Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Permintaan!



Azzam menelepon seluruh keluarganya dan keluarga Khumaira agar menginap di rumahnya. Sesekali senyum manis terukir indah di bibirnya karena mendengar guyonan lucu, Hasyim.



Khumaira menyengit mendengar Azzam mengundang mereka agar menginap di rumah. Aneh sekali kenapa Suaminya seperti orang lain?



"Dek, lusa Mas ke Brunei, Adek harus janji sama Mas!"



"Janji apa, Mas?"



"Janji tetap menjaga kesehatan dan merawat anak kita."



"Itu pasti Mas. Mas juga hati-hati di sana."



"Um, Mas sangat mencintai Adek!"



"Adek juga sangat mencintai Mas!"



"Besok keluarga kita akan menginap di sini, mau belanja untuk menyambut mereka?"



Khumaira kaget mendengar perkataan Azzam. Kenapa mereka datang padahal tidak ada syukuran di rumah.



"Loh, kan 4 bulanan Adek tepat 5 hari setelah Mas pulang dari Brunei. Memang acara apa?"



"Sebagai permintaan, Dek. Ayo siap-siap ke pasar, Mas cuti untuk hari ini dan kita habiskan waktu bersama."



"Baiklah, tunggu Adek ganti baju dulu."



"Mas mencintai Adek karena Allah!"



"Adek juga mencintai Mas karena Allah!"



Azzam mengecup kening Khumaira mesra lalu berakhir ciuman bibir walau sesaat. Dia melangkah menuju kamar si kecil. Ridwan pasti masih lelap dalam gulungan selimut tebal.



Khumaira menatap punggung tegap Azzam semakin tertelan jarak. Entah kenapa rasanya sakit menatap punggung itu sudah tidak terlihat.



"Mas, kenapa Adek merasa akan ada sesuatu? Mas beda dari biasanya, Adek takut."



Azzam mencium pipi gembul Ridwan sesekali dia cubit gemas sang Putra.



"Tole bangun, ayo mandi kita ke pasar. Abi belikan mainan, baju dan semua yang Tole inginkan."



Ridwan mengerjap beberapa kali untuk menetralkan pandangannya. Dia berdoa setelah bangun tidur lalu mengangkat tangan ingin gendong.



Azzam menggendong Ridwan dan menciumi wajah sang Putra penuh cinta. Dia membawa Ridwan ke kamar mandi untuk mandi bersama.



Khumaira sudah siap ke pasar hari ini. Dia melihat penampilannya sederhana tetapi modis. Meraba perut sendiri karena ada janin yang tumbuh kembang.



"Sehat selalu ya, Dedek."



Azzam merengkuh Khumaira dari belakang. Dagunya ia tumpu di puncak kepala Istrinya, sementara tangan terlilit di tubuh mungil Khumaira.



"Mas, ayo ke pasar."



"Tunggu, biar Mas peluk dulu sampai puas."



"Kan bisa nanti malam."



"Baiklah, Mas sayang Adek."



"Adek juga sayang Mas."



Ridwan mengentak-hentakan kaki karena sebal. Orang tuanya mengacuhkan ia dan menunggu lama. Padahal Ridwan ingin segera berangkat guna membeli mainan baru.



"Abi, Umi ... kapan kita berangkat?" rajuk Ridwan.



Khumaira tersenyum tulus mendengar perkataan Ridwan. Dia melepas diri dari Azzam seraya mengusap punggung rapuh sang Putra.



"Maaf, Dedek ganteng. Ayo kita berangkat, Mas ayo."



"Ayo, sini Abi gendong."



Ridwan tentu mau di gendong sang Ayah. Dia terus berceloteh meminta ini itu pada Azzam jika nanti sampai pasar.



***



Ridwan tersenyum bahagia mendapati kamarnya penuh dengan mainan, mobil-mobilan, motor-motoran, robot, pesawat-pesawatan dan masih banyak lagi.



Khumaira menerima kalung emas, cincin dan gelang. Ada juga daster dan gamis.



"Ini terlalu banyak loh yang Mas keluarkan. Mas sangat boros untuk kali ini," omel Khumaira.



"Maaf, selagi Mas bisa kenapa tidak. Jangan khawatir uang Mas masih cukup. Sana tidur Mas tata belanjaan ini."



"Dasar Mas ini."



Azzam tersenyum melihat Khumaira sudah merebahkan diri di ranjang. Jemari panjang ia angkat menggapai angin.



"Kita akan selalu bersama, Dek. Mas sangat mencintai Adek, semoga bisa bersama untuk selamanya."



Keesokan harinya, keluarga Azzam dan Khumaira datang guna memenuhi permintaan Azzam.



Aziz tersenyum lebar melihat Ridwan. Dia rentangkan tangan untuk merengkuh keponakan tampan.



Ridwan berhambur memeluk Aziz erat dengan senyum lebar. Mulut kecil itu terus berceloteh menceritakan kalau Ayahnya membelikan banyak mainan, baju dan semua keinginannya.



"Wow, Tole senang mendapatkan itu semua?"



"Tentu saja senang, Alhamdulillah."



"Alhamdulillah."



Azzam salaman pada mereka dengan haru. Berterima kasih karena sudah memenuhi permintaan anehnya.



Khumaira ikut mengobrol bersama mereka, sesekali menimpal obrolan ringan.



Malam harinya, mereka memanggang ayam di halaman belakang rumah. Semua penuh canda tawa akan kebersamaan mereka.




Azzam juga memanggang 2 ayam, karena keluarga banyak makannya ada banyak ekor ayam yang mereka panggang.



Azzam duduk di samping Aziz. Mata teduh menyorot jauh sampai Aziz tidak tahu di mana jiwa itu. Semua terasa buram tanpa warna. Haruskah dia bertahan walau nyatanya itu mustahil.



