Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Pasar!



Azzam dan Khumaira ke pasar naik mobil milik sendiri. Mereka tampak menikmati kebersamaan pertama membeli jajan dan thr untuk keluarga.



Khumaira membeli jajan sendiri untuk di isi di apartemen. Cukup banyak dan mereka menaruh di mobil.



Kini tinggal membeli baju baru, Khumaira sedikit ngilu di area selatan-Nya karena kegiatan panas tadi malam.



"Dek, mau beli apa?"



"Gamis, Mas. Mas mau beli apa?"



"Kemeja, Dek."



"Mas beli pakaian couple, mau?"



"Boleh, Dek."



Khumaira tersenyum lebar begitu manis dan itu membuat para cowok yang lewat terpesona akan kecantikannya.



Azzam tidak suka Istrinya di tatap begitu memuja begitu. Dan kini giliran Khumaira yang sebal melihat para wanita terkagum-kagum akan ketampanannya.



Khumaira nekat menggenggam tangan Azzam dan menarik menjauh. Dia melihat baju batik gamis couple warna kuning gading. Mata coklatnya terlihat berbinar menatap pakaian itu.



"Mas, itu bagus, bagaimana?" riang Khumaira.



Azzam tersenyum tipis melihat keceriaan Istrinya. Lucu dan mengemaskan.



"Boleh, ayo beli," setuju Azzam.



"Mas," panggil Khumaira lagi.



"Iya, Dek."



"Apa muat?" tanya Khumaira muram.



Azzam menepuk pipi gembul Istrinya penuh sayang.



"Adek mungil, pasti muat kelihatan longgar," terang Azzam.



"Em, coba Mas pakai batiknya nanti ngga muat," ujar Khumaira polos.



"Memang tubuh Mas sebesar apa, Dek?" Azzam pura-pura merajuk.



Khumaira jadi tidak enak hati.



"Mas kekar, tubuh tinggi. Jadi waswas gitu, Mas. Sudah jangan mengambek, maaf in, Adek," tutur Khumaira seraya memohon.



Ingin sekali Azzam mencium bibir Istrinya, Astaghfirullah ingat masih puasa ngga baik berpikir mesum.



"Mas sakit, kenapa wajah Mas memerah?" Khumaira menempelkan punggung tangannya ke dahi Azzam.



Azzam jadi malu sendiri di tatap intens para pengunjung. Mereka jadi sorotan karena wajah?



Berdehem sebentar sebelum memegang pakaian yang hendak mereka beli.



"Mas sehat, nah Mas coba dulu," ujar Azzam sembari tersenyum tipis. Dia masuk ke dalam berniat mencoba dan sialnya yang jaga seorang wanita muda.



"Mbak, maaf asal masuk. Saya coba boleh?" Azzam berkata bernada ramah.



Spontan para penjaga mengaguk cepat. Mereka terus mencuri pandang ke arah Azzam.



Azzam memakai pakaian tanpa melepas pakaiannya. Bisa gawat kalau di lepas. Dia risih di tatap begitu oleh mereka, tapi mau di kata harus bagaimana?



Yudha jalan bersama 3 teman sefakultas. Tanpa sengaja dia melihat Khumaira tengah asyik melihat deretan pakaian.



"Cie, Khumaira tuh. Samperi gih lalu minta No Wa-nya," goda Imam.



"Apa sih, aku tidak mungkin meminta hal tidak masuk akal."



"Heleh ... ngentol kamu, Bang. Bilang saja suka sok banget. Sana minta No Wa," cibir Irul.



"Ngawur, aku ___"



"Mukamu sudah menjawab semua, Yudha. Ayo samperi si cantik," tukas Bram.



Yudha mengikuti langkah mereka menuju Khumaira. Dia berdehem sebentar untuk menetralkan rasa gugup.



"Assalamu'alaikum, Dik," sapa Yudha.



Khumaira menengok ke arah asal suara. Dia tersenyum tulus sembari menjawab salam, "Wa'alaikumssalam, Kak."



"Sendiri saja?" tanya Yudha basa-basi.




Mereka mengira Mamas Khumaira itu Bahri bukan Azzam. Walau belum pernah melihat Bahri tapi sekampus tahu Khumaira punya Kakak kandung ganteng.



"Oh, asyik berdua saja. Boleh kami temani?" goda Irul.



"Tidak, terima kasih," tolak Khumaira halus.



Azzam keluar dengan batik motif abstrak tapi berkelas.



"Dek, apa ini kekecilan?" tanya Azzam.



Khumaira tersenyum lebar melihat Azzam sangat tampan menggunakan batik itu. Pas dan tubuh Suaminya semakin wah.



"Wah, Mas itu pas. Kulit putih Mas cocok sekali," sahut Khumaira penuh ketulusan.



Azzam tersenyum mendengar jawaban Khumaira. Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Istrinya.



"Kamu pintar sekali memilih batik ini," puji Azzam.



"Siapa dulu, Khumaira!" bangga Khumaira.



Yudha dan 3 temannya merasa ganjal. Mamas Khumaira kenapa seperti bule dan terkesan seperti pasangan?



"Ehem, Dik Maira boleh minta, No Wa?" si konyol Bram begitu berani.



Spontan mata Hazel Azzam menyorot tidak suka.



"Siapa kamu? Jangan ganggu, Adikku!" peringat Azzam.



Bram menciut di tatap mata tajam itu. Dia menyengir kuda sembari terkekeh aneh.



"Bang, maaf bukan maksud menggoda. Saya, hanya ___"



"Alasan," sela Azzam terdengar dingin.



Khumaira mengusap lengan kekar Azzam penuh arti.



"Mas, sabar ingat bulan puasa. Mereka itu senior, Adek di kampus." Khumaira berusaha mencairkan suasana.



"Iya, Bang kami senior Khumaira di kampus," imbuh Yudha.



Azzam menatap mereka tajam namun perlahan mata itu meneduh kembali saat Khumaira menatapnya penuh harap.



"Maaf saya tidak suka Adek saya di ganggu," ujar Azzam.



"Tidak apa, Bang. Saya Imam," ucap. Iman.



"Saya, Bram," kikuk Bram.



"Saya, Irul," sambung Irul.



"Saya, Yudha." Yudha terlihat santai.



Mereka mengulurkan tangan untuk kenalan. Azzam menerima uluran tangan mereka dan mengenalkan diri dengan ramah.



"Azzam."



"Dik sekali lagi maafkan Bram yang lancang. Kami pamit dulu," terang Yudha.



"Iya tidak apa, Kak. Hati-hati."



Azzam dan Khumaira berlalu setelah membayar pakaian tadi. Saling diam tanpa kata.



Khumaira tersenyum melihat Suaminya tampak cemburu.



"Mas," panggil Khumaira.



"Iya, Dek," sahut Azzam.



"Mas, cemburu?" tanya Khumaira lirih.



"Iya," aku Azzam.



"Mas, menunduk gih," pinta Khumaira.



Azzam menurut untuk menunduk cukup dalam.



"Mas, Adek bahagia Mas cemburu. Maaf ya, mereka memang aneh. Mas, Adek mencintai Mas karena Allah," tutur Khumaira dengan bisikan lembut.



Azzam tersenyum tulus mendengar bisikan Istrinya. Sangat senang sampai ingin cepat pulang.