
Tak hentinya ia mengagumi keindahan alam yang ada di depan matanya. Segalanya tampak indah, jika Gea tidak mengingat dibalik layar mengapa ia bisa disini dan menyaksikan dataran hijau ini. Di balik pintu gerbang yang tertutup rapat, hanya satu orang yang bisa membuka gembok tersebut. Kini orang itu telah tiba, perlahan memasuki rumah, Gea hanya menyaksikan tanpa ekspresi. Sandiwara akan dimulai lagi, begitulah terbesit dalam benaknya.
“Sayang kau sedang menungguku?” ucapnya, Gea hanya menganggukan kepala dan memberikan senyuman simpul.
“Aku merindukanmu.” Memberikan pelukan hangatnya. Ia pria yang hangat, tapi psikopat tetaplah psikopat. Gea tak bersuara, ia hanya menikmati pelukan itu. Jika tidak begitu, ia akan menimbulkan masalah.
“Ada apa sayang? katakan padaku!” ujarnya, ia mulai sadar akan sikap Gea.
“Aku ingin ikut bersamamu, aku takut terus sendirian disini,” ucap Gea.
“Aku tidak meninggalkanmu sampai malam, tidak ada yang perlu kau takutkan. Tidak akan ada orang yang bisa datang kemari.” Jawaban yang tidak diinginkan Gea. Pantas saja sekian lama ia menantikan orang melintas, tetap saja hasilnya nihil.
Gea berpikir untuk bisa kabur dari tempat ini, ia takut gegabah, dan pada akhirnya akan kembali ke tempat semula yang lebih mengerikan. Maka dari itu pelan-pelan tapi pasti, ia harus mempunyai rencana yang matang. Sekali menjalankan rencana, ia harus bisa lepas dari genggaman pria ini. Bagaimana cara agar ia bisa keluar dari hutan ini, sepertinya butuh waktu agar ia bisa menemukan jalan, itupun jika ia tidak tersesat. Sayang sekali ia tidak dapat menemukan penduduk di sekitar tempat ini.
“Aku bosan hanya melihat semua ini setiap hari, sayang bawa aku berbelanja,” pinta Gea.
“Beri aku waktu, aku janji akan membawamu pergi jalan-jalan.”
“Aku tidak bisa menunggu terlalu lama, aku akan marah jika kau membuatku bosan setengah mati,” rengek Gea.
“Tidak akan sayang, temani aku memasak, sebentar lagi makan malam,” ajaknya.
Gea hanya melihat betapa lihainya pria ini dengan urusan dapur, ia tak pernah membiarkan Gea membantunya. Hanya dengan adanya Gea dan ia bisa melihatnya itu sudah lebih dari cukup. Apapun yang ia masak juga tidak buruk, dan bahkan ia akan bertanya makanan apa yang Gea sukai, hal yang paling penting adalah semua yang ia lakukan semata-mata untuk menyenangkan hati Gea.
“Seandainya kau pria normal pada umumnya, tidak bisa kupungkiri aku akan jatuh hati padamu. Bagaimana reaksimu jika aku kabur dari sisimu. Jujur saat ini pun aku sudah merasa bimbang tentang perasaanku padamu. Tidak itu tidak boleh terjadi, aku akan pergi dan tidak ingin melihatnya sekalipun.” Dua sisi dalam benak Gea mulai beradu argumen, disisi lain ia kembali pada tujuan awalnya, tapi perasaan dan hatinya mulai luluh seakan ingin berhianat.
“Sayang kau terus saja melihatku.” Ia menyadari pandangan Gea.
“Aku merindukanmu,” jawab Gea, pria itu datang sekedar mengecup kening Gea dan kembali pada aktifitas memasaknya. Bagaimana tidak, siapapun akan mulai terlena dengan sikap itu.
Makanan sudah siap, perlengkapan makan sudah ia siapkan. Gea hanya duduk manis, jika ia mau Gea hanya tinggal membuka mulut saja, layaknya seorang balita yang diperlakukan bak raja oleh ibunya. Ia memasukan suapan pertamanya, seperti biasa rasanya tidak pernah mengecewakan, bahkan lebih baik dari buatannya sendiri.
“Boleh aku meminta suatu hal padamu?” tanya Gea.
