
“Kau sudah berani mengabaikan peringatanku sebelumnya, jangan kau berani menantang kesabaranku Alina!!” gertak Ersin dengan memukul setirnya.
“Itu tidak seperti yang kau bayangkan, kakak salah paham denganku.” Alina berusaha menahan amarahnya, jika ia ikut mengimbangi Ersin maka masalah tidak akan selesai.
“Sudah aku katakan itu hanya kebetulan kak, kenapa kau tidak percaya padaku?” Alina.
“Aku melihatmu dengan mataku sendiri, pria itu menyentuhmu.”
“Huhh terus kenapa jika gilang menyentuhku, apa hubungannya denganmu dasar posesif,” batin Alina, seandainya ia berani mengatakan itu, tapi sayang keberaniannya tak sampai pada tingkat itu saat ini.
“Bukan hanya pada pria itu, bahkan dengan pria manapun kau harus menjaga jarakmu, apalagi sampai kau biarkan mereka menyentuhmu seperti tadi, atau bahkan lebih dari itu, kau akan lihat sendiri bagaimana aku bertindak Alina.” Ucapan Ersin tidak main-main.
“Aku mengerti kak, jadi maafkan aku kali ini.” Alina memasang wajah yang menggemaskan, mencoba bersandiwara di depan Ersin. Jika melawannya dengan berargumen entah sampai kapan ini akan berlanjut.
“Sial aku ingin mencium dan menggit bibir itu.” Dalam benak Ersin tersirat hasrat yang tersembunyi. Sedikit mulai melunak, Ersin kini tidak setegang sebelumnya.
“Rupanya begini caranya meluluhkan hati pria ini,” batin Alina.
“Kakak tidak marah lagi kan?” tanya Alina.
“Tidak secepat itu, kau harus menuruti keinginanku saat ini,” bantah Ersin.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya balik.
“Temani aku makan siang,” jawab Ersin, mulai menghidupkan mesin mobil dan mulai melajukan mobilnya.
Terdengar suara bunyi pesan masuk dari ponsel Alina. Mulai mencari keberadaan ponsel yang ia simpan di dalam tasnya. Ersin begitu penasaran bahkan melebihi sang pemilik ponsel itu. Alina masih mencarinya diantara himpitan buku-buku yang ia bawa. karena ia memasukannya dengan begitu saja.
“Siapa itu?” tanya Ersin, tapi Alina masih sibuk dalam pencarian.
“Alina?” panggil Ersin lagi.
“Tunggu kak, bagaimana aku tahu dari siapa, aku bahkan belum melihatnya.” Alina sedikit kesal.
“Jika pesan itu dari pria yang tadi, akan ku lempar ponsel itu.” Alina menelan salivanya setelah mendengar ucapan Ersin. Semoga saja bukan dari gilang atau dari pria manapun. Jika tidak ponselnya akan melayang, ia tahu Ersin tidak akan main-main dengan ucapannya.
''Tuhan kali ini aku mohon berpihaklah padaku,” batin Alina. Ponselnya kini sudah ditangan, dengan ragu-ragu ia menyentuh layar benda pipih itu. Lega rasanya, setelah melihat kontak dengan nama Fitri cerewet dan ada bentuk hati di akhir tulisan. Bernapas lega, tapi tidak dengan Ersin, ia malah salah fokus dengan bentuk hati berwarna merah itu. Dengan sigap tangan kiri Ersin meraih ponsel Alina, dengan tangan kanan masih memegang kemudi.
Setelah melihat pesan secara keseluruhan, barulah ponsel itu Ersin kembalikan kepada pemiliknya. Ersin senang dengan isi pesan itu, Fitri membatalkan rencana mereka hari ini, itu berarti waktu Alina saat ini hanya untuk dirinya. Ersin bisa berlama-lama menikmati kebersamaanya dengan Alina tanpa perlu terburu-buru.
“Kau puas sekarang?” batin Alina.
Sejenak teringat, kenapa Ersin tidak mengecek siapa namanya dalam ponsel Alina. Hal sekecil itupun tidak luput dari benak Ersin. Jika sampai ada nama yang lebih spesial darinya, ponsel itu akan melayang di udara seketika. Nanti ia akan mengecek ketika mereka sampai di tempat tujuan.
“Jadi kau tidak akan sibuk hari ini, luangkan waktumu untukku.”
“Tapi kau kan harus bekerja,” ujar Alina.
“Aku bisa melakukan apa saja, aku bossnya disini, siapa yang berani melarangku,” ucap Ersin dengan sombongnya, tapi tetap saja terlihat menawan dan tampan.
“Ya ya kau bossnya disini semua bisa terjadi sesuai keinginanmu,” jawab Alina.
“Apa kau melupakan sesuatu Alina?” pertanyaan Ersin yang membuat Alina tertegun, karena ia masih berutang jawaban kepada Ersin.
“Hhmm rasanya tidak ada kak,” jawab Alina.
“Aku perlu mengingatanmu rupanya.” Senyuman menggoda oleh Ersin.
