
Flasback
Terlihat notifikasi dari status bar ponselnya, Alina penasaran dan mencoba melihatnya. @ersincris started following you, itu yang terlihat, akun yang mulai mengikutinya. Hanya sekedar melihat saja tanpa menerima permintaan itu. Ketika jam pelajaran telah selesai, Alina dan sahabatnya menuju ke kantin kampus, mengisi perut yang kosong. Mereka sudah duduk di tempat biasa, Alina memainkan ponselnya dan kembali melihat instagram.
“Kalau di lihat dari namanya sepertinya laki-laki tampan, oke lah aku terima saja.” gumam Alina yang hanya menebak-nebak saja. Tidak seperti biasanya, ia tidak akan menerima pertemanan jika orang yang tidak dikenal, bukan bermaksud sombong, tapi terkadang banyak yang selalu mengirimkan pesan kepadanya, dia sering merasa tidak nyaman dan merasa terganggu.
“Langsung di follback, apa dia menungguku haha,” ujar Alina. Hanya sedikit foto yang menunjukan wajah dari pemilik akun itu, tangan Alina seketika berhenti ketika melihat satu foto yang memperlihatkan wajah dari pemiliknya.
“Tampan sekali, dimana aku pernah melihatnya ya.” Alina bicara dalam hatinya, tidak lama berpikir dia pun sadar.
“Aku ingat, laki-laki yang itu, tapi bagaimana bisa?” Dengan girangnya, sampai mengagetkan Dinda dan Fitri.
“Biasa aja ya buk nggak usah lebay gitu,” Fitri yang merasa sedikit kesal.
“Ada apa Lin, kenapa kau seneng sekali?” sambung Dinda.
“Tidak ada apa, ayo kita cepat makan aku mau pulang,” jawab Alina.
Flasback off.
*****
Rumah Alina.
Tidak seperti biasanya ibu dan ayahnya sudah berada di rumah menunggu Alina.
“Sayang kau sudah pulang?” ibu bertanya pada anak gadisnya itu.
“Ibu jam segini sudah di rumah, ada acara apa bu?” tanya Alina.
“Ini temannya ayah anaknya menikah, kita akan kesana. Kau ikut ya nak? agar ada yang menemani ibu.” Berharap supaya anaknya tidak menolak.
“Iya bu, makan gratis bu ya haha.” Ledek Alina.
“Dasar tahunya makan saja, siapa tahu anak ibu cepat menyusul”
“Enak saja, Alin kan masih kecil bu. Alin akan menikah jika sudah lulus dan kerja bu, kalau belum Alin tidak mau menikah buk. Apalagi Alina masih ingin bersama ibu dan ayah.” Penjelasan dari Alin, yang langsung memeluk ibunya.
“Iya iya nak, sana istirahat dulu,” sambil membelai pucuk kepala Alina.
“Iya bu,” jawab Alina, menaiki tangga menuju kamarnya. Mengganti pakaian dengan daster pendek yang nyaman menurutnya. Merebahkan tubuh sambil bermain dengan ponselnya. Tanpa sadar Alina mulai tertidur dengan ponsel yang masih di tangannya. Malam mulai menjelang, semuanya sudah terlihat rapi dan bersiap untuk pergi ke pesta penikahan. Alina memakai gaun yang senada dengan ibunya, dengan riasan yang tidak terlalu mencolok tapi tetap cantik dan elegan. Begitupun Pak Abi yang tidak kalah tampan walaupun sudah tak muda lagi.
Sampailah Alina di tempat tujuan, di hotel yang mewah dan megah dengan dekorasi berwarna putih yang mendominasi. Sudah menemukan tempat duduk yang nyaman, dengan hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja.Tiba-tiba seorang kakek menghampiri meja tempat Alina dan orangtuanya duduk.
“Apa kau masih ingat denganku nak?” Tanya seorang kakek kepada Pak Abi.
“Paman Rendra, tentu saja aku mengingatmu paman. Perkenalkam ini istri dan anakku paman. Bagaimana keadaanmu Paman?” jawab Pak Abi. Paman Rendra adalah teman almarhum ayahnya, semenjak ibu dan ayahnya meninggal karena kecelakaan, mereka tidak pernah saling bertemu lagi. Karena Kakek Rendra tinggal di luar negeri.
“Aku dan istriku baik saja. Siapa namamu nak? kau cantik sekali.” Alina yang dimaksud oleh Kakek Rendra.
“Alina kakek, terimakasih atas pujian kakek,” jawab Alina disertai senyuman manisnya.
