Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Kepiluan!



Bahri menggendong Khumaira yang penuh darah. Adiknya di rebahkan di brankar lalu di larikan ke UGD dan itu membuatnya terpuruk.



Aziz dan Nakhwan duduk di kursi tunggu dengan pandangan kosong. Hati mereka begitu sesak akan musibah ini.



30 menit kemudian, Suster keluar menghadap mereka.



Bahri maju lalu bertanya, "Bagaimana kondisi Adikku?"



"Maaf Pak, kami meminta persetujuan untuk melakukan kuret. Pasien mengalami pendarahan hebat menyebabkan janinnya tidak selamat. Maaf tidak bisa menolong janin, Pasien."



Hati tiga pria dewasa ini remuk. Bahkan Aziz pucat pasi mendengar itu. Dia langsung ingat pesan Azzam untuk menjaga Khumaira dan kini tidak bisa menjaga. Remuk itulah gambaran hati mereka.



"Lakukan, tolong selamatkan Adik saya!"



Bahri menandatangani surat persetujuan. Setelah itu ambruk di lantai. Dia merasa frustrasi mengingat nasib Khumaira.



"Mas, sabar," pinta Aziz.



Bahri menggeleng lemah saat melihat darah melingkupi tubuhnya. Hati Kakak mana yang tidak sakit melihat Adiknya keguguran dan kehilangan Adik ipar?



"Kenapa ya Allah engkau turunkan cobaan berat? Hamba sebagai Kakak tidak kuat apa lagi Khumaira. Ya Allah, tolong selamatkan Adik iparku dan selamatkah Adik hamba."



Bahri berdoa dengan tangis tersedu.



Aziz yang tidak tahan sontak berjalan keluar menuju Mushola untuk Shalat duha. Dia akan berserah diri memohon kesembuhan dan keselamatan untuk Azzam dan Khumaira.



Nakhwan berusaha menenangkan Bahri tetapi tetap saja. Hatinya pilu sampai susah bernapas.



Berita Azzam kecelakaan dan Khumaira pendarahan terdengar di telinga keluarga. Mereka menangis sedih akan cobaan yang menimpa keluarga.



Semua doa mereka panjatkan untuk kesembuhan Khumaira dan keselamatan Azzam. Semoga saja Azzam di temukan dan bisa kumpul kembali bersama mereka.



***



2 Hari Kemudian!



Khumaira terbangun dari tidur lelapnya. Di edarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan dan dia paham ada di mana.



Meraba perutnya terasa datar tidak ada kehidupan. Air mata luruh deras mengingat kejadian tempo hari saat mengetahui fakta bahwa Azzam kecelakaan lalu pingsan dan berakhir di sini.



Hati Khumaira hancur lebur mengingat tidak ada kehidupan di perutnya. Selama 3 bulan setengah dia mengandung dan sekarang tidak ada.



Tangis mulai mengeras mengingat cobaan. Sesak sampai tidak mampu bernapas dengan benar. Khumaira menangis histeris sembari menyerukan, "kenapa ya Allah?"



Maryam dan Sholikhin langsung menekan tombol darurat lalu merengkuh Khumaira erat. Hati terasa ngilu melihat putri mereka begitu terpuruk.



"Ibu, Mas Azzam dan Dedekku. Ya Allah, sakit sekali. Ibu ... Pak anakku dan Suamiku. Ya Allah, kenapa bisa terjadi? Ya Allah sakit sekali tolong, Khumaira. Ibu, Pak, hiks tolong ini sangat menyakitkan. Mas Azzam dan calon anak kami, ya Allah."



Maryam menangis tidak kuat melihat Putrinya histeris penuh luka. Dia usap dan ciumi puncak kepala Khumaira sembari mengatakan istighfar. Semoga saja anaknya mampu bertahan menghadapi cobaan berat kali ini.



Semua yang ada di ruangan merasa sakit tidak mampu mengatakan apa-apa. Selama dua hari pencarian tidak membuahkan hasil. Azzam masih belum ketemu padahal banyak sekali tim sar mencari.



