
Azzam menanggapi pertanyaan rekanya dengan senyum tipis. Namun, dalam hati terus terucap asma Allah. Dia terus Dzikir menyebut ke Agungan, Allah.
20 menit dalam perjalanan, Azzam semakin gelisah. Dia terus merapalkan doa pada Allah. Semoga saja mereka di lindungi Allah dalam perjalanan menuju Brunei.
Dering ponsel berbunyi, sontak Azzam angkat. Ternyata panggilan video, dia tersenyum tulus saat Khumaira menggerutu imut.
"Assalamu'alaikum, Imamku," sapa Khumaira.
"Wa'alaikumssalam, Makmumku," sahut Azzam.
Azzam tersenyum saat mendapati tatapan menggoda rekan kerja yang akan ke Brunei. Tidak apa asal bisa bertatapan dengan khumaira tidak apa di goda. Sungguh Azzam sangat mencintai Khumaira sampai cintanya tidak mampu di jabarkan.
"Assalamu'alaikum, Abi. Dedek kangen!"
"Wa'alaikumssalam, Tole. Abi juga rindu Tole."
"Abi, Dedek mau Abi pulang."
"Insya Allah, secepatnya Abi pulang."
"Hore, Umi ini Dedek sudah lega!"
Azzam tersenyum tulus mendengar perkataan Ridwan. Semoga saja apa yang di ucapkan benar adanya. Sungguh apa yang harus dia lakukan jika semua itu fatamorgana.
Khumaira tersenyum tulus menatap Azzam di balik layar. Dia tidak bisa lepas menatap Azzam penuh arti. Entah kenapa hatinya terasa teremas kuat menatap Azzam sekarang. Ia merasa akan ada badai menghantam rumah tangga mereka.
"Mas, jaga diri baik-baik ya, Adek akan selalu mendoakan Mas."
"Insya Allah, Sayangku."
"Mas, Adek sangat takut."
"Jangan takut, ambil wudhu gih Shalat Duha, lalu baca Al-Qur'an. Jika takut, gelisah dan di selimuti duka ingatlah kepada, Allah. Hanya Allah tempat kita berkeluh kesah mengharap sebuah permohonan.”
"Baik, Adek Shalat dulu. Mas, Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Insya Allah, Adek akan selalu ingat nasihat, Mas!"
"Mas juga sangat mencintai Adek karena Allah, Amin!"
"Alhamdulillah."
"Alhamdulillah."
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas. Doaku mengiringi langkah kaki Mas. Adek selalu mencintai Mas."
"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Dek. Syukron kasir, ya Habibi. Mas juga selalu mencintai Adek!"
Panggilan terputus dan kini Azzam di goda habis-habisan oleh teman-temannya. Sang empu hanya tersenyum menanggapi godaan mereka. Bagi Azzam semua itu malah terkesan manis.
Azzam menyimpan ponsel di tas kecil. Dia menunduk dalam karena merasakan sesuatu. Setitik air mata jatuh membasahi pipi, sontak Azzam langsung menghapus air matanya.
"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar Walillaahil-Hamd." Azzam bertakbir menghalau perasaan gelisah.
Tepat di jalan penuh pepohonan dan di sebelah ada jurang curam, terlihat ada truk fuso oleng dari arah belakang. Sopir truk fuso kehilangan kontrol. Sopir itu begitu kalut karena mobil yang di kendalikan hilang arah. Rem mobil fuso blong mengakibatkan menabrak belakang mobil bus.
Akibat itu semuq mobil bus juga kehilangan kendali dengan menabrak belakang mobil yang di tumpangi Azzam. Semua terasa mengerikan saat mobil kehilangan kendali.
"Astagfirullahaladzim, ada apa ini?" panik penumpang mobil.
"Baca syahadat serta serukan nama Allah. Yakin kita baik-baik saja!" seru Azzam dan mereka terus mengucap syahadat dan Dzikir.
