Alina (Psychopaths Around You)

Alina (Psychopaths Around You)
BAB 34



Kondisi pak Abi saat ini sudah hampir pulih, istri dan anaknya melarang ia untuk bekerja tapi pak Abi bersikeras untuk berangkat ke sekolah pagi ini. Ada tujuan lain yang harus ia lakukan dan tuntaskan. Menundanya akan membuat keadaan semakin parah lagi, dan pak Abi sangat takut akan hal itu. Keutuhan keluarganya bisa saja menjadi taruhan jika ia tidak mengambil tindakan.


Pak Abi telah sampai di kantor polisi, beberapa saat berbincang setelah melakukan laporannya. Polisi dapat menyimpulkan bahwa pelaku ini adalah orang yang sama dengan orang yang menculik Gea, sejak awal memang polisi sudah curiga akan hal itu. Bermula dari pemerkosaan yang sebelumnya dilaporkan oleh pak Abi.


Sampai detik ini polisi tidak bisa menemukan titik terang akan kasus-kasus itu. Penjahat itu bisa mengelabui polisi dengan mudahnya. Dan masalah penelpon yang meneror pak Abi saat ini masih diselidiki oleh pihak kepolisian. Mungkin saja bisa menjadi petunjuk untuk memudahkan polisi menangkap pelakunya. Dan tentu saja mereka sangat yakin ini adalah orang yang sama.


Sampai sejauh ini tidak ada pergerakan sama sekali, seolah penjahat itu sengaja ingin meredam keadaan terlebih dahulu. Penjahat itu seolah hilang di telan bumi, setelah kehebohan yang dibuatnya, berbagai media hanya memberitakan tentang dirinya dan sekarang ia masih bersembunyi entah dimana.


Semua bukti dan saksi yang sudah diperiksa, dari hal yang paling kecilpun tidak luput dari pantauan petugas polisi, tapi anehnya sedikit pun tidak ada jejak dari pelaku. Orang seperti apa yang sebenarnya tengah mereka hadapi, sampai saat ini mereka masih tetap melakukan pencarian.


Pak Abi  kembali ke sekolah walaupun sebenarnya sudah sangat terlambat, tapi ia menyempatkan untuk datang ke sekolah. Bisa saja ia tidak bekerja hari ini tapi rasa penasarannya membuat pak Abi tidak dapat berdiam diri. Mungkin dengan menunjukan dirinya masih dalam keadaan yang baik-baik saja, kemungkinan sang pelaku akan muncul lagi.


Karena sekarang pak Abi merasa dirinya sebagai target yang bisa dijadikan umpan untuk menariknya keluar dari persembunyian. Beberapa polisi ditugaskan untuk mengikuti keseharian pak Abi, mereka juga bekerjasama dengan detektif handal, mereka akan memantau seluruh kegiatan pak Abi, tapi mereka berusaha untuk tidak terlihat dan tidak membuat kecurigaan sang pelaku. Rencana ini akan dilakukan dengan sangat teliti, mengingat lawan yang dihadapi bukanlah orang sembarangan.


Hal pertama yang pak Abi periksa adalah orang yang menyiapkan makanan pada saat rapat kemarin. Hal itu ia selidiki dari cctv pada ruangan rapat. Terlihat beberapa guru wanita dan di bantu oleh cleaning service sekolah. Tidak ada hal yang mencurigakan, sampai akhir video ia lihat tetap saja ia tidak menemukan apapun. Rekaman itu ia copy dan ia kirimkan pada pihak polisi.


“Tidak ada yang mencurigakan, semua memakan makanan yang sama, tapi kenapa hanya aku saja yang kena?” Pak Abi memutar kembali video itu. Serta melihat cctv lainnya, atau mungkin saja disaat penjahat itu menambahkan sesuatu ke makanan pak Abi, ia tidak melakukannya di ruang rapat, melainkan di tempat lainnya.


Hampir 2 jam pak Abi fokus dengan video itu, tidak ada hasil yang ia dapatkan.


“Mungkin polisi akan menemukan sedikit petunjuk, atau hanya aku yang kurang jeli dengan video ini. Sudahlah aku akan menunggu kabar dari mereka saja.”


Pak Abi kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena sakitnya kemarin.


