
Bisikan itu membuat Alina merinding, yang tadinya ingin mendorong tubuh Ersin menjauh, niat itu ia urungkan. Sedikit gugup, apa ia akan marah? Alina baru saja menyesali ucapannya.
“Aku, hm bukan itu maksudku kak,” jelas Alina.
“Jelaskan! aku menunggumu. Kau sudah berani membandingkan aku, hukuman apa yang harus aku berikan?” tanya Ersin.
“Aku menyesal, aku tidak mau hukuman darimu,” ujarnya.
“Cium disini!” Ersin menunjuk pipinya.
“Ini rumah sakit kak, kau jangan macam-macam disini,”
“Lalu kau mau dimana? cepat! batas kesabaranku tidak seperti lelaki normal pada umumnya,” ucapan itu membuat Alina teringat sesuatu.
“Dia mengikuti kata-kataku,” dalam benaknya.
Alina menoleh ke kanan dan kiri, setelah rasanya aman terkendali. Cup, bibirnya mendarat di pipi Ersin.
“Pipi kiriku akan cemburu jika kau hanya mencium yang ini.” Ersin mulai ngelunjak.
“Setelah ini, bibirmu akan demo jika tidak dicium juga, iya kan?” protes Alina.
“Satu, dua,” tak sampai hitungan selanjutnya dari Ersin, Alina langsung menciumnya lagi sekaligus bibirnya tak ia lewatkan. Sepertinya mencium Ersin bukan sesuatu yang sulit lagi untuk Alina lakukan.
“Memang gadisku,” ucap Ersin.
“Aku akan kembali ke ruangan ayah,” ujar Alina.
“Aku akan bersamamu, kali ini aku bisa memaafkanmu, karena itu paman, tapi jika pria lain yang kau bandingkan, aku tidak bisa menjamin.” Perkataan itu terdengar menakutkan bagi Alina.
“Kau yang terbaik, puas?” Alina bangkit dan meninggalkan Ersin.
“Tunggu aku, akan ada hukuman selanjutnya jika kau tak mau berhenti.” Berusaha menakuti Alina.
“Aku akan bilang pada ibu jika kau selalu menindasku.” Alina tak menghentikan langkahnya. Ersin senang bisa menggoda Alina seperti ini.
“Kalian kembali, ayah baru saja diperiksa nak,” ucap Mirna.
“Lalu bagaimana bibi?” tanya Ersin.
“Dokter menyarankan agar tidak banyak bergerak dulu, dan sudah diberi obat pereda nyeri sama antibiotik agar tidak infeksi,” jawab Mirna.
“Ibu istirahatlah, biar Alina yang menemani ayah,” ucapnya. Pak Abi belum bisa bicara dengan baik, terhalang perban karena luka-luka yang ada di sekitar wajahnya.
“Ibu tidak lelah nak, ibu tidak tenang jika tidak melihat ayahmu.”
Pak Abi senang melihat Ersin disana, ia hanya bisa memberi isyarat dengan matanya. Keadaannya masih sangat lemah. Banyak hal yang ingin ia sampaikan pada Ersin, tapi tidak memungkinkan untuk itu.
“Terima kasih sudah memberikan anak ini disisi keluargaku Tuhan,” dalam benaknya.
Setelah pamit pulang, Ersin memutuskan untuk menginap di hotel yang jaraknya tidak jauh dari sana. Untuk Alina dan ibunya mereka menemani pak Abi. Ruangan VVIP cukup untuk mereka berdua, fasilitas rumah sakit ini memang tidak diragukan lagi. Setelah selesai membersihkan diri Ersin ingin menhubungi Alina, ia kesal karena tidak dapat tersambung. Ersin memikirkan cara bagaimana bisa menghubungi Alina. Jika ia pergi ke rumah sakit akan mengganggu istirahat mereka melihat waktu sudah begitu larut.
Akhirnya ia menemukan cara, Ersin menelepon resepsionis rumah sakit, dan meminta mereka untuk menyambungkan telepon ke ruangan pak Abi. Kebetulan yang mengangkat adalah Alina.
“Kenapa aku tidak bisa meneleponmu?” Tanpa basa-basi.
“Kakak? maaf aku lupa ponselku mati kak,”
“Apa yang kau lakukan? kenapa kau belum tidur?”
“Aku akan menyiapkan perawat untuk berjaga 24 jam disana, kau istrihatlah sekarang!” ujar Ersin.
