Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 36



Beberapa dokumen sudah selesai Ersin tanda tangani, serta kerjasama dengan beberapa klien sudah disepakati dan juga berjalan dengan lancar. Ditengah kesibukannya, bayangan gadis pujaanya melintas di benak Ersin, ia tersadar dan menghentikan aktifitas kerjanya sejenak. Apakah waktu yang ia berikan sudah cukup untuk ia mendapat jawaban dari pernyataan cintanya. Karena syarat yang ia berikan hanyalah waktu bukan penolakan.


Semenjak hari ia menyatakan cintanya kepada Alina, ia belum bertemu dengan Alina. Terbesit rasa rindu ingin menemui gadis yang saat ini sangat ia sayangi. Sekedar menyebut namanya saja membuat Ersin mengembangkan senyumnya. Saat ini ia tengah memandangi wajah Alina melalui ponselnya, itu menjadi koleksi pribadinya sekarang.


Pernah menyerah dalam pencariannya, akhirnya gadis ini bisa ia temukan, walaupun Alina masih belum menyadari siapa dirinya. Tidak bisa dipungkiri jika Alina melupakan Ersin, mereka bertemu saat Alina masih berusia 5 tahun, bagaimana bisa anak kecil masih belia bisa terus mengingatnya. Alina pernah menjadi titik terang disaat Ersin kehilangan cahaya hidupnya di masa lalu.


Jika Alina tidak mengingatnya, itu bukan masalah besar bagi Ersin, tujuan utamanya adalah bisa menjadikan Alina tetap disisinya sampai kapanpun. Segala cara akan Ersin lakukan untuk bisa mendapatkan Alina. Ersin meraih ponselnya, bermaksud untuk melakukan panggilan kepada orang yang saat ini sangat ia rindukan.


Tapi sayang, hanya berdering dan tak kunjung mendapat jawaban. Panggilan kedua, tetap saja sama, membuat Ersin mengerutkan dahinya. Ia memutuskan untuk mengirim pesan saja. Sekian lama menunggu balasan, ternyata jawaban dari Alina tidak sesuai dengan yang diharapkan. Rencana untuk bertemu ditolak oleh Alina karena alasan tugas kampusnya.


Ersin merasa kesal dan juga kecewa, ia harus menunda pertemuan dan menahan rasa rindunya kepada Alina.


“Benarkah kau sibuk dengan tugasmu atau kau sedang berusaha menghindariku?” Ersin bertanya-tanya.


“Oke, aku beri kau sedikit waktu lagi, tapi jangan kau berani main-main denganku gadis kecil.” Senyum seringainya.


Melanjutkan kembali pekerjaannya, tak lama berlalu Ersin berhenti lagi, fokus Ersin terganggu karena memikirkan Alina. Seseorang yang ia rindukan tapi menolak untuk menemuinya. Baru kali ini Ersin mendapat penolakan dari seorang wanita, karena itu Ersin merasa tak bisa terima. Ersin keluar dari kantornya, tapi kali ini ia tidak membawa Rey bersamanya.


Ersin akan menemui Alina sendiri, hanya sekedar makan siang itu tidak akan mengganggu Alina dalam tugasnya, itu pikir Ersin. Ia tak kuasa menahan rindu lagi, sesaat melihat Alina akan mengobati rasa rindunya. Tanpa memberi tahu Alina terlebih dulu dan tanpa meminta persetujuannya Ersin akan langsung menemuinya di kampus. Sudah setengah perjalanan sebentar lagi Ersin akan sampai di kampus Alina.


Sebelum pulang ke rumah, Alina bersama sahabatnya berencana untuk mampir ke toko buku, tempat yang mereka pernah kunjungi tempo hari. Mereka ingin mencari referensi tambahan terkait dengan tugas yang mereka kerjakan. Karena sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian. Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Gilang. Bagaimana bisa Gilang berada di kampus ini.


“Kenapa kau disini kak?” Fitri.


“Senang melihat kalian, aku sekarang sudah pindah ke kampus ini,” jawab Gilang. Melihat Gilang Alina teringat dengan ucapan Ersin yang melarangnya untuk dekat dengan Gilang. Tapi Ersin bukan siapa-siapa untuk saat ini, ia tidak berhak melarang dirinya berteman dengan siapa saja. Dan Alina juga cukup tahu diri dan tahu batasan, bagaimana sewajarnya pertemanan itu.


“Kenapa pindah?” tanya Dinda pada Gilang.


