Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 46



Ersin terburu-buru kembali ke kantornya. Banyak hal yang tidak mampu ia pahami dalam kondisi ini. Hal yang sangat mengganggu pikirannya, ia masih penasaran dengan tujuan pak Abi yang ingin menemuinya, dan juga hal yang menimpa pak Abi apakah murni kecelakaan atau sebaliknya.


“Rey, Melani ke ruanganku sekarang!” ucapnya melalui sambungan telepon, ketika baru saja duduk di kursinya. Hanya beberapa saat mereka datang beriringan.


“Melani siapkan 2 set kebutuhan wanita dari ujung kaki sampai kepala, jangan ada yang kau lewatkan, satu jam dari sekarang aku mau semuanya sudah tersedia!” seru Ersin.


“Baik tuan,” jawab Melani, sebenarnya ia bingung dengan tugas itu, ia tidak tahu ukuran yang harus ia beli, melihat wajah raut Ersin ia menjadi ragu untuk menanyakan hal lain.


“Informasi apa yang kau ketahui tentang kecelakaan itu?” tanya Ersin.


“Ini adalah kecelakaan yang disengaja tuan, beberapa saksi pengendara dan juga orang sekitar melihat sebelum tabrakan terjadi, mobil pak Abi sempat dikejar oleh mobil hitam, dan sampai di jembatan mobil itu menabrak pak Abi sampai jatuh dari jembatan,” ujar Rey.


“Lalu bagaimana orang itu?” sambung Ersin.


“Sebelumnya sudah ada yang mengejarnya tapi mereka gagal, polisi juga kehilangan jejak, dan plat mobil sudah diselidiki tapi plat itu palsu tuan,” ucap Rey.


“Cari orang itu bagaimanapun caranya, aku ingin tahu apa motifnya mencelakai paman. Selidiki apa yang dilakukan pak Abi belakangan ini, kejadian apapun itu aku ingin tahu semuanya!” ucap Ersin.


“Baik tuan,”


“Aku tidak akan selalu ada disini, jadi urusan kantor aku serahkan padamu, aku hanya akan datang jika itu penting. Laporkan setiap detail pekerjaan padaku setiap hari, dan cepat kau selesaikan apa yang aku minta!”


“Iya tuan saya segera menyelesaikannya,” jawab Rey. Ia bergegas pergi, banyak hal yang harus Rey lakukan.


“Kau masih disini? kau tidak dengar waktumu hanya satu jam,” tegas Rey mengingatkan Melani. Ia masih berdiri di luar pintu ruangan presdir.


“Aku bingung apa yang harus aku beli,” ujar Melani.


“Astaga, cari ukuran gadis usia 19 tahun, dia lebih tinggi darimu sedikit dan ia memiliki postur tubuh yang ideal. Untuk ibunya, kurang lebih seukuranmu. Kau sudah paham?”


“Seharusnya hal seperti ini kan menjadi tugasmu, kenapa sekarang aku yang mengerjakannya?” gerutu Melani.


“Tugasku jauh lebih sulit darimu, kau pergi sekarang jangan buang-buang waktu disini.”


“Baiklah, masih banyak pekerjaanku tapi aku harus pergi berbelanja untuk orang lain yang tidak aku tahu. Jika untukku aku akan begitu semangat, tapi ini, bagaimana jika ukurannya tidak sesuai, bisa diterkam aku sama pak presdir.” Seraya melangkahkan kaki Melani ngengoceh tanpa henti.


Lain halnya dengan Ersin, pikirannya masih begitu rumit memecahkan misteri ini. Saat ini ia masih tidak dapat menerka apapun.


“Apa yang sebenarnya terjadi, aku rasa ada yang tidak beres, kenapa paman bersikukuh untuk aku menikah dengan Alina. Beda halnya dengan perjodohan waktu itu. Jika kecelakaan itu disebabkan seseorang.” Ersin diam sejenak.


“Tunggu, itu berarti mereka dalam bahaya, pantas saja ia ingin menikahkan putrinya, dan orang yang menabrak paman adalah kuncinya. Sampai aku mendapatkanmu, kau tidak akan aku biarkan hidup tenang.”


Tepat satu jam, barang yang Ersin minta berhasil Melani siapkan dengan penuh perjuangan. Untung saja pelayan toko membantunya dengan baik dan tanggap.


“Semuanya sudah lengkap tuan,” ucap Melani dengan begitu banyak barang.


“Letakkan saja, kau kembalilah pada pekerjaanmu,” jawab Ersin, melihat begitu banyaknya Ersin merasa kasihan terhadap Melani, ia membawa semua ini seorang diri. Karena takut ada yang terlewatkan, jadi ia membeli apapun secara detail.


“Terima kasih Mel,” sambung Ersin, sebelum Melani hendak keluar.


“Sama-sama tuan,” balasnya.


“Rasanya capekku hilang melihat senyumnya itu, tampan sekali,” dalam benak Melani. Karena jarang ia akan melihat senyum itu, dan mendengar ucapan terimakasih Ersin.