"Mas, Aziz merasa ganjal sekarang."



"Maksudmu?"



"Kenapa meminta kami menginap di sini? Apa Mas ada sesuatu yang di sembunyikan?"



"Mas ingin mengukir kenangan, Le. Mas harus pergi."



Deg



Hati Aziz terasa tertikam belati mendengar jawaban Azzam. Apa maksudnya berbicara begitu. Apa Masnya sedang mengajak bercanda? Tumben orang pendiam suka ketenangan memilih guyon bersamanya?



"Maksud Mas apa?" hardik Aziz.



"Mas kan harus pergi ke Brunei 2 pekan. Kamu itu tidak usah berpikir aneh."



Aziz mengeratkan rahangnya merasa emosi. Ini seperti teka-teki yang sulit di pecahkan. Apa yang sedang di pikirkan Azzam saat ini? Jika terjadi sesuatu Aziz tidak akan bisa terima takdir pahit.



"Mas jangan aneh-aneh!"



"Mas serius, Le."



"Mas, jangan pergi."



"Maaf ini sudah takdir."



"Haish, Mas bisa membatalkan perjalanan bisnis."



"Maaf."



"Lalu kalau Mas dapat musibah bagaimana?"



"Hus, kamu mendoakan Mas cepat meninggal. Dasar Adik durhaka!"



"Aku tidak mendoakan, hanya berkata kenyataan. Jangan pergi, atau sesuatu akan terjadi!"



"Maaf, atas karunia-Nya Mas yakin Allah selalu menjaga, Mas."



"Mas," gumam Aziz.



"Le."



"Hm."



"Mau memenuhi permintaan terakhir Mas?"



Aziz mendelik mendengar perkataan Azzam. Apa-apaan Azzam itu meminta mengatakan hal konyol itu sungguh Aziz merasa pening menanggapi perkataan Azzam.



"Mas ini bicara apa?"



"Mas, mohon!"



"Memang apa?"



"Tolong, jaga Dek Khumaira dan Tole Ridwan selagi Mas pergi. Mas janji setelah pulang Mas tidak akan meminta hal lain lagi. Makanya ini sebagai permintaan terakhir, Mas. Tolong jaga Dek Khumaira dan Tole Ridwan sampai Mas kembali."



Azzam menatap Aziz memohon penuh pengharapan. Bahkan tetapan Azzam begitu sendu dengan mata berkaca. Bisa di lihat betapa besar harapan agar Adiknya mau memenuhi permintaan terakhir.



Aziz tertegun mendengar perkataan Azzam. Hati dan jantung berasa teremas kuat. Seolah duka akan terjadi makanya Aziz terdiam dengan perasaan gundah.



"Mas, aku menolak! Mas sendiri saja yang menjaga mereka!"



Azzam menunduk sedih mendengar penolakan Aziz. Hatinya sakit bahkan ia tidak tahu siapa lagi yang mampu menjaga mereka sebaik Aziz. Bagi Azzam semua kasih sayang Adiknya terasa murni untuk Ridwan.



"Tetapi Mas hanya minta Tole jaga sampai 2 pekan sampai Mas pulang. Mas hanya ingin Dek Khumaira dan Tole Ridwan aman, kamu cuma memantau mereka. Jangan khawatir Mas tidak akan meminta lagi."



Azzam menitikkan air mata dengan pandangan kosong. Dia sangat takut jika pergi mereka tidak ada yang menjaga. Harus pada siapa Azzam menitipkan Khumaira dan Ridwan?



Aziz juga ikut menitikkan air mata. Sangat sedih menatap kakaknya begitu rapuh. Haruskan dia menuruti permintaan sulit Azzam? Sungguh Aziz tidak kuasa menolak permintaan Masnya.



"Insya Allah atas nama Allah, Tole Aziz mau menjaga mereka. Hanya 2 pekan sampai Mas pulang, Aziz akan memenuhi permintaan, Mas. Aziz janji akan menjaga mereka, tolong kembali cepat jangan buat Tole takut."



Azzam menepuk bahu Aziz penuh haru. Dia tersenyum tulus pada akhirnya bisa menitipkan Khumaira dan Ridwan dengan tenang.



"Terima kasih banyak, Le. MasĀ  sekarang bisa pergi dengan tenang. Alhamdulillah, Mas akan memberikan kado pernikahan Tole dan Dik Zahira. Lega rasanya, terima kasih."



Aziz mengatupkan bibir rapat mendengar perkataan Azzam. Dia membisu tanpa mau menjawab perkataan sang Kakak. Bisakah seseorang menjabarkan semua ini? Jika benar ketakutan itu terjadi maka runtuh sudah harapan Aziz.



"Mas, janji pada Aziz."



"Hm?"



"Pulang dari Brunei Mas harus membayar pekerjaanku!"



"Insya Allah. Apa kamu sudah melupakan, Adiba?"



Aziz terpaku mendengar pertanyaan Azzam. Dia tertawa getir mengingat gadis Pakistan yang sudah tiada menyisakan duka dalam.



"Belum," lirih Aziz.



"Mas paham, tetapi ikhlaskan Adiba karena gadismu sudah tenang di sisi Allah."



"Aziz tidak kuat Mas, Adiba gadis yang sangat kucintai. Saat hendak melangkah ke jenjang pernikahan musibah terjadi, Adiba pergi selamanya. Aku tidak pernah tahu Adiba punya penyakit, dan baru tahu setelah Adiba di sisi Allah. Sesak Mas, saat mengingat dia."



"Tole kuat menghadapi ini, tolong ikhlaskan serta lapang akan takdir Allah. Mas berharap Zahira jodoh yang dikirim Allah untuk menggantikan Adiba."



"Amin ya Allah, semoga saja."