“Supaya bisa dekat dengan teman kalian ini.” Alina yang Gilang maksud, yang kini berada di sampingnya.


“Cinta lama bersemi kembali,” celoteh Fitri.


“Mulai lagi, jangan dengarkan dia kak,” ujar Alina.


“Kalian mau pulang kan? kita makan dulu aku yang traktir.” Tawaran dari Gilang.


“Tidak bisa kak, kami ada keperluan lain, mungkin lain kali saja,” jawab Alina cepat, sampai Fitri kalah cepat darinya. Alina mengedipkan matanya agar Fitri tidak berbicara.


Tak jauh dari sana, Ersin menyaksikan pemandangan itu dari dalam mobilnya. Pemandangan yang cukup membuatnya menahan emosi, peringatan yang ia berikan tempo hari tak digubris oleh Alina. Untung saja percakapan mereka tak sampai terdengar di telinga Ersin.


“Ayolah Alina jarang sekali kita bertemu seperti ini, hitung-hitung reunian,” ucap Gilang, tangannya merangkul bahu Alina. Alina tidak menghindari sentuhan itu. Fitri dan Dinda memandang Alina, ingin Alina menyetujui ajakan Gilang. Tapi tetap saja Alina menolak.


“Kau bisa mentraktir kami lain waktu, tapi kali ini kami harus membuat tugas.”


“Baiklah, lain kali ya? aku akan tunggu itu,” ucap Gilang.


Ersin membuka kaca mobilnya, tatapan tajam ia berikan pada Alina. Tapi Alina masih belum sadar akan hal itu. Ia masih berbicara kepada Gilang.


“Alina gawat,” ujar Fitri.


“Ada apa lagi?” jawab Alina.


“Lihat itu,” ucap Fitri.


Alina masih mencari apa yang Fitri maksud, menoleh ke kanan dan ke kiri. Ketika bunyi klakson berbunyi keras beberapa kali, barulah pandangan Alina mengarah lurus ke depan, ia melihat mata tajam Ersin seakan ingin melahapnya hidup-hidup.


Fitri dan juga Dinda menarik Gilang supaya menjauh dari sana, mereka paham apa yang akan terjadi. Mereka tidak ingin terlibat dengan Ersin, apalagi adanya Gilang disini akan memperkeruh keadaan.


Seketika jantung Alina terasa berdegup kencang, ia sempat menyaksikan kemarahan Ersin sebelumnya. Alina berjalan mendekati Ersin, sedikitpun Ersin tidak bergeming dan mengalihkan pandangannya.


“Mati aku sekarang, kenapa Ersin berada disini. Aku seperti istri yang sedang terciduk oleh suaminya,” batin Alina.


“Masuk!!!” suara itu terdengar mengerikan. Suasana di dalam mobil yang begitu mencekam.


“Seperti ini kesibukanmu?” Ersin.


“Kak Gilang hanya menyapaku tadi, kami mau pergi ke toko buku bertiga, tidak sengaja bertemu dengannya, lalu ia mengajak kami makan, tapi aku menolaknya, sungguh aku menolak ajakannya.” Alina memberi penjelasan.


“Kak Gilang? kau memanggilnya dengan sebutan itu? hentikan panggilan menjijikan itu! rupanya kau masih sedekat itu, aku sudah memperingatimu sebelumnya, tapi berani sekali laki-laki itu menyentuhmu dan kau hanya diam saja,” bentak Ersin.


“Bukan begitu maksudku kak, oke aku yang salah karena tidak menolak sentuhannya. Jadi aku minta maaf.” Alina berusaha sabar menghadapi Ersin, bagaimanapun menjelaskan tetap saja ia tidak akan menerima.


Karena apa yang sudah ia lihat itulah kebenarannya. Padahal Gilang hanya menyentuh bahunya saja, itu termasuk hal yang wajar. Emosi Ersin masih belum mereda, rasa cemburu Ersin memang dibatas yang tidak wajar, ia selalu bertindak berlebihan dan posesif. Itulah keperibadian Ersin yang sesungguhnya terhadap wanita yang ia cintai, dan sikap itu yang membuat wanita disamping Ersin menjadi tidak nyaman dan merasa terkekang, walaupun Ersin memiliki wajah yang tampan dan juga pria yang mapan.


“Kau sudah berani mengabaikan peringatanku sebelumnya, jangan kau berani menantang kesabaranku Alina!!”