Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Kebahagiaan!



Hayo siapa yang kangen, Tole Aziz? Si mulut tanpa filter tapi ganteng, eyakk!



Himbauan novel ini mungkin 10 atau entah lebih bakal Tamat dan di gantikan sequel #Assalamu'alaikum Imamku 2. Main Cast Aziz!



Happy Reading Baby!



***



Khumaira akhirnya mengeluarkan plasenta setelah beberapa waktu melahirkan Putranya. Dia senang karena tubuhnya sudah bersih usai melahirkan. Kini tinggal menunggu si kecil di bawa kemari.



Azzam keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai. Kaus hitam polos lengan panjang dan celana bahan panjang berwarna hitam.



Azzam mengecup kening Khumaira mesra. Jemari panjang kekarnya mengelus pipi bulat Istrinya sesekali dia cubit gemas.



"Mas," panggil Khumaira dengan suara serak.



"Iya, Dek?"



"Apa Mas belum mengabari keluarga kalau Adek sudah lahiran?"



"Astaghfirullah, Mas lupa, Dek. Tunggu Mas ambil ponsel di tas dulu!"



Khumaira paham sekali, Suaminya bahkan sudah sangat panik tadi, mana bisa menelepon keluarga.



Azzam sekalian mengambil kurma di ransel. Ini kurma pemberian dari Pamannya yang baru pulang dari Ibadah Umroh. Menelepon mereka secara beruntun, terakhir Aziz.



Tidak lama pintu terbuka menampilkan suster dan bayi yang ada di gendongannya. Suster itu tersenyum ramah pada mereka. Suster berjalan menghampiri pasien guna menyerahkan bayi pada Ibunya.



"Dek, Mas cuci tangan dulu. Untuk tahnik biar Mas saja tidak apa. Kasihan Dedek nanti kelamaan menunggu."



Azzam buru-buru masuk kembali ke bathroom untuk membersihkan tangan dari kuman.



Khumaira tersenyum menanggapi perkataan Azzam. Dia ciumi pipi mungil putranya dengan derai air mata haru. Bayi merah ini sangat tampan dan tentunya mirip Azzam.



Azzam keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum tulus melihat Khumaira terus menciumi pipi buah hati mereka.



"Mas, gendonglah!"



Azzam menuruti perkataan Khumaira. Di gendong Putranya hati-hati dan membawanya ke sofa. Duduk dengan posisi nyaman begitu pun dengan bayinya yang nyaman dalam gendongannya.



Azzam mengambil satu kurma, sebelum memasukkan dalam mulut dia berdoa terlebih dahulu. Ia lumatkan satu gigitan kurma. Di rasa sudah lembut, Azzam mengambil sedikit dari mulutnya dan memasukkan ke mulut Putranya untuk di tempelkan di langit-langit mulut sang buah hati. Namun, terlebih dahulu berdoa pada Allah agar menjadikan Putranya anak yang cerdas, Sholeh, berbakti dan berbudi luhur.



Mentahnik selesai, kini si kecil siap menyusu untuk pertama kalinya.



Azzam menyerahkan Putranya pada Khumaira hati-hati. Tentu Khumaira terima dengan senang hati.



Khumaira melihat Putranya masih kelametan (bahasa Indonesianya apa?) mencicipi kurma manis yang di berikan Azzam.



"Mas, Dedek imut sekali," ujar Khumaira.



"Iya, dia sangat imut."



Khumaira bernapas lega karena air susunya telah keluar. Dengan mengucap bismillah Khumaira menyusui buah hati mereka untuk pertama kalinya.



Bayi tampan itu menyedot asi dengan pelan. Bibir berbentuk hati mirip Azzam terus menyedot asi.



"Alhamdulillah ya Allah, anak kita terlahir sempurna. Mas, Adek sangat bahagia."



"Alhamdulillah ya Allah, Mas sangat bahagia Adek melahirkan dengan selamat. Dan Putra kita terlahir sempurna tanpa cela, Alhamdulillah. Sekarang sudah malam, mungkin besok mereka datang. Usai itu kita ke Pagerharjo untuk melakukan Brokohan."



