Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 20



Kekecewaan yang teramat dalam akan Nisa torehkan kepada mereka sekarang, dalam sekejap situasi ini akan berubah. Ingin rasanya waktu berhenti detik ini juga dan berlari sejauh-jauhnya. Berusaha menguatkan hati masing-masing, Nisa dan Adit saling beradu pandang, tatapan itu menandakan kecemasan antara keduanya. Darimana harus memulai, bagaimana cara menjelaskan agar mereka menerima. Ini semua tidak akan mudah.


“Papa kira kau bersama Dandy,” ucap ayahnya.


“Papa baru pulang, aku dari tadi nunggu papa,” ucap Nisa gugup.


“Paman, perkenalkan saya Adit,” ucap Adit langsung berdiri lalu menjabat tangan ayah Nisa.


“Tidak perlu sungkan, duduklah"


''Pa begini aku.. ” ucapan Nisa dipotong Adit.


“Biar aku saja,” ujar Adit disertai anggukan kecilnya.


“Ada apa sih Nisa, kau dari tadi aneh sekali,” ucap ibunya.


“Begini bibi dan paman, saya ingin melamar Nisa. Saya akan menikahi anak paman dan bibi.” Dengan penuh keberanian Adit mengucapkan itu.


“Jangan bercanda nak Adit, anak saya sebentar lagi akan bertunangan, dan akan segera menikah. Kami hanya menunggu tanggal baiknya saja,” jawab ayah Nisa.


“Nisa sedang mengandung sekarang, dan itu adalah anak saya,” ucap Adit tanpa ragu.


“Apa benar apa yang dikatakannya Nisa?” tanya ayah Nisa, ekpresinya sudah berubah.


“Itu benar pa.” Nisa sudah menangis, rasa takutnya membuat ia tak bisa menahan air matanya keluar.


“Nisa masuklah ke dalam kamarmu!! papa akan berbicara dengan dia,” ucap ayahnya. Terlihat sekali Bagas menahan amarahnya.


“Tapi pa.”


“Masuk!!!” tanpa bisa menolak lagi, ia menuju ke kamarnya, ibunya yang juga terkejut memutuskan untuk meninggalkan suaminya dan menyusul Nisa.


“Mama maafkan Nisa, tolong maafkan aku”


ibunya terdiam menatap Nisa, dengan mata yang sudah memerah. Ibu Nisa terjatuh kakinya melemas dan kini terduduk di lantai. Nisa memeluknya sembari menangis.


“Mama tolong Nisa, apa yang harus aku lakukan?”


“Kau keterlaluan, dimana hatimu sebagai perempuan? kapan aku pernah mendidikmu seperti ini. Kau hamil dengan laki-laki lain, disaat kau akan bertunangan.” Ibu Nisa menangis kencang dan memukul-mukul pundak Nisa yang tengah memeluknya. Tangis Nisa pecah.


“Nisa tidak mencintai Dandy ma, Nisa tidak bisa jika bersama Dandy,” ucap Nisa.


“Sudah sejauh ini kau mengatakan tidak mencintainya?”


“Mama tidak akan bisa mengerti, tapi aku yang menjalaninya.”


“Rasanya aku ingin mati, kenapa aku mempunyai anak seperti ini.” Ibu Nisa membenturkan kepalanya ke dinding, Nisa mencoba menghalanginya.


“Jangan ma jangan, jangan sakiti diri mama, tolong jangan seperti ini, pukul saja aku ma.” Nisa merangkul kepala ibunya yang sudah membiru.


“Lepaskan, biarkan aku mati saja, aku akan mati membawa sakit hatiku.” Nisa menguatkan pelukannya, membuat ibunya tidak bisa berkutik.


“Jika mama seperti ini, ayo kita mati sama-sama, aku juga akan mati bersama anakku. Orang tuaku sudah tidak menginginkan aku, jadi untuk apa aku harus hidup.”


“Dengan begini kalian tidak akan mempunyai anak seperti aku lagi, tidak ada yang membuat malu keluarga ini.”


Plaakkk


Tamparan keras di pipi Nisa oleh mamanya.


“Cukup anak bodoh cukup. Kalau bukan karena aku menyayangimu aku tidak akan sekecewa ini.”


Adit dan Bagas masih berada di ruang tamu, Bagas sengaja menyuruh Nisa pergi agar dia tidak melakukan hal kasar terhadap anaknya di depan Adit.


“Tinggalkan anakku, dan jangan pernah kau temui anakku lagi. Sekarang juga keluar dari rumahku,” ucap bagas dengan tegasnya.


“Tidak, itu tidak akan saya lakukan, Nisa mengandung anak saya. Bagaimana mungkin paman melarang Nisa menikah, sedangkan saya adalah ayah dari anak itu.” Tolak Adit dengan tegas.