Khumaira yang tidak kuat akhirnya kembali pinggan dalam dekapan Maryam. Ia sangat lemah sampai tidak mampu menjabarkan luka hati yang menganga.



Azia menggigit bibir dalamnya keras. Sungguh tidak sanggup melihat Khumaira begitu terpuruk. Dia ingat Ridwan ada di rumah di jaga Laila. Haruskah dia sanggup menghadapi cobaan melebihi batas kemampuan? Menatap sendu ke luar saat Dokter mengatakan Khumaira masih sangat tertekan. Aziz tidak mampu mengatakan apa pun.



Maryam dan Sholikhin selalu menjaga Khumaira sembari mengatakan baik-baik saja. Hati orang tua mana yang tidak hancur melihat Putrinya tidak berdaya dalam duka.



Khumaira selalu bertanya apa Azzam sudah du temukan? Apa Suaminya sudah menghubunginya? Dan masih banyak lagi pertanyaan sederhana namun menyakitkan.



Tepat hari ke empat, pintu rumah Azzam dan Khumaira terketuk oleh seseorang.



Azmi membuka pintu dengan semangat, lalu membeku melihat dua polisi. Jangan bilang para Polisi sudah menemukan Azzam. Alhamdulillah, jika mereka menemukan Azzam.



"Selamat siang, apa benar ini rumah Bapak Muhammad Khusain Al-Azzam?"



"Selamat siang, benar ini rumah Kakakku!"



"Le siapa yang bertamu?" tanya Safira.



"Polisi, mari masuk Pak."



Keluarga Azzam bergetar melihat Polisi. Apa Azzam sudah di temukan?



"Maaf mengganggu waktu kalian, kami ingin memberi tahu kalau Pak Azzam di temukan."



"Alhamdulillah Hirabbil 'Alamin," kor mereka penuh senyum haru lalu menyerukan kata pujian untuk Allah.



"Maaf, kami harus mengatakan ini. Bapak Azzam di temukan namun __"



"Namun apa?!" seru Aziz sangat ketakutan.




Bagai tersambar petir di siang bolong itulah kondisi mereka. Hati mereka begitu lebur mendengar informasi polisi.



Safira pingsan karena tidak kuat menahan semua ini. Air mata merembes keluar dari mata mereka.



Nakhwan langsung menggendong Ibunya untuk masuk kamar.



"Tolong jangan otopsi Putraku, langsung bawa kemari."



"Baik, kalau begitu kami permisi."



"Silakan!"



Polisi pamit pulang dan kini para wanita menangis histeris sedangkan pihak pria hanya meneteskan air mata.



Sekitar jam dua siang jenazah Azzam telah tiba. Banyak pelayat dan keluarga Azzam menatap duka peti mati itu.



Aziz ambruk di lantai menatap peti mati. Dia menatap kosong sembari menangis begitu pun dengan 4 Adiknya dan kakaknya. Tidak ada pancaran kehidupan di mata Aziz. Pria ini sangat hancur melihat Kakaknya sudah pulang ke Rahmatullah.



Jenazah sudah di letakan di kelasa. Kain menutup tubuh tinggi itu sampai tidak terlihat. Memang benar Azzam sudah tidak di kenali, hanya bisa melihat cincin pernikahan melingkupi jari manisnya. Selebihnya sangat menyedihkan untuk di katakan.



Polisi menyerahkan bukti lainnya pada keluarga Azzam.



Khumaira sudah boleh pulang, Bahri menuntunnya menuju pekarangan rumah. Sesampainya di depan rumah, Bahri, Maryam dan Laila terkhusus Khumaira membatu.



"Kenapa ini, siapa yang meninggal?" tanya Bahri belum tahu Azzam sudah tiba.



Khumaira bergetar ketakutan. Dia berjalan menuju ruang tamu dan benar ada sosok ter selimuti jarik menutup tubuh. Dia tersenyum getir seolah tidak percaya dengan pandangan.



