Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Musibah!



Aziz dengan cepat menarik Khumaira dalam dekapannya lalu sedikit menjauh. Tetapi, naas lengan kiri dan kakinya terserempet. Menyebabkan Aziz kehilangan kendali berakhir terguling di trotoar. Namun, sebelum jatuh terguling, Aziz menahan tubuh mereka dengan lengan kanannya.



Aziz dan Khumaira terguling-guling di trotoar. Aziz merasa tubuhnya sakit semua. Kepala belakang, pelipis, lengan dan kaki berdarah. Bahu kanannya terasa retak begitu pun dengan kakinya terasa kebas.



Napas Aziz memburu merasa sakit luar biasa, tetapi dia kuat. Aziz takut Khumaira kenapa-napa dan pastinya Azzam begitu terpukul jika Khumaira tertabrak. Sampai mobil itu menabrak Khumaira di pastikan Mbaknya akan keguguran dan pendarahan hebat. Lalu Azzam pasti terluka dan panik luar biasa.



Para warga langsung mengerubungi mereka, lalu menelepon ambulance.



Polisi datang, salah satu warga langsung menceritakan kejadian tabrak lari serta pembunuhan berencana.



Para polisi langsung mengejar mobil itu dan sudah mendapat no pelat mobil. Mereka bersyukur ada CCTV di jalan guna mempermudah menangkap pelaku.



Khumaira mendongak menatap siapa yang menolong. Matanya membulat melihat Aziz sudah berlumur darah. Perutnya sakit, kepalanya pusing dan pandangan berkunang.



"Mas Aziz," lirih Khumaira sebelum pingsan karena sok dan tertekan.



Aziz berusaha duduk namun apa daya semua terasa kebas. Bersyukur ada warga yang membantu dia duduk.



"Tolong Kakak ipar saya," pinta Aziz tidak peduli akan kondisinya.



“Baik Tuan, sabar sebentar ambulance akan segera datang.”



Bersyukur ambulance datang membuat Aziz bernapas lega. Para wanita menggotong Khumaira untuk di rebahkan di tandu.



Aziz mana bisa berdiri, kaki dan tangan serta tenangnya terkuras. Apa lagi darah terus keluar dari pelipisnya.



"Mas, ayo saya bantu masuk ke dalam," ujar mereka.



Aziz mengaguk setuju pasalnya tidak sanggup berdiri. Saat berdiri dan di topang mereka rasa sakit luar biasa menjalar di tubuhnya.



"Mas, kuat?" tanya Bapak yang menolong.



"Saya kuat," sahut Aziz.



Ambulance langsung melaju meninggalkan area. Berusaha cepat agar korban tabrak lari selamat.



Para warga, Mahasiswa dan Mahasiswi bergetar melihat kecelakaan tadi. Terkhusus Zahira terbelalak dengan tubuh menggigil ketakutan.



Di lain sisi, Azzam tidak sengaja menyenggol vas bunga, alhasil pecah dan isinya bertaburan.



"Astaghfirullah," istighfar Azzam. Entah kenapa jantungnya berdegup sesak dan merasa firasat buruk.



"Pak, ada apa?" tanya murid Azzam.



Azzam langsung sadar spontan menggeleng. Pikiran negatif langsung lari ke Aziz. Ada apa dengan Adiknya? Lalu juga dengan Khumaira, sebenarnya mereka kenapa?



"Maafkan Bapak memecahkan vas bunga. Nanti, Bapak ganti," sesal Azzam.



"Tidak usah, Pak. Bapak kenapa?" tanya mereka lagi.



"Tidak ada apa-apa, lanjut mengerjakan soal tadi. Sekali lagi maaf sudah membuat kalian terganggu."



"Baik dan tidak apa-apa, Pak."



Azzam pening sendiri memikirkan Aziz, entah kenapa firasat buruk menguar, lalu juga memikirkan Istrinya. Tidak lama ponselnya berdenting.



Azzam undur diri untuk menerima panggilan. Dahinya menyengit menatap no tidak di kenal.



