
Apalah daya hanya seorang bawahan, tidak bisa menolak jika atasan sudah mengeluarkan perintah.
Rey mengemudikan mobil dengan kesalnya, ia menggerutu di sepanjang jalan. Mencari tuxedo dan hair stylist sesuai perintah Ersin. Cukup memakan waktu yang lama, karena Rey tahu selera atasannya. Tiga set sudah Rey bawa, dengan warna yang berbeda. Dan sekarang giliran mencari hair stylist. Telepon Rey berdering, panggilan dari orang yang membuatnya kesal saat ini.
“Iya tuan muda?” Rey menjawab telepon.
“Sudah kau dapatkan tuxedo yang aku mau?”
“Tentu saja sudah tuan,” jawab Rey.
“Antarkan ke rumahku segera.” Perintah Ersin.
“Baiklah tuan, tapi saya belum memesan hair stylistnya,” ujar Rey.
“Tidak usah, aku tidak terlalu memerlukannya.”
“Baiklah tuan, saya akan segera kesana”
“Sebaiknya kau bilang begitu dari awal.” Tentu saja ia berbicara setelah panggilannya terputus.
Melanjutkan perjalanan ke kediaman Melvano, hatinya berharap agar tidak ada perintah lain lagi, supaya ia bisa pulang, menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya. Memasuki pintu utama, dengan tuxedo di tangannya.
“Selamat pagi pak Rey.” Salah seorang pelayan menyapanya. Semua orang di rumah ini mengenal siapa Rey.
“Dimana tuan muda? tanya Rey.
“Tuan sedang berada di ruang kerjanya pak Rey,” jawabnya.
“Saya akan kesana, terimakasih.”
“Iya silakan”
Menaiki satu persatu anak tangga, menuju ke ruang kerja Ersin. Mengetuk pintu terlebih dahulu, tapi tidak mendapat jawaban. Terpaksa Rey membuka pintu, tapi tidak mendapati Ersin disana. Pandangannya menyapu setiap ruangan. Pintu balkon yang terbuka,dan menampakkan bayangan seseorang disana.
“Tuan muda,” ucap Rey.
“Kau sudah disini.” Ersin menoleh, menghentikan aktifitas bacanya.
“Tuan ini ada beberapa pilihan, tuan bisa memilih jika tidak ada yang anda sukai, saya akan mencarikan lagi yang lain.” Sembari menunjukkan satu persatu.
“Apakah sudah sesuai dengan ukuranku?”
“Tentu saja tuan.” Rey meyakinkan.
“Berikan aku yang warna putih.” Ersin memilih tuxedo berwarna putih dengan bawahan hitam, lengkap dengan dasi kupu-kupu.
“Ini tuan, apa ada perintah lagi tuan muda?”
“Pulanglah, aku tidak perlu apa lagi.” Membuka kembali lembaran buku yang Ersin tutup sebelumnya. Rey pun berlalu meninggalkan Ersin.
“Terimakasih Rey, bulan depan kau akan dapat bonus, setidaknya kau mengatakan itu, bahkan kata terimakasih saja tidak ada, dasar presdir bodoh.” Mengumpat di depan pintu, dengan gaya yang lucu. Tapi Rey merasa lega, setidaknya ia tidak ada tugas lagi, dan bisa kembali ke rumah menikmati waktu bersama keluarganya. Tidak lupa ia mengeluarkan jurus ampuhnya, ponsel ia matikan supaya tidak ada yang bisa mengganggunya lagi meskipun itu Ersin.
Waktu yang ditunggu hampir tiba, satu jam sebelumnya Alina sudah bersiap, kali ini ia tidak seperti biasanya, bermake up lumayan tebal tapi tidak menor. Dress diatas lutut berwarna putih menjadi pilihannya, rambut yang panjang lebat ia biarkan tergerai dengn sedikit sentuhan curly yang menambah kecantikannya.
Fitri dan juga Dinda sudah sampai di rumah Alina, tiba waktunya mereka ke tempat pesta, ketiganya saling memandang kagum karena jarang sekali mereka berpenampilan seperti saat ini.
“Kau cantik sekali Lin,” ujar Fitri yang melihat sahabatnya.
“Kalian juga, ayo kita jalan,” balas Alina.
“Sudah siap, hati-hati ya nak,” ucap Mirna pada mereka bertiga.
