Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 14



Kampus Alina.


Hari setelah libur, terkadang sesuatu yang sangat membosankan bagi para siswa untuk kembali melakukan aktifitas belajarnya. Terlihat sekali dari wajah-wajah malas mereka. Tapi tidak semuanya hanya beberapa saja dari meraka. Alina yang kini berada di dalam kelas bersama fitri menunggu kedatangan Dinda, lebih tepatnya menunggu oleh-olehnya.


Orang tua Dinda membuka bisnis baru di luar kota yang mengharuskan mereka untuk tinggal disana, sementara ia disini bersama adiknya dan didampingi pembantu dan supir saja. Karena libur Dinda menyempatkan untuk mengunjungi mereka sekalian untuk berlibur. Dinda berjanji kepada kedua sahabatnya untuk membawakan mereka oleh-oleh.


Baju couple menjadi pilihannya, dengan model sama tetapi hanya beda warna tetapi masih senada, menurutnya akan lucu jika mereka punya baju yang sama.


“Hai hai kalian pasti sedang nunggu aku ya.” Dinda datang dengan papper bag di tangannya.


“Akhirnya yang ditunggu datang juga, bukan kau Din tapi ini .” Tangan Fitri dengan cepat kilat mengambil papper bag itu.


“Dasar bocah ini, tidak ada hadiah buat kamu itu hanya untuk Alina,” canda Dinda.


“Mana mungkin, nah ini kenapa dua?” Mengangkat baju-baju itu.


“Semuanya buat Alina,” jawab Dinda acuh.


“No no no mana boleh begitu, aku satu dan Alina satu.” Fitri mengambil 1 dan menyerahkan ke Alina 1. Alina hanya terwawa melihat perdebatan mereka.


“Dan ini ada lagi, tara baguskan, disini juga ada nama kalian.” Mengambil dalam tasnya sebuah pulpen yang bagus sekali, dengan ukiran nama mereka.


“Lucu sekali, terimakasih Dinda,” ucap Alina


“Jangan bilang ini hanya buat Alina, jelas-jelas ini sudah ada namaku, hanya aku kan temanmu yang bernama Fitri,” ucap Fitri.


“Iya iya bawel,” balas Dinda


“Terimakasih ya.” Fitri memeluk Dinda dengan senangnya.


“Kalian stop, itu dosennya sudah datang,” tegur Alina.


Fitri dan Dinda hanya cengengesan. Setelah jam pelajaran selesai seperti biasa mereka pergi ke kantin kampus. Dalam perjalanan kesana tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Adit, ia terlihat terburu-buru sekali tanpa berbicara ataupun melihat ke arah Alina. Mungkin dia tidak melihatnya, itu pikir Alina.


“Itu kak Adit, kenapa dia buru-buru sekali. Dia berjalan begitu saja melewati kita. Apalagi tidak menyapamu Lin,” ucap Fitri


“Mungkin dia sedang ada keperluan, entah kenapa sekarang aku sama Adit sudah tidak seperti dulu, menanyakan kabarku pun tidak pernah lagi.” Alina sedikit curhat.


“Apa dia sudah punya kekasih, aku kira dia menyukaimu. Sabar Lin dasar laki-laki ada maunya saja nempel teruuussss tapi sudah dapat yang lain pura-pura lupa,” jawab Fitri.


“Aku juga tidak apa, sakit hati pun tidak sama sekali.”


“Hemm yang benar?” cletuk Dinda.


“Aku serius, kalian kira aku patah hati?” balas Alina.


“Din apa kau mencium bau-bau kebohongan?” tanya Fitri.


“Tentu saja Fit.” Mereka meledek Alina dan berjalan mendahului Alina.


“Kalian tidak percaya, awas ya aku jitak kalian.” Alina mengejar mereka.


Kemana Adit ?


Ia terburu-buru karena Nisa sedang sakit. Semenjak Adit tahu Nisa akan bertunangan sebentar lagi, ia berusaha menjauhi Nisa. Mungkin ini memang jalan yang terbaik untuk mereka.


Adit bingung apalagi yang bisa ia lakukan, sudah tidak ada kesempatan lagi menurutnya. Membatalkan pertunangan itu, Adit sadar siapa dirinya, bukan siapa-siapa hanya orang ketiga, hanya pengganggu.


Orang tuanya juga tidak tahu jika Nisa berada di rumah sakit, apalagi kekasihnya. Tapi hal ini tidak bisa ia rahasiakan dari Adit. Saat ini Nisa sedang berbaring, menunggu kedatangan Adit, ia cemas, sangat cemas hingga air matanya tidak bisa berhenti menetes.


“Nisa, kau kenapa?” Adit datang, napasnya masih ngos-ngosan.


“Adit.” Nisa memeluk tubuh Adit.


“Tenang, katakanlah apa yang dokter katakan?” Adit khawatir, jika Nisa mengalami penyakit parah. Karena di lihat dari keadaan saat ini, itu yang Adit simpulkan.


“Apa yang harus aku lakukan.” Nisa tetap saja menangis.


“Aku akan menemanimu, sampai kapan pun, jangan sedih kau pasti sembuh.” Adit yang ikut bersedih. Seketika mereka melepaskan pelukan ketika suster datang.


“Permisi, ibu ini saya sudah siapkan obat untuk menghilangkan mual ibu, saya tunggu kedatangannya saat kontrol lagi ya bu,” ujar suster itu. Adit terdiam masih mencerna situasi yang terjadi.


“Terimaksih suster,” jawab Nisa. Suster itu menjawab sopan dan pergi meninggalkan mereka.


“Sebenarnya kau sakit apa?” Adit menatap lekat Nisa.


“Aku hamil,” jawabnya Lesu. Adit tercengang, dia diam.


“Ini anakmu, aku tidak pernah berhubungan dengan orang lain, walaupun itu kekasihku aku bersumpah.” Belum selesai berbicara, Adit langsung memeluknya.


“Aku tahu, kau tidak perlu menjelaskan lagi, aku tahu itu anakku,” jawab Adit.


“Aku kira kau tidak akan mau mengakuinya, aku takut, sangat takut” Nisa semakin menangis.


“Mana mungkin aku tidak mengakuinya, itu tanggung jawabku. Kau berpikir aku tidak akan percaya padamu?” Nisa hanya menganggukan kepalanya.


“Bodoh, kenapa kau berpikir seperti itu. Ayo kita menikah,” ucapan Adit membuat Nisa tersentak.


“Kau serius Dit” tanya Nisa meyakinkan.


“Lalu siapa yang akan menikahimu kalau bukan aku, apapun itu akan aku hadapi, itu anakku dan aku harus bertanggung jawab atas anakku,” ujar Adit.


“Bagaimana dengan keluargaku, aku takut, pasti tidak akan mudah menghadapi mereka.”


“Aku akan ikut bersamamu, dan juga putuskan dulu hubunganmu dengan kekasihmu itu. Aku yang akan menemanimu, dan aku yang akan bicara padanya.” Adit sangat serius saat ini, ketakutan Nisa sedikit memudar.


“Terimakasih, aku mencintaimu,” ucap Nisa, membuat Adit tersenyum, mata Adit berkaca-kaca dan memeluk Nisa.


“Aku juga mencintaimu, kita harus berjuang, demi anak kita,” jawab Adit.


Inilah jalan Tuhan, tidak ada yang bisa mengetahui dan menerkanya. Dengan menghadirkan seorang anak yang akan mempersatukan cinta mereka.


.


.


.


.


LIKE LIKE LIKE AND COMENT.


THANK YOU ❤