Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 28



Perjalanan cinta setiap insan memiliki alur cerita yang berbeda. Tidak selalu manis disetiap waktunya, akan ada berbagai warna yang menghiasi. Kebahagian akan beriringan dengan duka dan itu sudah pasti terjadi. Tetapi jika bersama orang yang tepat, segala duka bukanlah beban dan rintangan yang sulit untuk dihadapi. Hari pernikahan yang menjadi dambaan setiap pasangan, ungkapan sekali dalam seumur hidup, menua bersama, memiliki keluarga yang bahagia, itu akan selalu melekat ketika seseorang memilih pendamping dan memutuskan untuk bersama.


Segala persiapan sudah hampir selesai dilakukan, memang tidak mudah walaupun ada banyak orang yang membantu. Akhirnya bisa berada di titik ini, setelah apa yang mereka lalui sebelumnya. Adit dan Nisa akhirnya bersama, Tuhan sudah memberikan mereka kesempatan, walaupun bermula dari kesalahan. Sekarang saatnya membuktikan kepada semua orang, bahwa mereka tidak salah dalam memilih dan mengambil keputusan.


H-1 menuju hari bahagia, perasaan gugup, senang bercampur menjadi satu. Cukup melelahkan bagi Nisa dan Adit untuk mempersiapkan segala perlengkapan, dari memilih baju pengantin, tema pernikahan, memilih wedding organizer yang bagus sekaligus tempat melaksanakan acara, mereka hanya punya waktu 2 minggu untuk itu.


“Sayang bagaimana ini?” teriak Nisa.


“Kenapa?” Adit membukan handel pintu dan mendatangi Nisa.


“Bajuku kenapa jadi kecil begini, aku tidak bisa bernafas.”


“Lo bukannya waktu dicoba sesuai dengan ukuranmu,” jawab Adit, yang juga tidak paham kenapa hal ini bisa terjadi.


“Iya, tapi lihat sekarang, aku tidak mungkin memakai ini sepanjang acara bisa-bisa aku pingsan karena menahan perut.” Nisa mulai prustasi.


“Itu karena kau tidak mau berhenti makan, setiap saat harus selalu mengunyah.”


“Itu anakmu yang selalu lapar, jadi aku sebagai mamanya mana mungkin mau anakku kelaparan.” Nisa membela diri, semenjak kehamilan ia jadi tidak bisa mengontrol nafsu makannya.


“Ayo kita ke butik lagi, jika tidak bisa diperbaiki terpaksa kau harus memakai gaun yang lain.”


“Tapi aku mau ini sayang, tidak mau yang lain“


“Tapi sayang, lihat kau saja merasa tidak nyaman”


“Baiklah, kita ke butik sekarang”


Nisa dan Adit menuju ke butik tempat mereka merancang gaun pernikahan calon istrinya itu. Mereka saat ini sudah memutuskan untuk tinggal di hotel tempat dilangsungkannya acara.


Sampailah mereka di tempat tujuan, Nisa bergegas menaiki anak tangga menuju ruangan designer.


“Sayang pelan-pelan, kan aku tadi sudah menelpon pasti mereka sedang menunggu kita.”


“Aku sudah tidak sabar, semoga saja bisa diperbesar walupun hanya sedikit.”


“Tante Sara,” ucap Nisa.


“Pelan-pelan Nisa kau sedang hamil,” ujar Sara.


“Bisakan Tan bajunya diperbesar lagi,” tanya Nisa khawatir.


“Tentu saja bisa, jika kau bilang kau sedang hamil maka aku akan membuatnya sedikit longgar, ini tante baru tahu dari Adit.”


“Nisa malu tante. Ini terlalu pas tante, aku bisa saja memakainya tapi rasanya sangat sesak.”


“Itulah karena makannya banyak sekarang.” Adit menyela. Tante Sara adalah teman dari ibunya Adit, mereka sudah berteman semenjak remaja. Ia adalah seorang desainer yang cukup terkenal, dan ia juga menjalankan bisnis di bidang tata rias.


“Itu sangat wajar di awal kehamilan, daripada istrimu ngidam yang aneh-aneh dan susah makan, itu akan lebih menyulitkanmu,” ucap tante Sara ada benarnya juga.


“Kau dengar itu sayang, aku bukan tipe wanita hamil yang menyusahkan.”


“Iya, itu kenapa aku sampai keluar tengah malam karena calon istriku sedang lapar dan tidak bisa tidur.” Adit menyadarkan Nisa.


“Hehe, tapi kau suka kan aku repotkan sayang.”


“Tentu saja aku tidak berani membantah.”


Gaun Nisa sudah mulai dikerjakan, dan akan selesai tepat waktu.


“Kita kembali ke hotel, kau harus istirahat yang cukup untuk besok.”


“Tante Sara, maaf merepotkanmu. See you tomorrow.”


“Sayang aku lapar,” ucap Nisa dengan mengelus perutnya.


“Belum lewat 2 jam istriku sudah lapar lagi.” Adit menggelengkan kepala.


“Anakmu yang lapar sayang.” Nisa menjawab seperti biasa.