“Apapun sayang, selama aku mampu memberikannya,” jawabnya.
“Ceritakan tentangmu, aku ingin tahu siapa dirimu, mari kita saling terbuka.” Sejenak Gea merasa menyesal mengucapkan kalimat itu, takut ia akan tersinggung.
“Tapi aku tidak memaksamu, jika kau tidak mau, lupakan saja,” sambung Gea, mungkin ia enggan untuk menjawab.
“Tidak sayang, kau benar kita harus saling terbuka.”
“Kau tidak keberatan? begitu juga sebaliknya, tanyakan hal yang ingin kau ketahui dariku.” Gea senang mendengarnya.
“Maaf jika selama ini aku tidak pernah mengatakan siapa identitasku padamu, namaku Deon, tidak ada yang tahu kecuali kau.”
“Aku hanya tinggal sebatang kara. Ayah dan ibukku bercerai ia menikah lagi dengan wanita lain, setelah itu ibukku meninggal, dan adikku juga menyusul ibu, mereka semua meninggalkan aku.” Begitu singkat namun pahit.
“Alasanmu menahan aku disisimu, boleh kau jelaskan?” tanya Gea, hal yang begitu ingin dia tahu.
“Aku mencintaimu, itu alasannya, aku orang yang berbeda jadi aku tidak seperti pria lain hanya mengandalkan keberuntungan untuk mendapatkan cinta dan mendekati seorang gadis, aku sedikit egois. Aku bisa berbuat apa saja, dan aku tidak suka perempuan yang tidak menghargai dirinya, apalagi perempuan pembangkang.” Ucapan itu membuat Gea bergidik ngeri, mengingat bagaimana ia menyaksikan sendiri kekejaman pria ini. Sangat berlawanan dengan apa yang ia saksikan saat ini.
“Apa aku satu-satunya yang kau cintai? ada lagi perempuan lain yang kau simpan diluar sana?” tanya Gea.
“Hanya kau sayang, aku tidak menyimpan perempuan manapun. Aku sungguh mencintaimu. Jadi tolong jangan pernah pergi dariku, aku akan gila jika sampai itu terjadi.”
“Aku sudah kenyang, aku mau kembali ke kamar,” ujar Gea, entah apa yang ia rasakan, saat ini ia ingin menghindari pria ini.
“Deon? sekian lama aku bersamanya, baru sekarang aku tahu namanya,” ucap Gea.
Deon hanya menyaksikan kepergian Gea, ia tidak mendapat jawaban darinya, pikiran aneh mulai merasuk di benaknya. Ia segera menyusul Gea, untuk memastikan jawaban yang ia inginkan.
“Sayang,” ucapnya, memeluk Gea dari belakang.
“Kau seharusnya tidak meninggalkan aku, jangan pergi dariku sayang, aku mencintaimu.” Deon mencium bagin belakang tubuh Gea yang dapat ia jangkau saat ini.
“Bagaimana aku bisa pergi darimu, kau menahanku dengan baik,” jawab Gea.
“Kau harus mencintaiku, sama seperti aku mencintaimu, walaupun tidak kau juga tidak boleh mencintai orang lain, begitu pun sebaliknya.” Gea merubah posisi tidurnya, kini mereka saling berhadapan.
“Turuti apa yang aku mau, maka aku akan mencintaimu, kau harus percaya padaku. Hilangkan keraguanmu, tidak ada yang akan meninggalkanmu.” Gea berusaha meyakinkannya.
“Kau berjanji tidak akan meninggalkan aku?”
“Aku tidak akan meninggalkanmu,” ujar Gea.
“Cukup mereka saja yang meninggalkan aku, aku tidak ingin kesepian lagi, aku tidak mau semua itu terulang lagi.” Dengan raut wajah sedihnya. Gea semakin penasaran dengan masa lalunya. Gea akan berusaha untuk menggali lagi.
“Yang kau maksud adalah keluargamu?” tanya Gea.
“Ibu dan adikku,” jawabnya, dia merengek layaknya anak-anak.
“Lalu ayahmu?”
“Pria itu tidak pantas menjadi seorang ayah, ” ucapnya.
Mendengar itu, Gea yakin pria ini memiliki masa lalu yang buruk. Mungkin ia dibesarkan di keluarga yang tidak harmonis.