“Aku tidak memerlukannya, masih ada aku dan ibu disini, kami bisa menjaga ayah,” jawab Alina.
“Jangan membantah!” ketus Ersin.
“Kakak aku mohon, hanya kali ini saja turuti aku.” Alina memelas kepada Ersin.
“Alina,” dengan nada datar.
“Kak Alina mohon, aku tidak akan membantahmu untuk hal lain, tapi untuk yang satu ini aku tidak bisa menurutimu,”
“Baik, hanya untuk ini. Tapi jika sampai kau terlihat sedikit saja kurang sehat, aku tidak peduli lagi.” Ancam Ersin.
“Terima kasih kak, aku akan istirahat sekarang, bye” ujar Alina, dan memutus panggilannya.
“Beraninya gadis ini menutup teleponku hanya dengan mengucapkan bye.” Ersin ingin ucapan selamat malam yang romantis.
Alina bersiap akan tidur, ia teringat kepada kedua sahabatnya, pasti mereka begitu khawatir. Alina tidak bisa memikirkan hal lain setelah tahu ayahnya kecelakaan. Saat ini ia menoleh dan melihat sosok laki-laki hebatnya berbaring penuh luka, membuat hatinya teriris, buliran air mata membasahi pipinya.
“Besok saja aku kabari mereka, pasti mereka sudah tidur,” Alina.
Mengenai perawat, tentu saja Ersin akan menyiapkannya, ia tidak bisa berdiam diri jika melihat gadisnya lelah karena terjaga sampai larut. Ersin masih berkutik dengan notebook di tangannya, satu persatu email yang masuk ia lihat.
“Kau tidak akan aku biarkan lolos,” geram Ersin. Panggilan telepon masuk dari sekretarisnya.
“Apa yang sudah kau dapatkan?” tanya Ersin pada Rey.
“Kami tidak bisa mendapat informasi sedikit pun mengenai identitas dari penabrak ini,” ujar Rey.
“Setitik pun tidak ada informasi yang kau peroleh?”
“Maafkan saya tuan, sepertinya penjahat ini adalah psikopat gila,” jawab Rey.
“Kerahkan semua orangmu, bawa orang itu kehadapanku hidup-hidup,” ucap Ersin.
“Baik tuan,” sambungnya. Tampaknya Rey harus bekerja ekstra.
“Bawa gadis yang pernah diselamatkan paman, aku ingin melihatnya langsung.” Ersin ingin tahu detail kejadian itu langsung dari orangnya.
“Itu akan memakan waktu tuan, gadis itu dan keluarganya sudah pindah ke luar negeri, tapi saya akan mencari tahu dimana keberadaan mereka.” Panggilan mereka berakhir.
Ersin mengepalkan tangannya, amarahnya semakin meluap. Tidak habis pikir ia tidak mendapatkan identitas pelaku. Setelah ia tahu orang ini bersangkutan dengan hilangnya gadis-gadis remaja, yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaan mereka. Hanya informasi itu yang bisa Rey laporkan, mengenai identitasnya, sama sekali tidak ada jejak sedikit pun.
“Jika sampai kau berani menyentuh wanitaku, nyawamu yang akan membayarnya.”
“Apa yang kau sembunyikan sebenarnya paman, seharusnya kau katakan dari awal masalahmu padaku.” Dengan beberapa informasi, Ersin baru paham kenapa pak Abi ingin menikahkan putrinya. Ia ingin Alina berada di sisi Ersin, untuk melindungi Alina dari psikopat ini. Ersin pun berpikir bagaimana harus menjaga Alina agar tetap dalam pantauannya.
“Apa aku harus segera menikahinya?” Pertanyaan itu muncul di benaknya. Jelas Alina akan menolak, ia pasti berpikir Ersin memanfaatkan kondisi ayahnya saat ini. Tapi hanya itu yang bisa membuat Alina terus berada disisinya. Apapun caranya akan Ersin lakukan, untuk membuat Alina aman.
Trauma yang ia alami terus menghantui, jika ia sampai kehilangan untuk yang kedua kalinya, Ersin tidak tahu akan seperti apa dirinya.
“Cukup kau saja yang meninggalkan kakak.”
Terlintas kenangan pahit disaat ia kehilangan sang adik. Itu takdir yang tidak bisa ia terka apalagi merubahnya. Tetapi untuk Alina, ia akan terus berjuang.