
Azzam mengusap pipi Khumaira lembut berusaha kuat untuk menghadapi ini. Dia ingin Khumaira-nya cerewet suka mengomel dari pada terkapar lemah dengan kondisi memprihatinkan.
Khumaira perlahan membuka mata, hal pertama yang dilihat adalah Azzam. Senyum tipis terukir agar Suaminya biasa saja.
Pandangan ia edarkan ke seluruh penjuru ruangan asing. Mewah dan elegan kesan pertama ia lihat. Dia di hotel ya?
Azzam tersenyum bahagia melihat Khumaira sadar. Dia rengkuh tubuh mungil Istrinya penuh haru.
"Mas, ayo pulang yuk." lirih Khumaira.
Azzam menyengit melihat permintaan Khumaira. Pulang ke Pagerharjo atau ke Sleman?
"Adek mau pulang ke mana? Kita di sini dulu ya sampai Adek benar-benar sembuh," sahut Azzam sembari menangkup pipi gembil Khumaira.
Khumaira menggeleng lemah tidak mau menginap di hotel karena tahunya ia berada di hotel bukan di rumah orang tua Azzam.
"Rumah Abah dan Ummi. Adek sudah bilang jangan menginap di hotel," sahut Khumaira polos.
Azzam menahan tawa agar Istrinya tidak tersinggung. Lucu sekali Khumaira saat ini. Apa kamarnya seperti hotel?
Azzam mengedarkan pandangan dan tidak ada yang salah. Kamarnya biasa tidak ada kesan mewah seperti hotel. Menurut Azzam kamarnya itu simple walau dipikirkan orang beda.
"Mas kenapa menahan senyum begitu? Ayo pulang Mas," rengek Khumaira dengan suara lemahnya.
Azzam tersenyum pada akhirnya. Dia kecup kening Khumaira dalam.
"Kita di rumah Abah dan Ummi, ini kamar Mas, Dek." Azzam mengecup bibir Khumaira yang terbuka sedikit lebar dengan mata membulat mendengar perkataannya.
"Mas, yang benar?" cicit Khumaira.
"Bener, Dek tidak bohong. Ini kamar Mas." Azzam sedikit menggigit gemas pipi gembul Khumaira.
"Mas, nakal. Astagfirullah Mas, Adek pasti ketiduran sampai rumah. Ya Allah, Kenapa Mas tidak bangun in, Adek? Adek, cuci muka dulu," panik Khumaira.
Azzam tersenyum tulus mendengar perkataan Khumaira yang terkesan sudah tidak lemah lagi. Syukurlah Istrinya sudah mendingan.
"Tidak apa jangan risau. Adek istirahat saja," hibur Azzam.
"Mas, Adek ngga sopan sama Abah dan Ummi, datang ke sini belum meminta maaf sudah tidur duluan. Adek cuci muka dulu," tutur Khumaira.
Khumaira menatap jam dinding dengan horor pasalnya sekarang sudah setengah 9 malam.
Azzam merengkuh Khumaira agar sedikit tenang.
"Tidak apa, mereka maklum. Lagian Adek kurang enak badan tadi jadi Mas dan lainya maklum. Istirahat lagi, Dek sudah malam."
Khumaira merengut sebal ingat tadi. Pasti Suaminya panik melihat dia lagi-lagi sakit kembali. Ya Allah, maaf merepotkan Azzam.
"Mas, Adek mohon."
"Baiklah, sekarang cuci muka."
"Mas, Adek mau mandi saja lengket semua. Mas sudah mandi? Adek juga mau mengqadha Shalat yang tertinggi."
"Ini sudah malam, Dek. Mas sudah mandi tadi jam 7. Cuci muka saja, Dek."
"Mas," protes Khumaira.
"Baiklah." Azzam bisa apa sekarang?
***
Khumaira meminta Azzam untuk menemaninya bertemu mertua dan saudara dan saudari, Suaminya.
"Mas, Adek tidak enak," cicit Khumaira.
"Jangan takut, Dek. Ayo," ucap Azzam menenangkan.
Khumaira kagum melihat interior rumah mewah Ayah dan Ibu Azzam. Kaya sekali, rumahnya bak istana. Hiperbol, biarkan saja.
"Dek," panggil Azzam lembut.
"Dalem, Mas," sahut Khumaira.
"Jangan melamun, ayo kita tinggalkan masuk pintu itu bertemu keluarga Mas," bisik Azzam.
"Enggeh, Mas."
Saat pintu ruang keluarga terbuka, Khumaira menahan napas melihat keluarga Azzam. Dia malu sekali pasalnya baru bisa sungkem jam 9 malam.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam khusus dengan suara lembutnya.
Keluarga Azzam tersenyum mendengar salam Khumaira.
"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab mereka.
Khumaira bersimpuh di depan Safira untuk menghantarkan permintaan maaf dari hati. Dia menitikkan air mata karena merasa menyesal dan gagal. Dia mencium punggung tangan Safira supaya mendapat pengampunan.
Safira memeluk Khumaira dan mengecup pipi menantu keduanya lalu mengusap air mata. Dia membalas sungkem Khumaira lembut. Wajah cantik di usia tidak lagi muda membuat siapa saja terpesona.
Khumaira juga sungkem dengan Hasyim dengan tulus. Dia mencium punggung tangan Ayah mertua lalu mendapat balasan tepukan kepala.
Azzam dan Khumaira ikut serta masuk dalam obrolan ringan penuh kehangatan. Sesekali Khumaira di goda saudari Azzam.
