
Sudah dua hari Nisa tinggal di apartement milik Adit. Semenjak kepergiannya dari rumah, belum ada seorangpun yang mencarinya. Kesedihan tersirat pada raut wajah Nisa, disaat seperti ini justru orang terdekatnya yang paling menaruh kebencian terhadap dirinya. Sudah terlambat untuk menyesali keadaan, Nisa pasrah dengan apapun yang akan ia terima. Karena kesalahan yang sudah Nisa perbuat teramat sangat fatal.
“Sayang kenapa menangis?” tanya Adit, melihat lekat wajah Nisa.
“Aku tidak mau terus seperti ini Dit, aku bisa terima jika Dandy dan orangtuanya membenciku, memakiku, menghinaku bahkan apapun itu. Tapi orangtuaku, aku tidak mau Dit.” tangisan Nisa pecah.
“Siapapun itu termasuk kedua orangtuamu tidak bisa menyakitimu lagi. Aku akan menikahimu walaupun ada atau tanpa restu dari orangtuamu.”
“Jangan seperti itu, aku sudah salah sejauh ini, setidaknya aku harus mendapat restu dan maaf dari mereka.”
“Aku mengerti sayang, aku akan melakukan apapun demi anak kita. Kau mau kita ke rumahmu lagi?” tanya Adit.
“Akankah mereka menerimaku?” Nisa merasa ragu.
“Jika hari ini mereka menolak, kita datang lagi setelahnya, sampai mereka memaafkan kita.”
“Iya kau benar,” jawab Nisa.
Flasback.
Pertemuan yang mendebarkan, Nisa memutuskan untuk menemui kekasihnya bersama Adit. Mereka sudah lebih dulu berada di sebuah cafe menunggu kedatangan Dandy. Adit yang mendesak Nisa agar cepat memutuskan hubungan dengan kekasihnya itu. Nisa memegang tangan Adit, sungguh hatinya bercampur aduk, ia akan memutuskan hubungan yang sudah lama ia jalani. Cukup lama menunggu, Dandy tiba dengan terburu-buru.
“Sayang sudah lama ya?” ucap Dandy masih berjalan menuju ke tempat Nisa. Dengan reflek Nisa melepaskan genggaman tangannya. Adit mendelik tajam ke arah Nisa.
“Maaf membuatmu menunggu,” ucap Dandy sembari mencium kening Nisa. Adit yang menyaksikan itu, sungguh merasa tidak nyaman. Kini mereka sudah duduk bertiga.
“Tidak apa-apa,” jawab Nisa.
“Apa kabar? aku kira Nisa sendiri, ternyata ada kau juga,” ucap Dandy pada Adit. Dandy memang tahu jika kekasihnya berteman sudah lama dengan Adit.
“Iya, aku datang bersamanya. Dan juga ada hal yang ingin kami beritahu padamu,” ucap Adit penuh penekanan.
“Ada apa sayang? kau tidak pernah membahas ini sebelumnya” tanya Dandy.
“Maafkan aku Dandy,” ucap Nisa tanpa berani menatap Dandy.
“Untuk apa kau meminta maaf? lihat aku, angkat kepalamu!” Dendy membelai rambut Nisa.
“Kami telah bersama,” ucap Adit.
“Aku tahu kau lama mengenal kekasihku,” jawab Dandy.
“Tapi kami lebih dari itu, lebih dari seorang teman,” jawab Adit. Suasana mulai mengcekam.
“Tutup mulutmu.” Dandy mulai meninggikan nada suaranya.
“Jelaskan semuanya, aku tidak butuh omong kosong temanmu ini. Angkat kepalamu dan bicara!!” Adit membentak Nisa.
“Dia benar, aku telah membohongimu. Kami telah lama menjalin hubungan. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Dan aku tidak bisa melanjutkan pertunangan denganmu. Maaf aku tidak bisa menahan lagi. Jangan salahkan aku, lebih baik kita berhenti sekarang sebelum kita terlalu jauh.” Akhirnya Nisa berterus terang setelah sekian lama.
“Kau sadar apa yang kau katakan, tiga hari lagi acara pertunangan kita dan kau seenaknya tidak ingin melanjutkan pertunangan? kau tahu betapa ibuku mendambakan semua ini, dia sibuk mempersiapkan segalanya. Jadi laki-laki ini alasanmu selama ini? harusnya kau katakan lebih awal padaku.”
“Aku tahu aku salah, aku tidak mau menyakiti kedua orangtua kita. Aku tidak bisa mengatakannya.”
“Kau pikir sekarang semua akan baik-baik saja? tidak ada yang tersakiti sekarang? itu maksudmu?”
