Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 9



Kediaman keluarga Melvano.


Satu minggu berlalu Ersin yang di sibukan dengan pembukaan cabang baru hotelnya di luar kota. Akhirnya baru merasakan hawa rumah.


Tapi walaupun sibuk Alina tidak luput dari perhatian Ersin. Ia mendapatkan laporan setiap gerak gerik Alina dari seseorang yg Ersin bayar untuk mengikuti kegiatan Alina di luar rumah.


Mama Ersin sudah menunggu kedatangan anaknya, semenjak perjodohan itu Ersin menghindari mamanya, bukan karena apa tapi Ersin hanya malas mendengar ocehan cerewet wanita yang sangat ia sayangi.


Tanpa basa-basi lagi saat Ersin masuk, mama Tania langsung melemparnya dengan bantal yang ada di sofa.


“Pulang juga akhirnya kau anak nakal.” Begitu geramnya ia dengan Ersin, apalagi setiap panggilan, Ersin selalu mengelak dan mencari-cari alasan, supaya mamanya tidak ada kesempatan untuk membahas perjodohan itu. Tapi sebenarnya Ersin memang benar-benar sibuk dengan bisnisnya.


“Mama, maaf ya ma Ersin sibuk sekali. Dan juga tidak sempat membeli oleh-oleh untuk mama.” Ia mencoba mencari topik lain.


“Aku tidak perlu oleh-olehmu anak kurang ajar, kesini atau kau langsung saja keluar dari rumah ini, aku akan menghilangkan namamu dari kartu keluarga.”


Bukannya takut, Ersin justru tertawa mendengar ancaman dari mamanya. Kini ia sudah duduk di samping mamanya.


“Ma jangan bilang mama ingin membahas itu lagi.” Tebakan Ersin benar adanya.


“Itu kau tahu, batalkan perjodohan itu mama tidak setuju.”


“Kenapa ma, apa yang mama tidak suka dari gadis itu? gadis baik-baik, cantik dan kakek juga mengenal baik keluarganya.”


“Mama tidak mau menyakiti perasaan gadis itu, dengan memaksanya menjadi anggota keluarga kita. Ersin, dengarkan mama, kau bisa mendapatkan calon istri yang memang pantas untuk mu. Dia mencintaimu begitu pun sebaliknya. Bukan berarti mama menganggap Alina tidak pantas untukmu. Mama tahu alasannya sekarang, kau tidak mencintainya tapi kamu hanya ingin dia ada di dekatmu sebagai pengganti.. ” Tidak bisa melanjutkan perkataannya, dan tidak bisa menahan air mata lagi, Ersin kini memeluk mamanya.


Flashback 14 tahun yang lalu.


Seorang anak kecil berumur 5 tahun sedang merengek ingin pergi ke taman hiburan. Erika seorang anak kecil yang masih manja, karena kedua orangtua yang teramat menyanginya. Dan juga seorang kakak yang selalu ada di dekatnya. Keluarga terasa lengkap semenjak kehadiran Erika, ia adalah adik Dari Ersin.


“Mama Erika mau ke taman hiburan yang kita pernah lewati itu.” Dengan suara khasnya, tentu saja dibuat-buat oleh Erika.


“Tapi sayang, lihat sekarang lagi mendung, percuma kan kalau kita pergi tapi nantinya hujan.” Bujuk mamanya.


“Tapi Erika maunya sekarang ma, kakak juga sudah janji kan mau temenin Erika kesana.” Mulai cemberut karena usahanya terancam gagal. Ersin yang kala itu tengah membaca buku. Meletakan bukunya di atas meja, kini ia mendekati adiknya.


“Iya kakak tidak lupa dengan janji kakak, tapi mama benar, kalau hujan bagaimana? percuma saja kau tidak bisa bermain,” ujar Ersin.


“Kakak kalau main sambil hujan-hujanan itu tambah seru tahu,” kata Erika.


“Jangan, nanti yang ada kau malah sakit,” kata mama.


“Nggak mau pokoknya Erika mau kesana.” Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba datanglah papanya baru pulang dari kantor.


“Ehh ada apa ini anak cantik papa kok nangis? kenapa sayang, apa kakak menggangumu?”


“Bukan pa, Erika mau ke taman hiburan. Itu sudah mau hujan, jadi kita tidak setuju pergi kesana,” ucap Ersin.


“Lebih baik kita di rumah saja ya sayang, besok papa janji akan antar kamu kesana oke?” Papa sambil mengangkat jempolnya.


“Baiklah papa, tapi harus janji ya. Jangan bohong lagi seperti kakak.” Dengan nada khas anak kecil yang imut.