“Dan ini istriku Mirna paman,” kata pak Abi
“Saya Mirna paman, senang bertemu dengan paman.” Ucap Ibu pada kaket itu. Di balas senyuman oleh kakek Rendra.
“Lanjutan makan kalian, aku tinggal dulu, aku duduk di sebelah sana bersama anakku , menantu dan juga cucuku.” Tunjuk kakek Rendra ke arah meja yang tidak terlalu jauh.
“Baik paman, senang bertemu dengan paman lagi dan melihatmu masih sehat seperti ini.” Ucap Pak Abi yang seketika teringat dengan almarhum orangtuanya.
“Aku juga senang melihat kau sudah memiliki keluarga yang bahagia, nanti aku akan kenalkan dengan mereka.” Maksud Kakek Rendra adalah keluarganya.
“Baik paman,” jawab Pak Abi. Sekarang Kakek Rendra sudah duduk bersama Keluarganya.
“Siapa mereka itu pa?” tanya Tama anaknya Kakek Rendra.
“Itu adalah anak teman papa kuliah dulu, sekarang dia telah meninggal bersama istrinya karena kecelakaan, itu adalah anak laki-lakinya bersama istri dan anaknya.” Jawab Rendra pada anaknya.
“Biarkan sajalah, jangan mengganggu acara makan mereka.” Ucap suaminya Tama.
“Anak mereka cantik sekali,” bisik Kakek Rendra pada cucu kesayangannya.
“Tapi aku akan memiliki gadis yang lebih cantik Kek,” jawab Ersin.
“Kau belum melihatnya, kalau kau sudah lihat mungkin kau akan berpaling”
“Tidak mungkin,” jawab cucunya lagi.
“Berani taruhan sama Kakek, kalau kakek yang benar, Kakek akan menjodohkan mu dengan gadis itu.” Tantang Kakek Rendra pada Ersin.
“Tentu saja kek,” dengan anggukan yang pasti dari Ersin.
Ersin tidak menyadari adanya Alina disana, karena Alina duduk membelakanginya, jadi hanya terlihat punggungnya saja, dan tidak dengan rambut yang tergerai. Mungkin karena itu Ersin tidak mengenali Alina. Acara pernikahan pun berlangsung dengan meriah, tiba saatnya Alina dan keluarganya pamit pulang sebelum itu, Pak Abi menghampiri meja Kakek Rendra untuk sekedar berpamitan.
“Paman, kami sudah mau pulang. Jika ada waktu aku akan mengunjungimu paman.” Pak Abi yang sedang berpamitan pada Kakek Rendra.
“Sebelum kau pulang, duduklah, mari aku perkenalkan, ini Tama anakku dan ini adalah istrinya Tania. Ini cucuku Ersin, cucuku satu-satunya. Kemana anakmu Abi?”
“Alina sedang di toilet Paman. Saya Abi dan ini istri saya Mirna, senang bertemu dengan kalian.” Jawab Pak Abi, sontak membuat Ersin terkejut ketika mendengar nama Alina. Dan mengingat nama orang tua Alina.
“Alina? namanya Alina kek? kenapa kakek tidak menyebutkan namanya dari tadi.” Bisik Ersin, ia begitu antusias, ingin melihat Alina sekarang.
“Ayah, ibu,” Alina datang dari arah belakang.
“Duduklah nak,” kakek Rendra menyambutnya.
Sekarang Alina dan Ersin saling memandang satu sama lain, Alina yang berusaha meyakinkan apakah benar laki-laki ini yang di restaurant itu dan juga orang yang sama yang ada di teman Instagramnya.
Ersin tersenyum pada Alina. Pertemuan yang kedua kalinya dan didampingi semua keluarga. Tapi tatapan lain terpancar dari raut orang tua Ersin, entah mereka tidak suka atau apa dengan Alina, hanya merekalah yang tahu.
“Apakah kalian sudah saling mengenal?” tanya Pak Abi.
“Sudah Paman,” jawab Ersin dengan senang.
“Kapan aku berkenalan denganmu?” batin Alina.
“Apa gadis ini yang kau maksud?” kakek Rendra berbisik pada cucunya.
“Iya kek, dan lupakan tentang taruhan itu, jodohkan saja aku dengan dia, memang gadis ini yang aku maksud.” Balas Ersin, kakeknya tersenyum.
“Abi ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu, ini mengenai niat baik dari cucuku.” Kakek Rendra memulai pembicaraan yang serius.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading guys