Mobil Van tidak bisa berkutik membuat mobil sedan di depan jadi korban. Posisi mobil Van terjepit oleh mobil depan belakang. Karena tidak kuat menahan beban, mobil Van terbalik menyebabkan oleng ke samping. Akibat tragedi itu semua kacau, pasalnya terjadi kecelakaan beruntun.
"Ashadualla Ilahailallah wa Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah. Ya Allah jika ini akhir hidup hamba, tolong jaga Istri dan anakku, Amin. Dek, Tole ... Abi sangat mencintai kalian karena Allah. Maafkan Abi tidak bisa menepati janji." Azzam tersenyum tatkala mobil Van itu terus berguling-guling di jurang.
Azzam dan lainnya berusaha menyelamatkan diri sembari berseru nama Allah. Azzam berhasil keluar, tetapi naas dia malah terperosok mengakibatkan jatuh di sungai.
Suara ledakan mobil ban, mobil bus, mobil fuso dan beberapa mobil lainnya terdengar mengerikan. Kobaran api melahap banyak nyawa membuat sebuah suara menakutkan.
Khumaira sedang wiridan dalam Shalat-nya. Jantungnya semakin nyeri dan sesak mengingat Azzam. Entah kenapa air mata luruh deras mengingat Suaminya yang ada di luar sana.
Krak
Khumaira membuka matanya tidak percaya saat tasbih pemberian Azzam putus. Napas Khumaira tercekat melihat tasbih berceceran tidak berbentuk. Air mata semakin deras membanjiri pipinya tatkala tasbih itu putus.
"Astagfirullahaladzim, ya Allah. Mas Azzam ... Mas."
Buru-buru Khumaira menyambar ponsel guna menelepon Azzam tetapi tidak kunjung ada balasan. Dia sangat panik hingga rasanya ingin berteriak histeris.
"Mas, Adek mohon angkat."
Ridwan berlari ke arah kamar Ayah dan Ibunya. Dia langsung merengkuh Khumaira erat sembari menangis histeris.
"Abi, hiks Abi ... Umi. Abi ...."
Ridwan menangis histeris menyebut Abi. Si kecil begitu peka akan kondisi sang Ayah. Semoga saja Ayahnya baik-baik saja di mana pun berada.
"Umi, Abi pergi. Bawa Abi ayo selamatkan, Abi, hiks."
Ridwan terus menangis histeris dalam dekapan Khumaira. Dia meronta dalam dekapan Khumaira. Tanpa sengaja kaki kecilnya menendang perut Ibunya.
Khumaira merasa perutnya sangat nyeri tetapi harus kuat. Dia meminta Ridwan turun guna untuk melepas mukena. Dia kuat tidak boleh lemah hanya hal begini. Ridwan membutuhkan ketenangan agar berhenti histeris. Makanya Khumaira berusaha kuat menghadapi semua itu.
***
“Mas Aziz, tolong hubungi Mas Azzam. Sedari tadi tidak bisa di hubungi." Khumaira datang sembari menggendong Ridwan.
Aziz menengok ke arah Khumaira. Lalu menuruti perkataan Kakak iparnya. Ponsel terhubung tetapi tidak ada sahutan. Karena kesal Aziz melacak keberadaan Azzam.
"Ini kan di hutan penuh jurang, kenapa Mas Azzam masih di sini. Seharusnya sudah keluar dari hutan dan sebentar lagi sampai tujuan," gumam Aziz.
"Le, bagaimana sudah kena Masmu di hubungi?" tanya Safira.
"Belum, Ummi. Mas Nakhwan, Mas Bahri ayo ikut aku!"
"Ke mana?" tanya Bahri.
"Memastikan sesuatu, ayo kita pergi. Tempatnya cuma 40 menit dari sini."
Aziz begitu kalut memikirkan hal buruk. Semoga saja semua ekspetasi meleset jauh. Dia begitu yakin bahwa Azzam tidak kenapa-napa. Allah selalu melindungi Masnya.
"Aku ikut," pinta Khumaira.
"Tidak, Mbak di rumah saja!" tegas Aziz.
