Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 42



Dentingan sendok dan garpu saling beradu, dengan obrolan-obrolan kecil di pagi hari yang cerah. Sungguh keluarga yang hangat. Sesuai rencana hari ini pak Abi akan bertemu dengan Ersin. Walaupun tempat dimana mereka akan bertemu belum ditentukan. Pak Abi memutuskan untuk menelepon Ersin ketika ia sudah disekolah saja agar tidak terdengar oleh istri dan anaknya.


“Alina nanti kau jangan makan diluar ibu akan memasak makanan kesukaanmu dan ayah.” Ujar Mirna pada putrinya sebelum meninggalkan meja makan.


“Baik bu,” jawabnya.


“Makasi ya bu,” sambung pak Abi.


“Iya yah. Sudah siap? ayo kita berangkat yah,” ajak istrinya.


Di sisi lain Ersin yang masih menunggu kabar dari pak Abi, sedikit tanda tanya dalam benaknya. Hal apa yang akan dibahas oleh pak Abi. Jika tentang bisnis, Ersin pun ragu akan hal itu. Karena bidang pekerjaan keduanya sangatlah berbeda. Mungkinkah tentang Alina? memikirkan itu membuat Ersin melebarkan senyumnya. Lamunannya disadarkan oleh orang kepercayaannya, sedikit kesal tapi mau bagaimana lagi.


Pagi ini adalah pagi yang sangat sibuk bagi presdir tampan itu, tapi pertemuan dengan calon mertua jauh lebih penting dari kesibukannya.


“Kebetulan kau datang Rey, hari ini mungkin aku akan sibuk ada hal yang harus aku kerjakan.” Ucap Ersin.


“Iya tuan saya sudah menyiapkab segala keperluan anda dalam pertemuan pagi ini dengan investor luar negeri”


“Bukan itu maksudku, aku percayakan semua padamu dan Melani. Ada hal lain yang jauh lebih penting yang harus aku tangani” Rey melongo mendengarnya.


“Tapi tuan, kita sudah menunggu berbulan-bulan untuk proyek ini. Apa yang akan dipikirkan nanti oleh investor jika anda tidak ada”


“Aku percaya kemampuanmu,” jawab Ersin dengan entengnya.


“Tolonglah kau pagi-pagi begini jangan berulah,” dalam benak Rey.


“Tuan pertemuannya kurang satu jam dari sekarang, anda bisa meluangkan waktu sebentar saja. Ini proyek yang sangat penting.” Mendengar itu Ersin sedikit berpikir, ia juga belum mendapat kabar dari pak Abi.


“Baiklah, bawakan aku dokumennya, aku ingin memeriksanya lagi.” Ujar Ersin. Rey masuk kembali setelah mengambil beberapa berkasuntuk meeting hari ini.


Sudah pukul 10 meeting berakhir dengan hasil yang memuaskan. Ersin mengecek ponselnya, satu panggilan tak terjawab 10 menit yang lalu. Ersin masih berada di ruang rapat saat itu. Karena suatu pekerjaan pak Abi belum menghubungi Ersin sebelumnya. Ketika akan menelepon, ponsel Ersin berdering kembali panggilan kedua dari pak Abi.


“Selamat pagi nak, apa paman mengganggu pekerjaanmu?” Ucapnya dari balik telepon.


“Tidak sama sekali paman, aku sekarang tidak ada kesibukan apapun.”


“Apa bisa kita bertemu sekarang?” tanya pak Abi.


“Tentu saja paman, paman kirim saja dimana alamatnya, aku akan segera kesana.” Ujar Ersin dan langsung menuju ke lokasi sesudah mendapat pesan dari pak Abi.


Mendengar itu, ada orang yang melotot beradu pandang satu sama lain. Siapa lagi jika bukan para sekretarisnya yaitu Rey dan Melani. Dibalik banyaknya pekerjaan presdirnya berkata tidak sibuk sama sekali. Mereka belum tahu, karena orang ini salah satu orang terpenting dalam sekenario perjalanan cinta Ersin dan Alina. Bagaimana tidak jika Ersin bisa melupakan pekerjaannya.