Ia sama halnya dengan Rey, sudah paham akan watak Ersin yang terkadang keras, jadi apapun yang ia inginkan harus sesuai dengan permintaannya. Saat ini Melani harus memperbaiki riasannya, lihat saja ia sekarang begitu lusuh, sampai-sampai heels yang ia gunakan tergantikan dengan sendal jepit biasa.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, sebelumnya Ersin sudah mengecek barang yang akan ia bawa. Kemungkinan tidak ada yang kurang, jika ia menyuruh Rey mungkin akan ada yang kurang, tetapi beda halnya dengan Melani, ia lebih paham dalam hal ini.


Sudah sampai di depan ruang dimana pak Abi dirawat, Ersin tidak langsung masuk, padahal pintu tidak tertutup sempurna. Dari sisi kaca yang ada di pintu, ia melihat sosok perempuan yang sangat ia sayangi. Mata sembabnya tak sedikitpun mengurangi paras cantiknya. Ersin ingin mendengar apa yang mereka bicarakan yaitu Alina dan ibunya.


“Menurut ibu apa Alina akan bahagia?” sambungnya.


“Dulu juga ibu menikah di umur yang tidak terlalu jauh darimu.”


“Alasannya bu?” Alina.


“Karena ibu merasa ayah adalah orang yang tepat, ia laki-laki yang sangat tangguh. Ibu mengagumi sosoknya yang pantang menyerah, dia lembut, pekerja keras.”


“Tapi Ersin tidak sebaik ayah,” jawab Alina. Orang yang dimaksud sedang memicingkan alisnya, disaat ia mendengar pernyataan Alina.


“Menurut ibu tidak, dia sama hebatnya dengan ayahmu, percaya dengan ibu. Kau jangan melihat hanya sisi buruknya saja.”


“Ceritakan lagi tentang ayah, Alina mau tahu perjuangan ibu dan ayah dulu.”


“Setelah uang kami cukup, Ibu menikah tanpa didampingi orang tua, itu yang sangat membuat kami sedih. Tapi disitulah ayahmu menjadi segalanya buat ibu, seorang suami dan teman hidup ibu. Ayah bekerja keras untuk bisa lulus kuliah saat itu, banyak juga yang mengejar ayahmu dulu. Apalagi ibu, walaupun ibu dulu hanya bekerja sebagai penjaga toko. Banyak laki-laki kaya yang ingin menikahi ibumu. Pilihan ibu tetap jatuh pada ayahmu.”


“Kenapa ibu tidak mau dengan laki-laki kaya itu?” tanya Alina.


“Ibu merasa sadar diri, anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan, ibu takut orang tuanya tidak bisa menerima ibu. Dan hal yang paling penting, ibu tidak menyukai satupun dari mereka, berbeda dengan ayahmu.” Mirna menghentikan ceritanya, ia tak sanggup lagi menahan tangis, terlintas kenangan disaat ia bersama suaminya dulu. Ketukan pintu membuyarkan mereka. Ersin merasa ini waktu yang tepat untuk masuk, agar mereka tidak larut lagi dalam kesedihan.


“Kakak,” ucap Alina.


“Mungkin kalian akan memerlukannya selama disini.” Ersin menaruh barang-barang itu.


“Tapi nak, kami bisa mengambilnya dari rumah, kau tidak perlu membuang-buang uang sebanyak ini.” Mirna takjub dengan banyaknya barang yang Ersin bawa.


“Kakak yang beli semuai ini?” tanya Alina.


“Hm aku dibantu sekretarisku,” jawab Ersin


“Terimakasih nak, kau begitu perhatian pada kami,” ucap Mirna.


“Iya bibi sama-sama,” jawab Ersin.


“Kalian mengobrol saja, biar aku yang membereskan ini.” Mirna merapikan barang bawaan Ersin.


“Kita mengobrol di luar, kau perlu udara segar,” ajak Ersin.


“Baiklah kak.” Mereka mecari tempat nyaman untuk berbincang.


“Jangan terlalu jauh, duduklah di dekatku.” Ersin tidak ingin ada jarak diantara mereka.


“Hanya duduk saja kakak begitu cerewet,” gerutu Alina.


“Aku cerewet?” tanya Ersin.


“Iya, kau sesuka hati mengaturku, kau terlalu posesif dan lagi cemburumu itu melebihi batas normal laki-laki, dan..” Alina ingin tertawa melihat ekspresi wajah Ersin.


“Masih ada?” tanya Ersin.


“Untuk saat ini aku rasa cukup segitu,” ujar Alina. Ersin lebih mendekat lagi, seketika Alina ingin merubah posisinya. Ia takut Ersin akan menciumnya disini. Ersin mendekatkan wajahnya, tapi bukan mencium. Ia ingin membisikan sesuatu di telinga Alina.


“Apa aku tidak sebaik ayahmu?” bisik Ersin.


“Kakak mendengarnya?” Alina terkejut, malu bukan main, kenapa bisa Ersin tahu ucapannya.