
Azzam mengantar Khumaira ke kampus.
"Dek, sepertinya Mas tidak bisa jemput soalnya ada meeting. Bagaimana kalau Tole Aziz yang mengantar Adek pulang?"
Khumaira tersenyum tipis menanggapi perkataan Azzam. Dia dengan berani mengecup rahang tegas Suaminya lalu mencubit gemas hidung mancung Azzam.
"Adek, mengikut saja. Mas, jika sudah selesai cepat pulang. Nanti Adek masak in yang enak. Tidak usah repot, Mas. Adek bisa pulang naik becak."
"Tidak usah masak, Dek. Mas tidak mau Adek kecapekan. Ingat ada Baby dan tidak ada penolakan. Biarkan Aziz yang mengantar Adek pulang!"
"Baiklah, kalau begitu Adek turun dulu, Assalamu'alaikum Imamku!"
"Belajar yang rajin, Sayang. Wa'alaikumssalam Makmumku!"
Khumaira mengecup punggung tangan Azzam lalu di balas ciuman kening dari Suaminya.
"Mas, sayang, Adek!"
"Adek, juga sayang, Mas."
Khumaira turun setelah menerima kecupan sayang di pipi. Pipinya merona melihat kedipan mata Azzam.
"Mas nakal," gumam Khumaira setelah mobil Azzam meninggalkan dia sendiri di gerbang UGM.
"Cie, Mas Azzam siap antar jemput, eh?" goda Bela.
Khumaira tersenyum lebar mendengar perkataan Bela.
"Tentu, Masku siap siaga," bangga Khumaira.
"Oho, sekarang si cantik sudah ngga jomlo. Senang sekali," nimbrung Vivi.
"Hahaha, kalian bisa saja. Ayo masuk," ujar Khumaira.
Sampai kelas para wanita mengelilingi Khumaira.
"Maira, benar Suamimu itu Kakak kandung, Pak Aziz?" tanya Fika mewakili pertanyaan mereka.
"Iya, Mas Aziz ah Pak Aziz itu Adik kandung Mas Azzam. Kenapa? Mau kenal sama Pak Aziz? Jangan mengimpi, dia itu punya prinsip kuat. Sukses dulu baru nikah!"
Khumaira tersenyum kalem mengatakan itu. Melihat ekspresi mereka membuat Khumaira terhibur.
"Yah, pantas saja lumayan mirip. Ngomong-ngomong kamu jahat, Maira bilang gitu. Pokoknya aku tunggu Pak Aziz sampai sukses biar bisa nikah sama dia!" pekik Alina semangat dan sukses mendapat sorakan penghuni kelas.
"Apa salah berharap dan berkhayal. Aish kalian menyebalkan," protes Alina.
"Sudah jangan mengambek, tapi sadarlah harapanmu terlalu mustahil," celetuk Shela.
"Jahat kamu, Shel," rajuk Alina.
"Sudah, Pak Aziz tidak mungkin mendapatkan salah satu dari kalian. Aku yakin itu, soalnya yang pantas untuknya adalah wanita baik-baik dan alim!" lerai Tiara.
"Tumben bijak, Tia," celetuk Shela.
"Memang dari dulu bijak. Sudah ayo belajar!"
***
Azzam menyapa para karyawan sembari tersenyum tipis ciri khasnya. Tentu mereka membalas dengan semangat seraya tersenyum lebar.
"Hai, Zam. Katanya akan ada CEO baru hari ini!" cetus Reza.
Azzam tersenyum, "Lalu?"
"Lalu apanya? Kamu tidak tertarik ingin tahu siapa CEO baru Brawijaya Company?"
"Tidak, bagi saya CEO lama atau baru sama saja."
"Kamu itu, tahu tidak CEO baru kita Putri tengah Pak komisaris!" seru Seno.
"Lalu?" Azzam masih sibuk meneliti laporan dari bawahannya. Nanti meeting dan dia harus mempresentasikan laporan mingguan tentang perusahaan.
"Kamu cuek banget, Zam. Kamu tahu, dia sangat cantik," frustrasi mereka.
"Tidak ada gunanya memikirkan begituan, aku sudah memiliki Bidadari. Untuk apa melihat wanita lain?" cetus Azzam seraya menatap mereka.
"Bidadari gundulmu, mengarang kamu. Sudahlah aku kerja dulu!" sungut mereka.
Azzam hanya menggeleng kepala melihat tingkah mereka. Jemari panjang itu terus menari di keyboard.
Waktu meeting di mulai, namun sebelum itu komisaris Brawijaya Company, Mr Bhagaskara membawa gadis cantik berperawakan tinggi semampai. Wajah ayunya terpoles make up natural.
Satu kata untuk gadis di samping Bhagaskara adalah cantik memikat.
Azzam diam saja tanpa respons. Sementara para pria ketua Manager di bidang masing-masing tampak terpesona.
