
Mentari sudah menampakkan sinarnya, waktunya menjalani aktifitas seperti biasa. Alina yang berangkat ke kampus, sedangkan ayah yang mengantar ibu sebelum ke sekolah.
“Nak hati-hati ya, jika tidak ada perlu lebih baik di rumah, jangan di luar sampai malam,” ucap Ayah.
“Iya yah, Alina jalan ya,” ucap Alina sembari melangkah ke luar rumah.
“Bu kenapa, ibu ada masalah? atau ayah yang ada salah sama ibu, cerita sama ayah,” tanya suaminya.
“Yah, semalam ibu mimpi, ibu berusaha bangun supaya mimpi itu tidak berlanjut, sampai-sampai ibu menangis,” jawabnya sedih, terbawa suasana oleh mimpinya.
“Ibu mimpi aku selingkuh?” sambil tersenyum.
“Bukan yah, ini lebih menyakitkan dari itu''
“Lalu apa?”
“Ibu tidak tahu pasti bagaimana mimpi itu, yang jelas ibu merasa akan kehilangan ayah, ibu dan Alina terlihat menangisi ayah, entah apa yang terjadi, mimpinya hilang karena ibu terbangun.”
“Karena itu ibu menangis, sampai mata ibu merah seperti ini?” Istrinya mengangguk.
“Iya yah, Alina pun menanyakan itu tadi.”
“Jangan terlalu dipikirkan, semoga itu hanya mimpi bu, ayah akan baik-baik saja.” Berusaha meyakinkan istrinya.
“Iya yah, semoga tuhan selalu melindungi kita,” ujar ibu.
“Ayo bu kita jalan,” ajak pak Abi.
“Sebentar lagi yah, ibu tinggal merapikan ini saja.”
Setelah mengantar istrinya, pak Abi melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah tempatnya bekerja. Pikirannya mengarah ke mimpi istrinya. Beberapa hari ini ia juga merasa sesuatu sedang mengintainya. Melihat istrinya menangis karena mimpi saja membuat pak Abi mengurungkan niatnya untuk membahas masalah itu. Ia hanya tidak ingin istrinya terlalu khawatir.
Pak Abi sudah sampai di sekolah, membuka handel pintu mobilnya, dan menutupnya kembali. Berjalan menuju ruangan yang biasa ia tempati. Langkahnya terhenti, menoleh ke belakang dan ke arah lainnya. Tidak ada yang aneh menurutnya. Pak Abi melanjutkan langkahnya, hanya beberapa langkah ia melakukan hal yang sama. Tetap saja tidak ada siapapun yang melihatnya.
“Mungkin hanya perasaanku saja,” batinnya.
Tetapi memang ada seseorang yang mengintai pak Abi, ia sedang berada di dalam mobil yang kacanya tidak tembus pandang.
“Selamat pagi pak,” ucap beberapa siswa menyapanya.
“Pagi anak-anak,” jawab pak Abi.
Begitu seterusnya sampai ia sampai di ruangannya. Seperti biasa pak Abi melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, seseorang yang ingin menemui pak Abi.
“Masuk,” ucap pak Abi.
“Makasi pak,” ucap ibu guru yang tengah hamil besar.
“Duduk bu Retno, ada perlu apa?” tanya pak Abi.
“Pak begini, saya kan sudah mengajukan cuti hamil sebelumnya, sekarang sudah waktunya pak, ini surat cuti melahirkan saya,” ucap bu Retno.
“Oh begitu, ya bu saya terima, jadi ibu akan cuti mulai besok?” tanya pak Abi.
“Iya pak,” jawab bu Retno.
“Semoga persalinannya lancar bu dan bayinya sehat,” ujar pak Abi.
“Iya terimakasih pak, dan untuk orang yang akan menggantikan saya sementara akan ada guru honorer yang masuk pak, mungkin dia akan menemui bapak hari ini.”
“Suruh saja dia datang menemui saya,” balas pak Abi.
“Baik pak, kalau begitu saya permisi pak''
''Iya silakan bu,” Ibu Rento meninggalkan kantor kepala sekolah. Pak Abi melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Bel istirahat berbunyi, terdengar keramain para siswa yang berhamburan keluar dari kelasnya. Ada diantara mereka yang pergi ke kantin sekolah, dan juga ada sebagian yang masih tetap di dalam kelas.
Terlihat seorang pria yang tampak bingung sedang mencari sesuatu. Matanya kesana kemari membaca papan nama yang ada di pintu.
