
Setelah kepergian mobil Ersin, Alina hendak memasuki rumahnya. Terdengar suara pak Abi di halaman samping rumah, ketika ia akan membuka handle pintu. Alina mengira ayahnya tengah berbicara dengan seseorang. Karena suara pak Abi yang terdengar sarkas, seperti sedang beradu mulut dengan seseorang. Alina penasaran dengan siapa pak Abi berbicara, tidak biasanya pak Abi seperti itu. Hanya beberapa langkah, Alina ingin mendekat ke sumber suara, ia ingin mendengar lebih jelas lagi.
“Ayah bicara dengan siapa tadi?” tanya Alina.
“Ayah sedang bicara dengan teman ayah di telepon.” Pak Abi menjawab dengan sedikit gelagapan.
“Tapi kenapa ayah marah-marah, memang ada apa yah?”
“Marah-marah? tidak ada ayah marah-marah sayang. Ayo kita masuk nak, ibu sudah menunggumu di dalam.” Pak Abi mulai mengelak.
“Alina dengar sendiri yah,” tegasnya.
“Kau salah dengar nak, untuk apa ayah berbohong.” Pak Abi membawa putrinya masuk, sekedar mengalihkan pembicaraan.
“Aku merasa ada yang aneh dengan ayah,” batin Alina.
Ibu sudah menunggu kedatangan mereka, semua makanan sudah ia siapkan diatas meja makan. Semenjak suaminya pernah sakit karena keracunan makanan, Mirna selalu memasak dengan teliti, kebersihan setiap bahan makanan sangat ia perhatikan, karena ia tidak mau sakit pada suaminya terulang kembali.
“Ibu Alina pulang.” Mencium telapak tangan ibunya.
“Cepat duduk kita makan,” jawab ibunya.
“Tapi Alina masih kenyang bu, tadi makan diluar bersama kak Ersin.” Ibu dan ayahnya secara bersamaan menoleh ke arah putrinya.
“Ersin sayang?” tanya ibu meyakinkan lagi. Alina hanya menganggukan kepala, seraya mengunyah gorengan yang baru saja ia ambil.
“Ternyata putri ayah sudah sedekat itu,” ucap pak Abi.
“Kenapa Alin tidak pernah cerita, rasanya ibu seperti dihianati oleh anak sendiriu” ujar ibunya tidak terima karena tidak tahu apapun.
“Bagaimana Ersin menurut ayah dan ibu?” tanya Alina, sambil mengunyah gorengan yang baru saja ia ambil.
“Ersin sudah dewasa nak, dia bukan anak remaja lagi, dan ibu lihat Ersin anak yang sopan dan baik, kau ingat dari caranya ingin melamarmu dihadapan kita dan juga keluarganya,” ucap Mirna.
“Tapi kenapa ia membatalkan perjodohan denganmu? Ini tidak masuk akal, lalu sekarang ia mendekati putriku lagi,” ucap pak Abi.
“Ayah pasti Ersin punya alasannya sendiri,” sambung istrinya.
“Apapun alasannya, aku tidak akan setuju jika dia berani main-main dengan anakku” suara pak Abi mulai meninggi.
“Tunggu dulu, Alina apa kau dan Ersin sudah menjadi kekasih?” tanya ibunya.
“Belum bu, Alina masih ingin mengenalnya lebih lama,” jawabnya.
“Ayah selalu menasihatimu, itu untuk kebaikanmu, kau bisa membedakan baik dan buruknya sikap seseorang terhadapmu.” Suara pak Abi yang terdengar datar.
Alina merasa bingung dengan sikap ayahnya, ia terlihat memendam amarah. Bukan seperti ayahnya yang selalu tenang dan berwibawa. Siapa orang yang berbicara dengan ayahnya di telepon tadi, sehingga membuat pak Abi menjadi tidak terkendali seperti ini. Alina tidak mungkin bertanya lagi kepada ayahnya, karena sudah jelas ia tidak akan mendapat jawaban yang ia mau. Selesai dengan makanannya, Alina menuju ke kamarnya sekedar beristirahat. Alina hampir saja lupa dengan tugas kuliah yang ia lewatkan karena ia pergi bersama Ersin.
