Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Si Kecil!



3 Bulan Setengah Kemudian!



Khumaira memasak makanan untuk makan siang. Dia menyuruh Azzam untuk menjaga Ridwan. Usai membuat sarapan terdengar suara tangisan Putranya.



"Mas, berhenti goda, Dedek Ridwan!" tegur Khumaira saat mendapati Azzam menggigit pipi gembul buah hati mereka.



Azzam menyengir polos mendengar kekesalan Khumaira. Dia tertawa renyah saat Istrinya melotot lucu.



"Maaf, Dek. Dedek Ridwan terlalu imut untuk di gigit," tukas Azzam sembari tersenyum kuda.



"Mas ini, kebiasaan. Syukurlah Adek sudah beresaan."



Khumaira mengambil alih Ridwan. Dia tepuk-tepuk pantat bayinya agar tenang. Di ciumi pipi gembul Ridwan agar diam.



"Rewel kan, Mas. Aish, nanti malam ngga ada jatah!"



"Allahu akbar, Dek ampun. Mas ngga janji tidak gigit Dedek Ridwan lagi. Putra kita terlalu imut untuk di gigit."



"Siapa peduli? Sekarang makan, sana Abi ambil nasi dan lauk pauk."



"Baiklah, Dek."



Khumaira menyusui Putranya, agar Ridwan diam. Betul Putranya diam sembari tersenyum manis. Dia yang gemas langsung menciumi wajah tampan anaknya.



Ridwan berceloteh manja mendapat ciuman sayang dari Ibunya. Mata besarnya menatap Azzam berbinar saat Ayahnya membawa piring dan gelas.



"Dedek Ridwan, mau Abi gigit lagi? Sini Abi gigit!" sebelum Azzam menggigit kaki Ridwan, Khumaira terlebih dahulu menahan wajah tampannya.



"Mas, jangan bikin Dedek menangis lagi!"



"Baik, Dek."



Jemari kecil itu bergerak lucu ingin menggenggam jari. Tentu Khumaira memberikan jari telunjuk untuk di pegang Putranya.



"Adek, ayo makan Mas suapi," ujar Azzam sembari tersenyum tipis.



"Boleh Mas, tapi ngga apa Adek di suapi?"



"Tentu saja tidak apa-apa."



Azzam menyuapi Khumaira, sesekali dia cubit gemas pipi gembul Ridwan, sementara anaknya malah berusaha menggenggam jarinya.



"Anak kita begitu lucu, Dek."



"Iya, Mas. Lucu sekali."



"Terima kasih, Dek sudah menjadikan Mas sebagai Ayah dari Dedek Ridwan." Azzam mengecup kening Khumaira mesra.



Khumaira tersenyum teduh mendengar perkataan Azzam. Jemari lentik itu mengusap pipi tirus Suaminya dan memberikan ciuman di pipi.



"Adek juga berterima kasih sudah menjadikan Adek, Ibu dari Dedek Ridwan."



Azzam merengkuh mereka penuh perasaan. Sesekali dia kecup pelipis Khumaira lembut. Sedangkan jari telunjuknya terus di emut Ridwan gemas.



Azzam menarik pelan dagu Khumaira lalu tersenyum penuh arti. Perlahan bibirnya menyatu dengan irama sensual.



Khumaira memejamkan mata menikmati ciuman Azzam. Hingga dia merasakan sesuatu yang hangat.



Ridwan risi sontak menangis minta ganti popok. Azzam melepas popok Putranya, lalu mengambil bedak untuk di taburkan pada bokong dan paha dan area sang Putra.



Khumaira senang Azzam begitu terampil mengurus buah hati mereka. Mendapatkan Azzam adalah sesuatu paling membahagiakan.



"Mas, Adek ke kamar dulu ganti rok," ucap Khumaira.



"Enggeh, Dek. Biar Mas yang jaga, Dedek Ridwan."



Khumaira mencubit gemas pipi gembul Ridwan dan mengecup manja sang Putra. Dia mengambil piring dan gelas untuk di taruh di wastafel. Sebelum itu, Khumaira mengecup pelipis Azzam mesra.



Azzam tersenyum saja melihat tingkah lucu Khumaira. Setelah Istrinya berlalu dia dengan sayang menciumi pipi gembul Ridwan.



Lain sisi ada Charisma merasa perutnya terasa kram, ngilu dan sakit. Dia melirik jam sudah menunjuk pukul 11 malam.



