Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 22



Tetesan air terjatuh dari langit, yang semula hanya gerimis lambat laun mulai menderas. Ersin termenung memandangi langit yang gelap. Mengenang masa lalu yang kelam, dibawah derasnya hujan.


Dalam hati berbisik “kakak merindukanmu.” Senyuman kerinduan terpancar di wajahnya.


“Ersin.” Terdengar suara memanggilnya.


“Mama.” Menyadarkan lamunannya.


“Kenapa duduk disini, udaranya dingin.” Duduk disebelah Ersin. Ersin merebahkan tubuhnya, tidur dipangkuan ibunya.


“Aku merindukan adikku, dia pasti sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik.” Belaian tangan ibunya menenangkan hati Ersin.


“Tentu saja anakku yang paling cantik. Erika selalu berada di dekat kita, dia disini, selalu berada di hatimu.” Dengan menunjuknya.


“Pernahkan Erika datang ke mimpi mama?” tanya Ersin.


“Sudah lama Erika tidak hadir dalam mimpi mama, mungkin Erika tidak ingin melihat mama bersedih, besok kita akan melihatnya.” Buliran bening mulai menggenang di pelupuk matanya.


Besok adalah hari peringatan kematian Erika, sudah 13 tahun ia meninggalkan keluarga ini. Tetap saja rasanya baru kemarin kepedihan itu dirasakan.


“Ma aku menginginkan gadis itu, bukan karena Erika, tapi aku sadar aku memang benar menyukainya.”


“Apa kau bersungguh-sungguh?”


“Aku mungkin sudah mencintainya, aku akan mendapatkan Alina secepatnya.”


“Kejarlah, mama akan selalu mendukungmu asalkan itu adalah kebahagianmu,” ujar ibunya.


“Ya benar aku sudah mencintaimu, aku mulai cemburu, teringat padamu setiap waktu, dan aku merindukanmu.” Ersin bergumam dalam hati.


*****


Hatchiii.. hatchiii


“Kamu mengagetkan ibu saja tiba-tiba bersin.” Ibunya terkejut.


“Padahal Alin baik-baik saja bu, kenapa tiba-tiba bersin ya?” Alina sambil tertawa, melihat ibunya terkaget.


“Bersin ya bersin, memang ada apa jika orang bersin, ada-ada saja,” ujar ibunya.


“Pasti ada yang menggosipkan Alin ini bu,” tebak Alina.


“Hhmm tidak boleh begitu, nah film koreanya sudah mulai, sudah jangan membahas bersin, kita nonton lagi,” ucap ibunya.


“Ada-ada saja ibu dan anak ini,” ucap pak Abi yang tertawa melihat tingkah anak dan istrinya.


“Hehe ayah percayakan yah kalau bersin berarti tanda ada orang yang membicarakan kita?” tanya Alina.


“Ayah juga kurang tahu hal macam itu, kalau bersin berarti ada orang yang membicarakan, nah kalau kamu kentut terus apa dong? ada yang menyukai begitu?” Alina dan ibunya sontak tertawa.


“Masak kentut sih yah, kalau kentut ya sakit perut yah atau lagi masuk angin,” ujar Alina


“Nah itu kamu tahu,” jawab ibunya, dan mereka tertawa bersama.


*****


Keesokan paginya Ersin sudah bersiap untuk ke makan Erika, baju kemeja putih melekat di tubuhnya, dengan lengan baju yang dilipat sampai disiku dan kaca mata hitamnya. Semakin menambah kegagahannya.


“Tuan muda persiapannya sudah selesai” ucap Rey.


“Kau tidak perlu mengantarku, kembalilah ke kantor, aku akan bersama orangtuaku,” jawab Ersin.


“Baiklah tuan.” Rey undur diri.


Setiap tahun Rey selalu melakukan hal yang sama, menyiapkan karangan bunga dan keperluan lainnya, dan beberapa bunga untuk ibunya Ersin. Dan seperti biasa atasannya itu tidak akan datang bekerja hari ini. Jadi ia yang akan menghandle urusan kantor bersama Melani assistennya.


Diperjalanan Ersin yang memegang kemudi, orangtuanya yang berada di kursi belakang. Sesekali ia melirik ke belakang melalui kaca yang ada di depannya, orang yang ia sayangi mungkin dalam kondisi yang kurang baik saat ini.


Sampailah mereka di depan makan Erika, makam itu sangat terawat memang sengaja mereka menyuruh orang untuk selalu merawat makan orang yang sangat mereka sayangi ini. Meletakan beberapa karangan bunga, dan juga karangan mawar putih karena Erika menyukai bunga mawar putih.


“Anak mama apa kabar? mama sama papa dan juga kakak datang mengunjungimu, kami merindukanmu.”