"Kalian kenapa, tolong bawa pergi ini salah rumah." Khumaira tidak memedulikan jasad itu tetapi hatinya membeku pilu.



"Nduk, sabar Masmu ___"



"Cukup Pak, Mas Azzam akan pulang dengan selamat. Dia sudah berjanji. Tolong bawa pergi jenazah itu, aku tidak mau lihat!" seru Khumaira.



"Nduk, yang ikhlas. Dia Mas Az ...."



"Berhenti! Mas Azzam tidak akan meninggalkan Khumaira. Dia selamat, Masku selamat, aku percaya itu!" sergah Khumaira.



"Nduk, ikhlaskan kepergian Mas Azzam. Itu Masmu telah kembali, tolong tenang, Nduk," pinta Sholikhin.



Khumaira meringkuk sembari menutup telinga. Dia menggeleng kuat tidak mau dengar. Air mata luruh deras karena tidak kuasa menahan sakit hati.



Sholikhin dan Maryam merengkuh Khumaira erat sembari mengatakan istighfar dan ikhlas. Semoga saja putri mereka mampu menghadapi kenyataan pahit ini.



Khumaira melepas diri dari mereka lalu jalan ke arah jasad tak bernyawa. Mata sayu itu semakin berair setelah sampai di depan jenazah sang Suami.



"Kamu bukan Mas Azzam. Masku masih hidup!" pekik Khumaira.



Saat tangan menyentuh tangan melepuh hal mengejutkan terjadi, saat ada cincin yang sama dengan yang dikenakan. Khumaira menggeleng sembari beringsut mundur. Dia tambah bergetar melihat itu semua.



Maryam merengkuh Khumaira lagi padahal hatinya begitu terpuruk. Kenapa Allah membuat Khumaira begitu hancur? Kenapa Allah memgambil Azzam lebih cepat?



"Nduk."



"Ibu, bohong ini pasti bohong!"



"Nduk, istighfar."



Khumaira kembali mendekat lalu mendekap tubuh tidak bernyawa. Entah kenapa rasanya sangat berbeda karena Khumaira yakin Azzam masih hidup.



"Mas, ini bukan kamu kan? Jawab Mas, tolong jangan tinggalkan Adek. Mas bilang sangat mencintai Adek karena Allah, tetapi kenapa sekarang Mas pergi? Mas, jangan tinggalkan Adek dan Tole Ridwan sendiri. Mas, Adek mohon jangan pergi!"



Khumaira menangis sesenggukan sembari berkata menyayat hati. Karena tidak kuat menahan sakit dia meraung.



"MAS AZZAM BANGUN, JANGAN TINGGALKAN ADEK DAN TOLE RIDWAN. JANGAN PERGI TINGGALKAN KAMI. MANA JANJIMU KALAU MAS AKAN PULANG DENGAN SELAMAT. MAS AZZAM, BANGUN ....!"



Khumaira berteriak histeris sembari mengguncang jenazah. Dia langsung di peluk Ibunya dan Bahri. Mereka berusaha menenangkan Khumaira dari duka keterputukan.



Khumaira meronta sembari meneriaki nama Azzam. Hatinya hancur lebur pasalnya dia harus kehilangan Azzam dan calon buah hati mereka kedua. Sakit sampai Khumaira tidak sanggup bertahan.



"Mas Azzam, hiks argh, jangan tinggalkan Adek. Mas bohong Adek membenci Mas. Hiks, Mas jangan pergi. Adek sangat mencintai Mas karena Allah!"



Khumaira merasa pusing dan berakhir pingsan. Spontan Bahri menggendong Khumaira menuju kamar.



Pelayat menangis melihat Khumaira begitu terpuruk dan sangat menyedihkan. Hati mereka sakit akan situasi menyayat hati.



Hati keluarga Azzam dan Khumaira merasa lebur akan kejadian barusan. Melihat Khumaira berasa sakit sekali. Semoga saja wanita itu sanggup melewati hari sulit penuh cobaan.