"Ndok Khumaira, kurang berapa semester lagi lulus dari UGM?" tanya Nakhwan, Putra sulung Hasyim dan Safira.
(Muhammad Amru Nakhwan - 34 y.o. Height 188 cm. Status sudah menikah punya 2 anak.)
"Kurang 1 semester lagi, Mas. Insya Allah setelah itu mengerjakan skripsi," sahut Khumaira dengan lugas.
"Wah, bagus itu, Mbak. Aku tidak percaya Mas Azzam menikahi gadis cantik dan masih kecil," goda Aziz. Putra ketiga Hasyim dan Safira.
(Muhammad Abdul Aziz - 26 y.o. Height - 184 cm. Status single pekerja keras.)
"Tole Aziz, ngga baik bicara begitu. Lagian Masmu dan Mbak Khumaira sudah ditakdirkan bersama," peringat Nakhwan.
Aziz terkekeh mendengar perkataan Abang sulungnya.
"Aziz hanya menyerukan isi hati, Mas. Mbak Khumaira ini masih kecil loh, benar kan Mas?" goda Aziz pada Azzam.
"Le, Mas ingin melakban dirimu," ujar Azzam sembari tersenyum manis.
Aziz diam mendengar perkataan Azzam. Lucu sekali Abang keduanya.
"Mas Aziz, kasihan Mbak Khumaira-nya. Lihat Mas Azzam sampai begitu, mau di jewer?!" tegur Shabibah. Putri keempat Hasyim dan Safira.
(Khalis Shabibah Qotrunnada - 23 y.o. Height 165 cm. Status sudah menikah punya 1 anak.)
"Apa sih Nduk, Mas cuma menggoda saja ngga lebih," kilah Aziz.
"Alasan Mas Aziz saja, ngomong saja ingin cepat menikah punya Istri. Makanya cepat cari keburu tua. Mas terlalu senang mencari ilmu sampai lupa pasangan hidup!" celetuk Najah. Putri kelima Hasyim dan Safira.
(Najah Shidqi Insyirah - 20 y.o. Height 170 cm. Status single, Mahasiswi cantik.)
"Bwahaha mampus kamu Le kena selantap Nduk galak!" tawa Nakhwan.
Aziz merengut sendiri karena ucapan Najah.
"Mas Azzam saja menikah di umur 29 tahun, aku masih muda 26 tahun. Apa salah cari ilmu dan uang untuk Istriku kelak?!" Aziz berseru membela diri.
"Ya sudah carilah ilmu setinggi langit dan hasilkan uang untuk rumah tangga. Tapi, harus ingat menikah, Le," komentar Azzam.
"Nah, itu betul aku padamu, Mas. Aziz akan cari uang untuk membahagiakan istriku kelak!" tegas Aziz.
"Anak baik, Luthfi senang dengar Mas bicara begitu. Sukses selalu, Mas Aziz!" riang Luthfi. Putri keenam Hasyim dan Safira.
(Salsabila Luthfi Hazza - 16 y.o. Height 168 cm. Status pelajar SMA.)
"Kalian dari tadi debat terus. Azmi mengantuk," celetuk Azmi. Putra bungsu Hasyim dan Safira.
(Muhammad Rizqullah Azmi - 10 y.o. Height ___ . Status pelajar SD.)
Khumaira tersenyum mendengar kelucuan saudara dan saudari Azzam. Dia heran kenapa wajah mereka rupawan semua. Ah dia sadar Ayah Suaminya itu sangat tampan khas Asia tenggara, sementara Ibu Azzam sampai cantik nan anggun khas Asia timur.
***
Khumaira belum mengantuk juga padahal sudah jam 11 malam. Dia tidak bisa tidur lagi dan terus terjaga.
"Dek, ayo tidur sudah malam." Azzam berusaha membujuk tapi tidak berhasil.
"Mas, Adek belum mengantuk," rengek Khumaira.
Azzam sudah sangat mengantuk sekarang. Dia berusaha membuka matanya demi menemani Istrinya.
"Mas mengantuk, Dek," gumam Azzam dengan mata sayu.
Khumaira merengut sebal karena Suaminya sudah mulai kesirep - Bahasa Indonesia apa?
Ide nakal terlintas dibenaknya, itu menguntungkan kedua belah pihak.
Khumaira meraba perut kotak-kotak Azzam sedikit nakal. Dia juga meremas otot perut Suaminya agar Azzam bangun.
"Jangan nakal, Dek!" peringat Azzam masih mempertahankan memejamkan mata.
"Mas, buat Adek lelah biar tidur," pinta Khumaira. Dia merasa nakal sekarang, sering sekali tubuhnya sensitif akan sentuhan dan ingin disentuh.
Azzam membuka mata lalu menarik Khumaira agar tidak bisa bergerak. Bukan tidak tahu keinginan Istrinya hanya saja Khumaira masih sakit.
"Ayo tidur, Dek," bisik Azzam.
"Ngga mau," tolak Khumaira lalu menggigit leher kokoh Suaminya dan itu meninggalkan bekas kemerahan. Kulit Azzam putih jadi terlihat sekali ada jejak gigitan.
"Adek, Mas benar-benar ingin menerkam. Jangan salahkan Mas kalau itu terjadi!" gertak Azzam supaya Khumaira jerah.
Mata Khumaira berbinar mendengar gertakan Azzam. Entah kenapa rasanya dia jadi mesum sekali.
"Boleh, Mas. Tapi, hati-hati ya," bisik Khumaira sukses membangunkan Azzam.
"Nakal!"
"Mas ....!!!"