Satu jam berlalu, Ersin masih menunggu. Satu-satunya orang yang membuat Ersin menunngu begitu lama, jika bukan pak Abi Ersin tidak akan sesabar ini. Tiba-tiba ponsel Ersin berbunyi, ia mengira pak Abi tengah mencari keberadaannya, karena panggilan itu dari pak Abi. Ersin menjawabnya seraya berdiri supaya memudahkan pak Abi melihatnya. Tapi terdengar suara aneh dari balik telepon.


“Halo paman, paman dimana? halo?” tidak ada jawaban.


“Paman bisa mendengarku, paman?”


“Tolongg.” Suara pak Abi terdengar berat seperti menahan kesakitan. Pukulan keras terdengar, berasal dari sebuah benda yang entah apa Ersin tidak bisa menerka.


“Paman kau baik-baik saja, katakan sesuatu kau dimana aku akan mencarimu.” Sambungan terputus. Kembali Ersin menelepon tapi mendadak nomor pak Abi tidak bisa dihubungi. Ersin bergegas pergi, setelah mengirim pesan kepada Rey.


“Rey cepat kau lacak nomor itu, dapatkan lokasinya secepat mungkin. Kirimkan beberapa orang kesana jika sudah kau temukan tempatnya.” Hanya itu yang Ersin katakan pada Rey, dan pergi menyusuri tempat yang mungkin dilalui oleh pak Abi. Ia tidak mungkin berdiam diri sedangkan sesuatu mungkin terjadi kepada pak Abi. Entah itu sebuah kecelakaan ataupun hal lainnya.


Tidak lama Rey sudah mendapat lokasi terakhir dari sinyal ponsel pak Abi. Melihat itu Ersin paham pak Abi sedang memotong jalan, segera ia menuju kesana. Rey juga begitu tanggap, ia juga menuju ke tempat itu dengan beberapa orang yang sudah ia utus.


Dan benar saja sesuatu terjadi, tepat dengan lokasi yang ia cari. Terjadi kecelakaan dan membuat sebuah mobil terjatuh ke bawah jembatan. Beberapa orang telah ramai berada di pembatas jembatan. Sebagian dari mereka telah turun, melihat lebih dekat mobil yang terjatuh karena jembatan itu tidak telalu tinggi dan arus sungai yang dangkal.


Ersin mulai gelisah, semoga dugaanya salah. Setelah ia melihat sendiri ternyata benar korban kecelakaan adalah pak abi.


Tubuh pak Abi sudah berhasil dikeluarkan, dengan sekujur tubuhnya berlumuran darah.


“Bagaimana bisa kau sampai begini paman.” Ersin memeriksa denyut nadinya, jantung pak Abi masih berdetak, sedikit lega pak Abi masih belum meninggal.


“Hubungi ambulans cepat!!” teriakan Ersin keluar begitu saja, sebelumnya salah satu dari mereka telah memanggil ambulans.


Tidak lama Rey sampai di tempat kecelakaan, menyaksikan sendiri Ersin tengah merangkul seseorang.


“Tuan,” ucap Rey.


Tanpa pikir panjang lagi tubuh pak Abi di bawa naik oleh Ersin dibantu Rey dan juga yang lainnya. Dengan sangat hati-hati mereka membawanya.


Akhirnya ambulans telah tiba, diikuti dengan beberapa polisi. Para petugas ambulans dengan cepat mengeluarkan stretcher. Mengangkat perlahan tubuh pak Abi dan membawanya ke dalam mobil ambulans diikuti dengan Ersin yang mendampinginya. Pertolongan pertama sedang dilakukan, mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Pak Abi membuka sedikit mata dengan begitu beratnya.


“Ersin tolong jaga putri paman,” hanya itu yang pak Abi katakan, sebelum kesadarannya menghilang.


“Paman tidak akan terjadi apa-apa padamu, kau harus kuat demi putrimu paman.” Ersin telah lebih mengalami kehilangan seseorang yang berharga. Ia tidak bisa membayangkan seseorang yang teramat ia sayangi kehilangan seorang ayah.


Seseorang yang menyebabkan kecelakaan itu kini telah tersenyum lebar, setelah ia berhasil memenuhi keinginannya membuat orang yang ia benci mendapat penderitaan.