Andi terbangun saat Charisma meremas lengannya. Menengok ke arah samping guna melihat Istrinya.



"Dek, ya Allah. Kita ke rumah sakit sekarang!"



Andi langsung menggendong Charisma untuk membawa ke rumah sakit. Sepertinya Charisma hendak melahirkan.



"Bik, tolong ambil tas di dekat lemari!" perintah Andi.



"Baik, Den!"



Andi langsung membawa Charisma ke luar untuk meminta sopir mengantar ke rumah sakit.



Charisma merasa lemah akibat rasa sakit luar biasa di perutnya.



"Mas sakit," lirih Charisma.



"Sabar Dek, kita akan ke rumah sakit. Tahan, Sayangku."



Charisma mengaguk tetapi rasanya begitu menyiksa.



***



Ridwan tersenyum cerah melihat Khumaira dan Azzam saling adu argumen tentang Bakso? Si kecil imut ini tidak maksud tetapi begitu lincah saat kedua orang tuanya berdebat lucu.



"Mas ambil kamera, cepat!" perintah Khumaira melihat Ridwan begitu tampan.



Azzam langsung lari mengambil ponsel dan kembali lagi untuk memfoto Putranya. Senyum tampan terukir indah saat Ridwan masih mempertahankan senyum manisnya.



Dering ponsel Khumaira terdengar membuat pasangan Suami dan Istri saling pandang.



"Mas, Adek angkat dulu."



Azzam mengaguk sembari menggendong Ridwan. Di ciumi pipi gembul anaknya gemas. Sungguh dia tidak tahan kalau tidak mencium pipi Ridwan.



"Mas, Mbak Charis melahirkan."



"Em, lalu?"



"Kok lalu? Ayo besuk, Mas!"



"Besok saja, Dek. Ayo tidur sudah malam."



"Mas, Mbak Charis sudah Adek anggap Mbak sendiri. Jenguk yuk, Mas."



"Tidak, Adek ingat Dedek Ridwan masih rawan. Apa lagi ini sudah tengah malam."



Khumaira mengaguk paham mendengar perkataan Azzam. Dia memilih merengkuh Ridwan supaya cepat tidur.



"Mas, minta maaf."



"Hm."




Azzam merengkuh Khumaira dan Ridwan dari belakang. Bibirnya menciumi bahu dan leher Istrinya.



"Mas, hentikan!" desis Khumaira.



Bukanya berhenti Azzam malah semakin gencar menjamah leher jenjang Khumaira.



"Ah, Mas sudah Adek mohon ah," desah Khumaira pada akhirnya.



Azzam mengambil Ridwan hati-hati untuk di taruh di boks bayi. Setelah itu mendekati Khumaira dengan perlahan.



Khumaira paham apa keinginan Azzam. Saat Suaminya mengukung tubuh, ia tidak kuasa menolak.



Azzam membuka kancing piama Khumaira dan membuang asal. Dia juga melepas bra Istrinya lalu nasib sama terjadi seperti piama.



"Mas," pinta Khumaira.



Azzam meneguk saliva melihat payudara Khumaira semakin menggoda. Baginya keindahan sempurna ada pada Khumaira.



"Dek," lirih Azzam dengan suara berat. Menunduk untuk mengurut dada Khumaira lalu bibirnya menghisap asi.



"Mas, sudah asi untuk Dedek."



"Mas juga mau, Dek."



"Ih, ah Mas."



Azzam menarik Khumaira agar lebih menempel. Mungkin karena lelah akhirnya ia tertidur dengan posisi menindih Khumaira. Bibirnya masih setia mengemut ****** sang istri tanpa menghisap.



Khumaira terpaku mendengar deru napas Azzam sudah teratur. Senyum manis terukir menyadari Suaminya sudah tidur. Dia elus rambut serta punggung kekar Azzam agar mendapat kenyamanan lebih.



Selimut menutup sampai batas dada. Biarkan tertidur dengan posisi begini.




***



Azzam menggendong Ridwan sepanjang jalan menuju ruang Charisma di rawat usai melahirkan. Sedangkan Khumaira tengah membawa tas berisi popok Putranya. Walau pakai pampers, tetapi tetap di bawa juga.



Khumaira juga membawa hadiah untuk si kecil. Sampai di ruang Charisma pasangan Suami dan Istri memberi salam.



"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Azzam dan Khumaira kompak.



"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh, silakan masuk!" jawab Charisma dan Andi serta keluarga mereka.