"Saya Charisma Bunga Brawijaya, mohon bantuannya ... semuanya!" tegas Charisma singkat.
Azzam menatap sekilas Charisma, setelah itu kembali berpaling. Sikap acuhnya membuat gadis cantik menatap penuh selidik ke arah Azzam.
Rapat usai, tetapi Azzam tertahan gara-gara melakukan kesalahan. Entah, dia bingung akan kesalahan apa yang diperbuat?
"Miss, saya ada tugas bisa saya keluar!" tegas Azzam bernada datar. Inilah dia, jika tidak mengenal atau di luar sikap Azzam terkesan dingin dan datar tanpa kata. Mulutnya bisa tajam melebihi Aziz.
"Tunggu Tuan, Anda selesaikan laporan keuangan sekarang!" perintah Charisma.
Azzam menyengit dalam, "Anda serius? Itu bukan tugas saya. Lagian Manager keuangan belum memberikan data terhadap saya!"
"Berani sekali kamu bicara begitu terhadap saya. Ingat saya atasan, Anda!"
Azzam tersenyum culas.
"Lalu?"
"Anda benar-benar kurang sopan, saya akan turunkan jabatan, Anda!" geram Charisma merasa di rendahkan. Baru kali ini ada pria menolak pesonanya.
Azzam tersenyum tipis menanggapi perkataan Charisma.
"Anda tidak bisa seenaknya, saya di sini bekerja langsung di rakut Mr Bhagaskara. Saya permisi!"
Azzam tersentak saat lengannya di tahan, sontak dia hempaskan tangan itu kasar.
"Jangan sentuh saya ...! Ingat Anda gadis terhormat, cerminkan diri sebagai wanita terhormat!" setelah mengatakan itu Azzam keluar.
Seringai muncul begitu saja, "Menarik."
"Nona Charisma, dia muslim makanya menjaga etika bahwa pria dan wanita tidak boleh bersentuhan jika belum muhrim. Namanya Muhammad Khusain Al-Azzam, lulusan terbaik di universitas Al-Azhar!" info Karin, Sekretaris Charisma.
Senyum itu semakin lebar, "Menarik jika mendapatkan pria itu. Statusnya apa?"
"Lajang, Nona!"
"Fantastis, i like it!"
***
Azzam baru pulang jam 9 malam, terlihat wajah tampan itu kelelahan. Dia melihat Istrinya sudah tidur pulas di sofa.
"Adek, maafkan Mas baru pulang."
Azzam menaruh tas kerja di meja. Perlahan dia angkat tubuh mungil Khumaira untuk dipindahkan ke kamar.
Khumaira mengerjap beberapa kali saat merasakan tubuhnya di angkat Azzam. Dia menatap Suaminya berwajah kusut.
"Mas, kok Adek ngga dibanguni? Maaf Adek ketiduran," sesal Khumaira setelah mendarat di ranjang.
"Tidak apa, Sayang. Mas tahu Adek lelah makanya Mas tidak tega banguni. Mas mandi dulu, Dek."
Khumaira tersenyum manis mendengar perkataan Azzam. Dia langsung mencium bibir tipis sang Suami singkat.
"Biar hilang capeknya, Adek panas in sayur dulu." Khumaira hendak pergi tapi direngkuh Azzam dari belakang.
"Mas ingin seperti ini untuk beberapa saat. Mas cinta Adek," bisik Azzam.
"Um, Adek juga cinta, Mas." Khumaira mengusap lengan kekar Azzam lembut. Dia mengelus rambut Suaminya tatkala Azzam menyembunyikan wajah di lehernya.
"Dek," panggil Azzam lembut.
"Iya, Mas."
"Mas, kurang nyaman sekarang bekerja di BC -Brawijaya Company)."
"Loh kenapa, Mas?"
"Ada sesuatu yang bikin dongkol, Dek. Mas, jadi ngga srek kerja di situ lagi."
Khumaira berbalik menghadap Azzam. Dia tangkup rahang tegas Suaminya lalu berjinjit untuk mengecup pipi Azzam.
"Mas, ngga baik bicara begitu. Harus tahan ya, ingat baru kemarin Mas dapat gaji, masak langsung keluar. Coba katakan siapa yang bikin Suamiku merajuk!"
"Adek ini, baiklah Mas usaha in tapi ngga janji. Ada CEO baru menyebalkan sekali."
"Mas mandi, Sholata dan baca Al-Qur'an gih supaya rasa sebal Mas hilang."
"Betul, Mas Shalat dulu dan mengaji. Terima kasih, istriku. Mas bakal menyusul usai melakukan itu semua."
Khumaira tersenyum teduh sembari merengkuh Azzam erat. Dia kembali mencium Azzam kilat setelah itu berlalu menyiapkan makan malam.