Tidak banyak yang bisa ia lakukan, karena jam sekolah telah berakhir. Pak Abi keluar dari ruangannya, berjalan bersama kerumunan para siswa yang hendak pulang ke rumah mereka masing-masing. Berbagai cerita dari para siswa tak sengaja pak Abi dengar. Celetuk salah satu siswa yang membuat pak Abi sedikit tercengang. Terdapat tiga orang siswa perempuan yang berjalan beriringan.


“Ingin rasanya aku colok mata si Bambang itu, entah apa yang dia ajarkan, ujung-ujungnya pasti mesum,” ucap salah satu siswa.


“Kalau aku malah sengaja membuka lebar pahaku biar tersedak sekalian itu si Bambang,” ucap seorang siswa perempuan dengan begitu bersemangat.


“Ehemm.” Suara pak Abi mengejutkan mereka.


“Pak, kami duluan ya pak,” ucap mereka dan mempercepat gerakan kakinya agar bisa menjauh dari pak Abi.


“Sepertinya dia mendengar, biarlah biar kena marah itu si Bambang.”


“Aku harus memberi peringatan kepada pak Bambang,” ucap pak Abi di dalam mobil ketika mengendarai mobilnya. Sebenarnya ia ingin menegur siswa-siswa itu karena berbicara yang tidak sopan kepada gurunya, tapi ia urungkan karena lebih baik menegur pak Bambang terlebih dulu. Sekarang pak Abi menuju ke ruko istrinya untuk menjemputnya.


Pak Abi sudah sampai di depan ruko istrinya, dan masuk ke dalam. Istrinya sedang merapikan beberapa pakaian, sedangkan dua pegawainya sedang melayani  pembeli ataupun ada juga yang datang hanya sekedar melihat-lihat saja.


“Bu mau pulang sekarang?” tanya pak Abi.


“Ayah sudah datang,” jawab Mirna, seraya mencium tangan suaminya.


“Apa ibu masih sibuk?” tanya pak Abi lagi.


“Tidak yah, ayo kita pulang saja, kita makan siang dirumah,” ucap Mirna.


Pak Abi dan istrinya kini dalam perjalanan pulang ke rumah mereka, sebelum pulang istrinya meminta untuk mampir ke supermarket, ia ingin membeli beberapa stok makanan yang sudah habis. Pak Abi memperhatikan spion mobilnya, memang benar ada mobil yang mengikutinya dan itu adalah detektif yang ditugaskan untuk melindungi pak Abi .


Setelah berbelanja pak Abi kembali ke rumah bersama istrinya. Pak Abi masih tetap dalam penjagaan sampai ia sampai di rumahnya. Para detektif itu berlalu setelah memastikan pak Abi aman sampai di rumahnya. Tetapi tidak jauh dari rumah pak Abi, ada mobil lainnya yang terparkir rapi menghadap rumah pak Abi. Tanpa bisa dilihat siapa yang mengemudi mobil itu. Tak selang berapa lama mobil itu melaju meninggalkan tempatnya semula.


“Kalian kira bisa mengelabui aku, dasar manusia-manusia bodoh!” ucapnya diselingi senyuman getir, tatapan mata yang tajam seakan ingin membunuh mangsanya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Dengan suasana hati yang buruk, pria itu kembali melampiaskan nafsu bejatnya kepada salah seorang wanita yang berada dalam kurungannya.


Tanpa ampun ia menyiksa wanita itu, teriakannya sudah tidak dihiraukan lagi. Semakin kuat perlawanan yang ia terima, semakin ia ingin melihat wanita itu tersiksa.


“Aku tidak ingin menyakitimu jadi munurutlah!” rambut yang panjang hitam dalam genggaman pria itu.


“Bunuh saja aku, itu lebih baik daripada aku harus menuruti kata-katamu, cuhh.” Wanita itu meludahinya.


“Beraninya kau.” Tamparan dipipi melayang keras.


“Hahahaha bunuh aku, cepat bunuh aku!!! aku benar-benar muak denganmu. Tidak akan ada wanita yang akan menurut kepada manusia terkutuk seperti dirimu.” Ucapnya dengan tertawa sinis. Penyiksaan berlanjut sampai wanita itu sudah tak bernyawa lagi.