Azzam tersenyum ke arah Andi dan Charisma sembari berkata, "Selamat atas kelahiran anak kalian. Semoga menjadi anak Sholeh, berbakti pada kalian serta berguna bagi keluarga dan bangsa."



"Amin ya Allah."



"Mbak ini Khumaira bawakan sesuatu untuk Dedek kecil. Semoga suka ya Mbak. Selamat sekali lagi atas kelahiran si kecil. Doa baik menyertai Putra kalian, Amin."



Charisma tersenyum tulus mendengar perkataan Khumaira. Dia sangat bahagia karena Khumaira mau datang, baginya Khumaira adalah Adiknya.



"Amin ya Allah, dan terima kasih ya, Dik. Seharusnya tidak perlu repot membawakan hadiah begini. Sekali lagi terima kasih."



"Sama-sama, Mbak. Ih, Mbak ngga perlu berbicara begitu, saya masih ingat Mbak dan Mas Andi juga membawa bayak hadiah untuk, Dedek Ridwan."



Berlanjut obrolan Khumaira dan Charisma panjang kali lebar.



Azzam duduk di samping Bhagaskara, sementara Khumaira masih asyik mengobrol dengan Charisma.



"Aduh Dedek Ridwan ganteng sekali, boleh Kakek gendong?" Bhagaskara gemas dengan Ridwan begitu pun mereka.



"Boleh, silakan."



Ridwan memajukan bibir menandakan siap menangis, dan benar ia menangis membuat si kecil baru lahir ikut menangis.



Azzam meminta Ridwan kembali lalu menimang dan menepuk-nepuk pantat sang Putra agar tenang.



Ridwan diam dalam dekapan hangat Ayahnya. Bayi kecil ini belum mau di gendong sama orang asing.



"Maafkan anak saya, Pak. Dedek Ridwan memang agak rewel jika berada di dekat orang asing."



"Tidak masalah, Mas. Umur berapa anaknya?" tanya Ibu Andi.



"3 bulan lewat 3 minggu, Buk."



"Oo, pantas rewel. Anaknya ganteng kayak, Bapaknya," puji Ibu Andi.



Azzam tersenyum mendengar pujian.



"Terima kasih, Buk."



Khumaira mendekat ke arah Azzam untuk duduk nyaman dengan membawa anak Charisma dan Andi.



Ridwan menatap Ibunya berkaca seolah cemburu kalau Khumaira hanya Ibunya. Ngga boleh gendong yang lain.



Khumaira tersenyum melihat ekspresi Putranya. Lucu sekali Ridwan sekarang dan ingin mencubit gemas pipi gembul Putranya.



"Apa, Sayang. Ulu-ulu, mau cium Dedek kecil?"



Ridwan menangis karena di goda Khumaira. Spontan Azzam panik pasalnya Putranya tidak mau berhenti menangis.



Andi meminta anaknya hati-hati, tentu Khumaira berikan dengan ucapan maaf. Dia langsung menggendong Ridwan untuk menenangkan sang buah hati.



"Mbak, Mas dan yang lain maaf sudah mengganggu kalian."



"Tidak apa, Nak santai saja."



"Terima kasih."



Setelah pulang, Azzam merebahkan diri di kasur. Sedangkan Putranya Ridwan sudah tertidur pulas.



Khumaira sudah membersihkan diri sekaligus wudhu. Dia akan berjamaah bersama Azzam mumpung Ridwan tertidur.



"Mas ayo Shalat Dzuhur," ajak Khumaira.



"Tunggu, Mas ambil wudhu dulu."



Mereka Shalat berjamaah, usai selesai Shalat Azzam menyalami Khumaira seraya tersenyum tulus.



Khumaira mengecup punggung tangan Azzam penuh haru. Selama masa pernikahannya, dia merasa senang karena Azzam selalu sabar menyikapi tingkah kekanakan. Menerima apa pun yang di masak, serta masih banyak kebaikan, cinta, perhatian, kesetiaan dan kenyamanan yang diberikan Azzam untuknya.



"Adek mencintai Mas karena Allah!"



Azzam sempat kaget mendengar perkataan Khumaira. Namun, bibir berbentuk hati itu tersenyum penuh arti.



"Mas juga mencintai Adek karena Allah!"



Azzam merengkuh Khumaira erat sembari menciumi puncak kepala Istrinya, sementara Khumaira menyamankan diri mendekap tubuh sang Suami.