“Beri aku sedikit waktu lagi kak,” ucap Alina.
“Aku bisa menunggu asal kau jangan bertindak macam-macam dan tetap menjaga dirimu.”
“Aku akan mengingatnya, tapi kak jika aku sudah menjadi kekasihmu, hhmm aku tidak mau kau melarangku--” ucapan Alina dipotong.
“Tidak Alina, kau ingin bebas berteman dengan siapapun? tidak ada larangan kemanapun kau mau pergi, kau bisa melakukan apapun sesuka hatimu, begitu yang kau mau?”
“Jangan membuatnya emosi Alina, kendalikan dirimu,” batin Alina.
“Lalu aku harus menuruti semua keinginanmu?” tanya Alina
“Tanpa terkecuali!!” Ersin.
“Bukan aku yang pantas untukmu kak, kau harus bersama wanita yang memang bisa paham akan dirimu, aku takut jika aku tidak bisa seperti yang kau mau.”
“Kau bandingkan aku dengan laki-laki diluar sana yang lebih pantas bersamamu sedangkan aku tidak?”
“Darimana kata-kataku yang membanding dirinya, bodoh,” gumam Alina.
“Jika wanita lain bisa mengerti aku, kau pun harus bisa. Ini terakhir kali aku mendengar kata-kata itu dari mulutmu. Buang jauh-jauh pikiranmu yang tidak ingin bersamaku!” Alina hanya diam, ia menjadi semakin ragu akan hatinya terhadap Ersin. Apa jadinya hidup Alina jika bersama dengan pria ini. Mungkin ia akan lebih mendapat perlakuan posesif jika ia sudah menjadi kekasihnya.
“Jawab Alina, kau hanya akan menjadi milikku, jika aku tidak bisa, jangan harap kau bisa bersama orang lain.” Tanpa ragu Ersin mengatakan itu. Alina tertegun dengan kata yang diucapkan Ersin, ia menjadi semakin takut dengan Ersin. Bagaimana cara agar bisa lepas dari genggaman pria ini.
“Aku tidak tahu harus menjawab apa, kak tolong jangan memaksaku,” ujar Alina.
“Aku mununggumu bukan memaksamu.” Ersin menepikan mobilnya. Melihat itu Alina menjadi gusar, apa yang akan dilakukan Ersin selanjutnya.
“Kenapa berhenti kak?” tanya Alina. Kini mobilnya sudah menepi, jadi Ersin bisa leluasa berbicara dengan Alina tanpa harus terganggu dengan kendali kemudi.
“Lihat aku, tatap mataku Alina dan angkat kepalamu!” Alina masih menunduk dan tidak berani menatap Ersin.
“Aku ingin mendengar sendiri dari mulutmu, katakan jika kau tidak pernah menyukaiku sedikitpun. Cepat katakan, ulangi perkataanku!!”
“Kenapa kau menyuruhku mengatakan itu?”
“Kau tidak bisa? kenapa? sekarang coba katakan!” Alina menatap lekat wajah Ersin dan begitupun sebaliknya.
“Katakan kau tidak pernah menyukaiku dan tidak ingin bersamaku,” sambung Ersin lagi.
“Kak aku--” Alina diam lagi tanpa menyelesaikan kalimatnya. Ersin tersenyum melihatnya. Karena itu pertanda Alina memang menyukainya, begitu cara Ersin menguji perasaan Alina. Ersin menarik tubuh Alina untuk lebih dekat denganya, menahan tengkuk kepala Alina dengan tangan Ersin serta memeluknya. Ersin mendaratkan ciumannya, dengan begitu cepat hingga Alina tidak bisa menolak dan melawan karena Ersin sudah mengunci tubuh Alina dengan pelukannya.
''K-kakk'' terdengar suara samar karena himpitan dari bibir Ersin. Tangan Ersin ingin bergerak ke bagian bawah, merasakan itu Alina terperanjat dengan sentuhan Ersin. Tangan kanan Ersin meraba seat belt yang melingkari tubuhnya dan berusaha melepasnya, sekarang ia bisa leluasa tanpa ada gangguan di tubuhnya. Ciuman lembut itu berlangsung cukup lama, tangan nakal Ersin ingin menyentuh bagian lain tubuh Alina, belum sampai pada tujuan Ersin berhenti, ia masih bisa menahan, karena ia tidak mau menakuti Alina.
Memberi jeda sejenak karena terlihat sekali Alina sudah kehabisan napas. Masih dalam posisi yang sama, Ersin ingin memulainya kembali.
“Kak cukup,” ucap Alina, disaat wajah mereka beradu tanpa ada jarak sedikitpun, hingga hembusan napas Ersin bisa Alina rasakan.
“Tapi aku mau lagi,” ucapan Ersin membuat Alina bersemu, Ersin hanya mengecup bibir dan setelah itu berlanjut di kening Alina.
“Kau harus belajar lebih giat lagi agar bisa mengimbangi ciumanku.”
“Kakaaakkk,” betapa malunya Alina, karena benar ia sangat kaku dalam hal-hal seperti itu.