Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 16



Suasana pagi yang cerah, orang-orang berlalu lalang di gedung MC GROUP. Karena banyaknya karyawan dari masing-masing devisi. Semua memberi salam disaat presdir mereka melintas diikuti dengan orang kepercayaan presdir yaitu assistennya. Semua berkas dan jadwal hari ini sudah tersusun rapi diatas meja oleh Melani sekretarisnya. Bisa dikatakan ialah yang membantu Rey dalam menyelesaikan tugasnya. Ersin memasuki ruangannya, dan mulai memeriksa beberapa dokumen.


“Tuan muda, saya ingin melaporkan tentang Nona Alina kemarin.. ” Ersin menyela ucapannya, dengan menaikkan tangan.


“Aku lupa memberitahumu, kau tidak perlu lagi melaporkan tentang gadis itu mulai dari sekarang,” ucap Ersin.


“Baik Tuan.” Rey tersenyum berbeda sekali disaat dia sebelum berbicara dengan Ersin. Disaat dia ingin kembali ke tempatnya Ersin tersadar akan sesuatu.


“Tunggu Rey, kenapa kau baru hari ini melapor? selama beberapa hari ini kau tidak pernah membahas tentang gadis itu.” Ersin baru tersadar.


”Karena Nona Alina menjalankan aktifitas seperti biasa Tuan, tidak ada informasi aneh yang saya dapatkan,” jawab Rey, ia mulai menegang, karena disaat orang kepercayaannya memberikan infomasi ia mengabaikannya, karena lelah di kantor jadi ia memutuskan melihatnya nanti pagi. Rey menduga informasi kali ini akan sama seperti sebelumnya.


“Jadi maksudmu kali ini gadis itu melakukan sesuatu yang aneh? berikan itu padaku.” Pulpen yang Ersin pegang sudah terlepas dari tangannya.


“Ini Tuan.” Perlahan namun pasti Ersin membuka


amplop coklat itu. Rey menanti dengan begitu was-was. Tatapan tajamnya mengarah kepada Rey, tangan yang gemetar masih memegang foto-foto Alina bersama Adit, mulai dari keluar apartemen dan lagi sampai ke rumah Alina. Yang membuat Ersin tidak habis pikir, saat melihat jam yang tertera di foto itu


“BODOOHHH ” teriak Ersin, melempar foto-foto itu tepat di wajah Rey. Tanpa berani bergeming, Rey menunduk.


“Maaf tuan, seharusnya saya memberitahu anda kemarin,” ujar Rey.


“Angkat kaki dari perusahaanku jika kau sudah bosan menerima gaji dariku, aku bisa mencari seseorang yang lebih becus darimu.” Amarah Ersin tidak bisa ditahan lagi.


“Maafkan kelalain saya tuan, orang suruhan saya masih menyelidi kejadian malam itu pasti itu tidak seperti yang tuan pikirkan.” Rey berusaha melakukan pembelaan.


“Seorang gadis dengan laki-laki di sebuah apartemen sampai larut malam apa yang mereka lakukan menurutmu? kau pikir aku sebodoh dirimu? jika tidak secepatnya kau melaporkannya jangan harap kau bisa menginjakankan kakimu disini!” Ersin mencengkram kerah kemeja Rey.


“Segera tuan, tunggu sebentar lagi.” Rey merapikan kemejanya. Ersin melangkah keluar dengan langkah yang cepat, tatapan yang mematikan, dan amarah yang masih membara. Rey mengikutinya dari belakang.


“Melani kau tangani dulu urusan kantor, atur ulang kembali jadwal meeting hari ini, aku ada urusan dengan presdir oke?” Melani yang melihat Ersin keluar dengan ekspresi wajah yang mematikan.


“Kenapa Rey, ada apa dengan pak presdir?”


“Nanti aku beritahu, jangan banyak tanya lagi, ini menyangkut dengan hidup dan matiku.” Rey berlalu meninggalkan Melani yang masih penuh dengan tanda tanya di otaknya.


“Dimana presdir bodoh itu, tadi dia mengatakan tidak perlu lagi informasi tentang gadis itu, baru kali ini aku melihat orang jatuh cinta sangat memusingkan seperti ini,” gerutu Rey sambil berlari mengejar Ersin.


“Bawa aku menemui Alina,” ucap Ersin datar tanpa ekspresi apapun. Rey melajukan mobilnya.


“Bahkan membawa mobil saja kau tidak becus,” teriak Ersin dari kursi belakang. Rey seketika menginjak gas dan melaju dengan kecepatan maksimal.


“Presdir bodoh ini ingin membawa aku mati bersamanya,” batin Rey.


Tidak perlu waktu lama, Ersin sampai di kampus Alina. Rey keluar bergegas mencari keberadaan Alina. Satu persatu orang yang Rey temui ia tanyakan tentang Alina. Akhirnya ada seorang mahasiswa laki-laki yang bersedia mengantar Rey menemui Alina. Sampailah Rey di depan kelas Alina. Untung saja kelas belum dimulai, tetapi jika ada dosenpun Rey akan melakukan segala cara agar bisa membawa alina ke hadapan presdir bodohnya itu.