“Kakak tidak membohongimu, kakak hanya tidak mau kau kehujanan disana.” Tidak terima di bilang pembohong.


“Baiklah-baiklah, tapi besok harus pergi kesana oke papa?”


“Yes, i am promise my little daughter.” Dengan memeluk putri kesayangannya.


Keesokan harinya, hari yang di janjikan harus di tepati. Erika begitu gembira hari ini. Begitu juga Ersin, ia selalu menemani adik manjanya itu. Papa juga pulang lebih awal hari ini, semua pekerjakan ia serahkan kepada sekretarisnya.


“Iya tunggu, mama papa belum siap tuh, kau senang sekali kelihatannya.”


“Iya dong kak, Erika mau main semuanya dan kakak harus menemani aku ya,” kata Erika.


“Tentu saja, kakak kan harus menjaga adik kakak yang cantik ini.” Tangannya mengacak rambut Erika.


“Ayo anak-anak kita berangkat,” ucap papa.


Mereka menuju ke taman bermain sekitar jm 2 sore, cuaca hari ini tidak bersahabat, karena memang sedang musim hujan. Langit terlihat sedikit mendung dan mungkin akan turun hujan. Tapi tidak mungkin jika tidak pergi, bisa jadi tuan putri akan murka dan ngambek.


“Ersin nanti tolong jaga adikmu ya, papa sama mama kan tidak mungkin ikut kalian main permainan disana,” ucap papa pada Ersin dan Erika.


“Kenapa nggak pa, kita bisa naik kuda-kudaan disana dan banyak lagi,” kata Erika


“Kamu nanti sama kakak saja, mama sama papa akan lihat Erika dari jauh. Tapi ingat harus hati-hati jangan jauh-jauh dari kakakmu oke sayang?”


“Oke papa,” jawab Erika dengan semangat sekali.


Ersin merasa lelah karena mengikuti adiknya yang terus saja ingin naik ini dan itu.


Tapi ia sangat senang melihat adik kesayangannya begitu bahagia. Tanpa tahu lelah, ia berlari kesana kemari. Tapi tidak semua permainan bisa ia mainkan mengingat Erika yang masih di bawah umur. Merasa ada sesuatu yang turun membasahi tubuhnya, ternyata gerimis. Ersin segera membawa adiknya ke tempat teduh di dimana mama dan papanya berada.


“Cepat-cepat sayang.” Mama melambaikan tangannya pada kedua anaknya.


“Ersin ambil ini, lap wajahmu.” Menyerah kan sapu tangan pada Ersin. Sedangkan mama mengelap wajah putrinya.


“Mama Erika lapar, Erika mau makan burger.” Rengekan khasnya tentu saja tidak akan ditolak.


“Ersin apa kau mau burger juga?” tanya mama pada Ersin.


“Apa saja, burger juga boleh,” jawab Ersin.


Mereka menuju ke Burger king terdekat. Hujan kini sudah semakin lebat, angin yang sangat kencang dan langit yang gelap gulita.


“Kakak makasih ya sudah mau menemani aku main, Erika sayang sekali sama kakak. Sama mama dan papa juga.” Erika yang berada di kursi belakang bersama kakaknya saling bercengkerama dan bercanda.


Di Persimpangan jalan, lampu hijau menyala mobil-mobil dan kendaraan lainnya mengemudi dengan kecepatan sedang. Ada mobil dari arah yang berlawanan melaju dengan sangat kencang sontak membuat papa hilang kendali. Membanting setir ke arah kanan dan mencoba menghindari tabrakan itu.


BRAKKKKK


Dua mobil dari arah yang belakang menabraknya. Satu mobil mengenai bagian belakang mobil dan satu lagi dari samping tepat di area pintu belakang. Erika yang terpental ke depan dan kepalanya terbentur. Begitu juga dengan Ersin yang sudah tidak sadarkan diri lagi.


Mereka semua sudah berlumur darah akibat terkena pecahan kaca, tapi mama masih tersadar karena memakai seat belt jadi tetap dalam posisi semula.


Mama yang sudah menangis melihat kedua anaknya dan juga suaminya sudah tidak sadarkan diri lagi, Tapi badannya merasakan sakit yang luar biasa. Mencoba meraih Erika yang ada di sampingnya.


“Sayang bangun sayang, papa, Ersin nak bangun sayang. Tolong anak dan suami saya tolong, siapa saja tolong kami.” Dengan suara yang tertatih-tatih dalam tangisannya. Orang-orang sudah berkerumun untuk menyelamatkan mereka.


Mobil ambulance pun tiba, dengan sigap para petugas membawanya ke dalam mobil ambulance menuju ke rumah sakit.


Apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya?


jangan lupa like dan komennya.


thank you.