Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Awal Hubungan!



Azzam terbangun saat mendengar suara alarm ponsel. Dia merasa ada yang menimpa dadanya dan benar ada sosok cantik berbantal dada bidangnya.


Senyum manis terukir indah di bibir Azzam mengingat pernikahan dan malam pertama penuh kebahagiaan. Rasa syukur Azzam panjatkan pada Allah pasalnya ia berhasil memperistri wanita Shalihah.


Azzam melihat jam dinding dan ia mendelik saat tahu sudah setengah empat kurang 20 menit. Dengan segera ia menepuk pipi gembul Istrinya penuh sayang.


"Dek, bangun." Azzam menggigit gemas pipi gembul Khumaira.


Khumaira mengerjap beberapa kali dan alangkah terkejut melihat Azzam di depan matanya. Dia mengerjap beberapa kali untuk menetralkan pikiran.


Azzam menyerngit melihat Istrinya tampak lucu melihatnya.


"Aku masih mimpi ya? Ugh, sadar Khumaira itu tidak mungkin," gumam Khumaira sembari berbalik memunggungi Azzam.


Azzam sadar sekarang dengan keadaan Istrinya. Dia mengecup punggung polos Khumaira.


Khumaira menahan napas saat merasakan bibir mencium punggungnya. Hingga ia menerima gigitan kecil di bahunya.


"Mas," lenguh Khumaira.


"Ini nyata, Dek. Ayo mandi besar karena bisa terlambat sahur," ujar Azzam menyadarkan Khumaira.


Khumaira merapatkan selimut dan melihat jam.


"Mas duluan saja yang mandi, Adek menyusul," cicit Khumaira.


Azzam tersenyum mendengar jawaban Khumaira.


"Adek malu? Beberapa jam lalu kita sudah melihat tubuh polos satu sama lain. Mas tahu Adek menahan sakit jadi biarkan, Mas gendong Adek sampai di kamar mandi," tutur Azzam lembut.


Khumaira meremas selimut lumayan kasar. Sungguh ia gugup akan situasi ini.


Azzam beranjak mengambil boxer lalu perlahan mendekat ke arah Khumaira. Dia membungkus tubuh mungil Istrinya menggunakan selimut dan perlahan mengangkat menuju kamar mandi.


Cukup bersyukur karena kamar mandi ada di dalam kamar jadi tidak perlu keluar.


Khumaira menyembunyikan wajah di bahu lebar Suaminya saat menuju kamar mandi. Dia malu sekali akan situasi sekarang.


"Dek, ayo mandi nanti keburu imsak." Azzam menurunkan Khumaira perlahan.


"Ugh," lenguh Khumaira menahan nyeri di area inti. Spontan dia mencengkam lengan kekar Azzam.


"Dek, maafkan Mas bikin terlalu sakit," sesal Azzam.


"Adek tidak apa Mas, ini wajar bagi yang pertama. Mas tidak perlu khawatir begitu." Khumaira mengelus lengan Azzam untuk menenangkan.


"Terima kasih, Dek,"


Mereka akhirnya mandi junub bersama. Saling menggosok punggung dan memberikan usapan.


......***......


"Uhuk, pengantin baru keluar 20 menit menuju imsak," goda Laila sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Khumaira merona mendengar godaan Adiknya.


"Apa sih, Dek." Khumaira meminta maaf pada Ibu dan Kakaknya pasalnya telat membantu.


Tidak lama Azzam keluar dari kamar. Tubuh kekarnya terbalut kaus longgar warna biru gelap, lengan panjang dan bawahan training warna senada.


"Mas, Laila boleh minta ajari, Qori?" riang Laila.


Azzam tersenyum mendengar perkataan Adik iparnya.


"Em, kapan saja mumpung Laila libur. Em, Mas Azzam tinggal di sini berapa lama?" Laila begitu semangat sekarang.


"5 hari, Dik. Mungkin setelah ini kami akan pindah ke Sleman supaya dekat dengan Universitas, Mbak Khumaira," papar Azzam.


"Sebentar sekali, tapi setiap Shalat magrib Laila minta ajari ya, Mas!" riang Laila.


"Insya Allah," sahut Azzam.


"Sudah Dik, Mas Azzam butuh saur sebentar lagi imsak," tegur Khumaira.


Laila mencebik mendengar teguran Kakaknya.


"Kakak cemburu?" goda Laila.


"Astagfirullah, bayi ini. Ngapain Mbak cemburu sama anak 13 tahun?" kekeh Khumaira.


Laila memberengut lucu mendengar perkataan Khumaira. Kakaknya sungguh menyebalkan.


"Sudah, jangan ribut. Nak kami ke ruang TV, makanlah dengan segera soalnya mau imsak." Pak Sholikhin menengahi.


"Enggeh (iya), Pak," jawab Azzam dan Khumaira kompak.


Khumaira mengambilkan nasi dan lauk pauk serta sayur untuk Azzam.


"Mau tambah nasinya, Mas?" tanya Khumaira sopan.


"Terima kasih, ini dulu. Adek ngga tambah nasinya?"


"Cukup ini Mas," jawab Khumaira seraya tersenyum manis.


Azzam tersenyum.


Adzan subuh berkumandang indah, Azzam menghampiri Istrinya masih terlihat menahan sakit.


"Kita jama'ah di rumah saja, Dek. Biar Mas yang imami," usul Azzam.


Khumaira mendongak menatap mata Azzam penuh pengharapan.


"Adek bisa kok jalan sampai masjid ___"


"Mas tidak mau Adek sakit berlama-lama. Sekarang wudhu Mas keluar sebentar bicara sama Bapak dan Ibu."


Azzam berlalu setelah mengatakan itu. Dia meminta maaf karena tidak bisa ikut Bahri dan Ayah mertua ke masjid.


"Ora popo, Le. Sudah temani Istrimu kasihan menunggu," ujar Pak Sholikhin sedikit menggoda.


"Matur nuwun, Pak."


Azzam kembali masuk dan ia sudah melihat Istrinya memakai mukena dan menata sajadah.


"Mas ambil air wudu dulu ya, Dek."


Khumaira mengangguk.


Seperti tadi malam mereka Shalat berjamaah kembali. Usai Shalat Khumaira mengecup punggung tangan Azzam.


"Mau mengaji bersama, Dek?" tawar Azzam.


"Iya, Mas. Kita wudu lagi."


"Tidak apa, ayo!" Azzam mengulurkan tangan tentu Khumaira menerimanya dengan senang hati.