”Nona Alina.” Sedikit kehabisan nafas, Rey mencoba menstabilkan nafasnya.


“Iya, bukankah kau..”


“Nona tolong ikut saya sebentar, Tuan Ersin menunggu anda di depan.”


“Tapi kenapa?”


“Tolong nona segera kau temui dia, kalau tidak kampus ini bisa dia ratakan detik ini juga.”


”Tuan disana nona.” Menunjukkan dimana Ersin berdiri. Rey meraih ponselnya dan menghubungi orang suruhannya.


“Berapa lama lagi kau akan mendapatkan informasi itu?” Tanya Rey dengan nada tinggi.


“Tunggu tuan, kami sudah mencoba mendapatkan rekaman cctv apartemennya, tapi tidak mudah. Harus memiliki akses untuk bisa masuk. Dan penjagaannya begitu ketat. Foto itupun kami dapatkan dengan susah payah“


“BODOHHH,” teriak Rey, sama seperti yang ia dapatkan dari Ersin.


“Cepat dapatkan atau aku akan memberikan pekerjaan ini pada orang lain, dasar kau tidak becus.”


“Saya akan segera mendapatkannya tuan.” Rey memutus panggilannya. Ia tersadar banyak mata yang melihatnya karena teriakannya. Dan banyak yang menggunjingnya, tapi itu tidaklah penting baginya, ia lebih takut menerima kemarahan Ersin.


“Setidaknya aku bisa berteriak dan memaki orang seperti itu, walaupun tidak padanya.” Ersin yang ia maksud. Rey hanya memantau dari jarak jauh, sebenarnya dia hanya mencari jarak aman, takut terkena imbasnya.


Alina yang kini berdiri membelakangi Ersin. Tubuh yang tegap dan tinggi, Alina cukup senang bisa melihatnya lagi.


“Apa yang kau lakukan semalam?” tanpa basa basi Ersin langsung bertanya.


“Ada masalah apa sebenarnya kakak menanyakan itu?” Alina balik bertanya lagi.


“Aku bertanya dan kau harus menjawab!” Alina sedikit terkejut mendengar nada bicara Ersin.


“Aku kemarin pergi bersama temanku,” jawab Alina singkat. Amarah Ersin meningkat, jawaban yang tidak sesuai dengan keinginannya.


“Aku mengerti, aku tahu sekarang, sudah salah aku menilaimu. Ternyata kau sama saja, untung saja aku membatalkan perjodohan itu. Bagaimana aku bisa memilih gadis sepertimu.”


“Apa yang sebenarnya ingin kau ketahui dariku? bertanyalah sewajarnya, aku masih bisa menjawab. Tidak perlu kau berbicara sekasar itu padaku.” Alina mulai kesal dan merasa kecewa.


“Kau menjual dirimu atau melakukannya demi memuaskan nafsumu?” Karena amarah yang memuncak tanpa sadar Ersin mengucapkan itu. Alina bergetar ingin menampar bibir yang menghinanya. Tapi ia berusaha tidak melakukannya dan tangisnya masih bisa ia tahan.


“Begitu pentingnya kau ingin mengetahui kisah percintaanku? Kau ingin melakukannya denganku, berapa uang yang ingin kau tawarkan, karna aku tidak murah?” Bibirnya tersenyum tapi di dalam hatinya Alina begitu pedih.


“Uangku tidak akan habis hanya untuk membeli barang sepertimu,” ucap Ersin.


“Aku juga tidak ingin tubuhku dinikmati olehmu apalagi uangmu aku tidak sudi menerimanya. Dan satu lagi Tuan Ersin yang terhormat siapapun aku dan menjadi apa aku, walaupun aku menjual diriku kau tidak pantas ikut campur atas hidupku, kau bukan siapa-siapa disini. Jadi jangan menemuiku lagi kau sama sekali tidak penting dan tidak ada artinya di hidupku, kau sudah paham?” Teriakkan Alina terlontar dengan berderai air mata , Alina menguatkan diri untuk bisa membalas kata-kata Ersin. Dia ingin meluapkan amarahnya tapi tubuhnya tak mampu lagi dan tak mampu untuk berkata-kata.


Alina meninggalkan Ersin, yang masih terpaku. Bibirnya kelu seakan tidak bisa berucap lagi, ia lebih sakit mendengar perkataan Alina. Ia pergi meninggalkan kampus, Ia tidak peduli lagi dengan kelasnya, untuk pertama kalinya, ia merasakan hal yang luar biasa sakit selama hidupnya.


.


.


.


.


Terimakasih untuk kalian yang menyempatkan membaca ceritaku😊.


LIKE AND COMENT


THANK YOU FOR MY LOVELY READER