Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
Malam Pertama!



Azzam dan Khumaira melakukan ritual sebelum melakukan hubungan sakral. Dari Azzam yang menyentuh ubun-ubun Khumaira sembari berdoa, bersiwak atau sikat gigi Lalu Shalat dua rakaat. Bercanda sembari menikmati minum air susu dengan gelas sama.


Kini inti dari semuanya. Azzam mendekat ke arah Khumaira.


"Dek, boleh Mas membuka hijab, 'mu?" tanya Azzam terdengar halus.


Khumaira mengangguk, "Bukalah, Mas."


Azzam melepas hijab syar'i Istrinya. Dan dia melihat mahkota Istrinya tanpa penghalang. Rambut panjang itu masih ter sanggul sempurna.


Khumaira menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona parah. Hingga dia merasakan sanggul rambutnya lepas dan ikat rambut juga lepas. Kini mahkota hitam arang sepinggul terurai sempurna.


Azzam terkesiap menatap Khumaira yang sangat cantik. Rambut lurus nan halus membuat dirinya ingin menyesap baunya. Ia membawa helai rambut Khumaira di depan hidung guna menghirup dalam.


Khumaira tidak sanggup menatap wajah Azzam sekarang. Dia sangat malu dan berdebar kuat. Hingga sebuah jari kokoh mengangkat dagunya.


"Dik," panggil Azzam bernada berat.


"I-iya Mas," lirih Khumaira masih betah memejamkan mata.


Azzam mengusap pipi gembul Khumaira lembut lalu mendekat untuk mengecup pipi kemerahan sang Istri.


Khumaira membuka mata tatkala Azzam mengecup mesra pipinya. Wajahnya tambah merona akan situasi ini. Dia sangat gugup karena jarak mereka begitu dekat tidak lebih dari 10 senti.


Azzam tersenyum menerima respons malu Istrinya. Dia menyelipkan helaan rambut di belakang telinga Khumaira.


"Apa bisa kita mulai, Dek?" tanya Azzam terdengar mendayu.


Khumaira mendongak menatap mata hazel Azzam. Dia dengan berani mengalungkan tangan di leher kokoh, Suaminya.


"Sentuh aku, Mas. Miliki aku tanpa ragu!" bisik Khumaira lembut.


Azzam balik merengkuh pinggul Khumaira posesif.


"Mas, sangat senang, Dek." Azzam menyelipkan tangan di bawah bahu dan lutut Khumaira lalu menggendong sang Istri menuju ranjang.


Khumaira hanya bisa diam dengan jantung dan pikiran terus tertuju pada, Azzam. Ia merasakan tubuhnya sudah terbaring di kasur begitu pun dengan Azzam yang ada di atasnya.


Azzam membelai wajah berseri Khumaira yang sangat cantik nan manis. Dia menunduk untuk mengecup kening Istrinya.


"Iya, Mas," sahut Khumaira lembut.


"Apa kita bisa mulai, Dek?" tanya Azzam lembut.


"Lakukan, Mas. Miliki aku, sentuh aku dan puaskan hasrat Mas," tutur Khumaira.


Azzam tersenyum tulus mendengar perkataan Khumaira lalu berkata lembut, "Kita doa dulu, Dek."


"Bismillahirrahmanirrahim, Bismillah Allahuma Jannibana Syaithan Wa Jannibis Syaithan Ma Rozaqtana, Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dengan menyebut nama Allah, ya Alllah, jauhkan setan dari saya dan jauhkan dia dari apa yang Engkau Rizkikan kepada kami (anak keturunan)." doa Azzam dan Khumaira.


Azzam dan Khumaira saling melempar senyum manis. Perlahan tapi pasti bibir mereka saling menyatu untuk pertama kali. Hanya kecupan ringan namun perlahan menjadi berbeda.


Tangan Azzam perlahan melepas kancing kebaya pengantin yang di gunakan Khumaira. Setelah lepas ia buang entah ke mana. Dia meneguk saliva sendiri tatkala melihat kemolekan tubuh Istrinya di balik kaus ketat lengan panjang.


Khumaira berpaling muka karena sangat malu di tatap begitu intens oleh Suaminya.


"Apa Mas boleh membuka semuanya, Dek?" Azzam begitu lembut selalu bertanya agar sang Istri merasa nyaman.


Khumaira mengangguk malu-malu akan jawabannya. Dia merasakan tangan Azzam mulai mengangkat kausnya dan ia semakin menyerngit dalam. Sungguh hawa dingin menyelimuti tatkala kaus putih sudah lepas dan kembali malu saat roknya juga terlepas. Kini pakaian yang melekat hanya bra dan ****** *****.


Azzam menahan gejolak jiwa menatap tubuh sintal Istrinya yang begitu mempesona. Demi mengalihkan atensi ia membelai pipi Khumaira lembut.


"Adek boleh melepas pakaian, Mas," bisik Azzam.


Khumaira membuka mata mendengar perkataan Azzam. Dia sangat malu, namun ini kewajiban sebagai istri. Perlahan tapi pasti jemari lentik itu membuka kancing kemeja putih, Suaminya. Dia menahan napas saat menatap tubuh proporsional Azzam.


Dada bidang, punya enam roti sobek yang sangat sempurna membingkai tubuh kekar Suaminya. Dia merona akan situasi ini hingga saat membuka celana bahan, Khumaira begitu deg-deg kan.


Mereka terlihat hanya mengenakan dalaman menutup area privasi.


Khumaira masih duduk sembari menatap Azzam. Wajahnya bersemu merah akan situasi paling indah.


Begitu pun Azzam sedari tadi menatap dada Khumaira yang naik turun. Dia menatap Istrinya dalam dan tangannya kembali mengusap pipi gembul sang Istri.


Dan semua di mulai penuh kasih sayang.