“Iya bu, ayah Alina jalan ya.” Alina berpamitan.
“Bibi paman kami jalan ya,” ucap Fitri dan Dinda.
“Hati-hati ya sayang,” jawab pak Abi.
Disisi lain Ersin juga sudah bersiap, tuxedo yang Rey pilih memang pas di badan Ersin, menambah kesan wibawanya. Tidak buang waktu lama Ersin segera berangkat ke tempat acara. Ia tidak bersama supir tapi mengendarai mobilnya sendiri.
Alina, Fitri dan Dinda sudah berada disana, pesta yang megah, banyak sekali undangan yang hadir sebagian besar adalah teman kampus Adit dan Nisa, dan juga rekan bisnis dari ayahnya.
Mereka mendatangi Adit dan Nisa untuk memberikan ucapan selamat. Sedikit berbincang-bincang, kini mereka menuju ke meja yang kosong dan menikmati beberapa hidangan.
“Alina.” Fitri memanggilnya, tapi Alina tidak mendengar.
“Hey aku berbicara padamu dari tadi.” Menyentuh tangan Alina.
“Ehh apa kau bilang, aku tidak dengar.” Alina baru tersadar, perhatiannya tertuju pada ponselnya.
“Lihat itu siapa,” Fitri mengarahkan.
“Memangnya siapa?” jawab Alina.
“Bukannya itu Gilang kan, mantanmu dulu,” ujar Dinda.
“Dia tersenyum padamu Lin,” ujar Fitri. Gilang mendatangi meja mereka.
“Lama tidak bertemu, bagaimana kabar kalian?” tanya Gilang, pandangan yang lain ia berikan ke arah Alina.
“Kabar kami baik,” jawab Alina seperlunya saja.
“Iya, kakak bagaimana? sekarang masih kuliah kan?” tanya Fitri.
“Iya masih,” jawab Gilang.
“Dimana?” Giliran Dinda yang bertanya.
“Di Jogja, kalian pasti memilih kampus yang sama,” tebak Gilang.
“Iya tentu saja,” jawab Fitri
“Sudah kuduga, aku akan menyapa Adit terlebih dulu, nanti kita lanjutkan lagi.” Gilang meninggalkan meja mereka.
Ersin masih berbincang-bincang dengan pak Herlambang, dan pembisnis lainnya. Nama Ersin memang tidak asing di telinga mereka, anak dari pengusaha kaya, yang kini memiliki usahanya sendiri tanpa naungan dari nama besar ayahnya. Tidak sedikit investor yang ingin menjalin kerjasama dengan Ersin. Hanya raga Ersin yang disini, pikiran hanya menuju ke Alina, tapi ia merasa tidak enak jika pergi begitu saja.
Begitu banyak gadis yang memandang Ersin, bagaimana tidak ia lebih bersinar daripada Adit yang menjadi mempelai pria, Ersin lebih menjadi pusat perhatian karena ketampanannya. Akan tetapi Alina belum menyadari hadirnya Ersin disana.
Ersin hanya memandangi Alina dari jauh, melihat senyum Alina sedikit mengurangi rasa rindunya. Tatapan itu menajam, ketika pria yang sama kembali mendatangi Alina. Tidak dapat menahan diri lagi, langkah yang cepat menuju ke arah Alina.
“Alina.” Suara tegas itu terdengar, bukan hanya pemilik nama itu yang menoleh, bahkan orang disekitarnya juga.
“Kakak disini.” Memandang heran ke arah Ersin.
Gilang yang semula ingin dekat dengan Alina mengurungkan niatnya, ia terpaksa duduk di kursi lain. Fitri dan Dinda melihat Ersin tanpa berkedip.
“Boleh saya berbicara berdua saja dengan Alina.” Ersin bertanya kepada Fitri dan Dinda, bermaksud untuk meminta izin.
“Bo-boleh silakan,” ucap Fitri mendadak menjadi gagap. Ersin memandang Alina memberi kode, agar Alina mengikutinya. Alina berdiri, mengikuti langkah Ersin yang menuju ke luar dari pesta.
“Siapa laki-laki itu?” tanya Gilang tidak suka.
“Itu kekasihnya Alina.” Sesuka hatinya Fitri menjawab, Gilang terdiam, ternyata ia tidak punya kesempatan lagi.