"Enggeh, Mas. Senang sekali Putra kita sudah lahir di dunia. Alhamdulillah ya Allah."



***



Tepat jam 11 malam Aziz datang berkunjung ke rumah sakit. Tubuh tegapnya sudah bugar. Bahkan cedera itu sudah sembuh. Sekarang Aziz sudah sehat kembali.



"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas, Mbak!"



"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Le / Mas."



Aziz tersenyum manis melihat keponakan tampannya. Hatinya menghangat melihat anak Azzam dan Khumaira.



"Selamat ya Mas dan Mbak sudah menjadi orang tua, Alhamdulillah. Aziz tadi sedang menyelesaikan laporan tahu-tahunya dapat kabar, Mbak lahiran."



"Syukron kasir, Le. Mas dan Mbakmu juga tidak menyangka lahirnya lebih cepat."



"Afwan, Aziz boleh gendong?"



"Boleh, tapi cuci tangan dulu biar bersih."



"Ish, baiklah!"



Azzam tersenyum saat Aziz menggendong buah hatinya suka cita. Di ciumi pipi mungil keponakan tersayangnya.



"Dedek, tumbuh jadi pria Sholeh kayak Abi, ok. Sungguh ini luar biasa, Mas!"



"Makanya cepat nikah," celetuk Khumaira membuat Aziz mendengus.



"Nikahnya sama Mbak baru mau. Ayo kita nikah tinggalkan, Mas Azzam!"



"Aziz," peringat Azzam.



Aziz hanya menyengir polos mendengar panggilan Azzam. Sungguh menggoda Khumaira dan Azzam itu sesuatu sekali.



"Bercanda, Mas. Gitu saja marah," cibir Aziz.



"Kamu dan lisanmu sungguh ajaib ingin mengunci!"



"Haha, Aziz siap di kunci Mas. Pakai kunci apa ... martil atau tang?"



"Astaghfirullah, Dek kamu usir makhluk astral ini!"



Azzam pening sendiri menghadapi kelakuan Aziz. Kenapa bisa dia memiliki Adik macam Aziz.



"Mas Aziz, keluar sana jangan ribut!"



"Ngga, Aziz mau di sini saja!" canda Aziz.



Azzam menerima anaknya hati-hati saat di rasa sudah tidur. Pelan-pelan ia menaruh Putranya di boks bayi.



Aziz duduk di sofa dan tanpa babibu merebahkan diri. Biarkan dia jadi pengganggu untuk sekarang karena lucu menggoda Kakaknya.



"Mas, aku serius sekarang. Aziz minta bantuan!"




"Maksudmu?"



"Aziz mau di jodohkan. Tolong bilang sama Abah dan Ummi kalau Aziz menolak. Aziz belum siap, Mas."



Azzam paham sekarang.



"Memang, Tole Aziz siapnya kapan? Ingat Le umurmu sudah 26!"



"Aziz, belum siap untuk sekarang. Mas tahu ekonomi Aziz belum cukup untuk melangkah menuju pelaminan. Pertama, Aziz tidak mau bergantung pada Abah, kedua Istriku kelak harus hidup nyaman, ketiga ingin hidup mapan bersama keluarga kecil. Mas, bantu Aziz, ya!"



Khumaira hanya tersenyum mendengar perkataan Aziz. Ada benarnya tetapi juga aneh.



"Kamu itu harusnya berpikir, Le. Coba lihat kamu sudah dewasa juga punya pekerjaan tetap. Apa lagi yang kamu cari? Uang bisa di cari sama-sama. Tujuan menikah bukanya mencari Ridho Allah dan hidup dalam suka maupun duka, lalu kenapa kamu begini?"



"Pokoknya Aziz belum siap, Mas ...! Bantu ya, ku mohon!"



"Insya Allah!"



"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Mas!"