"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Azzam.



"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh, benar ini dengan saudara Muhammad Khusain Al-Azzam?"



"Iya, saya sendiri. Ini dengan siapa?"



"Saya suster dari RSUD Sleman, d/h RS Muragan, ingin menyampaikan Adik dan Istri Anda di rawat di sini. Mereka korban kecelakaan di rencana ___"



"Astagfirullahaladzim, mereka baik-baik saja kan? Bagaimana kondisi Istri dan Adik saya?" sela Azzam.



"Mereka masih di tangani Dokter. Anda bisa datang kemari!"



"Tentu saja, terima kasih banyak. Wassalamu'alaikum."



Azzam memutus sambungan, dengan segera bergegas masuk untuk membereskan bawaannya.



"Maaf, Bapak ada kepentingan. Pelajaran hari ini cukup di sini. Tugas itu untuk pekerjaan rumah, sampai jumpa di pelajaran selanjutnya. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."



"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh."



***



Azzam terpaku di tempat melihat Aziz sangat mengenaskan. Kepala di perban, tangan di gips dan wajah tampan Adiknya pucat.



"Ya Allah, Le. Bagaimana kondisimu?" tanya Azzam memastikan.



"Alhamdulillah, baik. Mas, tidak perlu khawatir."



"Ya Allah, kenapa bisa kejadiannya begini, Le? Bagaimana Mas tidak khawatir melihat kamu seperti ini?"



"Mas ngga usah lebay, hehehe. Tadi ada pengendara gila yang berniat menabrak Mbak Khumaira, Aziz lari tolong Mbak Khumaira. Jadi berakhir begini."



"Astagfirullah, siapa yang tega melakukan itu? Terima kasih banyak Le sudah menyelamatkan Mbakmu. Mas berhutang banyak padamu."



"Aziz, juga tidak tahu, Mas. Sama-sama, sebagai Adik sudah sepatutnya menolong. Tidak perlu berkata begitu, Mas. Ah, bagaimana kondisi Mbak Khumaira?"



"Alhamdulillah, Dek Khumaira sudah stabil. Calon anak kami juga baik-baik saja. Dia sedang tertidur, jadi Mas tinggal melihat, Tole."



"Alhamdulillah ya Allah, sungguh maafkan Aziz, Mas."



"Maaf kenapa, Le?"




Azzam menepuk bahu kiri Adiknya. Dia juga mengusap puncak kepala Aziz hati-hati.



"Itu darurat, Le. Mas tahu sekali. Jika kamu dorong Mbakmu otomatis dia akan terjatuh keras. Mas, paham Le tidak usah merasa bersalah begitu."



"Mas, terima kasih banyak ya. Sungguh sekali lagi maaf sudah lancang merengkuh, Mbak Khumaira."



"Sama-sama, Le. Apa perlu Mas telepon Abah dan Ummi?"



"Jangan, Aziz tidak mau mendengar ocehan dari Sabang sampai Merauke. Cukup Mas saja yang tahu."



Azzam terkekeh mendengar perkataan Aziz. Adiknya bisa-bisanya melawak di kala sakit.



"Dosa kamu, Le bilang begitu. Ummi mengomel juga demi kebaikan. Sudah, istirahatlah yang cukup, Mas tidak mau kamu tambah sakit."



"Hehehe, ampun Mas. Ummi itu rewel banget, Mas. Bida-bisa Aziz di suruh makan bubur setiap hari dan di paksa istirahat penuh. Baik, Aziz istirahat dulu."



"Hm, kamu nakal sekali, Le. Baiklah, Mas keluar dulu. Cepat sembuh."



"Hehehe, Amin."



***



Azzam menggenggam tangan mungil Khumaira. Sesekali dia kecup punggung tangan sang Istri.



"Dek, kenapa begini. Sejatinya siapa yang tega berniat buruk padamu? Ya Allah, lindungi Istriku dari mara bahaya, Amin."



Khumaira perlahan membuka mata. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah Azzam.



"Mas," lirih Khumaira.