“Kau yakin itu adalah anakmu?” tanya Bagas pada Adit


“Pertanyaan bodoh macam apa itu, tentu saja saya sangat yakin. Paman pikir anakmu bukan perempuan baik-baik, dia bisa tidur dengan siapa saja itu maksud paman?”


“Bukan berarti kesalahan yang dibuat Nisa saat ini karena dia bukan perempuan baik-baik. Saya akan menikah dengan Nisa apapun yang terjadi.”


“Keluar dari sini, keluar dari rumahku. Kau tidak diterima disini. Pergiii !!!” Bagas memaksa Adit untuk keluar.


“Usir laki-laki ini sekarang juga, jangan biarkan dia kembali dan masuk ke rumahku.” Para penjaga rumah menyeret Adit keluar.


“Aku akan membawa anakmu, kau tidak bisa memisahkan aku dan Nisa camkan itu,” ucap Adit dengan kemarahannya.


“Lepaskan, aku akan keluar dari sini,” teriak Adit kepada orang-orang yang menyeretnya.


Bagas kembali masuk ke rumahnya dan kini sasarannya adalah anaknya sendiri. Entah apa yang akan ia lakukan kepada Nisa. Yang saat ini hanya amarah yang menguasai pikirannya.


“Kau dasar anak kurang ajar.” Bagas menjambak rambut Nisa dan sedikit menyeretnya.


“Jangan sakiti anakku,” ucap istrinya, yang berusaha menghalangi Bagas.


“Lihat kelakuan anakmu ini, sudah mempunyai kekasih tapi hamil dengan orang lain. Apa yang dipikirkan keluarga Dandy tentang anakmu ini hah? Mereka sudah mempersiapkan pertunangan dan sekarang anakmu hamil tapi bukan dengan anak mereka, kau pikir mereka akan mau menerima ini?”


“Aku lebih mementingkan anakku dari pada mereka, aku tidak peduli lagi mereka menerima Nisa atau tidak. Biarkan Nisa menikah dengan ayah dari bayinya. Jika kau tidak setuju aku dan Nisa yang pergi dari rumah ini.”


“Beraninya kau,” teriak Bagas hendak menampar istrinya. Tapi Nisa yang menghalangi.


“Aku sudah membatalkan pertunangan itu, aku sudah lebih dulu memberitahu Dandy,” ucap Nisa.


Plakkk..


Tamparan kali ini dari ayahnya, lengkaplah sudah rasa sakit yang dirasakan Nisa.


“Jangan pukul anakku,” ucap ibu Nisa yang tidak terima anaknya ditampar. Itulah seorang ibu, tidak akan rela anaknya disakiti orang lain bahkan jika itu suaminya sendiri. Bagas menarik istrinya keluar dan mengunci Nisa di kamarnya. Nisa hanya pasrah dan hanya bisa menangis.


Sampai keesokan paginya Nisa masih tetap di dalam kamarnya tanpa bisa keluar lebih tepatnya ia dikurung oleh ayahnya sendiri. Pintu terbuka, dengan ibunya yang membawa nampan berisi makanan.


“Makanlah, kau sedang hamil itu akan mempengaruhi kesehatan janin jika kau tidak makan,” ucap ibunya.


“Terimaksih ma,” balas Nisa.


“Mama.” Panggil Nisa ketika ibunya hendak keluar,seketika ibunya menoleh.


“Aku tetap anak mama kan? mama masih menyayangiku kan?” tanya Nisa dengan senyuman getir dan dihiasi dengan wajah pucatnya.


“Tentu saja, makanlah sekarang,” jawab ibunya, air matanya menetes di balik pintu kamar Nisa.


Ayahnya pulang lebih cepat hari, masalah baru telah tiba. Karena kekecewaan dari keluarga Dandy mereka memutus kerja sama dengan perusahaan ayah Nisa yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Hal pertama yang Bagas lakukan adalah mencari anaknya. Dilihatnya Nisa yang tengah terbaring di tempat tidur. Bagas membangunkan Nisa dengan kasar.


Tamparan kedua, kali ini begitu keras hingga mengeluarkan darah di sekitar bibirnya, Nisa hanya bisa menangis. Bagas menyeretnya keluar rumah dan mengusirnya.


“Cari laki-laki yang menjadi pilihanmu, kau sudah puas sekarang? kau bukan bagian dari keluarga ini lagi,” ucap Bagas.


“Papa jangan usir aku pa, buka pa buka,” teriak Nisa dari balik pagar rumahnya. Ibunya tidak bisa berbuat apa karena Bagas yang sudah mencegahnya. Setapak demi setapak Nisa melangkahkan kakinya, menyusuri jalanan tanpa alas kaki dan membawa apapun.