“Anak papa mau makan apa?”


“Mau pangsit goreng yang ada disana.”


Adit menepi, memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam restaurant Cina. Ternyata bukan pangsit saja yang Nisa pesan, bahkan hampir satu persatu menu ia pesan. Adit hanya bisa menurutinya.


“Aku kenyang sayang, salah-salah maksudku anakmu sudah kenyang,” ucap Nisa dengan senyumnya.


“Iya tahu, sudah bisa pulang kan sayang? tidak ada lagi yang mau kau makan?” Nisa menggelengkan kepala.


Disaat menuju pintu keluar Nisa mengenali seseorang yang ia kenal, orang yang dulu pernah dekat dengannya. Seketika dada Nisa bergetar, jika ada jalan keluar lainnya mungkin itu yang akan dilalui. Tapi tidak ada kesempatan lagi untuk menghindar.


Dandy bersama kedua orang tuanya, melewati Nisa begitu saja, hanya senyuman getir yang tersirat kepada Nisa dari bibir ibunya dan di balas Nisa dengan anggukan. Seolah tidak pernah ada kedekatan diantara mereka. Tempat ini memang sering dikunjungi keluarga Dandy dan Nisa sebelumnya, siapa menyangka jika secara kebetulan bisa bertemu disini. Adit menguatkan Nisa, meraih tangannya dan melanjutkan langkah mereka lagi.


“Tidak apa-apa, ada aku sayang,” bisik Adit di telinga Nisa.


Dandy menoleh ke belakang, melihat gadis yang masih ada dihatinya, bergandengan bersama pria lain.


“Wanita itu tidak pantas untukmu, kau berhak mendapat yang lebih baik.” Ibunya sadar akan Dandy yang melihat Nisa.


“Semoga laki-laki itu bisa menjagamu lebih baik dari aku.” Dalam hati Dandy berkata.


Di dalam mobil Nisa hanya diam, degupan jantungnya masih terasa kuat, rasa bersalah menyelimuti hatinya saat ini. Masih teringat kejadian tempo hari ketika ibu Dandy datang ke rumah Nisa dengan amarah. Keributan terjadi, karena apa yang ibu Dandy harapkan sia-sia selama ini. Ditambah lagi kabar pernikahan Nisa sudah mereka dengar, kemarahan orang tua Dandy semakin memuncak.


“Ini caramu memperlakukan anak saya, kau pikir anakku tidak bisa mencari wanita lain, sia-sia aku menyayangimu selama ini.”


“Tante maafkan Nisa tante.” Nisa tidak bisa berucap banyak. Cacian terus terlontar dari mulut ibunya Dandy, mengutarakan sakit hatinya.


“Cukup jangan kau hina lagi putriku, pergi dari rumahku.” Ibu Nisa sudah tidak tahan lagi mendengarnya.


“Mama sudah, biarkan Nisa memilih, ini bukan salahnya. Jangan memperbesar masalah lagi, aku tidak apa-apa ma.” Dandy datang menyusul ibunya.


“Nak Dandy maafkan anak tante, maaf kami sudah mengecewakan keluarga kalian. Apapun dan siapapun yang menjadi pilihan anak saya, itu yang saya terima, saya sebagai seorang ibu hanya ingin anak saya bahagia, bersama orang yang bisa membahagiakannya. Jadi Tari, tolong maafkan anak saya, saya harap anda tidak terus menyalahkan anak saya.” Ibu Nisa berusaha mendapatkan maaf dari Tari dan Dandy.


“Tante aku juga berusaha mengerti Nisa, dan aku juga sudah bisa menerima keputusan Nisa,” jawab Dandy.


“Mama sudah ya kita pulang,” ujar Dandy ke ibunya. Tari sejenak membisu, menyesali perkataannya ke Nisa, bagaimanapun ia sudah tidak bisa berbuat apalagi. Percuma ia menguras amarahnya disini, tidak akan ada yang berubah.


“Maaf saya sudah membuat keributan, Nisa tante doakan kau bisa bahagia.” Ucapan yang Tari lontarkan terlihat kurang ikhlas


“Maafkan Nisa tante,” ucap Nisa, perasaan bersalah menyelimuti benaknya.


“Iya, lupakanlah mungkin kau bukan jodoh anak tante. Maafkan perkataan saya tadi.”


“Tidak apa-apa tante Nisa paham.”


“Terima kasih Tari,” ucap ibu Nisa


“Iya, kami permisi.” Dandy dan ibunya kembali ke rumah. Sabar adalah cara yang terbaik saat ini yang harus mereka lakukan, walaupun kemarahannya belum mereda.


“Ini mungkin akan menjadi terakhir kalinya kakiku menginjak rumah ini.” Dandy bergumam.


Kejadian itu melintas lagi dalam pikiran Nisa, tanpa sadar Adit menyadarkan lamunannya, karena mereka sudah sampai di hotel.


“Sayang ayo turun,” ucap Adit. Mereka menuju kamarnya, Adit tahu calon istrinya tidak dalam kondisi hati yang baik.