
Kediaman Melvano.
Ersin baru saja menginjakan kakinya di rumah, setelah kesibukan yang menyita waktunya. Semenjak pagi Ersin berangkat ke luar kota ke salah satu cabang hotelnya, karena ada urusan yang harus ia sendiri yang menangani. Ponsel yang mati kehabisan daya membuatnya tidak bisa menghubungi Alina. Tidak mendengar suara Alina hanya sehari sudah membuat Ersin rindu.
Papa dan mama sudah menunggu kepulangan Ersin. Ada hal yang ingin mereka sampaikan dan juga sekedar berpamitan kepada anak semata wayangnya itu. Besok mereka akan ke luar negeri untuk mengunjungi orang tuanya yaitu kakek Rendra dan istrinya. Karena memang sudah direncanakan sebelumnya.
“Ersin duduk dulu sebentar papa mau bicara,” ucap tama pada Ersin yang sekarang sudah duduk bersamanya.
“Ada apa pa?” tanya Ersin.
“Bagaimana pekerjaanmu?”
“Baik pa, masalah yang kemarin sudah aku selesaikan.”
“Bisa kau luangkan waktu untuk besok, papa mendapat undangan pernikahan dari kolega bisnis papa. Besok kan papa dan mama akan pergi mengunjungi kakek dan nenekmu. Kau bisa kan mewakili papa?”
“Apa itu penting sekali pa? rasanya aku malas untuk datang ke acara seperti itu,” tanya Ersin, tampaknya ia enggan untuk datang.
“Tentu saja nak, papa dan pak Herlambang itu sudah bekerjasama cukup lama, tidak baik rasanya papa tidak datang, setidaknya kau yang menggantikan papa.”
“Herlambang?” dengan spontan, rasanya ia pernah mendengar nama itu.
“Iya, tapi bukan Herlambang yang menikah tapi anaknya.” Papa menjelaskan.
“Baiklah pa aku akan pergi besok.”
“Kenapa kau tersenyum aneh begitu? bagaimana pengejaran cintamu?” tanya mamanya.
“Tidak apa-apa ma, aku baru tersadar akan sesuatu. Masalah itu, mama tunggu saja.” Ersin baru teringat jika nama belakang Adit adalah Herlambang. Dan yang paling penting, Alina pasti akan berada di pesta itu.
“Sampai kapan mama harus menunggu kabar baikmu?”
“Secepatnya ma,” jawab Ersin.
“Huh kau kurang gesit seperti papamu”
“Kenapa bawa-bawa papa ma?” Tama tidak terima dibanding-bandingkan.
Begitulah seterusnya percakapan mereka sampai makan malam tiba. Ersin masih belum menghubungi Alina, ia sengaja melakukan itu, entah apa yang ia rencanakan untuk Alina.
Pukul 6 pagi, Ersin sudah bersiap untuk mengantar mama dan papanya ke airport. Barang-barang yang akan dibawa sudah semua siap dalam koper. Satu bulan mereka akan menetap disana.
“Mama berangkat ya sayang, kau harus mendapatkan Alina secepatnya. Jika sampai mama pulang kau belum memiliki status apapun, mama tidak yakin kau adalah anak mama.” Tania mengejek anaknya.
“Kenapa aku memiliki mama yang sadis seperti ini.” Ersin memeluk mama dan papanya.
“See you next month,” ucap Tama dan masuk ke dalam bersama istrinya.
Ersin kembali mengemudikan mobilnya, hal biasa yang ia lakukan adalah menelpon Alina di pagi hari, tapi hari ini hal itu tidak ia lakukan. Tapi Ersin melakukan panggilan telepon, bukan untuk Alina melainkan untuk Rey assistennya.
Disisi lain seseorang sedang tidur pulas, tanpa ingin diganggu siapapun karena hari ini adalah weekend. Ponsel yang berdering sengaja ia abaikan. Hingga ponsel itu sudah berdering dua kali tapi tetap saja tidak digubrisnya.
“Sayang bangun, ada yang telepon sepertinya itu boss mu, namanya tuan muda.” Rey dibangunkan oleh istrinya.
Mendengar kata tuan muda membuat Rey kelimpungan, mata merahnya memandang layar ponsel dan benar saja ia mengabaikan bossnya itu.
“Mati aku.” Sedikit membuang nafas lalu mengangkat telepon Ersin.
