Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 17



Masih di tempat yang sama, Ersin tidak bisa percaya jawaban Alina begitu menohok. Ia ingin mendengar penolakan tapi justru pernyataan yang diutarakan Alina sama sekali tidak ada pembelaan.


“Apa aku sudah melampaui batasanku? seharusnya aku bertanya dengan baik-baik. Sial aku terlalu emosi dan tidak bisa mengontrolnya.” Penyesalan Ersin baru ia rasakan.


Dari arah kejauhan, Rey merasa ragu-ragu untuk mendekat, ia sudah menyaksikan pertarungan sengit itu. Walaupun tidak mendengar tapi ia tahu hasilnya sudah tidak seperti yang ia harapakan. Tetapi ia tidak bisa berdiam diri lagi. Dengan terpaksa Rey mendekat ke arah bossnya.


“Tuan, haruskah saya mengejar Nona Alina?” Rey memberanikan diri untuk bertanya. Butuh cukup waktu untuk Ersin menjawab.


“Aku membuatnya menangis Rey, aku belum menjadi siapa-siapa baginya, tapi aku sudah menyakitinya.” Sesal Ersin.


Rey berpikir akan mendapat makian yang lebih dari sebelumnya, tapi melihat sisi Ersin yang seperti ini, tidak bisa dipungkiri ia juga merasa kasihan. Walaupun terkadang temperamen Ersin yang tidak bisa di kontrol, Rey tetap saja bertahan karena ia paham dan sudah mengetahui sisi lain dari atasannya ini.


“Tuan berikan sedikit waktu untuk nona Alina, ia pasti akan mengerti. Ini hanya kesalah pahaman saja. Saya akan membuktikannya,” ucap Rey


“Seharusnya aku tidak sekasar itu kepadanya, bagaimana aku menjadi sebodoh ini, bagaimana aku harus menghadapinya nanti.” Amarahnya sirna, ketika ia menyaksikan Alina berderai air mata. Kenapa ia bisa hilang kendali seperti ini, seandainya ia bisa mempercayai Alina, mungkin tidak akan seburuk ini.


Alina sudah sampai di rumahnya, ia melemparkan tasnya ke sembarang arah. Tubuhnya masih gemetar menahan amarah bercampur kesedihan dan kecewa. Bagaimana bisa dengan begitu lancang seseorang yang tidak tahu hidupnya menghakimi dengan sesuka hati.


Alina duduk di sofa, ia menangis tanpa ada siapa pun yang mendengar, karena hanya ada dirinya seorang dirumah saat ini.


“Apa yang sebenarnya terjadi? tidak bisakah orang itu bertanya baik-baik kepadaku. Tiba-tiba datang dan menghinaku,” gerutu Alina.


“Aku tidak ingin melihat wajah itu lagi, aku mengagumi wajahnya yang tampan tapi otaknya begitu dangkal.” Kebencian Alina yang begitu menggebu-gebu.


Berulang kali ponsel Alina berdering, tetapi Alina enggan untuk melihatnya saat ini. Pikirannya sedang kacau sekarang, air mata membasahi pipinya, hatinya berkecamuk, ingin membuktikan diri bahwa ia tidak seperti yang Ersin tuduhkan tapi ia pun tidak mengerti akar dari permasalahan ini.


Terlalu lama menangis membuat Alina lelah, tanpa sadar ia terlelap di sofa ruang tamunya. Di sisi lain ada seorang yang begitu gusar yang sedang menyesali perbuatannya. Ersin kini sudah kembali ke kantornya. Dengan begitu cepat Rey menyingkirkan foto yang berserakan di lantai.


“Teganya dia melemparku dengan ini,” batin Rey dengan tangan yang masih memungut lembaran foto satu per satu. Ersin duduk termenung, berusaha berpikir apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki hubungannya dengan Alina. Meminta maaf, Alina tidak akan semudah itu untuk memaafkannya.


“Rey, apa yang harus aku lakukan jika kenyataannya Alina memang benar seperti itu?”


“Tuan, benar-benar menyukainya?” tanya Rey. Ersin menjawab dengan tatapan tajamnya.


“Maksud saya, jika tuan menyukainya tuan harus bisa menerima apapun keadaannya sekarang.”


“Aku hanya tidak bisa melihatnya dengan orang lain, dan ini dia membiarkan tubuhnya di sentuh oleh lelaki lain.” Hanya dengan membayangkan saja membuat Ersin begitu kesal.


“Tidak sucinya seorang wanita tidak bisa membuktikan suatu hubungan tidak akan bertahan, begitupun sebalikanya. Jika mereka mau pasti akan memberikan yang terbaik untuk yang terakhir, tapi tidak semua bisa berjalan dengan semestinya tuan. Berusalah menerima apapun keadaanya. Dan belum tentu juga itu seperti yang tuan pikirkan.” Dengan panjang lebar Rey menjelaskan.


“Kau belajar dari mana kata-kata seperti itu, kau ingin mencari perhatianku?”


“Sia-sia aku merangkai kata,” batin Rey.