“Sial, dia sudah punya kekasih,” gumam Gilang.
Ersin menuntun Alina ke tempat yang jauh dari keramaian. Ternyata ini adalah bagian dari rencana Ersin, semua sudah ia persiapkan. Menuju salah satu ruangan hotel. Alina merasa heran, apakah ini bagian dari dekorasi pesta atau apa, karena hanya ada mereka berdua, masih belum mendapat jawaban. Terdapat beberapa pelayan yang sedang menunggu.
''Semuanya sudah siap Pak Presdir'' ucap pelayan itu. Ersin menganggukan kepalanya.
“Duduklah” ucap Ersin. Terlihat Alina yang masih kebingungan.
“Kenapa kita kesini?” tanya Alina.
“Aku tidak suka ada yang menggangu, begini lebih bagus,” jawab Ersin. Inilah yang direncanakan Ersin, karena hotel ini adalah miliknya. Candle light dinner begitu orang menyebutnya, terdengar romantis, hanya ada mereka berdua dengan nuansa temaram lilin-lilin yang menerangi. Makanan sudah siap tertata diatas meja, menunggu sang pemilik untuk menikmatinya.
“Ini terlalu berlebihan kak,” ucap Alina, sebenarnya ia merasa sangat senang dengan kejutan ini.
“Tidak sama sekali,” jawab Ersin.
“Bagaimana kalau temanku mencariku?”
“Aku sudah mengurusnya, pelayan sudah memberitahu mereka, tidak usah menunggumu pulang, karena aku yang akan mengantarmu.”
“Jadi kakak sudah melakukan itu?”
“Tentu saja,” jawabnya tanpa merasa bersalah.
“Makanlah, bukankah tadi kau belum makan,” ucap Ersin. Alina bermaksud mengambil ponselnya tapi Ersin menghentikan itu.
“Aku akan memberitahu Fitri dan Dinda dulu,” ujar Alina.
“Alina itu tidak perlu, aku sudah mengurus mereka, sekarang taruh ponselmu”
“Baiklah kak.” Entah kenapa Alina menuruti ucapan Ersin. Mereka mulai menyantap makanannya.
“Terimakasih kak,” ucap Alina.
“Untuk apa?”
“Untuk ini, aku suka sekali.” Alina tersenyum ke arah Ersin. Seketika melupakan kekesalannya hari ini.
“Rasanya aku ingin mencium bibir itu,” batin Ersin.
“Siapa laki-laki itu?” tanya Ersin.
“Yang mana kak?”
“Yang bersamamu tadi.” Ersin menegaskan.
“Hem itu temanku dulu,” jawabnya ragu-ragu.
“Hanya teman?” Ersin belum puas dengan jawaban Alina.
“Mantan kekasih.” Merendahkan suaranya. Seketika suara dentingan di piring Ersin berhenti.
“Untuk apa laki-laki itu mencarimu?”
“Dia hanya menyapaku tadi, itu saja”
“Jangan terlalu dekat dengannya lagi, apapun alasannya.” Ersin sangat serius dengan ucapannya.
“Perlakuan seperti apa ini, apakah dia cemburu, hatiku berdebar tidak karuan, apa aku mulai menyukainya.” Alina bergumam.
“Kau mendengarku, jangan pernah dekat dengan laki-laki itu.”
“Kenapa?” Alina ingin tahu alasannya, sengaja memancing Ersin.
“Kau tidak tahu apa maksudku?” Ersin meneguk minumannya. Alina belum memberikan jawabannya.
“Ikutlah denganku.”
“Kita mau kemana lagi kak?” tanya Alina.
Ersin membuka pintu balkon, cahaya bintang menyinari malam dengan begitu indah. Ersin ingin menjadikan Alina miliknya seutuhnya.
“Listen to me, apa aku salah jika aku tidak suka kau bersama pria lain? bagaimana aku selama ini memberi perhatian kepadamu, kau belum mengerti apa maksudku hem? itu karena aku menyukaimu.”
Alina membisu, hatinya bergetar hebat, bukankah ini terlalu cepat.
“Aku ingin kau menjadi kekasihku, apa kau mau menerimaku?” Ersin mengungkapkan maksud hatinya.
Like, vote itu diharuskan ya readers😁
Thank you.