“Ada yang bisa saya bantu pak ,” ucap salah satu siswa yang melihatnya.
“Saya mencari kantor kepala sekolah, dari tadi saya cari tidak ketemu,” ucap pria itu tapi matanya tidak memandang lawan bicaranya.
“Bapak salah arah, seharusnya kesana pak, bapak turun dari tangga itu lalu le kiri lurus saja, nah disana kantornya,” ujar siswa itu.
“Salah ya pantas saja, terimakasih ya.” Pria itu menuju ke arah yang diberitahu.
“Iya, aku ngomong tapi matanya ke arah sini, maklumlah dia suka yang gede-gede,” ucap perempuan yang tadi berbicara dengan pria itu.
“Jangan-jangan itu yang akan menggantikan bu Retno, aduh apa jadinya jika gurunya mesum macam itu.” Siswa-siswa itu bergunjing tentang pria yang memang benar akan menjadi guru mereka.
*****
Setelah berjalan mengikuti arahan, barulah ia berhasil menemukan kantor kepala sekolah
“Permisi pak,” ucapnya setelah mengetuk pintu.
“Ya silakan duduk,” balas pak Abi.
“Saya guru honor baru, perkenalkan nama saya Bambang pak.” Menatap lekat pak Abi.
“Ya saya sudah mendengar tentang anda,” jawab pak Abi
Mereka berbincang-bincang tentang pekerjaan yang akan dilakukan Bambang serta aturan yang ada di sekolah ini. Sudah diputuskan Bambang akan mengajar disana mulai besok menggantikan bu Retno yang sedang cuti melahirkan.
Setelah jam pelajaran selesai, semua siswa pulang ke rumah masing-masing juga diikuti oleh para guru. Seperti biasa pak Abi akan menjemput istrinya dahulu. Tanpa disangka ban mobilnya pecah, dan yang lebih mengherankan lagi ke empat ban itu pecah semua. Pak Abi mengecek cctv yang ada di daerah parkir, tapi sayang cctv hancur, seperti memang sengaja dirusak. Pak Abi tak bisa mengetahui siapa yang melakukan ini, tidak ada satu kamera yang merekam adanya seseorang yang mencurigakan.
Terpaksa pak Abi pulang menggunakan taxi, dan memesan bengkel untuk mengambil dan memperbaiki mobilnya. Kini pak Abi sudah sampai di ruko tempat istrinya.
“Kenapa naik taxi yah, mobil ayah mana?” tanya istrinya.
“Di bengkel, bannya pecah bu, tidak apa kan kita naik taxi,” jawab pak Abi.
“Ibu kan bisa menunggu yah, kenapa ayah buru-buru kesini,” ujar Mirna.
“Itu akan lama bu, sekalian di service bu,” jawab pak Abi yang sengaja berbohong.
“Baiklah, ayo kita pulang yah.”
*****
Kampus Alina.
“Ada apa Fit, kenapa ramai sekali disini,” tanya Alina yang baru kembali dari toilet.
“Itu ada orang tua yang datang kesini menanyakan anaknya.”
“Anaknya kenapa?” tanya Alina.
“Sudah lama anak mereka tidak pernah pulang, mereka dari luar kota, anaknya menyewa rumah disini. Karena tidak bisa dihubungi jadi mereka datang. Di tempat anaknya tinggal pun tidak ada siapa-siapa. Kata yang punya rumah, memang sudah lama rumah itu kosong,” ujar Fitri.
“Kasihan orangtuanya, apalagi ibunya yang tidak henti menangis, ternyata anaknya sudah lama tidak datang ke kampus,” ujar Dinda.
“Kenapa bisa begitu ya?” tanya Alina.
“Entahlah, akupun tidak paham,” jawab Fitri.
“Tapi mereka sudah lapor polisi,” ujar Dinda.
“Semoga bisa cepat ditemukan,” ucap Alina. Mereka meninggalkan tempat itu dan kembali pulang karena mata kuliahnya sudah berakhir.
.
.
Maafkan baru bisa up
karena halangan pekerjaan
selalu dukung author
tinggalkan jejak like dan komen
Vote juga boleh, author akan senang sekali 😁😂
Selamat hari ibu ❤
untuk ibu dan yang akan menjadi calon ibu.
sudah kuat dan sabar menghadapi anakmu
Terimakasihh ibuu
...^^^22.12.2020^^^...