Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 43



Gemericik suara air membangunkan tidurnya. Mengumpulkan nyawa sampai ia yakin ini bukan mimpi. Gea merasa kepalanya berat karena terlalu lama terpejam, hingga matahari sudah terik. Pria itu menepati janjinya. Ia sudah keluar dari tempat yang sudah mengurungnya selama berbulan-bulan.


“Ini rumah? iya ini rumah,” Gea menangis, mulai bangkit dari tempat tidur. Melihat ke sisi luar jendela. Angin menyentuh kulitnya, betapa ia merindukan udara luar.


“Sayang kau sudah bangun,” suara itu mengejutkan Gea, dengan cepat mengusap sisa air mata dipelupuk matanya. Dari belakang pria itu memberi pelukan yang begitu hangat. Gea membalikan badannya.


“Terima kasih, sudah membawaku kesini,” ujar Gea.


“Kau menangis?” tanya pria itu.


“Aku hanya terlalu senang”


Ini baru permulaan, Gea akan mengikuti alur sandiwaranya. Pria ini pintar, ia membawa Gea di sebuah villa yang bahkan ia tidak melihat satu rumahpun di sekitarnya. Walaupun Gea berusaha melarikan diri, mustahil jika ia tidak akan tertangkap lagi. Justru itu akan membuat ia susah untuk mengelabui pria ini lagi.


“Aku akan mandi dulu,” ucap Gea.


“Aku akan menunggumu disini,” jawab pria itu.


Gea masuk ke dalam kamar mandi, melihat dirinya pada pantulan cermin. Wajah ini lama sekali Gea tidak melihatnya. Tangannya meraba dengan lembut setiap inci dari wajahnya. Bendungan air mata tak kuasa ia tahan, tangisnya pun pecah, namun tak terdengar karena kerasnya bunyi tetesan air membantunya mengalihkan suara dari tangisannya.


Gea merendam tubuhnya di dalam bathub, berusaha menjernihkan pikiran. Kejadian semalam masih terlintas di benaknya, ia yakin ada seorang pria lain di tempat ia sebelumnya. Tapi itu pertama kalinya ia melihat pria itu. Dengan pandangan yang kabur terlihat samar-samar wajah pria yang tengah menggendongnya semalam.


“Sayang, kau mandi lama sekali,” ucap pria itu dari balik pintu. Pintu yang terkunci menghalangi niatnya untuk masuk.


“Sebentar lagi, aku rindu berendam,” saut Gea.


“Aku akan menyiapkan makanan, temui aku di dapur,” sambungnya lagi.


“Baiklah, ” Gea.


Kesempatan yang bagus bagi Gea, ia bisa mendapat petunjuk dengan memeriksa barang-barang dari pria itu. Dengan cepat ia bangkit dan memakai piyama mandi. Terlebih dulu ia mengunci pintu, hanya untuk berjaga-jaga. Karena pria yang ia hadapi bukanlah orang sembarangan. Lemari besar itu, penuh dengan perlengkapan Gea. Tidak ada yang terlewatkan, semua detailnya sesuai dengan ukuran tubuh Gea.


“Dasar maniak, dia tahu semua ukuranku,” Gea gusar menyaksikan pemandangan ini. Lalu ia beralih pada lemari yang ada di sebelahnya. Tampak normal, seperti tatanan baju pada umumnya. Sangat rapi bagi sentuhan tangan laki-laki. Ia pun membuka semua laci-laci. Tampak tas hitam dengan ukuran cukup besar. Tas itu kosong, meraba-meraba sampai ke dalam isi tas, Gea merasa tanganya meraba sebuah rambut.


“Apa dia juga mengoleksi rambut perempuan?” Gea pun membuka resleting yang tampak kurang rapi penutupannya, disanalah ia melihat rambut itu. Pikir Gea itu adalah wig atau semacamnya. Betapa kagetnya Gea sampai terjatuh ke lantai. Mukanya pucat pasi, hampir ia berteriak melihatnya.


