
Azzam tersenyum mendapat undangan dari Kiai Ibrahim. Teringat satu tahun dia mengabdi jadi guru Aliyah dan Diniah di sana dan kini memutus kembali menjadi pengusaha.
"Mas," panggil Khumaira sembari membawa kopi.
"Dalem, Dek," sahut Azzam sembari tersenyum.
"Ini Adek bikin kopi di minum gih. Undangan apa itu, Mas?"
"Terima kasih, Dek. Ini dari Pak Kiai, kurang satu minggu lagi kita ke rumah beliau."
"Umz, hajatan khitan atau nikahan, Mas?"
"Nikahan, Dek."
Khumaira tersenyum teduh lalu duduk di samping Azzam. Dia menyandarkan kepalanya di bahu lebar Suaminya. Tangan mungil ia tautkan dengan tangan kekar Azzam.
Azzam mengelus perut Khumaira seraya mengatakan guyonan. Dia juga mengecup pelipis Istrinya beberapa kali.
"Kerjaan kantor menumpuk ya, Mas?"
"Lumayan, Dek. Gih, tidur ngga baik untuk, Dedek."
"Ngga bisa tidur, Mas."
"Baiklah, tunggu satu dokumen lagi baru kita tidur."
"Semangat, Mas."
"Selalu, Dek. Sini rebahan di sofa biar Adek nyaman."
Khumaira nurut perkataan Azzam untuk merebahkan diri dengan berbantal paha Azzam. Dia merasa nyaman tidur dengan berbantal paha Suaminya.
Azzam mengusap pipi gembul Istrinya. Di usap kepala Khumaira beberapa kali dan benar sang Istri tertidur.
Senyum teduh terukir indah namun air mata luruh begitu saja. Azzam tidak mampu menyimpan duka walau hasilnya di bagi tetap saja memilukan.
"Mas takut, Dek. Tetapi, Mas ikhlas. Mas sangat mencintai Adek karena Allah."
Azzam buru-buru menghapus air matanya dan langsung mengerjakan tugas kantor. Dia harus fokus agar cepat selesai mengerjakan tugas.
Denting ponsel berbunyi, spontan Azzam angkat. Dia terkekeh ternyata Adiknya yang menelepon.
"Assalamu'alaikum, ada apa, Le?"
"Wa'alaikumssalam, Mas ada waktu untuk besok?"
"Insya Allah besok ada, Le. Memang ada apa?"
"Aziz ingin membeli hadiah untuk, Dik Zahira."
"O, yang mau nikah satu bulan setengah lagi sudah geger minta ini itu."
"Haish Mas jangan goda, Aziz, tolong turuti permintaan, Aziz."
"Insya Allah, besok jam setengah 4 datanglah ke kantor, kita bisa langsung beli hadiah. Tapi, hadiah apa yang ingin kamu berikan?"
"Al-Qur'an, Mas. Dik Zahira ulang tahun ke 24, jadi hadiah itu yang ingin Aziz belikan."
"Masyaallah, bagus itu Le. Besok Insya Allah Mas temani."
"Syukron kasir, Mas."
“Afwan!"
Panggilan terputus kini pekerjaan selesai. Azzam mematikan laptop serta membereskan dokumen. Putranya sudah tidur awal karena kelelahan bermain seharian. Ia selipkan tangan di bawah bahu dan lutut Khumaira untuk menggendong ke kamar.
***
1 Minggu Kemudian!
Azzam meminta Khumaira dan Ridwan ikut menyumbang. Dia sangat bahagia bisa menghadiri acara ini bersama keluarga kecil. Semua terasa manis ketika Ridwan mengoceh minta mainan baru.
Khumaira menggunakan gamis couple warna biru begitu pun dengan Ridwan. Mereka jadi pusat perhatian para tamu. Pasalnya wajah mereka begitu bersinar di antara yang lain.
Azzam, Khumaira dan Ridwan berjalan menuju sang mempelai. Mereka memberikan ucapan selamat pada sang mempelai.
"Selamat ya, Mbak dan Mas. Semoga langgeng dan di rahmati oleh, Allah."
"Amin, terima kasih ya Mbak."
"Sama-sama. Mbak."
"Selamat untuk kalian, semoga sakinah mawadah Warohmah."
"Terima kasih ya, Mas!"
"Sama-sama!"
Khumaira menyuapi Ridwan sesekali di usap bibir sang Putra. Sementara Azzam duduk tenang di samping Khumaira.
"Abi, Ridwan mau di suapi," rengek Ridwan.