“Saya sebagai contohnya, walaupun istri saya tidak sepenuhnya saya miliki sebelumnya, tapi itu tidak bisa dibandingkan dengan kebahagian kami sekarang, memiliki seorang anak.. ”


“Stop celotehanmu itu, mana bukti yang aku mau, kau masih tidak lupa kan apa kataku?”


“Matilah aku, mana orang-orang bodoh itu, kenapa sampai sekarang mereka belum memberi kabar,” batin Rey.


“Tunggu sebentar lagi tuan.” Rey berusaha menahan waktu.


“Siapa kau membuat aku menunggu begitu lama.” Nada yang mulai meninggi. Akhirnya dewa penyelamat tiba, ponsel Rey berbunyi orang suruhannya memberi kabar yang ia tunggu-tunggu.


“Tuan ternyata nona Alina hanya menolong kekasih dari laki-laki itu, orang suruhan saya melihatnya keluar dari apartemen pagi ini dan mengikutinya sampai ke dokter kandungan. Mereka juga sudah mengecek dan memang benar Laki-laki itu adalah ayah dari anak yang dikandung perempuan yang bersamanya.”


“Ohh Tuhan drama apalagi ini,” batin Rey.


Sampailah Ersin di depan rumah Alina, terlihat rumah yang sepi. Tapi terlihat motor Alina terparkir disana. Ersin mengetuk pintu tanpa bersuara ia takut jika Alina tahu kedatangannya justru sebaliknya Alina tidak akan mau menemuinya. Cukup lama tidak ada terlihat orang yang muncul. Ersin mulai berhenti mengetuk dan menunggu di depan pintu. Rey masih berada tidak jauh dari Ersin.


Suara langkah kaki terdengar samar, gagang pintu mulai terbuka. Ersin melihat mata bengkak Alina, baru sedikit pintu terbuka Alina seketika menutup kembali pintunya dan menguncinya. Ersin kalah cepat dengan Alina.


“Alina tolong buka pintunya, Alina maafkan aku, aku bisa menjelaskannya Alina,” ujar Ersin.


“Sudah ku katakan jangan pernah menemuiku lagi, pergi dari rumahku pergi.”


“Tidak aku akan menunggu kamu disini, sebelum aku mendapat permintaan maafmu aku tidak akan pergi dari sini.”


“Semudah itu kau mau meminta maaf, setelah perkataanmu yang tidak mendasar itu, aku tidak mau mendengar apapun. Cepat pergi,” teriak Alina dari balik pintu.


Tanpa henti Ersin mengetuk pintu Alina, semakin keras dan semakin keras.


“Alina aku tahu aku salah, aku menuduhmu tanpa bertanya dan mendengar penjelasanmu. Aku bodoh Alina, aku tidak bisa menahan emosiku. Aku tahu kemarin kau bersama Adit, aku salah paham. Maaf aku melukai hatimu. Aku baru tahu kebenarannya. Maafkan aku Alina tolong berikan aku kesempatan. Aku akan menunggumu sampai kau keluar.” Ersin begitu kukuh menunggu Alina untuk membukan pintu.


“Jadi itu alasannya, dasar laki-laki bodoh otak dangkal,” gerutu Alina. Tapi tak terdengar dari balik pintu. Alina membuka pintunya, memasang wajah datar.


“Alina terimakasih kau mau membuka pintunya.”


“Tunggu, jangan mendekat aku bukan gadis baik-baik kenapa kau mau menemuiku lagi, jangan membuang waktumu untuk gadis sepertiku.” Ersin terenyuh mendengar perkataan Alina.


“Apa aku perlu bersujud di kakimu agar aku bisa mendapat maafmu, kau boleh melakukan apapun padaku, hina aku, caci aku sesuka hatimu. Tapi sesudahnya tolong beri maafmu padaku.” Ersin mulai berlutut di depan Alina. Seketika Alina terkejut.


“Bangun, apa yang kau lakukan, aku bukan kau yang semudah itu menghina orang.”


“Aku menunggu permintaan maafmu, tolong maafkan aku.” Begitu memelas Ersin menunggu.


“Baiklah aku memaafkanmu, tapi aku masih sakit hati dengan perkataanmu.” Alina tidak bisa berbohong.


“Aku tahu, tidak semudah itu untukmu, aku terima asalkan kau memaafkanku.”


“Jangan seperti itu lagi setidaknya bertanya dulu, biarkan orang menjelaskan, jangan menghakimi pribadi orang.”


“Iya, tapi aku dimaafkan kan?”


“Hem,” jawab Alina singkat.


“Bangunlah, aku tau kakimu sudah mulai keram.” Ersin tersenyum. Ia bangun dengan sedikit sempoyongan.


Mereka melupakan sesuatu, masih ada satu orang yang berada disana. Dan mengamati mereka dengan seksama.


“Kenapa aku tidak merekamnya tadi, presdir bodoh itu mengalahkan drama-drama korea di tv.” Rey yang masih keheranan memandang atasannya.


.


.


Happy Reading