“Apa ini? topeng?” Gea gemetar, pantas saja semalam ia melihat wajah yang berbeda. Gea memasukan kembali topeng wajah silicon itu ke tempatnya. Ia menuju nakas, menelan obat penenang yang selalu pria itu siapkan. Seluruh tubuhnya gemetar melawan rasa takut. Jika bukan karena dukungan obat dan niat yang besar mungkin Gea sudah sejak lama depresi bahkan ia sudah mengalami gangguan jiwa. Satu lagi kejutan yang Gea dapatkan, hidup seperti apa yang pria itu jalani saat ini.


Sebelum Gea berada di tempat ini, pria itu menyuguhkan segelas air. Air itu terlihat tidak jernih, terdapat butiran-butiran halus yang belum sepenuhnya larut. Itu adalah sebuah obat tidur agar mempermudah membawa Gea pergi. Dengan sekuat tenaga Gea melawan dirinya untuk tidak kehilangan kesadaran.


Tapi tidak sampai lama akhirnya ia pun tertidur, ia hanya bisa melihat bayangan samar seorang pria yang merangkulnya, dan bangunan yang mengerikan di sepanjang jalan. Sampai ia terbangun sudah di tempat yang berbeda.


Selang beberapa lama Gea menuruni tangga, ia tampak cantik, dengan sedikit sentuhan lipstik di bibirnya. Makanan sudah hampir selesai.


“Perlu bantuan?” ujar Gea.


Mereka duduk berhadapan, layaknya seorang pasangan yang baru saja memulai kehidupan rumah tangga.


“Apa urusanmu sudah selesai?” tanya Gea.


“Sudah, aku tidak akan meninggalkanmu lagi”


“Kenapa kau memilih tempat terpencil ini? kau takut aku melarikan diri?”


“Kau tidak menyukainya?”


“Aku menyukainya” Gea.


“Baguslah”


Gea menatap lekat wajah pria ini, apa ini merupakan wajah asli atau hanya sebuah topeng. Gea begitu penasaran, ingin sekali ia mengkoyak wajah itu dengan tangannya sendiri. Pantas saja semua usaha kepolisian berakhir sia-sia. Siasat yang ia mainkan bukan hal yang bisa diremehkan lagi.


“Ada sisa nasi di bibirmu,” ujar Gea.


“Sudah?” tanyanya lagi, ketika sudah mengusahnya dengan tissu.


“Masih ada,” sambung Gea.


“Disini?”


Gea lalu menciumnya, itulah cara agar Gea bisa leluasa meraba wajah pria itu. Gea menggigit bibirnya hingga berdarah. Sebelumnya Gea sangat enggan untuk menyentuh wajahnya, sekalipun mereka melakukan hubungan intim. Sebenarnya tidak ada nasi sama sekali, itu hanya akal-akalan Gea saja.


“Maaf aku terlalu bersemangat,” ucap Gea. Tanpa ada reaksi kesakitan sedikitpun, walaupun keluar darah dari bibirnya.


“Tidak apa-apa sayang,” jawabnya.


“Bodoh tentu saja ini wajah aslinya, kau melihatnya mandi bahkan tidur bersamanya.” Dalam benak Gea ia menggerutu.


Dan hasil dari perbuatan bodohnya, ia membangunkan hasrat birahi pria ini. Tubuh Gea diangkat dalam pangkuannya, nafsu yang tak bisa ditahan. Menyerang bibir Gea, tangan nakalnya bermain di setiap bagian sensitif tubuh Gea. Erangan kecil sudah terdengar.


“Ingin mencobanya di dapur sayang?” tanya pria itu. Tanpa persetujuan Gea, tubuhnya dibaringkan di atas meja makan. Pakaian yang membaluti tubuh satu persatu di tanggalkan. Sensasi yang baru mereka rasakan, hubungan intim layaknya pasangan.


Tenaga Gea terkuras habis, kini ia tergeletak lemas. Pria itu memindahkan tubuh Gea ke dalam kamar, membaringkannya di kasur. Masih dalam tubuh telanjang, hanya ditutupi oleh selimut.


“Sayang, maaf aku membuatmu kelelahan”


“Tidak apa-apa,” jawab Gea.


“Tidurlah, aku akan memelukmu.”