“Kau tahu sayang, kakak sedang jatuh cinta sekarang, dia menyukai seorang gadis yang sangat cantik. Tidak kalah cantik dari anak mama ini.”


“Siapa maksud mama? anak dari teman papa?” tanya Tama.


“Iya yang kita temui tempo hari,” jawab istrinya.


“Lalu untuk apa kau membatalkan perjodohan itu?”


“Tanpa perjodohan aku bisa mendapatkan gadis itu.”


Mereka mulai menghias makam Erika dengan berbagai bunga. Beberapa barang-barang yang Erika sukai dulu juga mereka pajang disana. Sudah cukup lama mereka disana akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.


“Erika mama pulang ya, kami akan selalu menyayangimu, Erika pasti melihat mama kan dari atas sana.”


“Ayo ma, sudah jangan menangis,” ucap suaminya.


Sesampainya dirumah, mama dan papa kembali ke kamar mereka mungkin hanya ingin menenangkan diri. Ersin masih menatap lekat mereka dari belakang. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, terbayang bagaimana dulu mereka disini bersama Erika. Dinding yang dulu dipenuhi foto Erika sudah tergantikan dengam hiasan lain.


Semua hal tentang Erika hanya berada di kamarnya, tetap masih terjaga dengan rapi, karena dulu kondisi kejiwaan ibunya terganggu, setiap ada hal yang menyangkut putrinya ia selalu menangis histeris. Terkadang sesekali silih berganti mereka masuk ke dalam kamar Erika.


Ersin mengambil ponselnya dan bermaksud menghubungi seseorang. Panggilan tersambung terdengar suara seorang gadis.


“Hallo,” ujar Alina.


“Kau dimana?” Ersin.


“Di kampus, ini siapa?” tanya Alina.


“Kau tidak mengenali suaraku?” Ersin.


“Kau kah itu, darimana kau mendapatkan nomorku?”


“Aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau, hanya nomormu saja tidak sulit bagiku.” Ersin


“Jadi ada apa kau menelponku?” Alina.


“Kau keberatan?” Ersin.


“Tidak, aku hanya bertanya.” Alina.


“Aku akan menjemputmu pulang dari kampus.”


“Aku bawa motor, tapi untuk apa kau menjemputku?”


“Kita makan siang, tidak perlu khawatir, ada yang akan mengurus motormu. Sampai jumpa.” Ersin memutus panggilannya.


“Hey tunggu, kenapa kau langsung memutus teleponnya kau pikir aku mau,” gerutu Alina.


“Siapa Lin?” tanya Fitri.


“Itu laki-laki yang aku ceritakan tempo hari,” jawab Alina


“Dia bilang apa?'' tanya Fitri lagi.


“Dia ingin menjemputku dan mengajakku makan siang,” jawab Alina kesal.


“Benarkah, berarti kita bisa melihatnya nanti Din, ahh aku nggak sabar,” ujar Fitri.


“Kenapa kalian yang senang?” tanya Alina.


“Setidaknya kami tahu wajah orang itu Lin, memangnya kau tidak senang?”


“Tentu saja tidak, entahlah aku malas bertemu dia.”


“Apalagi sekarang, kemarin dia salah paham denganku,” batin Alina, ia hanya takut kejadian lalu terulang kembali. Dam sampai sekarang ia tidak memberitahu hal itu pada Fitri dan Dinda.


Alina sedikit gugup melangkahkan kakinya ke luar, seandainya ada jalan keluar lain mungkin ia akan kabur dari sana. Tapi mana mungkin bisa, Ersin bisa melakukan apa saja, dan kata-katnya masih terngiang di telinga Alina.


Alina memandang sekelilingnya ia tidak menemukan Ersin disana. Pintu sebuah mobil sport terbuka menampakkan pemiliknya.


“Alina ada apa denganmu? kau mau kemana?” ujar Fitri, karena sahabatnya itu seketika memutar badan dan berbalik arah.


“Fit Fit lihat ada pria tampan ke arah kita?” ucap Dinda.


“Dimana dimana Din?” Fitri begitu antusias.


“Itu Fit,” jawab Dinda


“Itu siapa ya, apakah dosen baru? astaga baru aku percaya ternyata memang ada ciptaan tuhan yang paling sexy, ehh salah tampan maksudku.” Fitri terpesona melihat Ersin. Alina hanya memalingkan mukanya.


“Alina,” ucap Ersin.


“What dia panggil siapa tadi, Alina?” ucap Fitri.


“Kau mengenalnya Alina?” tanya Dinda.


“Itu yang aku bilang tadi, dia orangnya,” jawab Alina. Dinda dan Fitri saling memandang, mereka tidak habis pikir jika orang yang Alina maksud setampan ini.