"Sama-sama, Le!"



Aziz menatap Khumaira sudah lelap gara-gara tidak di ajak bicara. Senyum penuh arti dia layangkan untuk kakak ipar.



"Mbak sudah tidur, Mas."



"Ya Allah, baru tahu."



Azzam membenarkan letak bantal Khumaira. Sekarang ini Istrinya tidur sembari bersandar di bantal.



"Mas," panggil Aziz.



"Iya."



"Aziz mau pulang saja takut ganggu!"



"Ngga, temani Mas!"



"Bayar, ya!"



"Adik durhaka, sana pulang!"



"Waduh, Mas marah. Bercanda kali, Mas!"



"Tahu, mulutmu itu sering bercanda, Le. Kapan kamu sekolahkan mulut kamu?"



Aziz mencebikkan bibir mendengar perkataan Azzam. Kalau soal lisan sekolah di mana?



"Kalau sudah menikah lisan Aziz sekolah!"



"Sudah diam jangan bicara!"



***



Sepasaran si kecil, sekarang bayi tampan ini akan melakukan ritual potong rambut dan pemberian nama. Tradisi Jawa menyambut si kecil.



"Jadi siapa nama Putra kalian?" tanya Hasyim lembut.



Azzam dan Khumaira saling pandang dan melempar senyum manis.



"Muhammad Alfiyan Nur Ridwan!" tegas mereka kompak.



"Wow, namanya bagus sekali. Artinya juga sangat indah," puji mereka.



Azzam dan Khumaira tersenyum tulus. Semoga nama indah itu mencerminkan sikap buah hati di masa depan.



"Seribu cahaya yang terpuji dari Malaikat Ridwan, indah sekali namamu, Le," sanjung Aziz sembari mengecup pipi mungil Putra Kakaknya.



"Syukron kasir, kami sangat senang menamai Putra kami begitu," tutur pasangan Azzam dan Khumaira.



"Afwan, nama itu bagus sekali."



"Ya Allah, senang sekali punya ponakan lagi!" seru Azmi.



Karena seruan itu Bayi tampan ini menangis keras. Si pelaku hanya menyengir kuda sementara Khumaira menggendong anaknya.



Khumaira menimang buah hati supaya tenang. Sesekali dia cium pipi sang Putra.



"Lalu, bagaimana panggilannya?" tanya Luthfi.



"Terserah, bisa di panggil Alfi, Fiyan atau Ridwan. Mana yang bagus?"



"Ridwan, saja Mas!" seru Azmi lagi.



"Bisa tidak Tole Azmi bicaranya biasa saja!" sungut Luthfi.



"Haish, ok Azmi diam!"



Acara selesai, Azzam merengkuh Khumaira dari belakang.



"Dek, terima kasih sudah melahirkan Putra setampan Ridwan dan berjuang untuk kami," tutur Azzam.



"Sama-sama, Mas. Lagian, Mas juga tampan jadi nurun pada Dedek Ridwan. Umz, Adek senang sekali, Mas!"



"Mas, juga."



Khumaira mengusap pipi Azzam lembut lalu mengecup singkat bibir Suaminya.



Azzam tersenyum tulus dan merengkuh Khumaira erat sembari menciumi puncak kepala Istrinya.



"Mas," panggil Khumaira.



"Dalem."



"Assalamu'alaikum Imamku, Adek mencintai Mas karena Allah!" tutur Khumaira penuh makna. Mata besarnya berkaca dengan tatapan penuh cinta.



Azzam mengecup kening Khumaira lama. Lalu membawa Istrinya ke dalam dekapan hangat.



"Wa'alaikumssalam Makmumku, Mas juga mencintai Adek karena Allah!" sahut Azzam sembari menciumi wajah cantik Khumaira.



Mereka saling merengkuh erat penuh suka cita. Senyuman itu terus hadir mengingat kegiatan tadi saat pasangan Andi dan Charisma datang. Mereka senang akhirnya kebahagiaan menyertai wanita karier itu.