Assalamu'Alaikum Imamku!

Assalamu'Alaikum Imamku!
46. Mengaji!



Khumaira sudah siap mau mengaji Ba'da Shalat Maghrib. Dia tersenyum melihat Azzam baru pulang dari tempat Aziz karena ada urusan. Dia menyiapkan pakaian untuk Suaminya setelah itu baru mengaji.



Azzam baru selesai mandi dan melihat Khumaira sedang mengaji sembari memangku Ridwan. Dia berjalan menuju ranjang mengambil ganti yang di siapkan Khumaira.



Bersyukur sudah Shalat tadi sehingga Azzam tenang. Matanya menatap Khumaira dan Ridwan penuh arti. Hatinya menghangat mendengar suara lembut Istrinya saat mengaji.



"Shadaqallahul-'Adzim."



Khumaira tersenyum lebar melihat Ridwan malah tertidur pulas dengan meletakan kepala di atas Al-Qur'an. Jemari lentik mengusap pipi gembul Ridwan.



"Mas, tolong ambil Al-Qur'an ini, Dedek Ridwan tidur," pinta Khumaira.



Azzam menurut untuk mengambil Al-Qur'an, dan menaruh di nakas. Dia tersenyum teduh melihat Istrinya dan Ridwan.



Khumaira meletakan Ridwan di boks bayi. Mukena masih terpakai dan tidak lama suara Adzan berkumandang, membuat ia tersenyum ke arah Azzam.



"Mas, ayo Shalat Isya."



"Ayo, Mas sudah wudhu, gih Adek ambil air wudhu. Mas, tunggu."



"Enggeh, Mas."



Khumaira melepas mukena dan meletakan di atas sajadah. Melangkah ke arah Azzam dan dengan nakal menyentuh sang Suami.



Azzam mendengus melihat ke jahilan Khumaira. Batal deh, dan sekarang wudhu lagi.



"Adek benar-benar nakal," ujar Azzam.



Khumaira mengedipkan mata jahil. Dia tertawa ringan saat Azzam menatap sebal. Sungguh mengerjai Azzam itu hobi baru yang sangat mendebarkan.



"Maaf,  Mas.  Kyaa ___"



Khumaira jatuh di ranjang dengan Azzam menggelitik perutnya. Dia meronta agar Suami berhenti, tetapi malah mendapat serangan lebih.



Azzam tetap bermain dengan Khumaira sampai puas. Hingga dia memilih mengigit kecil leher jenjang Istrinya penuh arti.



Khumaira melihat penampilannya sudah berantakan. Dadanya naik turun akibat ulah Azzam. Dia menyentuh lehernya yang baru saja di gigit Azzam.



"Mas, capek sudah berhenti.  Adek ngga tahan, ayo wudhu."



Azzam akhirnya selesai mengganggu Khumaira. Perlahan dia mengangkat tubuh Istrinya menuju ke bathroom.



Khumaira mengalungkan tangan di leher kokoh Suaminya. Bibir tebal itu mengecup rahang tegas Azzam lalu memberikan ciuman di pelipis. Senyum manis Khumaira perlihatkan ketika Azzam mengecup pipi.



"Adek,  Mas ngga mau kita telat Shalat. Mumpung Dedek Ridwan tidur kita Shalat berjamaah serta mengaji."



"Baik, Mas."



Setelah pasangan ini Shalat dan mengaji, mereka terlihat melempar senyum. Azzam mengecup kening Khumaira mesra, sementara Khumaira menggenggam tangan Azzam lembut.



"Dek."



"Enggeh, Mas."



Azzam membawa Khumaira duduk di tepi ranjang. Dia berlutut sembari menggenggam tangan mungil Istrinya.




"Adek, Mas merasa kita hanya sementara. Kebahagiaan ini hanya sebentar, tetapi Mas akan menjaga Adek sepenuh hati, Mas."



Khumaira menyengit bingung mendengar perkataan Azzam. Kenapa Suaminya berkata begitu? Entah kenapa rasanya begitu sakit jika teringat hal buruk.