Segera ia menghubungi Fitri dan Dinda, karena besok tidak banyak mata kuliah, jadi tugas yang tertunda akan mereka kerjakan besok. Setelah pembicaraan panjang lebar, dan tak lupa mereka mengulik sampai dimana perkembangan hubungan Ersin dengan sahabatnya. Disertai juga kejahilan-kejahilan dari Fitri yang membuat tawa Alina terdengar sampai di lantai bawah.
“Alina kau belum jujur pada kami, apa om tampan sudah pernah menciumu?” tanya Fitri begitu penasarannya.
“Kecilkan suaramu, ibu dan ayahku bisa mendengar dari bawah.”
“Kau pikir mulutku ada pengeras suaranya, kenapa kau malu-malu Alina, bagaimana rasa lidah om tampan itu? manis, asam, gurih?”
“Kenapa kau ingin tahu sekali Fit,” sambung Dinda.
“Apa kau tidak penasaran Din?” tanya Fitri.
“Dengar ya kalian, dengarkan aku baik-baik, buka gendang telinga kalian lebar, aku dan Ersin sudah... ” Alina diam sejenak.
“Sampai jumpa besok, byee.” Alina menghilang dari layar ponsel mereka, yang tersisa hanya wajah Fitri dan Dinda.
“Hey awas kau Alina, besok aku tidak akan melepaskanmu,” geramnya Fitri, tetapi Dinda malah menertawakan Fitri yang tengah kesal.
“Kau sudah puas kan Fit? itulah kau berkaitan dengan hal mesum otakmu selalu saja nomor satu.”
“Diam kau Din, jangan lupa jemput aku besok, aku tutup ya bye.”
“Baiklah, bye.” Mereka mengakhiri panggilan videonya.
Kekesalan pak Abi tidak berakhir begitu saja, beberapa hari ini ia merasa tenang karena tidak ada teror yang mengganggunya. Tapi tiba-tiba orang itu memperingatkan pak Abi untuk berhati-hati karena ia akan terus mengintai dan akan mengetahui apapun rencana pak Abi untuk mengelabuinya. Pak Abi hanya takut, jika penjahat itu sampai mencelakai istri dan anaknya. Yang paling ia takutkan adalah jika putri satu-satunya yang akan menjadi incaran orang itu jika ia tidak dapat mencelakai pak Abi.
“Tuhan tolong lindungi kami, jauhkan bahaya dari istri dan anakku.” Dalam benak pak Abi.
“Ayah kenapa melamun, itu tehnya sampai dingin tidak ayah minum.” Istrinya menyadarkan lamunannya.
“Maaf ya bu, sekarang ayah minum.” Meneguk tehnya, yang memang sudah tidak ada rasa panas sama sekali. Pak Abi merasa bimbang apakah ia harus menceritakan tentang apa yang ia alami selama ini, penjahat yang selalu mengintainya. Ia akan menambah ketakutan dan beban pikiran kepada istrinya.
“Tidak, aku tidak boleh menceritakan itu pada Mirna. Apa aku minta bantuan saja pada Ersin, setidaknya dia bisa melindungi putriku.”
“Ayah melamun lagi,” ujar istrinya.
“Tidak bu, ayah mau melihat Alina dulu tadi ayah sedikit marah padanya.” Baru teringat jika ia sudah marah tidak jelas kepada putrinya.
Pak Abi melihat Alina sudah tertidur, ia memandang lekat ke arah putrinya, bersamaan dengan potret Alina kecil yang melekat menghiasi dinding-dinding. Perasaan akan takut kehilangan seorang putri menyeruak menyelimuti benaknya. Apa jadinya jika putri kesayangannya mengalami nasib yang sama seperti gadis-gadis lainnya, yang sampai saat ini tidak diketahui dimana keberadaanya.
“Alina adalah segalanya buat ayah nak, apapun akan ayah lakukan untukmu.” Balam benak pak abi. Lalu ia mengambil ponsel Alina, dan menempelkan layar ponsel ke jari Alina, supaya ponsel itu bisa terbuka. Pak Abi segera mencari kontak Ersin, dan menyimpan nomor itu di ponselnya sendiri. Hanya Ersin yang saat ini bisa membantu untuk melindungi putri dan istrinya, jika sesuatu yang tidak terduga terjadi pada dirinya. Setelah itu pak Abi mengecup kening putrinya dan berlalu meninggalkan Alina.