“Selamat pagi tuan Muda apa ada yang anda perlukan?” Seketika ekspresinya berubah.
“Berani sekali kau mengabaikan teleponku, kemana saja kau?” Ersin merasa geram.
“Maafkan saya tuan, tadi saya menjaga anak saya.” Istri Rey memandang suaminya dan menggelengkan kepala. Rey memberi kode dengan jari telunjuknya di bibir, yang artinya harus diam dan bekerja samalah.
“Carikan aku tuxedo untuk malam ini, dan juga hair stylist.”
“Baik tuan muda, apa ada hal lain lagi?"
“Sialan, kau tidak tahu aku sedang menikmati hari libur, ahh aku bisa gila. Untuk apa dia mencari tuxedo, hal seperti itu saja harus aku yang mengurus. Seharusnya aku mematikan ponselku.” Merebahkan lagi tubuhnya ke kasur, bangkit lagi dan berjalan menuju kamar mandi hanya menggunakan kolor saja.
*****
Rumah Alina
Alina sedang gelisah dalam penantian, menunggu seseorang yang tak kunjung berkabar. Perasaan yang bimbang dan dipenuhi dengan tanda tanya. Haruskah ia yang memulai? tapi rasa ego yang selalu mengurungkan niatnya.
“Kenapa aku jadi berharap seperti ini, memang apa pentingnya dia.” Masih berguling-guling di atas kasur dengan ponsel di tangannya. Sudah merasa bosan akhirnya Alina turun ke bawah untuk sarapan.
“Biasanya belum bangun jam segini,” ucap ibunya.
Alina hanya duduk, tidak menjawab seperti biasanya.
“Alina kamu sakit?” tanya ibu, tidak biasanya anaknya diam begitu.
“Kenapa bu?”
“Hey apa kamu kurang tidur jadi tidak fokus seperti ini?” tanya ibu
“Tidak bu, Alin baik-baik saja. Alin mau roti bu selainya yang strawberry.”
“Anak ibu tidak seperti biasanya ini, hem ibu tahu pasti masalah si abang.”
“Ibu abang siapa lagi. Abang tukang bakso?” Alina heran.
“Abang jago, ampun bang jago, ya kan bu?” ujar suaminya sedikit menggoda.
“Nah itu sudah dijawab ayah.” Mereka tertawa.
Tiba-tiba suara ponsel berdering mengalihkan pikiran Alina, dengan cepat kilat tangannya meraih ponsel, ketika melihat nama penelponnya, hatinya redup kembali, tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
“Iya Din, ada apa?” ucap Alina.
“Lin nanti aku jemput ya, aku diantar supir, sekalian jemput Fitri juga,” ucap Dinda.
“Oke Din, jangat telat.”
“Siap, bye.” Panggilan sudah terputus.
“Mau kemana sayang?” tanya ayahnya.
“Teman Alina ada yang menikah yah, nanti pestanya. Dinda yang akan jemput Alina nanti sore.”
“Apa perlu ayah saja yang mengantar?”
“Nggak usah yah, kan ada supirnya, ayah tenang saja.”
“Baiklah, hubungi ayah jika ada apa-apa. Jangan pulang terlalu larut.”
“Iya yah, Alina mau ke kamar dulu ya”
Percuma saja menunggu tapi tetap saja tidak ada kabar dari Ersin. Alina berusaha mengalihkan pikirannya dengan hal lain. Ia masuk ke dalam bathtub, merendam diri dengan menuangkan bath foam, dengan wangi yang lembut. Berpikir hal itu akan membuatnya lupa dengan Ersin.
“Daripada aku terus memikirkan orang itu lebih baik aku berendam.” Menyandarkan kepala, menikmati musik yang sudah ia putar sebelum masuk ke dalam air. Cukup lama berendam memberikan sensasi yang segar di tubuh Alina. Sekarang ia beralih lagi mengoles lulur ke tangan, menggosok dengan perlahan dan melakukan hal yang sama di bagian tubuh lainnya.
Setelah ritual mandi berakhir, Alina mengecek kembali ponselnya. Hasilnya nihil, melempar ponsel itu ke kasur, benda itu rasanya tidak penting bagi Alina sekarang. Membuka lemari mengambil baju dan celana pendek yang akan ia kenakan.
Apa yang akan direncanaan Ersin ???
Stay tune
Happy reading😍