
Khumaira terus mengoceh sepanjang jalan menuju Kediri. 2 jam ia terjaga menemani Azzam supaya tidak bosan.
"Mas, nanti Adek harus bagaimana? Adek paling pendek pasalnya keluarga Mas tinggi semua. Adek kan malu kalau dekat. Umz, Mas nanti kalau sudah sampai Kediri apa kita akan ngelencer?"
Azzam mengerjap beberapa kali, kenapa Istrinya sekarang cerewet ngga ke tolong? Sedari tadi mengoceh kayak burung beo.
"Adek rileks saja ngga perlu merasa malu. Iya juga, mereka tinggi semua dan paling pendek Ndok Shabibah. Tole Azmi masih Sekolah Dasar tapi sudah tinggi. Iya, kita ngelencer di tempat tetua Desa," sahut Azzam.
"Mbak Shabibah paling pendek? Ya Allah Mas tinggi 165 senti di bilang pendek, Khumaira lebih pendek pasalnya tinggi cuma 153," omel Khumaira dengan bibir maju.
"Mas berbicara kenyataan, Dek. Adek mungil cukup segitu Mas suka," hibur Azzam.
"Mas bilang saja ingin Istri tinggi. Adek malu sekali," rutuk Khumaira.
Azzam jadi pening sendiri menghadapi ocehan Khumaira. Terhibur karena sekarang Istrinya lebih ekspresif dan agresif. Tapi, pening juga karena sering mengambek, mengeyel dan cerewet.
"Mas ingin Istri mungil mengemaskan kayak My Khumaira. Mas mencintai Adek, sudah mengambeknya," goda Azzam.
Khumaira merona mendengar godaan Azzam. Dia dengan nakal mencubit lengan Suaminya. Sedetik kemudian senyum cantik merekah lebar.
"Mas, nanti kalau mau pulang ke rumah kita beli alat dapur ya? Kita beli piring dan gelas."
Azzam jadi gemas sendiri melihat Khumaira begitu aktif sekarang.
"Insya Allah," sahut Azzam.
"Mas, Khumaira mau beli buah, ya? Aku mau makan puding coklat, mau apel, mau rujak, mau sate, mau jus melon dan jus jeruk!" riang Khumaira dengan mata berbinar terang.
Azzam menatap Khumaira penuh arti. Istrinya kenapa sih kok aneh sekali.
"Iya nanti kalau sampai rumah kita ya, Dek," ujar Azzam.
"Siap, Mas. Mas, Adek mau ke taman kota kita foto di sana. Kyaa, Adek mau jalan ....!" pekik Khumaira terdengar antusias.
Azzam pening sendiri menghadapi ocehan Khumaira. Dari tadi mengoceh terus tanpa mau berhenti.
Khumaira merasa pusing sekarang walau tidak separah semalam. Perutnya bergejolak tinggi ingin mengeluarkan isi makanan.
"Mas, minta plastik," pinta Khumaira.
Azzam membuka kotak dashboard lalu mengambil plastik dan menyerahkan pada Khumaira. Istrinya kenapa tiba-tiba minta plastik?
Khumaira menerima dengan cepat plastik itu kemudian membukanya. Dia memuntahkan isi perutnya yang terisi banyak makanan.
Azzam mendelik horor melihat Khumaira muntah-muntah hebat. Dia menepikan mobil agar aman.
"Dek," panik Azzam. Dia memijat tengkuk Istrinya penuh kelembutan.
"Hoek ... Mas ugh hoek." Khumaira mengambil tisu untuk mengelap bibirnya. Dia mengikat plastik.
Khumaira membuka plastik kedua dan kembali muntah.
Azzam sangat panik melihat Khumaira begini. Dia lebih suka Khumaira berceloteh dari pada kembali sakit begini.
Hingga 5 plastik berisi muntahan Khumaira. Dia sangat lemas sekarang.
Azzam hanya bisa memijat tengkuk Istrinya serta pijatan agar Khumaira enakkan.
"Mas, maaf," sesal Khumaira.
"Tidak apa, Dek. Harusnya Mas yang minta maaf."
Khumaira merasa pening seperti semalam. Dia tidak boleh membuat Azzam semakin gusar.
"Mas, bisa buang ini?" tukas Khumaira.
Azzam mengaguk menuruti perintah Istrinya. Dia keluar dan membuka pintu penumpang. Cukup bersyukur karena di dekatnya ada tong sampah.
Khumaira memijat pelipisnya sedikit kasar untuk menghalau pusing. Dia melihat Azzam sudah membuang plastik berisi muntahan. Sungguh itu enak hati merepoti Suaminya begitu bahkan terkesan jahat menyuruh sang Suami melakukan ini itu.