"Mas bicara apa, sih? Adek kurang paham."



Azzam mengusap pipi gembul Istrinya, kemudian mengukir senyum manis pada Khumaira. Dia kecup pergelangan tangan Istrinya penuh sayang dan menbawa ke wajah.



"Kita memang akan menerima kematian, Dek. Takdir Allah begitu hebat membuat hambanya tidak mampu memprediksi. Bukanya manusia akan meninggal, begitu pun kita yang akan pergi di sisi Allah. Tahu tidak manusia hanya tinggal menunggu ajal, pasalnya Malaikat Izrail sudah membidik umat manusia. Jika Allah sudah memerintah maka Malaikat maut datang. Makanya kita harus mempersiapkan diri untuk bekal. Di dunia hanya sementara, makanya Mas ingin kita selalu harmonis."



Khumaira menitikkan air mata jika mengingat ajal. Bahkan jika Malaikat Izrail menjalankan tugas maka tidak ada toleransi. Memang kebahagiaan itu semu, hidup di dunia semu namun ada kehidupan panjang di akhirat sana.



"Mas, Adek berharap kita bisa menua bersama dan menjemput ajal bersama. Adek juga berharap semoga Allah menyatukan kita di akhirat sana. Adek mencintai Mas karena Allah!"



"Amin ya Allah, semoga kita bisa menua bersama dan berakhir Khusnul khatimah. Mas juga mencintai Adek karena Allah!"



Azzam mencium punggung tangan Khumaira mesra. Ia tersenyum bahagia melihat Khumaira tampak anggun.



Khumaira ikut bersimpuh sembari merengkuh Azzam erat. Dia tidak akan sanggup kehilangan Azzam jika suatu saat di antara mereka terpisah.



***



Azzam memakaikan pakaian Baby blue pada Ridwan. Tidak lupa di pasang kopiah putih untuk si tampan kecil.



"Dedek Ridwan, mau mengaji sama, Abi?"



"Aaa dgdsvsd bxartvn ncgsfb," celoteh Ridwan dengan tepuk tangan heboh.



Azzam yang gemas sontak menciumi pipi gembul Ridwan. Putranya sudah berumur 8 bulan, dan sekarang sudah aktif.



Azzam mulai mengaji, sementara Ridwan berusaha berdiri sembari melihat ayat suci Al-Qur'an. Bayi tampan begitu antusias mendengar Azzam mengaji dan melihat kitab Allah.



Khumaira sedang berhalangan jadi hanya bisa menatap Suami dan Putranya teduh. Air mata luruh deras melihat mereka. Hatinya menghangat mendengar suara merdu Azzam mengaji dan sangat bahagia mendengar celoteh imut Putranya.



“Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hamba mohon tetap jaga keutuhan rumah tangga kami, lindungi kami, jaga kami, jauhkan kami dari mara bahaya, dan kabulkan permintaan kami supaya sakinah mawadah Warohmah. Semoga saya dan Mas Azzam mampu menimang cucu dari Putra - Putri kami kelak, Amin,”  doa Khumaira dalam hati.



Azzam menyudahi bacaannya lalu mengecup Al-Qur'an penuh haru. Dia juga mengecup puncak kepala Ridwan penuh kasih sayang.



"Dedek harus jadi pria Sholeh ya, Sayang. Abi menyayangi, Dedek."



"Mas, Adek sudah buatkan makan malam. Ayo makan, sini Dedek Ridwan biar Umi gendong."



Azzam tersenyum mendengar perkataan Khumaira. Dia menyerahkan Ridwan dan kemudian mengecup kening Istrinya. Tetapi, kembali meraih Ridwan dalam gendongan.



Khumaira mengerucut lucu karena Ridwan di ambil kembali oleh Azzam. Dia langsung tersenyum menerima hadiah kecupan sayang di pelipis.



"Terima kasih, Adek. Biar Mas saja yang gendong."



"Baiklah."