia gendong Ridwan supaya bisa rebahan di ranjang.
"Tole Ridwan, kok sudah pulang dari tempat Mbah Ukhti dan Mbah Kakung. Siapa yang mengantar pulang?"
"Umi sih ngga menyahut di panggil Bibi Laila, Huft. Umi sakit ya, kok menangis? Jangan menangis Umi, Dedek mohon."
Hati Khumaira tercubit mendengar perkataan Ridwan. Di rengkuh erat tubuh mungil Putranya sembari menciumi pelipis. Dosa sekali khumaira membuat Putranya begini.
"Dedek Ridwan, sudah makan?"
"Alhamdulillah, sudah ... Umi."
"Alhamdulillah, Tole makan dengan apa?"
"Sayur bening, ikan dan telur, Umi."
"Wah, enak sekali, Le. Mau Umi buatkan apa untuk makan malam?"
"Dedek mau sayur oseng."
"Baiklah, nanti Umi buatkan. Sini tidur biar ngga mengantuk saat mengaji nanti."
"Siap, Umi."
Ridwan menyamankan diri dalam dekapan Khumaira. Perlahan mata berpupil Hazel itu tertutup.
Khumaira tersenyum tulus melihat Ridwan tertidur pulas dalam dekapannya. Hatinya sudah membaik karena Putranya.
Pintu terbuka menampilkan sosok tinggi berwajah damai. Khumaira menunduk tidak kuasa menahan tangis melihat Azzam. Dia memilih diam karena merasa sangat berdosa telah menuduh Azzam yang tidak-tidak.
Azzam membisu melihat Khumaira tambah meringkuk sembari merengkuh Putra mereka. Dia berjalan pelan agar Ridwan tidak terbangun.
Duduk bersimpuh di lantai sembari menatap depan. Rasa bersalah melingkupi hati Azzam. Ya Allah, sedih sekali melihat Khumaira begini karenanya.
Khumaira menyembunyikan wajah di bantal. Sungguh dia tidak sanggup menatap Azzam akibat ulahnya tadi. Apa Azzam akan marah padanya dan tidak memberi maaf?
"Dek, kapan Tole Ridwan pulang?" tanya Azzam bernada lembut.
Azzam mengusap rambut Khumaira. Dia ingin merengkuh Istrinya erat agar rasa sakit yang dia beri menghilang. Apa yang akan Azzam lakukan jika khumaira terus bungkam?
"Barusan," sahut Khumaira lirih terdengar bergetar.
"Em, Dek lihat Mas," pinta Azzam.
"Adek, masih marah?" tanya Azzam sembari mengusap lengan sang Istri.
Khumaira tetap diam tetapi suara isakan kecil keluar. Tubuh bergetar menahan gejolak rasa bersalah. Maafkan dia karena belum berani menatap Azzam.
"Mas, minta maaf karena bentak, Adek. Sungguh Mas salah tidak mengerti kondisi. Mbak Zulfa itu hanya Adik untuk Mas dan Adek istri yang sangat Mas cinta. Tolong maafkan kesalahan, Mas."
Khumaira mengendurkan dekapan pada Ridwan. Perlahan dia mau menatap Azzam sembari menangis dalam diam.
Azzam menitikkan air mata karena melihat Istrinya begitu rapuh akan dirinya. Jemari panjang itu perlahan mengusap linangan air mata Khumaira. Tega sekali ia menyakiti hati Istrinya yang rapuh.
Khumaira tetap diam sembari menatap Azzam menyesal. Dia genggam tangan sang Suami lalu mencium lama pergelangan tangan Azzam.
"Maafkan Adek yang tega menyakiti hati, Mas. Maafkan Adek menuduh Mas begitu kejam. Maafkan Adek selalu menyakiti dan menuntut, Mas."
“Sebelum Adek meminta maaf Mas sudah memaafkan Adek. Maaf juga telah berbicara kasar pada Adek. Mas menyesal menyakiti hati, Adek. Maafkan Mas, Istriku."
Khumaira hanya mengaguk seraya menangis haru. Suaminya sangat perhatian dengan penuh kasih sayang. Dia merasa sangat beruntung mendapatkan Azzam dalam hidupnya. Khumaira begitu mencintai Suaminya tanpa syarat dan ketentuan.
Azzam bangkit lalu ikut merebahkan diri. Dia bawa Ridwan untuk berbantal bahu lalu membawa Khumaira tidur di lengannya.
Khumaira merengkuh Azzam dan Ridwan. Hatinya lega Suaminya tidak marah lahi. Dia tidak akan pernah menuntut Azzam dengan kecemburuan berlebih.
Azzam menciumi wajah rupawan Ridwan lalu menciumi wajah Khumaira. Dia rengkuh dua malaikat tersayang dengan air mata deras. Azzam merasakan kebahagiaan yang melimpah dari khumaira dan Ridwan.
***
Khumaira merengkuh Azzam dari belakang. Tangan mungil terus mengusap dada bidang Suaminya. Dia sangat rindu pada sang Suami tercinta dan ingin bermanja walau sesaat.
"Ada apa, Dek?"
"Mas, maaf ya kemarin Adek kekanakan."
Azzam berbalik menghadap Khumaira. Dia mengangkat tubuh mungil Khumaira sembari mencium gemas pipi gembul Istrinya. Manis sekali khumaira ini sampai Azzam ingin lepas Kontrol.
"Mas, sudah memaafkan, Adek. Sini cium Mas dulu baru mas turun in."
Azzam mencondong wajah ke depan Khumaira. Dia mengerucut bibir agar Istrinya memberi ciuman sayang.
Khumaira menepuk bibir tipis sang Suami. Lalu saat hendak mengecup Azzam sebuah suara melengking Ridwan menghentikan semua. Buru-buru Khumaira meminta turun agar Putranya tidak melihat.
"Umi ... Abi ... Dedek, mau makan, lapar!" pekik Ridwan.
Azzam menurunkan Khumaira hati-hati lalu berjongkok merentangkan tangan agar Ridwan mau datang merengkuhnya. Benar saja Ridwan berhambur memeluk Azzam erat. Dia dengan manja mendusel di leher kokoh Ayahnya.
"Abi, nanti Dedek belikan mainan ya saat sudah pulang dari Bru-Bru," celoteh Ridwan.
"Siap, Abi bakal belikan apa pun untuk, Tole Ridwan. Nah, Umi kami non ton TV dulu ya, masak yang enak, much."
Azzam mencium pipi gembul Khumaira dan Ridwan ikut mencium pipi sang Ibu. Dia menirukan apa yang di lakukan Azzam. Anak pintar.
Khumaira tersenyum gemas melihat tingkah dua orang yang sangat dicintai. Dia mencubit gemas pipi Azzam dan Ridwan, setelah itu mengecup sayang pipi mereka.