Azzam membuka pintu mobil sebelah kanan khusus pengemudi. Dia membawa Istrinya untuk bersandar di bahunya.
"Dek, kita menginap saja di hotel. Ini masih panjang Dek perjalanannya. Sungguh Mas sangat khawatir," usul Azzam.
Tangan mungil menggenggam tangan Azzam erat. Khumaira mencium pergelangan tangan Suaminya.
"Adek, kuat Mas. Mungkin gara-gara banyak makan, Adek jadi begini. Maaf bikin Mas panik," lirih Khumaira.
Azzam jadi panik sendiri mendengar perkataan Istrinya. Dia rengkuh erat tubuh mungil Khumaira lembut dan menciumi wajah cantik Istrinya.
"Mas serius Dek, jangan begini. Kurang 3 jam lagi baru kita sampai rumah. Tolong jangan membuat Mas semakin panik. Ayo kita menginap saja."
Khumaira mengusap pipi Azzam lembut lalu mengecup rahang tegas Suaminya.
"Adek kuat Mas, jika kita menginap uang kita jadi terkuras. Adek tahan kok sampai rumah. Tolong jangan terlalu cemas, Adek tidak mau Mas begini. Adek kuat, setelah ini Adek bisa tidur."
Azzam bukanya tenang malah semakin panik saja. Dia mengusap pipi gembul Khumaira lembut.
"Uang masih cukup banyak Dek dan jangan panik soal itu. Kesehatan Adek lebih penting dari pada itu semua!"
"Mas, Adek mohon jangan kekeh begini. Tolong jangan terlalu khawatir Adek kuat. Tolong kita berangkat sekarang."
"Mas, tidak mungkin nekat membawa Adek yang sakit begini. Ayo kita menginap."
"Mas, Adek mohon," pinta Khumaira.
"Baiklah, Adek tidurlah."
"Enggeh, Mas."
Azzam mengambil minyak kayu putih lalu mengusap di leher, perut dan kaki Istrinya. Dia juga memijat punggung Khumaira agar tenang.
***
Tepat jam setengah 7 malam Azzam dan Khumaira sampai juga di rumah besar milik Hasyim Ayah Azzam.
Azzam menepuk pipi gembul Khumaira beberapa kali tapi nyatanya tidak bangun. Dia sangat sedih sekarang karena Khumaira tidak bangun-bangun.
Azzam mendekatkan minyak kayu putih agar Khumaira bangun. Namun tidak kunjung bangun. Air muka Azzam semakin gusar.
"Dek, ya Allah, Sayang."
Azzam sangat panik sekarang karena Istrinya sudah kehilangan kesadaran. Dia langsung keluar rumah dan melihat kedua orang tua serta 3 saudara serta 3 saudari dan tamu menatapnya penuh arti.
Mereka berjengit melihat Azzam terlihat panik. Bahkan mata Azzam terlihat berkaca.
Aziz dan Nakhwan menghampiri Azzam.
"Le / Mas, ada apa?" tanya Nakhwan dan Aziz bersamaan.
"Mas, Le, tolong bawa bawaan Azzam di bagasi. Tolong ya, Mas, Le!" pinta Azzam menahan getar.
"Baik, Mas tidak bersama Mbak Khumaira?" tanya Aziz.
Azzam diam tanpa kata tapi memilih membuka pintu penumpang. Dia melepas seatbel yang melingkupi Khumaira. Perlahan dia mengeluarkan Istrinya dan membawa menuju rumah.
Mata mereka terbelalak mengetahui alasan Azzam meminta bantuan.
"Le," panik Hasyim dan Safira.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Bah, Ummi, Ndok, Le, maaf Azzam masuk dulu. Dek Khumaira pingsan," sesal Azzam.
“Wa’alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Mata mereka membulat sempurna mendengar perkataan Azzam. Safira meminta Azzam masuk membawa Khumaira ke kamar.
Sampai kamar Azzam merebahkan diri Khumaira di ranjang empuk miliknya. Dia usap wajah cantik Istrinya lalu mengecup kening cukup lama.
"Dek, kenapa kamu senang sekali membuat Mas panik. Mas sangat mencintai Adek. Tolong ya Allah angkat sakit Istri hamba."
Azzam keluar menemui kedua orang tuanya untuk sungkem setulus hati. Dia juga meminta maaf pada saudara dan saudarinya mereka sepenuh hati.
Pelukan hangat Azzam terima dari mereka. Usai itu kembali ke kamar menemui Khumaira.