“Aku tidak butuh penjelasanmu, kau laki-laki tidak punya otak. Kau tidak mampu mencari seorang wanita, bahkan mencari seseorang yang sudah punya kekasih? sungguh rendah kualitas dirimu.” Dandy mencengkram kerah baju Adit. Ia hendak melayangkan pukulannya. Tapi Nisa meraihnya.
“Jangan Dandy, jangan, pukul aku saja, aku yang bersalah disini.” Nisa memegang lengan Dandy. Semua mata tertuju pada mereka. Dan beberapa staf bermaksud untuk melerai perkelahian itu.
“Pukul aku pukul, kenapa kau diam, aku siap menerima apapun perlakuanmu.” Adit menyerahkan dirinya.
“Tolong lepaskan Dandy, aku tahu kau bukan orang seperti itu.” tangan Dandy melepas cengkramannya.
“Nisa cukup, lepaskan tanganmu!! ini tidak berarti apa-apa bagiku,” ujar Adit.
“Apa salahku? dimana kekuranganku selama ini padamu?” Kini Dandy beralih kepada Nisa.
“Kau baik, baik sekali, tidak ada kekurangan apapun pada dirimu, hanya aku yang tidak baik untukmu. Maafkan aku, hanya itu yang bisa aku katakan, dan sampaikan juga maafku kepada orangtuamu. Terimakasih waktumu selama ini untukku. Tolong maafkan aku.” Air mata Nisa sudah menetes. Adit menarik lengan Nisa dan membawanya keluar.
Dandy begitu merasa frustasi, hari yang ia takutkan pun datang. Kecurigaannya membuahkan hasil, Dandy sebenarnya sudah menyelidiki Nisa belakangan ini, dan ia tahu kebenarannya. Tetapi ia menepis semua itu mengingat pertunangannya sebentar lagi dan ia tidak mau kehilangan Nisa.
“Aku memberimu kesempatan karena aku kira kau merasa bosan denganku, aku pikir itu hanya sesaat dan kau akan kembali lagi padaku. Ternyata aku tidak bisa memilikimu lagi.” Mengacak rambutnya, tanpa sadar buliran bening membasahi pipinya. Begitu sakit yang ia rasakan, dan ia harus siap untuk memberi kabar orangtuanya. Betapa kecewa dan malunya mereka.
Nisa terisak di dalam mobil, Adit hanya diam, dan membiarkan Nisa menangis, mungkin Nisa membutuhkan waktu. Wajar saja selama ini memang Dandy selalu baik dan perhatian padanya. Tapi hatinya tidak berkompromi dengan semua itu, jika memang bisa memilih yang terbaik untuk apa harus menyakiti orang untuk apa harus mendatangkan masalah.
Setelah merasa tenang, mereka memutuskan ke rumah Nisa. Hal yang tak kalah menakutkannya. Kekhawatiran Nisa meningkat, ini akan lebih menyakitinya. Ia berusaha menyembunyikan kehamilannnya dari Dandy, tetapi ia tidak mungkin jika menyembunyikan itu dari orangtuanya. Bisa saja mereka tidak memberikan izin untuk menikah. Tetapi kandungan Nisa tidak akan bisa disembunyikan lebih lama lagi. Tidak ada pilihan, mereka akan tetap memberitahu orangtua Nisa.
Sampai di depan pintu, Nisa enggan untuk masuk. Bagaimana mungkin ia merasa takut memasuki rumahnya sendiri. Tubuhnya gemetar hebat, perlakuan seperti apa yang akan ia terima nantinya. Bayangan kemarahan ayahnya sudah memenuhi otaknya, rasanya ingin membatalkan niat itu, tapi cepat atau lambat tidak akan merubah apapun.
Nisa memasuki rumahnya, hanya ada ibunya disana.
“Kenapa diam disana bawa masuk temanmu!” ucap ibunya.
“Ma dimana papa?” tanya Nisa
“Belum pulang, mungkin sebentar lagi papa sampai. Sini ajak duduk temanmu, mama suruh bibi buatkan minuman.”
“Terimakasih bibi,” ujar Adit, ia pun tak kalah gugup bercampur takut. Tapi ia harus bisa melakukan ini.
“Kenapa wajahmu pucat sekali? kau sakit? mama akan panggilkan dokter.”
"Tidak ma. Nisa akan menunggu papa ma"
“Kau ada masalah dengan kuliahmu?” Nisa menggeleng.
“Beritahu mama yang jelas ada apa?”
“Iya, nanti juga mama tahu.”
Kekecewaan yang teramat dalam akan Nisa torehkan kepada mereka sekarang, dalam sekejap situasi ini akan berubah.
LIKE LIKE LIKE
COMENT
THANK YOU😘😘