"Tidak aku ikut!" kekeh Khumaira.
"Baiklah."
Khumaira meminta Ridwan di rumah dengan dalih akan membawa Azzam kembali. Akhirnya Ridwan menurut untuk tetap tinggal.
Mereka pamitan pada keluarga lalu menuju lokasi terakhir ponsel Azzam berada. 40 menit mereka menempuh perjalanan akhirnya sampai.
Aziz, Bahri dan Nakhwan terutama Khumaira menyengit melihat banyak polisi mengerubungi tempat itu. Sebenarnya apa yang terjadi sampai para Polisi mengerubungi tempat ini?
Aziz maju nekat bertanya.
"Permisi Pak, ini ada apa?" tanya Aziz mewakili semuanya.
"Ada kecelakaan beruntun, Anda pulang saja karena ini sangat bahaya."
"Tunggu, kecelakaan. Ya Allah," lirih Aziz.
"Pak saya boleh melihat CCTV untuk memastikan sesuatu?"
Polisi itu mengaguk singkat lalu memberikan tablet menampilkan mobil truk fuso kehilangan kontrol mengakibatkan kecelakaan beruntun. Mata coklat keemasan membulat sempurna melihat ban yang sangat di kenal.
Tubuh Aziz bergetar ketakutan melihat hal mengerikan. Saat mobil Van membanting setir berdampak oleng ke samping berakhir terjatuh di jurang. Keringat dingin mengucur deras dari pori-porinya. Aziz tidak kuasa menahan tangis melihat hal buruk. Semoga saja Masnya di temukan segera agar tidak ada rasa takut.
Bahri dan Nakhwan ikut melihat dan mengulang kembali apa yang di tonton. Mata mereka membulat sempurna melihat CCTV.
"Innalillahi wa inaillaihi roji'un, tolong selamatkan Adik saya, dan kerahkan tim sar terjun ke bawah mencari keluarga kami!" seru Nakhwan.
Khumaira membisu tanpa kata, air mata mengucur deras membasahi pipi. Perutnya semakin kram dan sangat menyakitkan. Pandangan berkunang, tubuh lemas hingga kesadaran merenggut segalanya.
Bruk
Bahri dan lainnya sontak menengok asal suara orang jatuh. Mata mereka membulat saat ingat membawa Khumaira.
Bahri langsung menggendong Adiknya, lalu meminta cepat membawa Khumaira ke rumah sakit. Kenapa takdir begitu kejam pada Khumaira? Semoga saja kedua Adiknya baik-baik saja, Amin.
Nakhwan yang menyetir dengan cepat agar sampai rumah sakit segera. Sementara Aziz membisu tanpa kata saat mengingat Azzam. Mereka sangat khawatir pada Khumaira tampak sok.
Bahri semakin panik merasakan napas Khumaira terlihat memberat. Ia tidak bisa berhenti untuk mendoakan keselamatan Azzam dan Khumaira. Dia sangat panik ketika mencium bau anyir sedikit pekat.
Aziz dan Nakhwan menegok belakang sebentar untuk memastikan. Mereka panik ketika bau anyir semakin banyak.
"Mas, Mbak Khumaira kenapa?"
"Tunggu saya periksa."
Bahri mengangkat Adiknya untuk bersandar padanya. Matanya membulat sempurna melihat darah merembes di jok mobil.
"Lajukan mobil dengan cepat, Adikku pendarahan!" panik Bahri.
"Ya Allah, Nduk sabar pasti kuat. Masmu pasti selamat, jangan khawatir!" rapal mereka.
Aziz semakin pening menerima musibah. Dia berdoa kepada Allah semoga Azzam dan Khumaira baik-baik saja. Amin. Sungguh dia sangat takut jika terjadi apa-apa pada Azzam dan Khumaira. Dua orang yang sangat berarti untuknya sekarang dalam keadaan menyedihkan. Semoga Allah memberikan keajaiban pada mereka. Aziz terus berdoa agar Mas dan Mbaknya baik-baik saja walau nyatanya tidak seperti itu.