Khumaira melihat Putranya begitu lucu, selalu begini saat sudah setengah perjalanan makan pasti gentian minta suapi. Mereka jadi ambil jatah menyuapi si kecil yang sangat manja.
Azzam tersenyum mendengar permintaan Ridwan. Dia pangku sang Putra lalu menyuapi sesekali di cium puncak kepala anaknya.
Usai makan, Azzam menggendong Ridwan dan mengatakan pada Khumaira agar ikut memberi salam pada Pak Kiai.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Abah." Azzam salaman pada Ibrahim, sementara Khumaira menyatukan tangan di depan dada.
Khumaira mencium punggung tangan Ibu nyai. Lalu Ridwan ikut salaman.
Azzam mengobral bersama Ibrahim, sementara Khumaira memangku Ridwan sembari bercakap sopan pada Ibu nyai.
"Makcik, Pakcik!" panggil seorang wanita cantik khas Melayu.
Azzam menyengit karena merasa kenal suara ini. Tetapi, siapa pemilik suara khas wanita melayu?
"Kemari duduk dengan Pakcik dan Makcik." Ibrahim meminta pada wanita Melayu itu.
"Iya, Pakcik." wanita itu duduk di samping Bibinya. Saat matanya menatap depan alangkah terkejut melihat siapa pria di depannya. Dadanya sesak sekaligus haru bisa bertemu.
"Mas Azzam," lirih wanita itu.
"Zulfa," lirih Azzam.
Khumaira menatap heran mereka, kemudian menatap wanita cantik itu intens. Dapat di lihat ada pancaran rindu dan ___. Dia tidak mau melanjutkan kalimatnya.
"Mas Azzam, apa kabar? Lama sekali tidak berjumpa. Alhamdulillah, sekarang bertemu."
Azzam menggigit bibir dalamnya. Apa yang harus dia lakukan dalam posisi genting?
"Alhamdulillah, baik. Bagaimana kabarmu? Sudah 5 tahun ini tidak bertemu."
Khumaira paham sekarang, wanita ini yang memberikan jubah itu pada Azzam. Rasanya sakit dan sesak saat wanita bernama Zulfa ternyata masih cinta. Sudah jelas sekali dari pancar matanya.
"Alhamdulillah saya sehat. Memang lama sekali dan iya siapa wanita di samping, Mas?"
Azzam sadar sontak menatap Khumaira menyesal. Dia genggam tangan Istrinya penuh sayang. Hatinya terasa teriris melihat Khumaira menunduk sedih karenanya.
"Dia Istriku, dan ini Putraku."
Mata Zulfa membulat sempurna mendengar jawaban Azzam. Ah, dia merasa malu sekaligus sakit pria di depannya sudah menikah dan memiliki anak.
"Oo, selamat atas pernikahan, Mas."
"Iya, terima kasih."
"Mbak, namanya siapa?"
Khumaira tersenyum untuk menjawab, "Khumaira, dan Mbak?"
"Zulfa, salam kenal, Mbak."
"Salam kenal."
***
Pulang dari acara resepsi pernikahan, Khumaira langsung masuk kamar dan mencopot hijab. Dia berniat wudhu lalu membaca Al-Qur'an.
Azzam meringis melihat Khumaira diam seribu bahasa. Ya Allah dia merasa sangat bersalah pada Istrinya.
"Dek, maaf."
"Mas tidak usah bicara. Adek mau Shalat dan mengaji!"
Khumaira masuk kamar mandi dan membersihkan riasan. Dia menggosok gigi lalu membasuh muka menggunakan sabun.
Azzam diam karena tahu Khumaira sedang marah. Nanti jika Istrinya tenang ia akan meminta maaf.
Ridwan rewel karena suhu tubuhnya naik. Spontan mereka khawatir akan kondisi sang buah hati.
Khumaira sedari tadi menahan tangis akhirnya menangis melihat Ridwan begini. Dia peluk Putranya sembari mengusap rambut tebal Ridwan.
"Umi ada di sini, Le. Sstt jangan menangis, Nak."
Ridwan memeluk Ibunya dengan tangis tersedu. Mungkin si kecil tahu sakit hati Ibunya.
Azzam mengusap rambut Ridwan dan Khumaira. Sungguh ia merasap bersalah akan pertemuan dengan Zulfa.
Mungkin mulai sekarang akan rumit. Azzam berharap Khumaira mau mendengar permintaan maaf darinya.
Khumaira terdiam sepi merutuki diri karena terlalu sensitif. Dia begini karena khawatir Azzam melihat Zulfa dengan cara lain. Apa lagi mereka pernah berhubungan di Kairo sana.