"Alhamdulillah ya Allah, Dek syukurlah kamu sudah sadar," syukur Azzam. Dia merengkuh Khumaira sembari mengatakan syukur kepada Allah.



Khumaira ingat kejadian tadi, tubuhnya mengigil ketakutan mengingat peristiwa itu.



"Mas, hiks Adek takut," tangis Khumaira.



"Dek, ada Mas jangan takut. Semua baik-baik saja, Alhamdulillah."



"Mas, tadi ada mobil mau tabrak Adek. Ya Allah Mas, tadi Mas Aziz menolong Adek. Dia berdarah-darah Mas, bagaimana kondisinya?"



Khumaira menggigil lemah, suaranya terdengar parau dengan derai air mata. Sangat khawatir pada Adik iparnya yang berdarah demi menolong dia dari mara bahaya.



Azzam menangkup pipi gembil Khumaira lembut, lalu mengecup seluruh permukaan wajah wanitanya penuh perasaan.



"Jangan khawatir, Tole Aziz sudah di tangani, Dokter. Dia sudah baik-baik saja, Alhamdulillah."



"Alhamdulillah, serius Mas Aziz sudah baik-baik saja?"



"Serius, istriku. Tenanglah jangan panik, Mas mohon."



Khumaira berhambur merengkuh Azzam erat sembari mengatakan maaf dan terima kasih pada Allah.



Khumaira langsung ingat janinnya. Spontan dia melepas pelukan mereka dan langsung meraba perutnya.



"Mas, bagaimana dengan kandungan, Adek? Bagaimana keadaan calon anak kita? Mas, apa anak kita baik-baik saja? Mas, katakan pada Adek, anak kita masih di rahim, Adek?"



Pertanyaan beruntun bermakna sama, Khumaira tanyakan. Tangis pilu luruh begitu saja jika ingat buah hati mereka.



Azzam kembali merengkuh Khumaira sembari menciumi puncak kepala Istrinya. Dia juga mengusapi punggung Khumaira agar tenang.



"Dek, alhamdulillah Allah Maha Besar, atas izin-Nya buah hati kita selamat. Allah memberikan Kuasa-Nya untuk tetap menitipkan makhluk suci di dalam rahim, Adek. Jangan khawatir anak kita baik-baik saja, Sayang!"



Azzam memberikan ketenangan pada Khumaira. Tangan kekarnya juga mengusap perut Istrinya agar tenang.



"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillaahil-Hamd, terima kasih ya Allah sudah menyelamatkan calon anak kami. Ya Allah, terima kasih banyak atas kemuliaan dan kebesaran-Mu. Mas, Alhamdulillah."



"Allahu akbar Walillaahil-Hamd, Bagaimana sekarang, apa sudah tenang?"



"Alhamdulillah, Adek sudah merasa baikkan, Mas."



"Alhamdulillahi Rabbil’aalamiin."



Khumaira mendongak menatap Azzam penuh arti. Jemari lentik itu mengusap pipi Azzam penuh perasaan.



"Mas, maafkan, Adek," pinta Khumaira.



"Maaf untuk apa, Dek?" tanya Azzam sembari mengusap lelehan air mata Khumaira.



"Adek dan Mas Aziz, kami ___"



"Sstt, Mas paham tidak perlu merasa bersalah. Itu darurat, Dek. Mas, mengerti, Sstt jangan menangis."



Azzam memotong perkataan Khumaira dengan jari telunjuk di atas bibir Istrinya. Khumaira adalah segalanya bagi Azzam dan akan menuntut perbuatan pelaku.



"Mas," cicit Khumaira merasa terharu.



"Sudah, jangan dipikirkan," pinta Azzam.



Khumaira hanya mengaguk paham. Tangannya terulur untuk mengusap pipi Azzam penuh cinta.



"Adek mencintai Mas karena Allah."



"Mas juga mencintai Adek karena Allah!"



Saat Azzam hendak mengecup Khumaira, pintu terbuka. Lalu dengan cepat memisahkan diri. Dia merutuki diri karena nyaris kelepasan.